REVIEW Landline

“Kita tidak akan pernah tahu kapan terakhir kali kau melihat seseorang, dan kau tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.” (hlm. 15)

Kadang-kadang Georgie kebingungan saat sedang bertengkar dengan Neal. Pertengkaran mereka akan bergeser ke hal lain –ke sesuatu yang lebih berbahaya- dan Georgie sama sekali tidak menyadarinya. Kadang-kadang Neal akan mengakhiri percakapan mereka atau tidak lagi memperhatikan Georgie saat wanita itu masih berusaha menekankan maksudnya. Ia akan terus berdebat cukup lama walau Neal sudah tidak memperhatikannya lagi.

Georgie dan Neal adalah sepasang suami istri yang memiliki anak-anak lucu. Seharusnya kehidupan mereka sempurna. Apalagi karir Georgie sedang melesat. Tapi justru inilah masalahnya. Puncaknya adalah ketika mereka sedari lama sudah merencanakan akan menikmati natal bersama anak-anak dan menikmati liburan natal, justru terkendala dari sisi Georgie.

“Aku tidak mengerti.”

“Kau harus menghadiri pertemuan itu. Dan kita sudah punya tiket pesawat. Bagaimanapun juga akan bekerja sepanjang minggu. Jika kau tetap di sini, fokus pada acaramu –aku dan anak-anak akan mengunjungi ibuku.”

“Tapi ini libur natal. Anak-anak…”

“Mereka bisa merayakan natal lagi bersamamu setelah kami pulang. Mereka akan sangat menyukainya. Merayakan natal dua kali.” (hlm. 11)

“Ini natal.”

“Ayolah, Georgie, kita masih bisa merayakan natal –kita akan merayakan natal yang terhebat setelah pertemuan itu.”

“Katakan itu kepada anak-anakku.”

“Aku akan melakukannya. Anak-anak sangat menyukaiku.”

“Seth, ini natal. Apa pertemuan ini tidak bisa ditunda?”

“Kita sudah menanti-nanti pertemuan ini sepanjang karier kita. Dan kita mendapatkannya, Georgie. Sekarang. Akhirnya terjadi juga.” (hlm. 9)

Dilema bagi perempuan yang sudah berumah tangga adalah harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga secara seimbang. Tokoh Georgie yang berprofesi sebagai penulis acara TV ini merepresentasikan kegalauan para perempuan dengan pekerjaan yang menguras tenaga dan waktu yang harus siap kapan saja. Mulanya dia merasa akan baik-baik saja tidak merayakan natal bersama suami dan anak-anaknya, karena dia bisa berkomunikasi dengan mereka meski jarak jauh lewat telepon. Namun siapa sangka, suaminya, Neal yang dia telepon adalah Neal di masa lalu saat mereka belum menikah. Georgie tetap berada di tahun 2013, sedangkan Neal berada di lintasan waktu 1998.

“Ada telepon ajaib di kamar masa kecilku. Aku bisa menggunakannya untuk menelepon suamiku di masa lalu. Ada telepon ajaib di kamar masa kecilku. Aku mencabut kabelnya tadi pagi dan menyembunyikannya di lemari. Mungkin semua telepon yang ada di rumah itu adalah telepon ajaib. Atau mungkin aku mahluk ajaib. Mahluk ajaib temporer. Apa itu bisa dibilang sebagai perjalanan waktu? Kalau hanya suaraku saja yang menembus waktu? Ada telepon ajaib yang tersembunyi di dalam lemariku. Kupikir telepon itu tersambung dengan masa lalu. Kupikir seharusnya aku memperbaiki sesuatu. Kupikir seharusnya aku membetulkan sesuatu.” (hlm. 171)

Pesan moral dari buku ini adalah dalam suatu hubungan sepasang manusia, salah satu kunci utamanya adalah komunikasi dan kepercayaan. Ini adalah tulisan Rainbow Rowell yang saya baca, sebelumnya ada Eleanor and Park dan Fangirl yang sama-sama mengangkat tema remaja. Sangat berbeda sekali dengan buku ini yang tokoh utamanya sepasang manusia dewasa dengan konflik permasalah kehidupan yang lebih kompleks. Suka ama covernya juga bookmarknya, sangat merepresentasikan isi bukunya. Jika kamu memiliki kesempatan untuk menelepon ke masa lalu, siapakah yang ingin kalian hubungi? 😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Lakukan saja apa yang harus kau lakukan. (hlm. 23)
  2. Niat itu mengalahkan alasan yang sesungguhnya. (hlm. 99)
  3. Membuat orang-orang tertawa itu sesuatu yang nyata. (hlm. 141)
  4. Tidak ada yang harus dipikirkan. (hlm. 275)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kau tidak kelihatan baik-baik saja. (hlm. 37)
  2. Makan adalah satu-satunya yang bisa memecahkan situasi monoton. (hlm. 63)
  3. Bukankah selalu ada orang yang meninggalkan pasangan mereka begitu berteman di Facebook dengan teman kencan mereka saat pesta dansa? (hlm. 70)
  4. Komitmen bagaikan batu besar yang terlalu berat untuk dibawa-bawa. (hlm. 89)
  5. Semua yang baik tidak ada yang mudah. (hlm. 166)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Landline

Penulis                                 : Rainbow Rowell

Penerjemah                       : Airien Kusumawardani

Penyunting                         : M. R. Prajna Pramudita

Proofreader                       : Titish A. K.

Desain cover                      : Chyntia Yanetha

Terbit                                    : April 2016

Tebal                                     : 370 hlm.

ISBN                                      : 978-602-74322-1-5

Advertisements

One thought on “REVIEW Landline

  1. Pingback: REVIEW Dear, Me + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s