[BLOGTOUR] REVIEW Ya Allah Aku Rindu Ibu + GIVEAWAY

“Harta takkan dibawa mati. Kebahagiaan memang tak pernah karena satu hal saja. Kebahagiaan itu satu paket. Dan bahagia memang adanya di hati. Bukan lagi berada dalam logika dan hitung-hitungan matematika.” (hlm. 125)

Dari judulnya saja, sudah bikin tenggorokan tercekat. Cukup lama untuk meniatkan membaca ini hingga jadwal blogtour datang. Kenapa? Karena takut nggak kuat baca. Ternyata memang benar, membaca ini air mata langsung jebol. Langsung keinget tahun ini genap sebelas tahun tanpa mama.

Oya, sebelum saya, ada seorang muridnya yang membacanya duluan. Dia sudah berkaca-kaca ketika baru membaca prolognya. Katanya, keinget ibunya yang kerja jauh. Ya, anak ini tinggal sendirian di rumah. Orangtuanya berpisah, ayahnya menikah lagi dan kini ibunya pontang panting bekerja di luar provinsi untuk membiayai kebutuhan sekolahnya. Duh…suka mewek kalo nemu murid kayak gini :’)

Ya, dari prolognya sang penulis menuliskan bahwa betapa berat memulai kehidupan tanpa sang ibu setelah tiga bulan ditinggal pergi. Saya pun merasakannya di bulan ketiga juga. Ketika mama kembali pada-Nya, semua orang tak hanya saudara tapi juga tetangga tentu akan bahu membahu menolong, peduli dan memeluk kita. Tapi kita harus sadar, bulan-bulan berikutnya kita harus bangkit dan berjuang sendiri. Harus bisa dan harus mampu. Karena tidak selamanya orang lain di samping kita. Saudara ataupun tetangga juga memiliki urusan pribadi masing-masing. Tidak mungkin mengurusi kita selamanya.

Waktu itu, saya ibarat pisang yang dikarbit. Matang sebelum waktunya. Ranting yang terpaksa harus menjadi pohon dan harus melindungi tiga ranting lainnya. Dan itu tidak mudah. Banyak air mata yang harus dikeluarkan. Sangat terasa berat di tahun awal kepergian mama. Apalagi saat itu saya kuliah jauh merantau. Sementara memiliki tiga adik yang masih kecil-kecil. Kebayang kan bagaimana rumah tanpa mama. Bahkan sampai sekarang pun saya masih harus banyak belajar memahami kehidupan.  Memang tidak mudah menjalaninya. Tapi sekarang saya merasakannya, bahwa anak yang ditinggal pergi orangtuanya adalah anak-anak pilihan. Anak-anak yang lebih mandiri dan kuat menghadapi gelombang kehidupan.

Begitu juga dengan yang penulis alami. Ini merupakan semacam memoar yang ditulis khusus oleh seorang anak sebagai bakti untuk ibunya. Saya jadi keinget, dulu banget pengen buat semacam tulisan tentang perjalanan mama, apalagi mama memiliki banyak diary yang berisi perjalanan kehidupannya. Sampai sekarang masih saya simpan, dan sesekali saya baca (ulang) saat kangen mama atau saat lagi banyak masalah dan bingung mau ngomong ama siapa. Membaca diary-diary mama seperti membangkitkan semangat untuk kuat menghadapi hidup.

Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kisah Ibuk dalam buku ini:

  1. Mengurus orangtua. Ibuk menjadi panutan penulis dalam mengurus orangtua. Ya, ibuk sangat telaten mengurus Mbah Uti hingga akhir hayatnya. Begitu juga dengan penulis. Seringkali kita melihat anak tidak mau mengurusi orangtuanya yang sudah tidak lagi melakukan pertolongan apa-apa. Orangtua tidak menginginkan harta yang berlimpah, tapi kasih sayang dan peduli dari anak-anaknya. Itu lebih dari segalanya.
  2. Aqil baligh bagi seorang perempuan. Yang dialami penulis di halaman 26 juga berlaku buat saya. Dan ketika adik perempuan juga mengalaminya, beruntungnya saya sudah mendapat ‘pencerahan’ dari mama saat masih ada. Aqil baligh tandanya semua kita tanggung sendiri, bukan orangtua lagi yang menanggungnya. Kalau kita nggak menjalankan perintah Allah seperti melupakan shalat maupun puasa, dosanya sudah ditanggung kita sendiri.
  3. Menjadi orangtua bukan berarti memberi jarak antara orangtua dan sang anak. harusnya orangtua bisa menjadi teman bagi sang anak. Dengan begitu, sang anak akan merasa dekat dengan orangtuanya dan mau terbuka dengan orangtua tanpa menyembunyikan hal-hal yang dialami. Dulu, saya pernah mikir, kenapa mama gampang banget dekat ama murid-muridnya bahkan pernah ada yang memberi surat yang isinya kenapa mama peduli banget ama dia sedangkan orangtuanya tidak begitu peduli dengannya. Dulu mama mengajar di sekolah dasar dengan anak-anak dengan ekonomi ke bawah yang artinya banyak orangtua mereka yang bekerja di pasar, menjadi buruh atau banyak juga hanya bekerja serabutan. Sangat dimaklumi sekali jika orangtua mereka pasti mengurusi perut baru pendidikan anak-anaknya. Ternyata itu juga saya alami sendiri setelah bekerja di sekolah menginjak tahun ketujuh. Banyak sekali anak-anak yang tidak dekat dengan orangtuanya karena kebanyakan orangtua ‘terlalu’ mengatur mereka. Banyak yang heran kenapa saya yang hanya justru pustakawan justru lebih dekat dengan anak-anak dibandingkan dengan guru yang mengajar mereka setiap harinya. Mungkin karena saya tidak pernah ‘menghakimi’ mereka saat salah. Yang diperlukan mereka saat mendapat masalah adalah didengarkan. Tidak perlu dimarahi apalagi dinasehati sampe berbusa-busa. Karena sebenarnya mereka paham apa yang mereka lakukan terkadang keliru, jadi tanpa perlu dimarahi mereka lebih tahu. Begitu juga dengan penulis saat menghadapi anaknya yang mulai beranjak remaja dan mengalami apa yang namanya jatuh cinta.
  4. Naik haji. Nggak hanya dari sisi ibu, dari sisi bapaknya penulis juga mirip dengan apa yang saya alami. Dulu pas masih ada mama, papa belum kepikiran pengen naik haji. Katanya mau mengurus anak-anaknya dulu agar bisa berhasil semua. Alhamdulillah, dua tahun lalu papa berkesempatan naik haji bareng ibu (sambung). Dan yang alhamdulillah lagi banyak doa papa yang terkabul saat di tanah suci. Dan yang paling alhamdulillah lagi adalah papa selalu menyempatkan solat berjamaah di mushola seberang rumah. Puasa Senin-Kamis pun nggak pernah dilewatkan. Sungguh perubahan sederhana bagi orang lain tapi luar biasa bagi saya. Seperti Rahma, adik penulis, saya dan adik juga sempat khawatir dengan keberangkatan papa. Apalagi sebelum berangkat, beliau menitipkan beberapa amanah bahkan sampai membuat semacam surat wasiat jika nanti nggak kembali saat menunaikan ibadah haji. Duh…rasanya bikin mrebes mili jika mengingatnya, apalagi tahun itu setiap harinya banyak insiden-insiden kecil di Mekkah. Kami berempat tiap hari cemas menatap layar televisi. Apalagi papa berpesan, nggak perlu sms atau nelepon keseringan. Selama puluhan hari itu jadi merasakan bahwa biasanya orangtua yang mencemaskan anak-anaknya yang belum pulang, sekarang kami kebalikannya. Berharap papa dan ibu pulang dengan selamat. Itu saja. Alhamdulilaah, beliau sehat walafiat selama di sana.
  5. Masih dari sisi bapak penulis yang pernah ketiban ‘musibah’ ditipu orang lain. Papa juga pernah beberapa kali merasakannya. Masalah tanah. Masalah ternak. Dan sebagainya. Dari situ saya mendapat pengalaman bahwa kita boleh baik sama orang lain, tapi jangan pernah percaya sepenuh hati. Kita tidak akan pernah tahu bahwa suatu hari akan ‘ditusuk’ dari belakang. Mungkin karena pengalaman-pengalaman pahit yang dirasakan saat kecil, saya tumbuh menjadi manusia yang tidak bisa sepenuhnya terlalu percaya pada orang lain. Baik itu urusan pribadi, maupun urusan rumah. Apalagi setelah mama pergi, papa pernah bilang bahwa sesusah apa pun hidup jangan pernah diumbar ke tetangga apalagi orang lain. Makanya, saya dan juga adik-adik meski aktif banget di sosmed, nggak pernah mengumbar permasalahan hidup. Jadi, yang nggak tahu pasti dikiranya kita hidup selalu manis-manis. Agak heran, apalagi akhir-akhir ini banyak sekali yang mengumbar permasalahan pribadinya. Memang viral sih, tapi apa nggak malu mengumbar aib sekalipun sudah jadi mantan?!? X))
  6. Urusan perjodohan. Sepertinya bagi perempuan di usia matang pasti pernah mengalaminya, seperti yang dialami penulis. Saya juga gitu. Dan saya satu dari sekian orang yang nggak ambil pusing dengan urusan jodoh. Mungkin karena mainnya tiap hari ama murid-murid unyu, jadi keingetnya masih tujuh belas melulu.. x)) #ditimpukmassal

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Manusia takkan ada yang sempurna. Begitu juga dengan kita. (hlm. 11)
  2. Kita tak bisa meremehkan kemampuan anak-anak untuk berpikir. Harus ada jawaban logis untuk menjawab semua pertanyaan yang abstrak. Sesuatu yang abstrak, ketika disampaikan dengan bahasa positif akan lebih berpengaruh dalam pola berpikir mereka. (hlm. 19)
  3. Tak ada yang bisa membantu kita kalau bukan saudara sendiri. (hlm. 40)
  4. Manusia memang hanya bisa berencana, namun tetap saja semua adalah skenario Allah. (hlm. 56)
  5. Di setiap kehidupan, selalu ada fase-fase ketika keimanan manusia naik dan turun begitu cepat. (hlm. 60)
  6. Namanya kematian itu Allah yang menentukan. (hlm. 63)
  7. Ketika seseorang tertimpa musibah, sangat jarang ada yang berusaha menyabarkan atau memberi saran yang menyamankan hati. Rata-rata orang yang datang malah memberikan saran yang menyesatkan. (hlm. 67)
  8. Ketika kita percaya bahwa Allah akan memberikan kita tempat yang paling baik, Allah pasti akan memberi itu. (hlm. 118)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Ya Allah Aku Rindu Ibu

Penulis                                                 : Irfa Hudaya

Penyunting                                         : Bitbit Pakarisa

Rancang visual Sanpul & Isi          : N. Anjala

Penerbit                                              : Kana Books

Terbit                                                    : Desember 2016

Tebal                                                     : 254 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-60440-1-3

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia.

2. Follow akun twitter @lucktygs dan @irfahudaya. Jangan lupa share dengan hestek GA #YaAllahAkuRinduIbu dan mention via twitter. 

3. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

4. Jawab pertanyaan di kolom komentar di bawah, plus nama, akun twitter, dan kota tinggal. Pertanyaannya adalah berikan alasan kenapa menginginkan buku ini. Mudah bukan? 😉

5. Giveaway ini juga boleh di share via blog, facebook, dan sosmed lainnya. Jangan lupa sertakan hestek GA #YaAllahAkuRinduIbu yaaa… 😉

Event ini gak pake helikopter, eh Rafflecofter yang ribet itu. Jadi pemenang ditentukan dari segi jawabannya ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

GA #YaAllahAkuRinduIbu ini berlangsung seminggu: 13-18 Maret 2017. Pemenang akan diumumkan tanggal 19 Maret 2017

Akan ada SATU PEMENANG yang akan mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penulisnya… ;)

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

Pemenang giveaway kali ini adalah:

nama: insan gumelar ciptaning gusti
akun twitter: @san-fairydevil
kota tinggal: surakarta

Selamat buat pemenang. Sila kirim email ke  emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com dengan judul: konfirmasi pemenang Giveaway Ya Allah Aku Rindu Ibu. Kemudian di badan email cantumkan; nama, alamat lengkap, dan no hape biar hadiahnya segera dikirim langsung oleh penulisnya ya.

Terima kasih buat Mbak Irfa Hudaya kerjasama dan  kepercayaannya. Semoga lain waktu bisa bekerjasama kembali… 😉

Buat yang belum menang, jangan sedih. Masih banyaaaakkkk giveaway lainnya yang menanti!! :*

-@lucktygs-

Advertisements

24 thoughts on “[BLOGTOUR] REVIEW Ya Allah Aku Rindu Ibu + GIVEAWAY

  1. Nama : Erlina Dwi
    Twitter : @erliynaDN
    Domisili : Mojokerto

    Jawaban alasan kenapa menginginkan buku ini:
    Setelah membaca review di blog kakak ini, saya jadi sagat ingin memiliki novel ini karena novel ini dapat memberikan pembelajaran serta hikmah yang dapat diambil. Saya juga sangat suka dengan kalimat favorit yang kakak tulis dari novel ini.

  2. ailina
    @ailina85
    probolinggo

    Mengapa saya menginginkan buku ini?
    Karena saya juga seorang ibu yang sedang belajar dari 2 guru kecil saya. Dan karena saya adalah seorang anak dari seorang ibu yang sampai saat inipun masih selalu menganggap saya putri kecilnya.. 🙂
    Membaca resensi Luckty, membaca buku ini akan menambah banyak sekali pengetahuan saya, baik sebagai seorang anak ataupun sebagai seorang ibu 🙂

  3. nama: insan gumelar ciptaning gusti
    akun twitter: @san-fairydevil
    kota tinggal: surakarta
    Pertanyaannya adalah berikan alasan kenapa menginginkan buku ini.
    Karena hanya ibu yang aku punya. Setelah kepergian bapak setahun yang lalu, ibu kerja di tempat saudara. Kadang enggak pulang karena harus menginap di sana. Pulanv selalu sore pukul 4 atau 5 sore dan nanti sekitar pukul 7 atau 8 sudah tidur. Padahal aku balik dari kampus kurang lebih sama kayak ibu, terus masih ngerjakan tugas dan semacamnya. Ketika dulu masih ada waktu buat bercanda, cerita-cerita bareng, dan semcamnya sekarang seolah berkurang. Karena ketika sampai rumah, ibu sudah lelah dan istirahat. Sedangkan aku baru selesai dengan tugas-tugas.
    Aku rindu ibu yang dulu, ketika bapak masih ada, banyak waktu lebih banyak yang dihabiskan bersama ibu. Tapi aku juga gak bisa nyalain ibu yang sampai harus kelelahan seperti itu.
    Alasanku ingin baca adalab karena aku berpikir rasa rinduku ini karena alasan yang sederhana, jauh lebih merindukan sosok bapak. Namun, sama saja. Aku tetap merasakan kerinduan ketika seseorang yang sering aku lihat dan menghabiskan waktu yg banyak, mendadak seakan ‘menghilang’.

  4. Nama: Bety Kusumawardhani
    Twitter: @bety_19930114
    Domisili: Surakarta

    Karena aku ingin menjadikan buku ini sebagai panduan dan inspirasiku untuk menuliskan pengalaman-pengalamanku bersama ibu mulai dari pertama kali masuk sekolah hingga nanti aku akan melepas masa lajang. Kumpulan-kumpulan tulisanku nanti akan kuberikan pada ibuku tepat sebelum hari H pernikahanku nanti.

  5. Nama: Bety Kusumawardhani
    Twitter: @bety_19930114
    Domisili: Surakarta

    Karena aku ingin menjadikan buku ini sebagai panduan dan inspirasiku untuk menuliskan pengalaman-pengalaman bersama ibu mulai dari pertama kali masuk sekolah hingga nanti aku akan melepas masa lajang. Kumpulan-kumpulan tulisanku nanti akan kuberikan pada ibuku tepat sebelum hari H pernikahanku nanti.

  6. Nama: Imron Fhatoni
    Twitter: @imronfhatoniwk
    Domisili: Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat

    Jawaban

    Yang membuat tertarik adalah sepintas, buku ini menyimpan nilai-nilai yang menantang untuk dibaca. Bacaan yang mendalam selalu memiliki kesan tersendiri disetiap pembaca. Serasa tak sabar menyelam dalam samudera kata bijak dan menyerap berbagai kearifan yang terkandung didalam buku ini.

  7. Nama: Imron Fhatoni
    Twitter: @imronfhatoniwk
    Domisili: Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat

    Jawaban

    Yang membuat tertarik adalah sepintas, buku ini menyimpan nilai-nilai yang menantang untuk dibaca. Bacaan yang mendalam selalu memiliki kesan tersendiri disetiap pembaca. Serasa tak sabar menyelam dalam samudera kata bijak dan menyerap berbagai kearifan yang terkandung didalam buku ini.

  8. Nama : Riza Putri Cahyani
    Twitter : @Zhaa_Riza23
    Domisili : Bogor

    Aku ingin melepaskan kerinduanku kepada ibu dgn membaca novel ini. Sudah setahun aku tinggal berpisah dgn ibu dan selama itu juga aku belum pernah bertemu dengannya. Selama ini aku gak tau gimana caranya buat ngungkapin kalau aku rindu ibu tapi mungkin melalui novel ini bisa membantuku mengungkapkan perasaanku, betapa sebenarnya aku sangat merindukan ibu dan melihat wajahnya.

  9. Nama : Khairunnisa Istiyana
    Twitter : @Khaisti_11
    Domisili : Bekasi
    Url : https://twitter.com/Khaisti_11/status/841768636243099648

    Alasannya,
    Aku ingin menambahkan rasa cintaku pada Ibuku, Sebelum aku meninggalkan ibuku.
    Aku ingin memberikan yang terbaik untuknya, dan aku putuskan buku ini akan jadi selingan pedomannya. Review yang menarik dafi kak lucky membuatku yakin buku ini cocok untuk pelajar yang masih belajar mecintai orang tuanya.

  10. Nama : Fridalia Septiarini H
    Twitter : @frdliash
    Domisili : Purwakarta
    Jawaban :
    Alasan aku menginginkan buku ini adalah pertama, jujur karena aku memang sedang mencari buku-buku non fiksi motivasi seperti ini. Ingin menguatkan dan mendewasakan diri melalui membaca buku buku non fiksi. Selain itu juga karena ini buku tentang Ibu. Aku harap melalui buku ini aku bisa lebih memahami Ibu. Alhamdulillah saat ini ibuku masih ada, oleh karena itu aku perlu tuntunan untuk bersikap lebih baik pada orang tua khususnya ibu. Supaya kelak aku tidak menyesal jika suatu hari nanti terjadi sesuatu yang tidak aku harapkan:”””””

  11. Nama : Khaerunnisa
    twitter : @NhisaMinoz75
    Domisili : Kolaka, Sulawesi Tenggara.
    Membahas tentang seorang ibu, tidak akan ada habisnya, dia adalah sosok yang selalu dikenang dan takkan terlupakan. sempat menitikan air mata membaca kisah yg kakak cerita tentang seorang murid yang tinggal sendirian karena ibunya harus bekerja di luar provinsi untuk mencari uang demi membiayai sekolah anaknya. Murid ini membuat saya sadar ternyata masih ada orang yg diluar sana yg lebih menderita daripada saya. Jujur saya merasa malu terhadap murid kakak ini. Dia bisa mandiri walau tanpa seorang Ayah dan Ibu yang mendapinginya, sementara saya kehilangan sosok ayah. bukan malah membuat saya menjadi anak yg mandiri atau anak yg bisa mengurangi beban ibu, tapi malah menambah beban ibu saya, yang bisa saya lakukan hanya merawat adik2 saya ketika ibu saya bekerja, padahal seharusnya di umur saya yg 19 tahun ini sudah bisa membiayai kebutuhan saya sendiri, tpi saya malah bergantung kepada Ibu, ditinggal ibu sehari sja sudah membuat saya sedih. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana cara murid kakak, mengatasi kesedihannya ketika dia merindukan sosok ayah dan ibunya. Kehilangan sosok Ayah saja sudah membuat kita terluka apa lg di tambah dia harus di tinggal ibunya. Tidak ada alasan khusus kenapa saya menginginkan buku ini, jika saya di beri rejeki untuk mendapatkan buku ini, mungkin buku ini akan saya jadikan pembelajaran untuk menjadi anak yang bisa lebih baik dari sebelumnya.

  12. Nama : Aprilia Nur Kasanah
    Twitter : @ApriliaNurK1
    Domisili : Klaten, Jawa Tengah
    Alasan
    saya ingin memilki buku ini karena saya membaca sekilas tentang buku ini, menurut saya buku ini mempunyai banyak pelajaran yang dapat saya ambil hikmahnya untuk diri saya sendiri dan orang yang berada disekitar saya tentang bagaimana kita mencintai dan menghormati seorang ibu… dan saya juga suka membaca buku yang mempunyai banyak hikmah karena apat enambah pengetahuan dan kedewasaan saya pribadi…

    • Nama : Aprilia Nur Kasanah
      Twitter : @ApriliaNurK1
      Domisili : Klaten, Jawa Tengah
      Alasan
      saya ingin memilki buku ini karena saya membaca sekilas tentang buku ini, menurut saya buku ini mempunyai banyak pelajaran yang dapat saya ambil hikmahnya untuk diri saya sendiri dan orang yang berada disekitar saya tentang bagaimana cara kita mencintai dan menghormati seorang ibu… dan saya pribadi juga suka membaca buku yang mempunyai banyak hikmah seperti ini karena dapat menambah pengetahuan dan kedewasaan saya pribadi…

  13. Nama: A’imatul Latifah
    Twitter: @Aim_La27
    Domisili: Tuban

    Kenapa aku menginginkan buku ini??
    Entah kenapa baru membaca judulnya “Ya Allah Aku Rindu Ibu” saja aku sudah pengen ikutan nangis. Mungkin, karena buku ini membahas tentang wanita hebat yang sering aku panggil “Ibu”. Apalagi, setelah membaca reviewnya. Ternyata buku ini menyimpan seambreng pesan moral dan hikmah di dalamnya. Jadi, menurut aku buku ini adalah buku yang menarik dan perlu untuk aku miliki (pun dimiliki semua orang) Mengingat terkadang di zaman yang serba canggih ini, kebersamaan keluarga, terutama bersama ibu, sering kalah dengan gadget atau alat canggih lainnya. Jadi, buku ini seolah bisa menjadi pengingat juga cambukan keras saat kita melupakan sosok ibu.

  14. Nama : Hamdatun Nupus
    Twitter : @hamdatunnupus
    Domisili : Depok, Jawa Barat

    Alasan menginginkan buku ini :

    Well, heyyy this is about my mom right ? our mom. And…
    ahhh bicara tentang ibu, kami yang ber lima jika dibandingkan dengan beliau mungkin malah jadi se-per-lima nya ajah. Padahal diri ibu sudah tinggal separuh 4 tahun yang lalu, sayap sebelahnya patah ngebuat ibu lebih banyak nerimo kemauan kami dibandingkan dulu. Rindu ibu bahkan aku rasain hampir tiap hari, meski kadang ketika tiba dirumah dari kantor ibu sudah terlelap, ibu selalu jadi yang pertama terjaga dikala pagi. Menyiapkan makanan dan lainnya, terlebih kalo lagi berjauhan, bantal pasti basah tiap kali inget ibu lagi ngapain dan makan apa dirumah sendirian.

    Ada banyak hal yang ingin kulakukan bersama ibu untuk terhindar dari rasa sesal dikemudian hari. Semoga Allah kuatkan aku dan juga ibu untuk bisa menua bersama. Meski aku tak berbakat bersikap manis didepannya, tapi setidaknya selalu kuselipkan nama ibu ditiap penghujung doa.

    Ya Allah aku rindu ibu (lagi), semoga novel ini bisa menjadi obat dikala rindu menyergap saat kami berjarak.

    Wish me luck ({})

  15. Nama: Rohaenah
    Twitter: @rohaenah
    Kota: Jakarta
    Jawaban: mau buku ini karena aku belum punya buku dengan cerita tentang ibu seperti ini. Kebanyakan buku aku fiksi romance, teenlit atau chicklit.
    Pastinya sesuatu yg berhubungan dengan ibu selalu membuat saya tersentuh meskipun aku masih mempunyai orang tua yang lengkap. Karena aku tidak tinggal bersama ibu.

  16. Nama: Rina Fitri
    Twitter: @Rinafiiri
    Kota tinggal: Banda Aceh

    Aku menginginkan buku ini karena aku yakin buku ini punya banyak pesan moral dan aku ingin belajar daripadanya.

  17. Nama: Ana Bahtera
    Twitter: @anabahtera
    Domisili: Banda Aceh
    Jawaban:
    Bagaimana mungkin Aku tidak menginginkan buku ini?
    1. Karena ini tentang Ibu, entah kenapa bagiku kalau yang berkaitan dengan Ibu sudah sangat menarik saja dengan sendirinya tanpa perlu jelas alasannya.
    2. Karena ini sudah diriview diblog kak Lucky sang Pustakawin yang pastinya novel ini seru sampai-sampai bisa direview sebagus ini.
    3. Karena membaca 6 Hikmah yang dtuliskan kak Lucky dari novel ini membuat Aku benar-benar ingin tenggelam menjadi tokoh di dalamnya walaupun harus menjebolkan pertahanan air mata.

  18. Nama : Kitty
    Twitter : @WoMomFey
    Domisili : Jakarta

    Alasan menginginkan buku ini:

    1. Saya udah pernah mengikuti blog tour ini di beberapa blog sebelumnya, sayangnya belum beruntung. Pantang menyerah sebelum mencoba! Itulah alasan utama saya tetap mencoba mengikuti giveaway di blognya Kak Luckty ini 😉

    2. Belum terlalu banyak buku yang isinya tentang cinta seorang anak terhadap ibunya. Kebanyakan justru kisah seorang ibu yang teramat mengasihi anaknya. Buku ini pasti akan memberikan warna yang berbeda dan membekas setelah saya membacanya kelak.

    3. Review dari Kak Luckty bener2 dalem dan bahkan mengupas poin2 hikmah yang didapet setelah membaca buku ini. Nah! Saya juga kepengen dng merasakannya langsung dengan membaca buku ini 😉

    4. I’m a mom, and I’ve decided that I’ll learn lots of things through this awesome book.

  19. nama: Aulia
    twitter: @nunaalia
    kota tinggal: Serang

    Berikan alasan kenapa menginginkan buku ini.

    Membaca judulnya saja buku ini sudah menarik kita untuk membacanya. Apapun yg berhubungan dengan ibu selalu menarik dan membuat hati hangat hingga meneteskan air mata. Jujur, membaca review Kak Luckty saja mata sudah berkaca-kaca. Alhamdulillah mamaku masih ada dan sehat, membuat aku merasa bersyukur masih memiliki beliau. Membaca buku ini pasti akan membuat aku lebih bersyukur dan menghargai apa yg aku miliki saat ini, dan bisa mengambil banyak hikmah dan pelajaran dari buku ini.
    Semoga saja berkesempatan mendapatkan buku ini 😉

  20. Nama : Mimi
    Twitter : @mimichinori
    Domisili : Bekasi
    Jawaban : Aku memang tak masuk dalam kategori anak yang amat sangat berbakti pada orang tuanya, tapi aku paling enggak bisa nahan perasaan setiap membaca atau membahas sesuatu tentang orang tua. Belum lama ini, aku pun membaca novel tentang kerinduan anak pada ayahnya. Dari awal aku enggak nangis, tapi pas di akhir karena kisahnya emosional banget. Aku terbawa perasaan. Tanggul air mata ku jebol juga :’). Jadi, aku mau baca buku ini, karena aku yakin buku ini juga bisa membuat aku menangis. Aku lagi butuh bacaan yang bisa menyentuh hati, seperti buku ini. Pesan moralnya juga banyak, mungkin bisa sedikit meluruskan hidup aku yang kadang agak belok ^^;

  21. Nama: Rizki Fitriani
    twitter: @Kikii_Rye
    domisili: Sidoarjo

    aku ingin mengenang masa bersama ibu. apapun hal yg bersangkut dg Ibu selalu membawa perasaan sensitif. penasaran dg prolog yg sempat disinggung. akankah aku juga akan berkaca kaca?
    ingin tau dan penasaran akan sosok ibu yg dijabarkan penulis lewat buku ini. ingin belajar dg buku ini ttg bakti thd seorang ibu dan sebisa mungkin menjaga dan menghindari utk melukai perasaan ibu. pastinya banyak sekali pesan dan nilai kehidupan yg terdapat dlm buku ini, lalu apakah itu?

  22. Nama: Leny
    Akun twitter: @Lynlainy17
    Kota tinggal: Rantau, Kalimantan Selatan

    Aku menginginkan buku ini karena pertama aku membaca review di atas aku sudah tersentuh sekali dengan quotes ini “Harta takkan dibawa mati. Kebahagiaan memang tak pernah karena satu hal saja. Kebahagiaan itu satu paket. Dan bahagia memang adanya di hati. Bukan lagi berada dalam logika dan hitung-hitungan matematika.” Kalimat ini menyentuh sekali. Aku yakin sekali banyak hikmah dan pelajaran yang bisa di ambil dari buku ini. Apalagi buku ini adalah kisah nyata dari penulis. Aku suka sekali dengan buku yang bercerita tentang kisah nyata seperti buku ini. Aku juga sangat dekat sekali dengan ibuku dan aku ingin dapat inspirasi dari buku ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s