REVIEW Dari Buku ke Buku

Semua bacaan yang sudah diambil kata-katanya harus disimpan baik-baik, didokumentasikan, sebagai bahan pertanggungjawaban. (hlm. 29)

Kali pertama tahu buku ini adalah saat penerbitnya share info buku ini di twitter setahun lalu. Dari situ bertekad banget kudu punya buku ini. Karena dari judulnya saja, buku ini bakal beraroma buku banget. Meski harganya lumayan mahal, tapi puas membelinya karena memang sebanding dengan isi bukunya yang amat sangat menambah pengetahuan kita khususnya untuk menelusuri jejak masa lalu.

Ada dua ratus lebih buku yang dijabarkan dalam buku ini yang merupakan dari buku-buku yang telah dibaca oleh penulisnya. Terlihat sekali kecintaan beliau dengan buku-buku yang tidak hanya sekedar dikoleksi, tapi juga memiliki arti tersendiri karena setiap buku seperti memilki jiwa masing-masing.

Peristiwa kecil tidak jarang mengakibatkan peristiwa besar. (hlm. 388)

Berikut beberapa hal menarik seputar Indonesia, khususnya tempo dulu lewat buku-buku yang dibaca oleh penulisnya selama puluhan tahun. Ya, beliau mengalami semua masa pemerintahan presiden dari yang pertama sampai sekarang. Penulisnya, lahir tahun 1932, sangat diacungkan jempol karena sudah membaca banyak buku yang bergizi:

  1. Peristiwa mengenai Gunung Merapi yang meletus pada tanggal 18 Desember 1930. Jika di majalah bulanan Claverbond tahun ke-43, 1931, halaman 85-109 dikatakan sekitar 1.500 orang tewas dan 2.500 hewan mati. Sedangkan di Ensikklopedia Nasional Indonesia jilid 10 mengatakan sama sekali tidak ada korban jiwa akibat letusan di tahun tersebut. Sebuah buku membahas peristiwa alam yang terjadi saat itu, saya jadi teringat bundel edisi spesial Paman Gober yang menceritakannya dari kecil sampai di tua. Salah satunya adalah peristiwa meletusnya Gunung Krakatau di Indonesia.
  2. Sejarah berdirinya Balai Pustaka. Selain mempunyai percetakan sendiri, sistem distribusi sendiri, dan pembelian kertasnya dilakukan secara besar-besaran. Selama dua tahun setelah Indonesia merdeka, Balai Pustaka masih tetap hidup. Namun beberapa bulan menjelang 1948, kegiatannya terhenti akibat perubahan sosial-politik selama revolusi. Pada 1 Mei 1948 Balai Pustaka dihidupkan kembali sebagai penerbit di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Pengajaran.
  3. Perjuangan Diponegoro dalam melawan penjajah meski keadaan sakit. Meski tidak mau menggunakan obat-obatan Eropa, Diponegoro meminta ‘zoete wijn’, anggur manis, untuk membantu mengurangi gangguan kesehatannya. Disebutkan dalam buku De Java Oorlog jilid V, halaman 591-600, pertemuan antara Diponegoro dengan De Kock, yang berakhir dengan penangkapan Diponegoro, juga dikisahkan dengan mengutip Babad Diponegoro.
  4. Candi Borobudur dan pesan yang disampaikan lewat arsitektur dan patung-patungnya adalah nir-sua dalam banyak seginya, dan ada berbagai tingkat komunikasi maupun komprehensinya. Ambil misalnya suatu bagian Borobudur, jadi yang bercakupan terbatas seperti relief-relief. Yang nampak hanyalah orang-orang biasa yang sedang melakukan pemahatan sekitar 800 Masehi. Tetapi sesungguhnya relief-relief itu sekarang juga mencerminkan kehidupan desa orang-orang Jawa dahulu kala selama berabad-abad dan komunitas tradisional tertentu di Jawa yang sekarang masih hidup.
  5. Ada juga Serat Centhini, yang oleh Soekmono diperkirakan selesai pada 1830, digubah dalam bentuk tumbang, terdiri dari 722 pupuh. Setelah dicetak dalam huruf Latin, naskah itu menjadi buku yang terdiri tidak kurang dari 12 jilid, diterbitkan pada 1991 oleh Yayasan Centhini, Yogyakarta. Kita ini sering disebut ‘Ensiklopedi’, karena isinya segala macam pengetahuan yang ketika itu dimiliki orang Jawa. Sebenarnya, judul yang diberikan oleh penciptanya adalah Suluk Tambangraras. ‘Tambangraras’ adalah nama putri yang menjadi pelaku utama dalam serat itu. Pria ynag menjadi pelaku utama ialah Amongraga, dan Centhini ialah seorang gadis, abdi Tambangraras.
  6. Dalam Negarakrtagama edisi 1919 dimuat pula ringkasan isi Pararaton yang dilanjutkan dengan garis besar isi Negarakrtagama. Pararaton diawali dengan kisah legendaris Ken Arok atau Angrok, cikal-bakal raja-raja Majapahit. Ia dianggap bukan manusia, tetapi keturunan Bhatara Brahma lewat hubungannya dengan seorang wanita desa, Ken Endok.
  7. Kalau mendengar istilah BPUKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tahun 1945, yang terbayang adalah masa-masa Indonesia menuju detik-detik kemerdekaan. Dibahas dalam buku ini pada BAB: Indonesia Tercipta Lewat Sejarah.

Ada juga selipan pengetahuan tentang istilah-istilah yang terkadang masih simpang siur:

  1. Kita bisa mengetahui perbedaan ‘otobiografi’ dan ‘memoir’. Memoir lebih memberikan perhatian pada kejadian-kejadian di sekitar dan di luar diri penulisnya, sedangkan otobiografi pada pribadi si penulis sendiri dengan seluruh perjalanan hidupnya. Dalam otobiografi, diri pribadi si penulis yang dijadikan titik-pusat perputaran semua kejadian.
  2. Dalam Encyclopedia Britannica, versi Micropaedia halaman 154 dikatakan ‘mitos’ dan ‘mitologi’ merupakan dua istilah yang digunakan dalam studi agama dan kebudayaan.
  3. Prof Dr. A Teeuw dalam artikel Genealogical narrative texts as an Indonesian literary genre’, melihat babad sebagai karya sastra. Sedangkan menurut Prof Dr C.C. Berg mengajak kita untuk menerima pendapatnya bahwa penulis babad pada hakekatnya menciptakan ‘sastra magis’ atau ‘sastra bertuah’. Dengan karyanya untuk melukiskan keagungan Sang Raja, penulis babad pun mengalirkan kekuatan magis ke dalam diri pujaannya tersebut, dan pada gilirannya kekuatan ini berpengaruh baik bagi masyarakat.
  4. Para pujangga biasanya dijuluki ‘Mpu’. Mpu Gandring misalnya, di dalam Pararaton dikemukakan sebagai pembuat keris pesanan Ken Arok, yang kemudian dibunuh oleh Ken Arok dengan keris buatannya sendiri yang belum selesai dikerjakan. Di dunia perkerisan dikenal sejumlah lagi Mpu yang tinggi kualitas karyanya, yang memberikan cap khusus atau ciri-ciri tertentu pada karya itu.

Bisa dikatakan buku-buku yang dibaca penulisnya 80% seputaran membahas Indonesia tempo dulu dan hampir seluruhnya seputar Tanah Jawa. Memang ya, dari zaman dulu sampai sekarang buku-buku yang membahas luar Jawa lebih sedikit dibandingkan dengan Tanah Jawa yang banyak sekali buku-buku membahasnya. Sebagai orang yang lahir di Sumatra, saya suka antusias banget kalau menemukan buku yang berhubungan dengan Sumatra, khususnya Lampung. Nah, di buku ini sekilas membahas Perang Aceh dan Cut Nyak Dien di halaman 347, pemberontakan terhadap Belanda di Sumatra Barat di halaman 357-359 dan Perang Kamang, serta adanya Perang Bali yang terkenal dengan istilah peristiwa ‘Sri Kumala’.

Ada hal yang cukup menarik yang sebelumnya tidak saya ketahui sebelum membaca buku ini. Tentang pendidikan. Baik Sukarno maupun Hatta ternyata pernah mengalami intervensi dari ibu mereka masing-masing dalam perjalanan pendidikan mereka. Hampir saja Hatta tidak meneruskan ke MULO tetapi bekerja sebagai pegawai pos, sedangkan Sukarno nyaris tidak menjadi mahasiswa THS tetapi belajar di negeri Belanda. Seandainya itu yang terjadi, barangkali akan lain pulalah perjalanan sejarah Indonesia.

Kepandaian atau kemahiran dapat hilang lenyap kalau lama tidak dipergunakan, tidak dipelihara, apalagi yang baru sebentar dipelajari. (hlm. 2)

Dibutuhkan beberapa bulan untuk menamatkan buku ini. Selain karena jumlahnya yang tebal, juga kandungan gizi isi bukunya yang sayang sekali jika kita membacanya hanya sekilas. Seperti yang disebutkan di awal postingan, setiap bab menampilkan berbagai buku yang memiliki jiwa masing-masing.

Setelah membaca ini, jadi mengingat kenangan semasa kuliah dulu saat mengentri buku-buku perpustakaan kampus zaman magang, nemu buku yang berisi list ratusan film yang harus ditonton sebelum kita mati. Trus, gegara buku itu jadi kepikiran mau buat juga buku yang berisi list buku yang harus dibaca sebelum mati. Setelah membaca buku ini, jadi terkenang kembali impian itu. Setiap pecinta buku pasti memiliki buku-buku yang bersejarah dalam hidupnya. Kamu? 😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Dari Buku ke Buku

Penulis                                 : P. Swantoro

Penyunting                         : Parakitri T. Simbolon, Pax Benedanto, Robertus Rony Setiawan

Perancang sampul           : Boy Bayu Anggara

Penata letak                       : Dadang Kusmana

Penerbit                              : KPG

Terbit                                    : April 2016 (Cetakan Ketiga)

Tebal                                     : 436 hlm.

ISBN                                      : 978-602-6208-23-1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s