[LOMBA BLOGGER ULF 2017] More Than Just a Library

“I have always imagined that paradise will be a kind of library.” –Jorge Luis Borges-

Tahun ini, perpustakaan Unsyiah mengangkat tema ‘more than just a library’. Kenapa? Di saat tekanan arus informasi yang makin deras, mau tidak mau perpustakaan harus mengoptimalkan fungsi perpustakaan.

Sebenarnya apa saja fungsi perpustakaan? Pertama , fungsi utama perpustakaan adalah sebagai fungsi informasi yang artinya perpustakaan menyediakan sumber informasi baik versi cetak maupun digital. Fungsi lainnya adalah fungsi pendidikan, fungsi kebudayaan, fungsi penelitian, fungsi deposit, dan terakhir adalah fungsi rekreasi.

Nah, dari beberapa fungsi perpustakaan yang dijabarkan di atas, untuk menjadikan perpustakaan dengan tagline ‘more than just a library’, fungsi yang paling mendekati pemustaka adalah melalui fungsi rekreasi.

Fungsi rekreasi sebenarnya adalah fungsi yang paling menyenangkan untuk melihat sisi lain perpustakaan. Sayangnya masih banyak perpustakaan yang masih dikelola pustakawan dengan mindset tidak boleh ini tidak boleh itu. Padahal dalam Undang-undang Perpustakaan No. 43 tahun 2007 menyebutkan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Ada beberapa poin yang menunjukkan bahwa PUSTAKA UNSYIAH menerapkan fungsi rekreasi dan mendapat respon yang luar biasa, tidak hanya dari sisi pemustaka, tapi juga membawa nama baik di luar perpustakaan.

PertamaPUSTAKA UNSYIAH tidak hanya menyediakan koleksi berat seperti diktat-diktat kuliah saja, tapi juga menyuguhkan buku-buku fiksi. Salah satu manfaat membaca buku fiksi adalah penyegaran otak karena membaca yang ringan-ringan, tidak melulu pemustaka dicekoki hal-hal yang berat. Sesuai dengan misi perpustakaan ini di poin pertama: menyediakan kebutuhan koleksi yang relevan dengan kebutuhan pemustaka.

Kedua, adanya semacam pojok kafe di perpustakaan. Tahun kedua saya bekerja di perpustakaan juga menerapkan sistem boleh makan camilan (asal bukan makanan berat) dan minum di perpustakaan. Kenapa? Karena ketika sedang mengerjakan tugas atau membaca buku tanpa disadari mengeluarkan tenaga yang lumayan banyak, jadi dibutuhkan asupan makanan/ minuman untuk masuk ke tubuh dan betah berlama-lama di perpustakaan. Jadi keinget, kalau sudah menjelang sore dan masih banyak murid (dan saya juga) yang lapar atau sekedar pengen makan camilan apa daya kantin rata-rata tutup setelah pulang jam sekolah. Ditambah lagi lokasi sekolah yang mewah (mepet sawah) yang artinya susah mencari makanan dengan jangkauan terdekat, seringkali murid memberikan ide kalau di perpustakaan juga jualan makanan. Mau sih, tapi apalah daya keterbatasan tempat yang hanya ruang lokal kelas 😀

Begitu halnya di PUSTAKA UNSYIAH yang satu tahun ini membuka semacam kafe dan imbasnya sangat positif. Pemustaka yang datang ketika lapar menyerang, tak perlu lagi repot mondar-mandir antara ke perpustakaan maupun kantin. Berikut penampakan kafe di dalam perpustakaan unsyiah:

Tidak hanya untuk sekedar mengganjal perut, adanya kafe di perpustakan juga bisa menjadi tempat diskusi ringan antara mahasiswa dan mahasiswa, serta mahasiswa dan dosen.

Ketiga, layanan ekstra alias layanan tambahan di malam hari. Selain untuk menampung aspirasi mahasiswa yang full kuliah dari pagi sampai sore, tentunya mereka tidak bisa merasakan yang namanya menikmati perpustakaan di jam-jam tersebut. Padahal mereka juga membutuhkan perpustakaan untuk mencari referensi dalam mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Oya, perpustakaan yang membuka layanan di malam hari juga memberikan peluang untuk menghabiskan waktu di malam hari, nongkrong yang bukan sekedar nongkrong. Daripada nongkrong di kafe atau di restoran yang artinya harus mengeluarkan uang untuk membeli menu yang disajikan, lebih baik menghabiskan waktu di perpustakaan plus adanya jaringan internet yang lancar. Jika di perpustakaan sekolah tempat saya bekerja banyak murid yang enggan pulang cepat setelah jam sekolah, begitu juga dengan perpustakaan Unsyiah ini, terutama bagi anak kos. Daripada bengong di kosan, lebih baik menghabiskan waktu di perpustakaan. Layanan malam di perpustakaan unsyiah juga menjadi alternatif para jomblo untuk menghabiskan waktu seperti ini:

Layanan ekstra ini secara tidak langsung meningkatkan jumlah pemustaka yang datang ke perpustakaan. Seperti yang disebutkan dalam website perpustakaan Unsyiah, pada tahun 2015 ada 200.406 pengunjung perpustakaan dan pada tahun 2016 mengalami peningkatan menjadi 284.190 pengunjung.

Tidak hanya dari sisi mahasiswa, layanan tambahan di malam hari ini juga disambut baik oleh dosen yang rata-rata memang sibuk di pagi-sore hari.

Keempat, desain dan tata ruang yang mengikuti perkembangan zaman. Setahun terakhir, perpustakaan Unsyiah mengalami renovasi yang cukup besar. Salah satunya adalah adanya desain dan tata ruang yang makin memikat sebagai daya tarik pemustaka untuk datang berkunjung ke perpustakaan. Semakin ideal suatu tata ruang perpustakaan, akan semakin nyaman pemustaka yang menikmati perpustakaan.

Berikut beberapa dokumentasi saat perpustakaan ini melakukan renovasi:

Dari dulu saya punya pemikiran, jika ruang baca bisa disesuaikan dengan minat pemustaka yang sedang membaca di perpustakaan. Misalnya, pembaca fantasi, ruang bacanya di desain bertema ala-ala Harry Potter. Atau pembaca science, ruang bacanya di desain bertema ruang angkasa. Mungkin perpustakaan Unsyiah bisa menerapkan ide ini karena saya lihat ruangnya cukup besar dan luas.

Kelima, selain memiliki kafe, di perpustakaan Unsyiah ini juga ada semacam pojok ‘relax and easy’ yang artinya setiap pemustakan berhak mendapat kesempatan untuk menampilkan kemampuannya baik dalam berbagai bidang; tarik suara, bahkan sampai penampilan pantomim. Tidak hanya dari sisi mahasiswa dan dosen, terkadang pihak luar seperti tamu undangan yang datang ke perpustakaan juga bisa bergabung.

Dan yang paling cetar dari program ini adalah tahun lalu menampilkan Cak Lontong dalam performanya untuk stand up comedy. Luar biasa ya untuk ukuran sebuah perpustakaan. Jadi kepikiran, membuat acara stand up comedy di perpustakaan seperti ini. Kebetulan ada beberapa alumni dan murid yang aktif di bidang ini. Lumayan kan bisa untuk penyegaran otak. Kendalanya satu, belum punya ruang yang bisa menampung 😀

Beruntung sekali perpustakaan Unsyiah sangat support dengan program seperti ini:

Keenam, mahasiswa dilibatkan dalam berbagai kegiatan perpustakaan. Sudah menjadi alasan klise jika tenaga perpustakaan di sebuah perpustakaan tidak sebanding dengan jumlah pemustaka yang harus dilayani. Perpustakaan Unsyiah mengambil jalan keluarnya adalah merekrut para mahasiswa dengan sistem seleksi untuk ditempatkan di beberapa spot perpustakaan. Salah satunya adalah saat shelving buku. Mungkin pekerjaan paling remeh bekerja di perpustakaan adalah shelving buku, tapi justru pekerjaan inilah yang sangat menguras tenaga. Ibarat barbelan buku. Kebayang kan setiap hari pustakawan harus shelving buku, berapa kilo buku yang sudah diangkat untuk diletakkan di rak? X))

Ini penampakan tim shelving buku di perpustakaan Unsyiah yang merupakan mahasiswa-mahasiswa relawan perpustakaan ini:

Ketujuh, melibatkan mahasiswa sebagai promosi perpustakaan. Jika pemilihan Putri Indonesia memiliki tujuan untuk mempromosikan Indonesia di mata dunia, pemilihan Duta Baca perpustakaan Unsyiah bertujuan untuk mempromosikan perpustakaan tidak hanya seputar lingkungan kampus tetapi juga di luar kampus.

Kedelapan, tidak hanya melibatkan mahasiswa, tapi juga melibatkan dosen dalam menarik minat ke perpustakaan. Bahkan ada rewardnya seperti, hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para dosen yang mengajak mahasiswanya berkunjung ke perpustakaan:

Kesembilan, perpustakaan Unsyiah juga menggandeng beberapa bank untuk mempemudah sistem layanan perpustakaan seperti ini:

Itu tadi beberapa keistimewaan perpustakaan Unsyiah dari segi fungsi perpustakaan sebagai tempat rekreasi. Masih banyak lagi yang belum dijabarkan dalam tulisan ini. Jika penasaran, bisa langsung berkunjung ke tanah Aceh ini. Perpustakaan terbuka untuk pengunjung umum yang artinya perpustakaan tidak hanya bisa dinikmati lingkungan kampus, tapi juga luar kampus. Salah satu keunikan perpustakaan ini adalah pemustaka yang datang berkunjung ke perpustakaan boleh membawa tas dengan alasan karena perpustakaan tidak mampu lagi menampung jumlah tas yang dititipkan dan adanya kepercayaan perpustakaan terhadap pemustakanya.

Sumber foto:

https://www.facebook.com/taufiq.abdulgani?fref=ts

http://library.unsyiah.ac.id/

Tulisan ini diikutsertakan dalam ‘More Than Just a Library: Blogger Competition 2017

Ditulis oleh:

Luckty Giyan Sukarno/ Pustakawan Sekolah SMA Negeri 2 Metro

FB: https://www.facebook.com/luckty

Twitter: https://twitter.com/lucktygs

Blog https://luckty.wordpress.com/

IG: https://www.instagram.com/perpussmanda/

Advertisements

10 thoughts on “[LOMBA BLOGGER ULF 2017] More Than Just a Library

  1. Saya alumni unsyiah … dan kaget dengan perubahan yg udah ada. Dulu waktu masih kuliah, perpus unysiah itu kayak perpustakaan lainnya, terkesan kuno dan nggak diminati kalau bukan pengen cari tugas.

    Jadi kangen main ke perpus unsyiah lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s