REVIEW Semusim, dan Semusim Lagi

Kewarasan adalah fiksi yang sempurna. (hlm. 197)

Seperti halnya siswa kelas 3 SMA pada umumnya, harusnya sang tokoh utama melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dan seperti kelas 3 SMA pada umumnya, biasanya akan mendapatkan beberapa amplop yang berisi tentang penerimaan atau tawaran untuk masuk ke perguruan tinggi. Ditumpukan amplop yang dia terima, ada sebuah amplop yang kelak akan mengubah jalan hidupnya; berisi surat dari seseorang yang harusnya dia panggil ayah.

Selama ini dia hanya hidup bersama ibunya yang berprofesi sebagai dokter. Selama tujuh belas tahun bersama, mereka hanya bicara seperlunya saja. Ibunya seorang dokter bedah otak, dan intensitas pekerjaannya membuatnya takjub pada betapa banyaknya penduduk kota ini yang otaknya perlu di perbaiki. Ibunya sangat jarang berada di rumah. Dan jika ibunya berada di rumah, beliau akan menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar.

Ketika masih kecil, dia sering berkhayal bahwa ibunya adalah bukan ibunya, dan dia berharap ibunya yang asli akan datang pada suatu senja yang indah, menjemputnya untuk bertamasya ke kebun binatang, membeli es krim, dan pulang ke rumah mereka dengan hangat. Tapi semua itu hanyalah ilusi baginya.

Dari awal sampai akhir, tokoh utama dalam buku ini tidak akan kita temukan namanya. Awalnya saya berpikir jika jalan ceritanya akan fokus ke proses pertemuan dengan ayahnya yang seumur hidupnya belum pernah dia temui, seperti di awal cerita. Ternyata lebih dari sekedar itu. Masalahnya makin meluas meski tetap berpusat pada nasibnya di dunia ini.

Sebagai pembaca garis keras novel-novelnya Paulo Coelho, buku ini mengingatkan saya akan buku Veronika Memutuskan Mati. Persamaan dari dua buku ini adalah mengangkat kehidupan sang tokoh utama yang terganggu secara kejiwaan.

Buku ini merupakan karya pemenang pertama Lomba Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2012. Novel ini juga mengingatkan saya akan novel Semua Ikan di Langit yang merupakan pemenang pertama Lomba Dewan Kesenia Jakarta pada tahun 2016. Persamaan dari kedua novel ini adalah menghadirkan tokoh absurd yaitu ikan. Ikan dalam buku ini merupakan reinkarnasi dari wujud suami Oma Jaya yang sudah meninggal. Oma Jaya sangat meyakini bahwa ikan mas koki yang muncul di bak mandinya. Bagi Oma Jaya, kita harus bisa melihat cara memandang seseorang yang kita cintai, kita bisa merasakannya.

Tanpa disadari, adanya banyak selipan moral yang bisa kita temukan dalam buku ini. Salah satunya adalah masalah perjodohan. Pihak orangtua biasanya merasa takut anaknya tidak akan mendapatkan jodoh yang baik, maka biasanya mereka memutuskan membuat perjodohan untuk anaknya. Sedangkan di sisi sang anak, merasa justru hidupnya berakhir jika ia menikah dengan orang yang tidak dicintai. Seperti di halaman 184-185. Kedua, tentang masalah keyakinan seseorang. Dalam hidup, setiap orang dapat bebas mengemukakan gagasan. Tapi jika gagasan kita tidak sama dengan orang lain, kita dianggap salah hanya karena kita tidak sepemikiran dengan mereka. Seperti yang dijabarkan di halaman 186-187.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Ada perbedaan mendasar antara hebat dan keren. (hlm. 58)
  2. Kadang-kadang manusia harus bisa menerima bahwa di dunia ini ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan, atau dirumuskan. Ada pertanyaan-pertanyaan yang akan selalu berujung pada kekosongan. (hlm. 103)
  3. Kadag-kadang jika kau hidup begitu lama dengan seseorang, ada ciri-ciri khusus dalam diri mereka yang begitu lekat menempel pada ingatanmu. (hlm. 122)
  4. Segala sesuatu yang terjadi pada kita, baik ataupun buruk, pasti berlalu. (hlm. 153)
  5. Jika kau harus memercayai sesuatu, apa salahnya memercayai kata-kata orang yang sudah hidup begitu sering? (hlm. 190)

Ada juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Karma seseorang menentukan bentuk kelahirannya kembali. (hlm. 124)
  2. Suka saja tidak cukup untuk punya anak bersama. (hlm. 140)
  3. Segala sesuatu terjadi sebagaimana seharusnya, dan jika kau memeriksanya dengan sungguh-sungguh, kau akan tahu memang begitu adanya. (hlm. 152)
  4. Segala prestasi, penghargaan, pencapaian, setelah terlewat tidak akan menyisakan apa pun/ lalu pengetahuan, apa gunanya pengetahuan, selain membuatmu memandang bahwa dunia ini cuma begini-begini saja? Kau tidak rugi apa pun, percayalah. (hlm. 154)
  5. Menjadi orangtua tidak semudah kelihatannya. (hlm. 163)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Semusim, dan Semusim Lagi

Penulis                                 : Andina Dwifatma

Editor                                    : Hetih Rusli

Desain sampul                   : Rio Tupai

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : April 2013

Tebal                                     : 232 hlm.

ISBN                                      : 978-979-22-9510-8

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW Semusim, dan Semusim Lagi

  1. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW Seribu Tahun Mencintaimu + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s