REVIEW Trisula Mentari

Jika ada yang terus memperlakukanmu dengan buruk, bukan kamu yang bermasalah, melainkan orang itu. Manusia normal nggak berkeliaran dengan misi menyakiti orang lain. (hlm. 117)

TRISULA tidak seperti remaja pada umumnya. Teman-teman disekolah kerap menyebutnya penyihir. Kesalahan terbesar orang-orang yang merasakan kekasarannya hanya satu; mereka tidak patuh ketika Trisula menyuruh mereka tutup mulut.

Tante Lira pernah berkata, orang-orang dengan karunia istimewa seperti mereka otomatis mengemban tanggung jawab lebih berat daripada manusia biasa. Jika boleh meminta. Trisula ingin semesta mengambil saja karunia ini darinya.

Ia tidak tahan mengemban tanggung jawab menyelamatkan nyawa orang.

“Jangan takut. Sama seperti hubungan kita dengan sesama manusia, jika tidak saling kenal atau kamu mengganggu mereka, mereka juga tak mengganggumu, apalagi menyakiti.” (hlm. 57)

Trisula memiliki karunia yang jarang dimiliki orang. Seperti tantenya, Lira, mereka memiliki mata batin. Mereka bisa merasakan atau mendengar sesuatu yang orang lain lain belum tentu bisa melakukannya. Sama halnya dengan Trisula, seorang anak yang memiliki kemampuan memiliki mata batin awalnya tidak nyaman dengan apa yang mereka alami. Saya juga begitu. Memiliki tingkat kepekaan yang lumayan sensitif. Puncaknya saat awal masuk SMP, sakit deman yang cukup tinggi; suara-suara itu makin terdengar dan ketika bercerita pada om yang juga memiliki kemampuan ini, nasihatnya hampir sama persisi seperti Tante Lira ucapkan kepada Trisula bahwa sebenarnya mereka tidak semua mengganggu, tapi terkadang mereka butuh pertolongan kita. Bedanya, nyali saya nggak sebesar Trisula, di masa SMP itulah mata batin saya ditutup oleh om agar nggak terlalu peka akan keadaan sekitar. #DuhJadiMerindingPasNulisIni x))

“Bagiku, nggak ada yang menarik. Pada hari pertama sekolah yang menyebalkan aku mendapat nasihat menyebalkan dari ibu-ibu menyebalkan, bertemu satu ratu menyebalkan dan satu rakyat jelata menyebalkan. Beberapa jam yang kulewatkan di sekolah nggak menyenangkan. Pengalaman paling menyenangkan yang kualami hari ini adalah bertemu denganmu.” (hlm. 37)

Remaja seperti Trisula maunya ingin dianggap seperti manusia pada umumnya. Sayangnya lingkungan terkadang kurang mendukung. Seperti di sekolahnya, ibu guru BK Anita ini representasi guru yang sering menghakimi muridnya. Guru seperti Bu Anita ini kesannya selalu memojokan anak yang belum tentu salah. Percayalah, anak-anak yang kerap terlalu dinasehati terus-menerus bukannya mau berubah, yang ada malah makin berontak. Seperti halnya Trisula jika sering dipanggil Bu Anita. Berbeda halnya dengan sikap Bu Rini, bu guru ‘yang kasat mata’ ini omongannya lebih didengar oleh Trisula karena kata-katanya menyejukkan, dan yang pasti tidak terkesan menggurui.

“Aku hanya tahu cara mengusir roh supaya jangan terus menempel padaku.”

“Bagaimana caranya?”

“Setiap roh yang melakukan kontak denganku biasanya terikat dengan sesuatu. Aku mengibaratkannya seperti pengikat atau tali. Jika tali atau pengikat itu dimusnahkan, roh itu lenyap. Pengikat itu biasanya benda kesayangan roh semasa hidup, misalnya, ponsel, boneka, gantungan kunci atau perhiasan.” (hlm. 141)

Mungkin bagi Trisula akan cuek saja jika orang lain yang enggan berteman dengannya. Yang bikin sedih adalah ketika orang yang dianggapnya mampu membangkitkan semangatnya untuk ke sekolah justru menjauhinya hanya karena dia memiliki kemampuan ‘berbeda’ dengan orang lain. Mungkin Trisula akan cuek saja jika selama ini Kristal selalu menindasnya di sekolahnya, tapi hatinya miris ketika Alfa menganggapnya aneh ketika Trisula dan Mikaela berkunjung ke perpustakaan mini Alfa di rumahnya saat Trisula menyadari bahwa ada penunggu di rumah Alfa. #PukPukTrisula

Ada banyak hal di buku ini yang di luar logika. Tapi percayalah bahawa di dunia ini ada hal-hal yang memang di luar logika kita sebagai manusia biasa. Covernya, merepresentasikan isi bukunya. Unyu-unyu misterius gitu. Kisah misteri tapi ala-ala teenlit gitu, disesuaikan dengan umur Trisula dan kawan-kawan.

Baik hidup maupun mati, kita butuh pertolongan orang lain. Seperti ending buku ini yang bikin kita merinding x))

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Orang akan bersikap baik kepadamu jika kamu bersikap baik kepada mereka. (hlm. 16)
  2. Percayai mana yang ingin kamu percayai. (hlm. 102)
  3. Niat baik tidak selalu disambut baik. (hlm. 106)
  4. Remaja harus optimis dan berpikiran positif. (hlm. 119)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Siap nggak siap, tahun baru harus tetap berjalan. (hlm. 9)
  2. Alangkah senangnya jika nilai bagusmu dilengkapi kelakuan bagus juga. (hlm. 13)
  3. Jangan terlalu cuek dan menyendiri. Berbaurlah. (hlm. 19)
  4. Orang bisa menjalani kehidupan layak tanpa harus memiliki banyak keinginan dan tuntutan. (hlm. 49)
  5. Kebahagiaan dan perasaan cukup tidak datang dari benda dan hal-hal duniawi, melainkan dari seberapa mampu kita bersyukur ketika kebutuhan dasar kita tercukupi. (hlm. 49)
  6. Tidak ada larangan untuk memiliki teman lebih dari satu. (hlm. 61)
  7. Kamu nggak merasa perlu membela diri kalau ada yang benar, atau setidaknya mencoba meluruskan? (hlm. 102)
  8. Menyiram api dengan bensin hanya membuat kebakaran semakin besar. (hlm. 173)
  9. Kata-kata mereka tidak penting. Kamu tahu seperti apa dirimu sesungguhnya. (hlm. 173)
  10. Cinta tidak pernah memaki, memukul, menendang, menampar apalagi membunuh. (hlm. 233)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Trisula Mentari

Penulis                                                 : Shandy Tan

Desain sampul                                   : Orkha Creative

Penerbit                                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                                    : 2017

Tebal                                                     : 256 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-03-3913-9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s