REVIEW #temantapimenikah

16832399_10211940651252006_1265286366751045146_n

“Tembaklah wanita yang tepat di waktu yang tepat. Jangan hanya untuk dijadikan pacar. Jadikan dia teman hidupmu sampai maut memisahkan.” (hlm. 96)

Si supel Ditto dan si tomoi Ayu memang tak terpisahkan, begitu kata murid-murid SMP 19. Kali pertama mereka ketemu adalah satu kelompok MOS dan satu kelas. Kemudian, terlihat dengan begitu alaminya, mereka pun mulai bersahabat. Kemana-mana selalu bersama. Bahkan Ditto mengajak Ayu untuk bergabung di band sekolah. Ayu menjadi vokalis bersama Ola dan Ditto di bagian perkusi. Ayu pun menerima tawaran itu dengan senangan hati. Ia tidak pernah tahu bahwa Ditto sebenarnya bukan maksud lain saat mengajak Ayu bergabung ke dalam band.

Lama-kelamaan Ditto tahu bahwa Ayu cewek yang benar-benar tomboy. Setiap Dito main sepak bola bersama anak kelas lain di lapangan, cewek itu akan dengan senang hati menemaninya. Gayanya yang cuek dan berantakan layaknya cowok membuat cewek itu benar-benar mudah untuk membaur dengannya dan teman-temannya yang lain. Ujung-ujungnya, Ayu jadi ditakuti banyak orang karena gayanya yang ‘preman banget’.

Tapi Dito tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mau Ayu yang seperti apa, ia akan tetap bersahabat dengannya dan ia tak pernah bisa melepaskan tatapannya dari cewek itu, sekalipun cewek itu tidak pernah sadar kalau Ditto selalu menatapnya dengan tatapan yang berbeda.

Pokoknya, yang jadi pacar Ayu dan Ditto harus siap menerima persahabatan dan berbagai bentuk komunikasi mereka.

“Emangnya lo nggak mau bareng sama gue lagi? Nanti kan bahaya kalo kangen gue.”

“Tobat dong, Ditto.”

“Serius tapi, Cha. Lo nggak mau bareng lagi sama gue emangnya?”

“Mau sih.”

“Nah, ya udah. Kita satu SMA kalau gitu. Harus.”

“Lo pikir kita beneran bakal satu SMA?”

“Kalau mau, pasti bisa.” (hlm. 31)

Buku ini memang diambil dari kisah nyata antara Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion yang memang sudah berteman sejak SMP. Sebenarnya bukan hanya sebatas teman, lebih dari itu, bisa dikatakan sebagai sahabat kental. Dimana ada Ayu, disitu ada Ditto. Begitu pula sebaliknya. Nggak hanya masa-masa SMP, SMA pun mereka satu sekolah meski beda kelas.

“Jomblo gue. Bosen gue sama dia doang. Pacaran kan gitu-gitu aja. Lama-lama ya bosenlah.”

”Bosen lo pikir lagi mainan.”

“Ya bukan mainan juga sih. Tapi lo juga pasti ngerasa bosen kok kalo lagi pacaran.” (28)

Karena buku ini sempat booming di instagram dengan hastag #temantapimenikah, saya jadi ikutan tertarik, apalagi ini diambil dari kisah nyata penulisnya, jadinya berharap banyak akan menemukan cerita-cerita seru di dalamnya.

Memang, terkadang buku yang booming nggak sesuai ekspetasi kita saat membacanya langsung. Seperti halnya buku ini. Hampir setengah buku hanya berpusat pada kehidupan Ayu dan Ditto yang sama-sama berganti pacar. Bahkan saya sempat mikir, itu ganti pacar apa ganti baju, cepet amat gantinya!?! x))

Sebenarnya nggak masalah sih jika cerita buku ini berpusat pada kehidupan asmara masing-masing, tapi saat membacanya kok hambar ya, datar aja gitu. Kurang greget, nggak ada konflik yang seru. Misalnya ada salah satu pacar mereka yang psikopat atau apalah gitu, biar greget x))

Meski begitu, ada beberapa pesan penulis yang ingin disampaikan dalam buku ini selain kisah cinta mereka yang awalnya hanya sekedar teman. Pertama, tentang meraih cita-cita dan melakukan hal yang disuka. Sedari kecil, Ayu yang memang pada dasarnya sudah menekuni bidang akting, bukan sekedar karena mengikuti jejak orangtua. Begitu juga dengan Ditto, sedari zaman SMP sudah sangat menyukai bidang seni, khususnya percussion. Kedua, rasanya mendapatkan sesuatu hasil dari jernih payah sendiri. Sedari sekolah, Ayu sudah bisa membeli mobil sendiri, sedangkan meski harus lebih lama memiliki kendaraan, akhirnya Ditto juga memiliki kendaraan hasil dari pekerjaannya. Ketiga, membahas tawuran yang kerap terjadi di sekolah-sekolah Jakarta. Ditto saat itu sebagai ketua OSIS di SMA-nya bertanggung jawab atas tawuran yang dilakukan oleh teman-temannya. Dan keempat, prestise tentang jurang perbedaan antara IPA dan IPS. Dari zaman sekolah sampai sekarang bekerja di sekolah, masih sering menemukan orangtua yang berpikiran IPA lebih baik dari IPS. Menganggap siswa yang memilih jurusan IPS tidak bermasa depan. Ada, ada banget orangtua yang kayak gini. Seperti orangtua Ditto yang sempat khawatir ketika anaknya beralih pikiran dari mau masuk IPA malah lebih memilih IPS pada akhirnya.

“To, berhenti main-main. Lo nggak bisa kayak gini terus, masa dari SMP sampe sekarang malah makin parah, sih?”

“Liati ya, Cha. Pas gue nikah nanti, gue bakal setia abis-abisan sama istri gue. Sekarang emang brengsek, tapi cowok kayak gue bakal setia sampai mati sama pasangan sehidup semati nantinya.” (hlm. 156)

16998227_10211966008645925_4279492003561370090_n

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Akhirnya tahu kenapa wanita diciptakan. (hlm. 45)
  2. Senang bisa berbagi banyak hal dengan lo. (hlm. 50)
  3. Kerja dari sesuatu yang emang bener-bener lo suka. (hlm. 68)
  4. Jodoh itu nggak susah nyarinya. Lihat di sekeliling lo, siapa tahu salah satunya jadi jodoh lo. (hlm. 77)
  5. Waktu berjalan dengan cepat bagi siapa pun yang menikmatinya. (hlm. 105)
  6. Bosan itu pasti, tapi kita jangan pernah saling pergi. Selalu sayang, ya. (hlm. 205)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Lagian anak mana, sih, yang memberikan hamster kepada pacarnya? (hlm. 15)
  2. Pacaran kan gitu-gitu aja. Lama-lama ya bosenlah. (hlm. 28)
  3. Kalo lo emang deket, udahlah jadiin aja. (hlm. 36)
  4. Kalo lo pepet terus anaknya, gimana anaknya nggak ngarep jadian sama lo? (hlm. 36)
  5. Pacar mana yang cuek dengan pasangannya sendiri? (hlm. 45)
  6. Lo nyari pacar apa kabel telepon sih? (hlm. 60)
  7. Ngapain juga kalo udah nggak nyambung malah dilama-lamain? (hlm. 60)
  8. Emang gue emaknya, ngasih restu segala? (hlm. 63)
  9. Kalo emang nggak bahagia, ngapain dipertahanin lagi lama-lama. (hlm. 65)
  10. Ngapain sih pacaran? Mendingan langsung nikah aja nanti. (hlm. 66)
  11. Hati-hati lo, cowok kalo dari awal baik banget bisa jadi jahat banget ke belakangnya. (hlm. 66)
  12. Mana ada cewek yang antar-jemput cowok? (hlm. 68)
  13. Makanya cari pacar. Biar nggak sirik lagi kalo temennya disamperin pacar. (hlm. 71)
  14. Lo ngapain deh pindah jurusan? (hlm. 93)
  15. Ngapain lo jadi cengeng karena cowok kayak dia doang? (hlm. 101)
  16. Jadian atau TTM-an nih? (hlm. 108)
  17. Cowok nggak beda jauh dengan cewek ternyata. Hanya mungkin tak terlihat saja kebiasaan menggosip dan curhat mereka. (hlm. 108)
  18. Belum jadian kali. Kelamaan PDKT lo. (hlm. 119)
  19. Namanya juga cewek, suka ngomong seenaknya. (hlm. 133)
  20. Namanya juga cewek, selalu jadi alasan untuk para cewek di dunia ini memberatkan cowok dengan hal-hal sepele. (hlm. 135)
  21. Mana ada dua orang cewek dan cowok bisa bersahabat tanpa salah satu dari mereka punya perasaan lebih? Rasanya mustahil. (hlm. 140)
  22. Pasangan ideal itu bukan yang nge-chat seharian penuh tapi cuma sekedar nanya ‘lagi apa’, ‘udah makan belum’, dan sebagainya. Emangnya yang kayak gitu nggak basi. (hlm. 205)

Keterangan Buku:

Judul                                     : #temantapimenikah

Penulis                                 : Ayudia Bing Slamet & Ditto Percussion

Editor                                    : Afrianty P. Pardede

Penerbit                              : PT Elex Media Komputindo

Terbit                                    : Januari 2017 (Cetakan Kelima)

Tebal                                     : 208 hlm.

ISBN                                      : 978-602-02-9050-8

Advertisements

6 thoughts on “REVIEW #temantapimenikah

  1. aku juga udah bacaa buku ini hahahaaa. malah jd keinget temen2 cowo yg deket sama aku. masa aku “bisa jadi” malah sama mereka? kok rasanya ngga mungkin? kok tetep mungkinn??????? LoL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s