[BLOGTOUR] REVIEW Twin Flames + GIVEAWAY

Ada perbedaan yang sangat besar antara merelakan dengan ikhlas dan merelakan karena tidak memiliki pilihan. Seseorang yang mampu merelakan dengan ikhlas berarti bisa menerima semuanya dengan hati lapang, melepaskan tanpa penyesalan, dan yang terpenting, tidak berkubang dalam kesedihan. (hlm. 11)

ALEETA. Selama tiga bulan terakhir bagaikan robot. Pagi hingga sore, ia akan berada di kampus, menghadiri kuliah dan melibatkan diri dengan segala jenis kegiatan ekstra. Dia tidak peduli berapa pun waktu yang dihabiskan, semakin lama akan semakin baik. Sebab, dengan begitu, pikirannya akan sibuk sehingga tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk memikirkan hal-hal lain.

Sepulang dari kuliah ada SENNA yang akan menemaninya pergi belanja, walaupun sebenarnya tidak ada barang yang benar-benar ingin dibeli. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga atau bahan untuk membeli makan malam. Selain belanja, mereka terkadang duduk-duduk di kafe atau restoran, lalu menikmati makan siang atau sekedar memesan segelas cappucino untuknya dan jus untuk Senna. Dia sunggu berterima kasih pada Senna atas hal itu.

Malamnya, Aleeta akan menghabiskan waktu dengan menonton DVD sampai jatuh tertidur. Dia berhasil melakukan rutinitas itu selama tiga bulan penuh dan membuang bayangan akan YUTO dari kepalanya sampai seminggu yang lalu, ketika aroma samar maskulin yang begitu dirindukannya muncul sekilas di dapurnya. Mungkin dia berhalusinasi, menciptakan fantasi akan kehadiran Yuto, mengulik-ulik harapan yang jauh terpendam di relung hatinya. Namun, waktu sedetik itu sudah cukup untuk membawa kembali semua kenangan akan dirinya. Yuto seolah muncul lagi dihadapannya.

“Kenapa kau kembali Yuto?”

“Karena aku tidak bisa pergi jauh darimu.”

“Kalau begitu jangan.”

“Selama kau menginginkanku untuk tinggal. Selamanya.”

“Tapi kenapa kau menyembunyikan dirimu?”

“Karena tidak seharusnya aku kembali. Karena aku tidak baik untukmu. Karena aku menghisap energi positifmu, dan itu membuatmu seperti sekarang. Kehabisan napas dan tertekan.” (hlm. 155)

Butuh waktu yang berbeda ketika seseorang memutuskan untuk move on. Ada yang sebentar, ada juga yang membutuhkan waktu cukup lama. Dan yang terpenting adalah seeorang akan cepat move on adalah berasal dari niat. Jika dari hati saja sudah nggak mau melupakan, gimana mau move on. Kira-kira seperti itulah yang dialami Aleeta semenjak ditinggal pergi oleh Yuto.

Masalahnya adalah mereka terpisah bukan karena jarak dan waktu, tapi alam. Ya, beda alam. Aleeta adalah manusia yang masih hidup di dunia nyata, sedangkan Yuto adalah hantu yang dulunya terombang-ambing dan bisa kembali ke alamnya dan kini kembali dilema karena hatinya masih terikat pada Aleeta yang juga berat melepaskannya. Jadi keinget, setiap ada yang meninggal, sebenarnya kita nggak boleh terlalu larut dalam kesedihan, apalagi sampai meratapinya terus-menerus. Konon, ini akan menghambat ‘jalan’ sang arwah karena masih ada yang mengganjalnya. Begitu juga dengan Yuto.

“Aku memang menyukaimu, Aleeta. Dan kau mengusulkan agar kita berteman. Baik, aku menyutujuinya. Aku tidak memaksamu, juga tidak akan mendesakmu. Aku akan memberimu waktu, memberi kita berdua waktu untuk lebih saling mengenal. Tapi bukan berarti kau harus merasa terbebani oleh perasaanku sehingga berpikir untuk menghindar dariku.” (hlm. 65)

Memang tidak mudah bagi Aleeta untuk melepaskan Yuto seutuhnya, padahal ada beberapa cowok yang mendekatinya. Ada BEN yang pernah ditolaknya dan hubungan mereka jadi canggung sejak penolakan itu. Yang lebih nggak enak lagi adalah mereka sesekali masih sering ketemu ketika papasn di lorong kelas di kampus mereka. Dan menurut Senna, Ben sudah menolak cewek dengan alasan belum berminat untuk menjalin hubungan. Namun yang sebenarnya, Ben masih tertarik pada Aleeta. Tapi Aleet sudah tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Ben x)) #PukPukBen

Selain Ben, ada juga HIRO, yang mirip banget ama Yuto. Apalagi Hiro sudah menyatakan perasaan sukanya pada Aleeta, dan Aleeta justru merasa terbebani dengan ini. Masalahnya, Aleeta mulai melihat Hiro sebagai Yuto. Itu berbahaya. Rasanya tidak adil bagi Hiro. Tapi Aleeta tidak bisa mengatakannya terus terang.

“Jadi kapan kau akan membantuku?”

“Bantuan apa yang kau butuhkan?”

“Aku ingin kau menemukan anak dan istriku.”

“Petunjuk apa yang kau punya?”

“Petunjuk?”

“Tentu saja. Memangnya bagaimana mencari orang hilang jika kau tidak memiliki petunjuk?”

“Aku…tidak tahu. Aku kehilangan mereka. Istri dan bayi perempuanku. Mereka tidak ada lagi di sana. Rumah kami ditempati oleh orang-orang asing yang tidak kukenal.” (hlm. 87)

Nggak hanya berkutat di kisah percintaan yang dialami Aleeta, buku ini justru lebih banyak membahas tentang pengalaman Aleeta yang bisa melihat mahluk-mahluk kasat mata. Dulu awalnya dia pikir hanya dia satu-satunya dalam keluarganya yang memiliki ‘kelebihan’ ini dan ternyata dia baru mengetahui jika adiknya, CHLEA juga memiliki kemampuan yang sama. Memiliki indra keenam, bagi sebagian oran memang cukup mengganggu ketenangan hidup, seperti itulah yang dialami Aleeta dan adiknya. Ditambah lagi beraneka ragam hantu yang secara langsung maupun tak langsung berurusan dengan mereka. Mulai dari yang mengganggu hingga minta tolong.

Hal ini semakin menarik saat Aleeta dan Chlea menelusuri silsilah keluarganya hingga ke Tiongkok. Banyak hal-hal mengejutkan yang mereka alami selama di sana. Dan lebih mengejutkan adalah mereka mewarisi sebuah kutukan secara turun temurun. Bagaimana mereka memutuskan mata rantai tersebut?!?

Twin Flames, seperti judulnya. Apakah itu? Hal itu dijabarkan lengkap di pertengahan halaman, terutama di halaman 383. Menjadi pengetahuan baru untuk saya karena baru mengetahui pengertian ini dari buku yang mengisahkan Aleeta dan kemampuannya ini. Penasaran juga kan? 😉

Ini adalah buku kedua dari A Girl Who Loves a Ghost. Meski kamu tidak membaca buku pertamanya, jangan khawatir karena tetap bisa nyambung dengan jalan cerita di buku kedua ini 😉

Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kau tidak akan benar-benar bisa menerima dengan ikhlas. Kau hanya belajar membawa beban itu dengan lebih tegar. Satu-satunya cara agar bisa begitu adalah dengan mengerjakan hal-hal rutin. (hlm. 12)
  2. Hidup memang kejam, selain menggelikan. (hlm. 14)
  3. Orang yang mengatakan dirinya baik-baik saja tidak akan kehilangan begitu banyak berat badan dalam waktu tiga bulan dan tidak mungkin memiliki lingkar gelap di bawah matanya. (hlm. 26)
  4. Memang tidak mudah saat orangtua memaksakan kehendaknya, dan dengan seenaknya memutuskan masa depan anak-anaknya. (hlm. 29)
  5. Satu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan-kebohongan lain yang lebih besar. (hlm. 119)
  6. Sinetron jarang ada yang menceritakan hubungan percintaan antara manusia dan hantu. (hlm. 486)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Twin Flames

Penulis                                 : Alexia Chen

Penyunting                         : Eka Saputra

Pemindai Aksara              : Jenny Indarto

Penggambar sampul       : Imam Bucah

Penata letak                       : desain651@gmail.com

Penerbit                              : Javanica

Terbit                                    : Maret 2017

Tebal                                     : 499 hlm.

ISBN                                      : 978-602-6799-22-7

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia.

2. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

3. Follow akun twitter @lucktygs . Jangan lupa share dengan hestek GA #TwinFlames dan mention via twitter. (Jika punya twitter, nggak wajib)

4. Follow akun IG @lucktygs @alexia.chen dan @javanicabooks (Jika punya IG, nggak wajib)

5. Isi di kolom komentar di bawah berupa nama, akun twitter/ IG dan kota tinggal. Nggak ada pertanyaan ya, cukup itu aja 😉

GA #TwinFlames ini berlangsung seminggu saja: 24-30 April 2017. Pemenang akan diumumkan tanggal 1 Mei 2017

Akan ada DUA PEMENANG yang akan mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penerbitnya… ;)

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

Pemenang giveaway kali ini adalah:

Nama: Sandra Hamidah
Twitter: @Sandra_artsense
Domisili: Bandung

Nama : Ikal Harun
Twitter : @justikal
Domisili : Gorontalo

Selamat buat pemenang. Sila kirim email ke  emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com dengan judul: konfirmasi pemenang Giveaway Twin Flames. Kemudian di badan email cantumkan; nama, alamat lengkap, dan no hape biar hadiahnya segera dikirim langsung oleh penulisnya ya.

Terima kasih buat Penerbit Javanica atas kerjasama dan  kepercayaannya. Semoga lain waktu bisa bekerjasama kembali… 😉

Buat yang belum menang, jangan sedih. Masih banyaaaakkkk giveaway lainnya yang menanti!! :*

-@lucktygs-

Advertisements

46 thoughts on “[BLOGTOUR] REVIEW Twin Flames + GIVEAWAY

  1. Nama: Rizki Fitriani
    twitter: @Kikii_Rye
    domisili: Sidoarjo

    oh waw.. kaget kalo ternyata Yuto sesosok hantu.. jadi penasaran sama kisah percintaan Aleeta dan bgaimana cara dia buat move on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s