Movie Adaptation Review: Trinity, The Nekad Traveler

“Kadang tubuh di sini, hati disana. Kadang tubuh di sana, hati entah di mana. Untuk itu aku membuka telinga dan mata. Mendengar dan membaca. Menapaki ruang-ruang baru di berbagai belahan dunia. Mempertemukan raga dengan jiwa. Meniti rencana alam semesta. Tubuh dan hati ini perlu melanglang buana. Melihat cakrawala dari sudut yang berbeda. Keindahan setiap negara memang tak terlupakan. Dan itu justru membuatku mengenang kampung halaman. Banyak bahasa dan bangsa sudah kejelajah. Tapi tetap saja tanah airku yang punya ruang khusus didalam sukma. Karena kemanapun kaki melangkah, rumahku Indonesia.”

Seperti artikel yang saya tulis awal tahun ini, Serba-serbi Adaptasi Buku Ke Film, sebagai tanda bukti bahwa tahun ini memang banyak sekali film-film lokal yang diadaptasi dari buku. Sebut saja; Dear Nathan, Critical Eleven dan tentunya Trinity, The Naked Traveler yang versi filmnya sedikit diubah judulnya agar tidak menimbulkan kontroversi bagi yang suka gagal paham.

Menurut Dwight V Swain dan Joye R Swain yang dikutip Maroeli Simbolon, ada tiga cara utama untuk mengadaptasi karya sastra ke film, yaitu mengikuti buku, mengambil konflik-konflik penting, dan membuat cerita baru. Selanjutkan ia mengatakan bahwa dari ketiga cara tersebut, cara ketiga adalah yang sering dilakukan. Pernyataan tersebut senada dengan pendapat Krevolin, seorang penulis skenario Hollywood dan pakar dari UCLA, bahwa ketika seorang penulis skenario mengadaptasi sebuah novel, maka ia tak mempunyai hutang terhadap karya asli. Tugas seorang penulis skenario ketika mengadaptasi suatu karya ke dalam skenario film bukanlah mempertahankan sebanyak mungkin kemiripan dengan cerita asli, tapi membuat pilihan terbaik dari materi untuk menghasilkan skenario sebaik mungkin. Dengan demikian penulis skenario berhak mengambil keputusan lain berdasarkan interpretasinya.

Nggak hanya dari segi judul yang mengalami sedikit perubahan, dari segi filmnya, bagi yang sudah membacanya tentu akan melihat perbedaan besar dibandingkan versi bukunya. Jika kita menelaah dari teori di atas, penulisnya mengambil teori yang ketiga, yaitu membuat cerita baru.

Bukan alasan teori tersebut yang diambil. Seperti kita ketahui, versi bukunya yang awalnya diambil dari blog ini lebih ke perjalanan personal dengan alur yang loncat-loncat. Ya namanya juga pengalaman pribadi, jadi ya tulisannya sesuai kondisi perjalanan. Nah, di versi film ini diambil inti sari kehidupan TRINITY yang DOYAN TRAVELING dan DILEMA MENJADI PEKERJA KANTORAN.

Bagi yang sudah dewasa, tentunya bisa merasakan apa yang dialami Trinity. Kisah hidupnya seperti representasi kita yang pengen banget ke mana-mana tapi terkendala waktu, materi dan juga keadaan. Hayo, sapa juga ngalamin?!? 😀 #toss

Seperti prinsip Trinity, bahwa apa yang akan kita inginkan, alam semesta akan mendukungnya. Hal itu pun kerap terjadi pada saya. Misalnya, seperti tahun lalu nggak kebayang bisa sampe Bali sampai dua kali. Padahal masuk wist list aja nggak. Pertama, menggantikan kepala sekolah study banding. Dan yang kedua adalah pendampingan murid-murid study tour. Meski nggak masuk wish list, tapi saya memang punya keinginan untuk ke Bali. Ah, alam memang berkonspirasi untuk mendengarkannya.

Ada banyak selipan tips seputaran traveling dalam film ini, beberapa diantaranya adalah:

  1. Jika kita memiliki budget yang pas-pasan, cari tiket yang murah. Harus jeli pantengin promo-promo tiket murah ke tempat destinasi. Contohnya saat Trinity bela-belain pasang alarm demi dapetin tiket edisi midnight buat ke Lampung.
  2. Ketika kita memutuskan ke suatu tempat, jangan lupa cari tahu apa saja yang menarik di tempat tersebut. Misalnya saat Trinity ketinggalan pesawat, untuk menunggu pesawat berikutnya masih delapan jam. Daripada manyun menunggu, dia menyempatkan ke beberapa tempat yang sekiranya terjangkau dengan waktu yang ada.
  3. Cek juga kulinernya, jangan sampe apa yang kita makan ternyata nggak cocok ama lidah dan perut kita. Seperti Ezra, sepupu Trinity yang mengalami ‘jebakan’ makan telur yang udah ada benih ayamnya, yang memang salah satu makanan khas di Filipina.
  4. Menikmati apa yang sudah kita dapatkan. Nina, sahabat Trinity yang demen banget mendokumentasikan apa saja yang sudah dialami di tempat-tempat wisata. Berbeda dengan Trinity yang lebih menikmati momen-momen tersebut secara langsung dan mendokumentasikannya lewat tulisan via blog.
  5. Yang namanya traveling itu nggak perlu rewel. Yah, namanya juga lagi dalam perjalanan, ya jelas bedalah ama di rumah. Makan, tidur, dan lain-lain juga perlu dibedakan. Nikmati saja dengan apa yang sudah terjadi. Nggak perlu banyak ngeluh, nggak perlu banyak komplain. Yasmin merupakan representasi yang doyan traveling tapi rewel. Kalo punya teman tipikal kayak gini, mending depak aja, wkwkwk… x)
  6. Nah, ini yang paling utama sebenarnya. Dari awal, Trinity memiliki bucket list dalam hidupnya. Lewat film ini, pesan yang mau disampaikan adalah bahwa hidup yang terlalu terpaku dengan apa yang sudah kita rencanakan, nyatanya justru akan membuat kita nggak menikmati hidup. Terutama dalam hal traveling. Kita nggak perlu terlalu terpatok dengan apa yang sudah menjadi bucket list kita. Kita memang boleh saja membuat buckt list dalam hidup kita, tapi bukan berarti kita nggak bisa menikmati hal-hal di luar bucket list kita, kan? 😉

Dari puluhan tempat bahkan negara, ada tiga negara yang diangkat dalam versi filmnya. Indonesia, Filipina dan Maldives. Khusus untuk Indonesia, salah satunya adalah destinasi ke Lampung. Saya sebagai warga Lampung tentu antusias banget mengikuti perkembangan film ini. Ada tiga tempat di Lampung yang menjadi pilihan dalam filmnya. Jika Way Kambas dan Gunung Anak Krakatau sudah menjadi semacam ciri khas Lampung, di film ini juga mengangkat tempat yang lagi hits di Lampung, yaitu Pulau Pegadungan, atau yang lebih dikenal Gigi Hiu karena bentuknya tebing-tebing tinggi dan tajam seperti gigi hiu.

Oya, pas di Lampung, sempat juga Masjid Taqwa, Metro disorot dari atas:

Ya, di pembuka filmnya, kita bisa melihat ada semacam iklan ‘Theasure of Sumatra’ yang memang sedang lagi digalakkan di Lampung terutama saat pemerintahan Gubernur M. Ridho Ficardo. Melalui film ini, sebagai ajang promosi pariwisata Lampung. Jadi, patut berbangga bahwa premier film ini diadakan di Lampung. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Lampung nih! 😉

Kurang kece badai apa lagi ini bapak gubernurnya selfie berbaur dengan para pemain film ini dan masyarakat Lampung:

Maudy Ayunda sebagai Trinity di Gigi Hiu:

Babang Hamish di Way Kambas sebagai Paul:

Dari segi penokohan, Maudy yang biasanya tampil manis di peran-peran sebelumnya ternyata bisa tampil tomboy dan nggak jaim di film ini. Dia mau kotor-kotoran pas kena semprotan belalai gajah sewaktu di Way Kambas bahkan nyoba makanan ekstrim pas di Filipina. Kalau Babang Hamish berperan sebagai Paul udah kayak sebagai diri sendiri gitu. Tokoh-tokoh pendukungnya justru yang paling memancing tawa penonton, siapa lagi kalo bukan Babe Cabita sebagai Ezra, sepupu Trinity dan Ayu Dewi sebagai Bosnya Trinity di kantor.

Eh..eh…ada Mas Ariev Rahman, travel blogger yang jadi cameo di sini 😀

Lewat garapan Rizal Mantovani, kita sebagai penonton akan dimanjakan tempat-tempat ‘harta karun’ di Indonesia, salah satunya di Lampung. Terima kasih penulis skenario dan produsernya yang telah mengangkat tanah kelahirannya lewat film.

Seperti di kalimat penutup dalam film ini, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa “Kemana pun kaki melangkah, rumahku Indonesia.”

#JampiJampiBuatMenangKeMaldives 😀

Advertisements

12 thoughts on “Movie Adaptation Review: Trinity, The Nekad Traveler

  1. Terharu saat ada scene Masjid Taqwa dilihat dari atas. Ini momentum pariwisata Lampung untuk naik kelas ke level berikutnya ya. Apalagi penguasa saat ini memberikan ruang seluas-luasnya kepada komunitas lokal untuk lebih eksis melalui dunianya masing2 🙂

    • Iya Bang, aku nggak nyangka banget pas nonton ada tampilan Masjid Taqwa meski cuma beberapa detik, soalnya belum ada yang bahas ini pas nonton premiernya 😀
      Semoga pariwisata Lampung makin melejit, terima kasih untuk Bang Yopie dkk yang selalu semangat mengenalkan Lampung lewat dokumentasi dan tulisannya :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s