REVIEW Faith and the City

“Bumi Allah itu tidak hanya di kota ini. Rezeki juga enggak cuma disebar di sini. Aku tahu kamu mendapatkan bonus ini itu. Tapi rezeki bukan hanya ada yang di tangan, tapi yang ada di hati. Mengapa kita tidak memijak bumi Tuhan yang lain dengan rezeki asalkan kita bersama?” (hlm. 174)

Ada fase hidup saat Hanum harus meninggalkan Indonesia beberapa tahun lalu. Fase mentereng yang menjanjikan kariernya melambung tinggi di bidang media. Menjadi presenter dan reporter andal sebuah stasiun TV nasional. Semua itu buyar dan terhenti di tengah jalan ketika Rangga memberi angin surga; pergi bertualang ke Eropa seraya menyelesaikan gelar Ph.D-nya. Dan kalimat ‘my family must come first’ seolah menjadi tenaga bagi Hanum untuk cita-cita seperti presenter idolanya, si Andy Cooper.

Bumi Tuhan tak hanya Indonesia, rezeki Tuhan tak tersebar hanya di bumi pertiwi, melainkan berceceran di belahan bumi lain. Rangga meyakinkan bahwa Hanum pasti bisa bekerja di Wina. Melanjutkan pekerjaannya sebagai wartawan, bahkan dengan skala internasional. Sungguh Rangga pun tak memiliki amunisi lain untuk meyakinkan istrinya untuk ikut mengarungi bahtera hidup di Eropa, selain berbakti kepada suami, ganjarannya surga. Keyakinan bahwa dengan mengabdi pada belahan jiwa secara tulus ikhlas, Tuhan juga akan mengabdi pada kita dengan tulus ikhlas. Dan, suatu hari Tuhan membalas dengan lipatan kenikmatan.

Hanum membelinya dengan sepenuh hati. Dengan cucuran air mata ia meninggalkan pekerjaan yang ia cintai. Ia rela menjadi pengangguran beberapa bulan di Wina. Ia mengikhlaskan dirinya berkarier di dapur, memasak untuk suaminya, meskipun ia sendiri paham dirinya fobia minyak goreng –apalagi jika terciprat dari wajan- mengantarkan ke kampus, menyiapkan pakaian, dan sesekali memijat punggung dan kaki Rangga karena kelelahan luar biasa. Hanum menikmatinya. Setidaknya selama tiga tahun bekerja, ia tak pernah mendapatkan kesempatan menjadi istri sejati bagi Rangga.

Jatuh bangun Hanum mengeja kota antah berantah bernama Wina, tanpa bekal bahasa Jerman yang wajib dikuasai. Hingga janji Tuhan untuk membayar kerelaannya datang. Heute ist Wunderbar tertarik dengan CV-nya dan menerimannya menjadi wartawan. Bukan wartawan sekelas TV dulu, tentu saja. Namun wartawan kecik. Yang menulis tulisan remeh-temeh. Wartawan medioker. Dan Hanum puas melebihi apa pun. Kecuali cita-cita menjadi seorang ibu yang masih saja tertunda.

“I am impressed. Kamu adalah wanita muslim Asia satu-satunya yang pernah menginjakkan kaki di kantor ini. Kuharap kesetiaanmu pada pekerjaan tidak luntur hanya untuk anak-anakmu, suami atau yang lain.” (hlm. 37)

Ketika sepasang manusia memutuskan untuk berumah tangga, hal yang paling dirasakan mengalami perubahan adalah dari sisi perempuan. Dilema antara memilih karier atau mengutamakan keluarga, bahkan tak jarang banyak juga yang harus mengikuti kemana suami melangkah. Seperti halnya Hanum. Jika di buku sebelumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika lebih menitikberatkan pada isu Islam di mata dunia, buku ini lebih fokus kepada pribadi Hanum dan Rangga. Di buku ini, karier Hanum sedang berada di puncak, sementara Rangga harus mengalah untuk sementara waktu tinggal di New York, padahal Wina sudah menunggunya. Dulu, Hanum sudah pernah mengalah untuk menemani Rangga selama di Wina, sudah sepatutnya Rangga pun juga bisa mengalah untuk tinggal di New York. Dan ternyata itu tidak mudah. Tidak seperti yang diharapkan Rangga. Mereka berdua jadi jarang bersua, quality time pun nyaris tidak ada. Sementara Hanum makin sibuk dengan pekerjaannya yang memang menguras tenaga. Dan yang paling ngenes adalah ketika sepanjang hari, Rangga hanya bisa makan mie, mie, dan mie lagi. Jangankan memasak untuknya, bertemu saja mereka jarang.

“Aku bingung mengapa orang-orang perkotaan jarang yang memiliki impian memiliki keluarga yang hangat dan harmonis ya?” (hlm. 83)

Hanum dan Rangga adalah sepasang manusia biasa pada umumnya. Masing-masing tanpa disadari memiliki tingkat keegoisan seperti halnya kita. Pesan moral dari buku ini mengajarkan bahwa komunikasi dan kepercayaan adalah suatu pondasi penting dalam membina hubungan rumah tangga. Rangga memiliki karier di Wina, sedangkan Hanum pun juga memiliki karier cemerlang di New York. Kota manakah kelak yang akan mereka pilih?

Meski buku ini lebih berpusat pada kehidupan Rangga dan Hanum secara personal, penulisnya tetap menyelipkan seputaran Islam di mata dunia seperti buku-buku sebelumnya. Terutama dalam acara Insights Muslim, sebuah TV berskala nasional di New York yang dipegang Hanum saat itu. Salah satu isu yang diangkat adalah masalah poligami yang dialami oleh Iqbal, Faith, dan Rhonda.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kau harus selalu yakin, bekerja semaksimal mungkin adalah tipe Tuhan yang akan memberimu kesuksesan. (hlm. 38)
  2. Kesempatan tidak datang dua kali. (hlm. 47)
  3. Untuk menunjukkan pada dunia, kau tidak harus melepaskan emas yang telah kau genggam. (hlm. 105)
  4. Allah yang menjadi sutradara, penulis skenario, dan menciptakan setting agar kita bisa memainkan peran sebaik-baiknya. Bukankah kita sering mendengar orang yang sukses dalam hidup adalah orang yang benar-benar menghayati peran yang sedang ia jalankan? (hlm. 220)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Lebih enak mendengar kata origami daripada poligami kan? (hlm. 51)
  2. Anak kecil memang susah dipegang konsistensi berikutnya. (hlm. 85)
  3. Jangan menyombongkan diri sendiri. (hlm. 101)
  4. Benar adanya, segala keindahan di dunia ini menipu. (hlm. 216)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Faith and the City

Penulis                                 : Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra

Desain sampul                   : Orkha Creative

Desain isi                             : Ayu Lestari

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 227 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2433-3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s