REVIEW I’ll be Your Wife

Di dunia ini ada orang-orang yang terlahir untuk memberikan hatinya hanya pada satu orang. (hlm. 292)

MO RAE. Setahun yang lalu, orangtuanya meninggal karena kecelakaan lalu lintas dan meninggalkan banyak utang. Kehidupannya pun menjadi berat. Intinya, PR yang paling berat bagi gadis itu adalah mencari jalan keluar untuk mendapatkan makan tiga kali sehari. Mo Rae selalu makan malam dari kotak makan yang berisi naik dan lauk pauk yang dibawanya dari kantin kampus saat makan siang. Itu bisa ia lakukan karena bibi pengurus kantin mengetahui keadaan sulit yang dihadapi oleh Mo Rae. Jika Mo Rae datang, bibi itu kadang mempersiapkan lauk pauk khusus untuk diberikan kepadanya.

Karena hidup sebatang kara, Mo Rae harus mencari uang dengan tangannya sendiri agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya. Jika Mo Rae bekerja sepanjang hari setelah kuliah dan mengesampingkan waktu tidurnya, ia bisa mencukupi biaya sekolah dan biaya hidupnya. Namu, yang paling membuat MO Rae khawatir adalah utang dengan jumlah besar yang ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Kini, setahun berlalu sejak upacara pemakaman kedua orangtuanya. Mo Rae terus menerus bekerja paruh waktu untuk membayar biaya kuliah dan hidupnya, ia masih belum bisa melunasi utang orangtuanya. Namun, setidaknya ia dapat membayar bunganya sedikit demi sedikit. Masih ada beberapa bulan tersisa sampai Mo Rae lulus kuliah. Begitu lulus, ia akan segera mencari pekerjaan demi menutup utangnya yang besar sedikit demi sedikit.

“Kita akan hidup dengan tubuh yang tertukar, seperti sekarang ini. Bagaimana pun juga, tubuh kita memang sudah tertukar. Kenyataan ini harus kita terima. Jangan membuat orang di sekitar mencurigai kita. Kau di posisiku dan aku di posisimu. Suatu saat nanti, mungkin tubuh kita akan tertukar kembali, tapi yang harus kita lakukan sekarang adalah hidup dengan tubuh tertukar seperti ini. Oleh karena itu, menjaga kerahasiaan adalah persyaratan pertama untukmu.”

“Maksudku, kalau dipikir dengan akal sehat, kau adalah anak dari keluarga kaya dan aku adalah anak yang orangtuanya sudah meninggal dan memiliki banyak utang. Aku bahkan harus bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang dan membayar biaya pendidikanku. Kenapa kau terus mengajakku hidup dengan bertukar posisi seperti ini?”

“Kau memiliki tubuh yang masih muda. Selain itu, kau memiliki kebebasan.”

“Apa itu begitu penting  untukmu?”

“Sangat penting. Aku mendapatkan kesempatan untuk menjalani hidup baru melalui dirimu. Kini Tuhan mungkin tidak begitu membenciku lagi, aku juga menyukai tubuhmu. Tubuhmu elastis dan sehat.” (hlm. 43-44)

SANG HYUK. Statusnya sebagai anak tunggal pemiliki Boyhyun secara otomatis menunjukkan identitasnya di dunia bisnis. Semenjak kecil ia dididik untuk menjadi pewaris perusahaan tersebut. Oleh karena itu, bukan kebetulan jika ia menjadi pemimpin perusahaannya yang merupakan poros utama perhotelan di Korea Selatan. Sejak kecil ia dijuluki Si Genius oleh orang-orang disekelilingnya karena memiliki otak yang cemerlang. Selain itu, ia memiliki sifat yang baik karena dibesarkan seperti anak dari keluarga biasa. Ia dipercaya menjadi direktur finansial hotel karena kemampuannya menyelesaikan pekerjaan dengan cermat dan cepat telah diakui sejak awal. Sang Hyuk juga menjadi bahan perbincangan banyak orang karena kepiawannya dalam mengelola dua belas cabang hotel tanpa pernah melakukan kesalahan sekali pun.

Tak hanya terkenal karena jiwa kepemimpinan yang ia miliki, wajah Sang Hyuk yang tampan juga menjadi perhatian banyak orang. Badannya yang tinggi membuat wajahnya terlihat jelas. Otot dadanya yang padat tersembunyi di balik kemeja putihnya. Tak ada lagi yang perlu dijelaska mengenai kelebihan Sang Hyuk.

“Hidupku sekarang benar-benar hancur. Aku ini seperti burung dalam sangkar yang haus kebebasan. Tetapi kau muncul dan membukakan pintu sangkar untukku. Aku merasa seolah berhasil melarikan diri dan malah memasukanmu ke dalam sangkar. Aku merasa sedikit merasa bersalah padamu. Tapi aku lega karena kau anak yang optimis. Kalau begitu, selamat tinggal.”

“Suami Eonni orang yang seperti apa?”

“…robot.”

“Apa?”

“Dia mesin. Dia memiliki segalanya. Tetapi, dia tidak mempunyai hati. Bahkan dia tidak memiliki perasaan. Aku pergi.” (hlm. 49)

Karena suatu hal, tubuh Mo Rae dan Seung Won tertukar. Seung Won yang merupakan putri presiden Doha Grup, juga menantu satu-satunya Presiden Direktur Bohyun Grup harusnya merasa stress saat tubuhnya tertukar dengan Mo Rae yang hidupnya pas-pasan bahkan menanggung hutang besar mending orangtuanya. Kenyataannya, Seung Won justru menikmati pertukaran tubuh mereka. Sedangkan Mo Rae yang masih syok dengan keadaan yang dialaminya, mau tak mau menerima hal ini, ditambah lagi Seung Won menjanjikan akan menebus hutang-hutangnya.

Istilah orang Jawa, kita hidup sawang sinawang. Seung Won yang bergelimang harta dan memiliki suami yang nyaris sempurna, nyatanya justru menderita. Dia hidup seakan disangkar emas. Materi yang cukup ternyata bukan patokan bahagia. Seperti hal yang dialami Seung Won.

Selain itu, pesan moral yang bisa kita ambil adalah bahawa suatu hubungan diperlukan komunikasi dua arah. Hal itu terlihat dari hubungan Seung Won dan Sang Hyuk dari awal yang memang karena perjodohan keluarganya. Sekali lagi, cinta tak bisa memilih, juga tidak bisa dipaksakan.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Manusia haruslah hidup penuh tawa. Tertawa adalah sesuatu yang sangat penting. (hlm. 156)
  2. Jangan menghancurkan masa depan yang datang melekat karena terikat masa lalu. Masa depanmu, kau sendiri yang membuatnya. (hlm. 280)
  3. Masa depanmu adalah apa yang membuat dirimu bahagia. (hlm. 280)

Selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kau akan mati setelah tidak makan. (hlm. 9)
  2. Kadang manusia juga bisa lupa. (hlm. 139)

Keterangan Buku:

Judul                                     : I’ll be Your Wife

Penulis                                 : Jho Hyo Eun

Penerjemah                       : Siti Solehatin

Penyunting                         : KP Januwarsi

Proofreader                       : Yuli Yono

Cover designer                 : Bambang ‘Bambi’ Gunawan

Ilustrasi isi                           : @teguhra

Penerbit                              : Haru Media

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 410 hlm.

ISBN                                      : 978-6027742482

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s