REVIEW Semua Ikan Di Langit

16938839_10211948672652536_3729803822662951164_n

Orang zaman sekarang. Kalau tidak percaya pada hal yang sama dengan mereka, kau setan. Tidak boleh berpikir sama sekali, sepertinya. Padahal kan kita disuruh sering-sering berpikir, benar tidak? (hlm. 119)

SAYA. Karena terlahir sebagai bus dalam kota yang punya lebih banyak berat badan daripada pengetahuan, dia tidak begitu tahu cara menghitung hari. Baginya, jadi mahluk gendut yang bisa membaca pikiran mahluk lain lewat kaki-kaki para penumpang rasanya tidak enak.

Ya, tokoh utama dalam buku ini sebagai penutur cerita adalah sebuah bus, yang tidak hanya mengelilingi dalam kota, tapi juga sesekali terbang hingga ke luar angkasa.

“Kamu bukan cuma berjalan keliling Bumi dan angkasa, bus tololku yang baik. Kamu juga berjalan melintasi waktu.” (hlm. 53)

NADEZHDA melahirkan 33 anak, baru-baru ini. Tapi, semuanya mengalami penuaan dini karena stress berada dalam tawanan. Kecoa, katanya, kalau tidak bisa menghibur mahluk yang kesepian, tidak bisa hidup. Dia takut anak-anaknya akan segera mati, meninggalkan di sendirian di tempat asing.

Selain bus sebagai tokoh utama, penulis menghadirkan Nad yang merupakan seekor kecoa bule dari Rusia. Tokoh kecoa mengingatkan saya akan Rico de Coro di kumpulan cerpen Filosofi Kopi-nya Dee. Jika di kumpulan cerpen tersebut menceritakan kecoa yang jatuh cinta pada manusia. Buku ini beda, Nad si kecoa yang kelak menjadi sahabat bus si tokoh utama,

“Kecoa memiliki hati yang hangat, selalu bahagia dan bebas, dan senang menghibur. Karenanya, kecoa menjadi mahluk baik yang selalu menghampiri orang-orang kesepian, berniat menghibur, meski kadang kebaikan hatinya ditanggapi dengan tidak ramah.” (hlm. 24)

Selain dua tokoh tersebut, masih ada banyak lagi tokoh yang bisa kita simak kisahnya. Dari yang lucu hingga pilu. Ada Bastet si kucing dari Kamar Paling Berantakan dan yang paling penting adalah Beliau yang tidak menapakkan kakinya di bus dengan selalu diikuti ikan julung-julung disekitarnya.

Di cover kita bia melihat sebuah bus yang diatasnya dinaiki seseorang dengan ikan julung-julung di sekitarnya. Tapi, ikan yang digambarkan tidak sama dengan ikan julung-julung yang mempunyai ciri khas memiliki cucuk panjang seperti ini:

ikan-julung-1 ikan-julung-2 ikan-julung-3

“Tapi menurut saya, kalau Tuhan mau membuat sesuatu dengan tidak sempurna, Dia bisa saja. Dia kan bisa melakukan segala hal; mungkin saja membuat sesuatu dengan begitu sempurna, mungkin sajamembuat sesuatu dengan begitu sempurna. Masalahnya kan manusia saja yang melihatnya dengan cara yang berbeda, membangun opini mereka sendiri tentang apa yang sempurna dan tidak sempurna. Mereka anggap sesuatu ini, anggap sesuatu itu; padahal sebenarnya penilaian mereka itu tidak ada artinya. Sempurna itu hanya konsep buatan, diciptakan karena mereka –kita- suka menilai dan menghakimi satu sama lain. Yah, begitulah manusia!” (hlm. 121)

Memang tidak ada konflik berat dalam buku ini, tapi jika kita membaca dengan cermat, kita bisa menemukan banyak sekali makna semiotika yang diselipkan dalam cerita:

  1. Ketika sesuatu tidak produktif lagi, dianggap tidak berguna. Tanpa disadari, kita sering membuang barang-barang yang dirasa sudah tidak layak pakai, padahal dulunya barang itu berperan penting bagi kita. Terkadang kita memiliki ikatan batin dengan sebuah barang, misalnya barang peninggalan orangtua. Seperti halnya dalam buku ini di halaman 96, pak sopir dan kondektur enggan melepaskan bus kesayangan yang mereka kendarai itu.
  2. Di halaman 103 tentang Nad yang bosan merupakan representasi kehidupan yang harus keluar dari zona nyaman. Kebanyakan dari kita memang berhenti di zona nyaman, padahal jika kita keluar dari zona nyaman, hidup kita akan lebih berwarna.
  3. Di halaman 119. Membahas neraka. Ini menarik sekali dan sangat relevan dengan keadaan Negara kita. Banyak dari kita merasa pemikirannya paling benar, sedangkan yang pemikirannya berseberangan dianggap sesat. Sekarang manusia tipikal seperti ini tidak bisa diberitahu, apalagi dikritik, selalu merasa paling benar, dan mungkin mereka sudah punya kaplingan di surga karena gampang sekali menganggap orang lain sesat, kafir, menistakan agama, dan apalah itu. Pas banget ini!
  4. Adanya selipan lagu Gundul-gundul Pacul di halaman 87. Kita pasti tahu, lagu ini sama halnya lagu Genjer-genjer yang sering dikaitkan dengan masa-masa PKI. Di halaman ini juga sempat terselip tokoh Shoshanna yang memberikan topi seragam militer Nazi. Ya, mereka bertemu Shoshanna di tahun 1944. Tahun tersebut menurut catatan sejarah, tepatnya 20 Juli 1944 dilancarkan serangan pembunuhan terhadap Hitler terhadap sejumlah perwira dalam militer Jerman.
  5. Di halaman 161 tentang ikan asin. Keluarga Umi Yuyun merupakan representasi keluarga miskin. Bagi mereka, terutama suaminya, ikan asin rasanya enak; tidak peduli bagaimana caranya ikan asin itu bisa mendapatkan rasa enak. Selama rasanya enak, dia akan merasa bahagia karena bisa memakannya, dan karena itu akan selalu memikirkan ikan asin, dan berharap pada suatu hari akan bisa bertemu ikan asin lagi. Kita bisa melihat, bahagia itu sederhana. Salah satunya adalah bisa menikmati ikan asin setiap hari.
  6. Rasa cinta tidak hanya hubungan antara manusia dengan manusia. Tetapi juga rasa cinta manusia dengan benda mati, manusia dengan Tuhan dan juga manusia dengan mahluk hidup lainnya.

Setelah membaca buku ini, kita bisa menyimpulkan bahwa agama dan sains bisa berdampingan dan saling berkaitan satu sama lain. Pantas sekali jika buku ini menjadi juara 1 Sayembara Menulis Novel Dewan Keseniaan Jakarta 2016. Ditambah lagi juri dari kompetisi tersebut menyebutkan tidak adanya juar 2 dan 3 karena perbedaan jauh dengan naskah juara 1 ini. BISA BACA DISINI

Ini adalah buku ketiga Ziggy yang saya baca. Sebelumnya ada Jakarta Sebelum Pagi dan San Francisco. Memang, saat awal membaca buku ini mengingatkan buku bacaan favorit saya, The Little Prince yang berpetualang ke berbagai planet. Selain itu, juga mengingatkan saya akan Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder yang penuh makna filosofi tentang Tuhan.

Yang bikin unik dari buku ini adalah para tokohnya yang anti mainstream. Tokoh utama dari buku ini adalah Bus Damri, jadi kita akan diajak menelusuri perjalanan dari sudut pandang sebuah bus yang berkelana, tidak hanya di bumi, tapi juga hingga ke luar angkasa. Penulisnya terinspirasi dari perjalanan bus antara Dipatiukur – Leuwipanjang. Saya bisa merasakan apa yang dialami penulis, karena kebetulan zaman kuliah juga melintasi rute tersebut. Dan ternyata kampus kami sama. Yang kurang dari buku ini seharusnya ada aroma perjalanan Dipatiukur-Leuwipanjang yang harusnya dijabarkan lengkap; adanya pengamen, penjaja cangcimen, dan masih banyak lagi yang bisa digali lebih dalam. Abis baca buku ini jadi mikir, jadi khawatir kalo naik bus kemudian menjejakkan kaki. Jangan-jangan busnya bisa membaca pikiran kita x))

Kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tidak semua hal yang kita harapkan bisa didapatkan; itu kata banyak orang yang mencoba menghibur dirinya sendiri. (hlm. 23)
  2. Orang-orang yang percaya bahwa ia bisa menemukan penjelasan di balik keajaiban mungkin tidak percaya ‘keajaiban’ itu ada sama sekali. (hlm. 162)
  3. Ketika kita menyukai sesuatu, tentunya kita ingin hal-hal lain yang kita sukai juga menyukai sesuatu itu, supaya semua hal yang kita sukai bisa selalu bersama-sama tanpa rasa keberatan. (hlm. 193)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Manusia memang kebanyakan kaget. Itu karena mereka punya terlalu banyak perkiraan. Jadi, kalau perkiraannya salah, kagetlah mereka. (hlm. 35)
  2. Orang kurang ajar tidak tahu sopan santun itu selalu bisa bikin orang lain marah. (hlm. 57)
  3. Orang jahat yang tidak menghormati orangtua adalah hal yang sangat dibenci. (hlm. 62)
  4. Menyayangi adalah kegiatan yang menakutkan. (hlm. 64)
  5. Mungkin wanita memang punya lebih banyak kebutuhan untuk dikelilingin teman bicara. (hlm. 84)
  6. Orang aneh sering mendapat julukan dan label; orang yang sangat hebat sering menerima gelar. (hlm. 88)
  7. Masalah manusia banyak amat. Tetangganya banyak oceh, yang diocehi terlalu banyak memikirkan ocehan orang. (hlm. 143)
  8. Orang-orang bilang, tidak ada rasa takut dalam cinta sejati. (hlm. 174)
  9. Kadang-kadang justru mahluk yang tidak hidup memiliki kemampuan lebih baik untuk mencintai. (hlm. 185)
  10. Mahluk tidak hidup, meskipun tidak hidup, punya kehidupan. (hlm. 185)
  11. Manusialah yang membuat setan bertengkar dengan Tuhan. Manusia yang membuat binatang mati, tumbuhan mati, manusia lain mati. (hlm. 207)
  12. Kehilangan seseorang yang kita cintai menimbulkan rasa sakit yang serupa dengan ditusuk seribu jarum di bola mata. (hlm. 241)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Semua Ikan Di Langit

Penulis                                 : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penyunting                         : Septi Ws

Illustrator isi                       : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Desainer sampul              : Tim Desain Broccoli

Penerbit                              : Grasindo

Terbit                                    : 2017

Tebal                                     : 259 hlm.

ISBN                                      : 9786023758067

Advertisements

6 thoughts on “REVIEW Semua Ikan Di Langit

  1. Ohhh.. Terjawab juga rasa penasaran saya, ini toh buku yang sering disebut-sebut sampai meniadakan juara 2 dan 3 dari suatu kompetisi menulis.
    Makasih info dan rekomendasinya ya Luckty. Langsung masuk whislist.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s