Movie Adaptation Review: Critical Eleven

“Airport, buat gue, sama seperti hidup. Semuanya selalu berubah, selalu bergerak, dan selalu harus memilih. Memilih akan ke mana, memilih pergi atau pulang. Memilih apa, dan siapa yang jadi tujuan kita. Airport is all about choices.” –Anya-

Meski euphoria menyambut film ini udah terasa sejak akhir tahun lalu, sejujurnya saya nggak begitu antusias seperti pembaca buku pada umumnya. Bukan nggak percaya akan versi filmnya, tapi karena bukunya kurang ngena bagi saya saat membacanya langsung. Padahal banyak yang bilang baper, bahkan ampe mewek waktu membacanya. Kok saya enggak yaa… x))

BACA: [Book Review] Critical Eleven

Nah, kebetulan saat tanggal tayang filmnya, saya sedang berkejaran dengan sebuah lomba selama seminggu yang otomatis kurang mengikuti perkembangan dunia maya. Begitu pula dengan film ini. Selama seminggu itu pula bolak-balik Metro – Teluk selalu memandang sebuah mall dan tiap pulang selalu kepikiran, ini kok eman-eman banget ya udah jauh-jauh dari Metro lewat Bandar Lampung nggak sekalian nonton. Apalah daya tiap hari seleksi lombanya selalu selesai sore banget, jadi kalau mau meluangkan waktu ke bioskop takut kemalaman di jalan pas pulang ke Metro x))

Nah…pas hari Sabtunya, saya iseng banget sama adik mau nggak dia diajak nonton bioskop. Eh, dianya mau. Awalnya kita mau nonton dua film sekaligus, film ini ama Kartini, sayangnya yang Kartini udah turun layar. Dan ternyata, film ini pun untuk ukuran film Indonesia durasinya lumayan panjang, umumnya film bioskop hanya sekitar 90 menit, ini 136 menit. Manteb banget!

BACA: Serba-serbi Adaptasi Buku ke Film

Menurut Dwight V Swain dan Joye R Swain yang dikutip Maroeli Simbolon, ada tiga cara utama untuk mengadaptasi karya sastra ke film, yaitu mengikuti buku, mengambil konflik-konflik penting, dan membuat cerita baru. Selanjutnya ia mengatakan bahwa dari ketiga cara tersebut, cara ketiga adalah yang sering dilakukan. Pernyataan tersebut senada dengan pendapat Krevolin, seorang penulis skenario Hollywood dan pakar dari UCLA, bahwa ketika seorang penulis skenario mengadaptasi sebuah novel, maka ia tak mempunyai hutang terhadap karya asli. Tugas seorang penulis skenario ketika mengadaptasi suatu karya ke dalam skenario film bukanlah mempertahankan sebanyak mungkin kemiripan dengan cerita asli, tapi membuat pilihan terbaik dari materi untuk menghasilkan skenario sebaik mungkin. Dengan demikian penulis skenario berhak mengambil keputusan lain berdasarkan interpretasinya.

“Sendiri itu bisa karena takdir atau pilihan, namun kekuatan cinta selalu ada buat semua orang.”

Film ini, kita bisa melihat bahwa pilihan yang dipilih adalah mengambil konflik-konflik penting di versi bukunya. Ada beberapa perbedaan antara buku dan filmnya:

  1. Di awal pertemuan mereka, di pesawat, jika di buku saya terpesona dengan bahasan Ale dan Anya tentang buku, di film lebih difokuskan dengan benda atau semacam jimatnya Anya yaitu dinosaurus. Mungkin karena kalo bahas sebuah buku, kesannya klise banget untuk pertemuan pertama, tapi diambil dari sisi unik bahas dinosaurusnya Anya x))
  2. Tokoh Donny, adalah salah satu paling bikin penasaran bagi pembaca versi bukunya. Padahal kalo kita jeli membacanya, tokoh ini muncul di awal cerita, sekitar di halaman 30-an. Donny versi film, apalagi diperankan oleh Babang Hamish tentu jadi pelengkap yang bikin tambah memikat jalan ceritanya. Kebayang kan, ada dua cowok kece antara Ale atau Donny. Kalau punya sahabat cowok macam Babang Hamish, mana mungkin dianggurin yaa.. x))
  3. Dari sisi pekerjaan Ale. Jika dari versi buku, diceritakan bahwa Ale bekerja di Teluk Meksiko. Sedangkan versi film, Ale pindah ke Laut Jawa dengan alasan agar Anya dekat dengan keluarganya. Dari sini kita bisa melihat bahwa Ale lebih mengkhawatirkan keberadaan anak mereka. Sebagai aset paling berharga, jadi dia memilih pulang ke Indonesia.
  4. Hubungan antara Ale dan Anya. Jika di buku lebih menceritakan bahwa hubungan mereka yang LDR, Ale di Meksiko sedangkan Anya di Jakarta. Di film, pasca menikah, Anya mengikuti Ale dan mereka tinggal di New York. Dalam kehidupan nyata sekalipun, bukan keputusan mudah bagi seorang perempuan yang terbiasa mandiri seperti Anya untuk merelakan karirnya yang cemerlang sewaktu di Jakarta, perlahan dia mulai membiasakan diri untuk menerima semuanya meski awalnya berat karena hidup monoton di apartemen. Hal ini pernah terjadi dengan seorang teman yang harus mengikuti suaminya tugas belajar di luar negeri, dia mengatakan jika bulan-bulan pertama sangat membosankan karena tidak bisa melakukan sesuatu yang penting.
  5. Jika dari sisi buku, saya lebih suka dengan ayah Ale karena meski galak dan tegas tapi justru paling bisa memahami sisi Anya, di versi film dibuat seimbang peran antara ibu dan ayah Ale. Ibu Ale lebih banyak waktu dengan Anya karena mereka sama-sama perempuan, sedangkan Ale mendapat pencerahan dari ayahnya langsung.
  6. Masih nyambung tentang keluarga. Jika dari buku, Ale lebih terlihat akrab dengan Harris. Sedangkan di versi film, Ale akrab dengan kedua saudaranya, baik dengan Harris maupun Raisa. Oya, jika dulu saat membaca bukunya mempertanyakan kenapa hubungan Ale yang begitu dekat dengan saudaranya, terutama Harris tapi nggak cerita tentang permasalahannya dengan Anya, di versi film lebih rasional. Kenapa? Ale sempat curhat dengan Raisa yang diperankan oleh Revalina S. Temat, Ale dapet pencerahan dari adiknya ini meski awalnya Ale nggak mau menerima. Nah, inilah ikatan batin antara sesama saudara.
  7. Hadiah yang diberikan saat Ale ulang tahun. Jika versi buku, Ale mendapatkan sebuah jam tangan, lain halnya dengan versi buku. Ale mendapatkan mainan lego star wars. Ya, kalo Anya suka dinosaurus, Ale lebih suka hal-hal yang berbau lego.
  8. Jika versi buku, jalan ceritanya dibuat semacam alur maju mundur. Versi film, emosi penonton lebih diaduk, karena dimulai dari pertemuan mereka hinggak konflik-konflik yang mulai muncul terutama antara Ale dan Anya.
  9. Saat membaca, saya merasa Anya terasa lebih egois. Tapi di film, rasa empati berimbang antara Anya dan Ale yang sama-sama mengalami kehilangan. Lebih bisa merasakan kesedihan masing-masing tokoh ini. Kehilangannya kerasa banget.
  10. Di buku, bahasa Inggris yang masuk di percakapan terlalu ganggu banget, kalo di film kok enak aja ya pas nyimaknya, bisa pas gitu.
  11. Endingnya mengalami perubahan. Dan memang harus diakui lebih manis yang versi film. Klimaksnya dapet banget. Apa itu? Nonton langsung donk… 😀

“Jatuh cinta itu selalu berkawan dengan rasa sakit, namun percaya cinta itu menyembuhkan.”

Setelah menonton versi filmnya, harus diakui justru lebih suka yang versi visual. Feelnya dapet banget. Begitu juga dengan chemistry para pemainnya, nggak hanya dari segi hubungan Anya dan Ale, hubungan Ale dan keluarganya, hubungan Anya dan sahabat-sahabatnya, hingga hubungan Anya dan keluarga Ale.

“Dari jutaan orang di dunia ini, cuma kamu satu-satunya yang nggak akan pernah nyakitin aku.”

Banyak scene-scene yang bikin mata berkaca-kaca. Pas Anya melahirkan dan harus merelakan Aidan, Anya ama Ibunya Ale pas ngobrol bareng, waktu Anya yang tiba-tiba mewek karena sebenarnya sudah memendam lama kerinduannya untuk Aidan saat sahabatnya Anya lagi antusias menyambut kehamilannya, pas Anya ke makam Aidan pertama kalinya, dan pas Ale pertama kali masuk ke kamarnya Aidan :’) #SedihnyaPakeBanget

Selain Babang Hamish yang tentu saja mencuri perhatian, ada Aci Resti yang berperan sebagai Tini, pembantu di rumah orangtuanya Ale yang nantinya menjadi pembantu di rumah Anya – Ale. Meski perannya hanya seliwar-seliwer, dan nggak banyak dialog, nggak hanya saya, penonton pasti pada ngakak liat muka Aci yang biasanya stand up comedy malah meranin wira-wiri anter minum atau makanan. Mukanya memang polos-polos gimana gitu x))

Begitu juga pas scene Anya ke rumah sakit, itu kenapa dokternya yang meranin Dwi Sasono. Udah sedih-sedih malah jadi ngakak pas dokternya disorot. Jadi luruh deh sedihnya x))

Oya, nggak hanya Reza Rahardian ama Babang Hamish, ada satu lagi cowok yang bikin meleleh penontonnya. Pemain baru, Refal Hady berperan sebagai Harris. Dia ini sebenarnya sebagai pemain utama di film Galih dan Ratna, tapi karena belum nonton film itu, jadi baru ngeh ama dia di film ini. Tipikal tengil-tengil gimana gitu. Cowok dengan karakter Harris di film ini x))

Memang juara banget peran Reza Rahardian ama Adinia Wirasti, chemistry mereka udah kayak sepasang suami istri banget. Oya, karena ini tentang hubungan suami istri, tentunya akan banyak adegan suami istrinya. Jadi buat buibu muda yang mau nonton, tolong anaknya jangan dibawa karena kemarin pas saya nonton ada beberapa orangtua yang mengajak anak balitanya. Kalo buat suami istri yang nonton malah nggak papa, siapa tahu malah bikin harmonis, kalau jomblo dijamin nambah baper abis nonton ini, wkwkwk… x))

Kalo soal sinematografi, nggak perlu diragukan lagi jika ditangan sutradaranya, Monty Tiwa dan Robert Ronny. New Yorknya dapet banget. Begitu juga dengan lokasi tempat Ale bekerja.

Nah, untuk skenario memang mateng. Karena selain ditulis oleh penulis skenario yang memang sudah bidangnya, Jenny Yusuf, penulis bukunya, Ika Natassa juga turun langsung. Jadi ruh bukunya dibawa lengkap ke versi filmnya. Sebagai pembelajaran nih, untuk buku yang diangkat ke film, penulis buku nggak hanya menyerahkan sepenuhnya ke penulis skenario, tapi juga terlibat langsung seperti film ini. Dan hasilnya memang memuaskan. Good joob buat semua pemain dan kru yang terlibat. Baru sepuluh hari udah tembus 500.000 penonton, semoga sampai nembus 1.000.000 penonton ya! 😉

“Bisa bayangin nggak, kita lewatin jembatan bareng, terus kita bakar jembatan itu. Enggak ada jalan untuk kembali. Aku sama kamu kayak gitu, Nya. Ayo bakar jembatan bareng.” -Ale-

Advertisements

5 thoughts on “Movie Adaptation Review: Critical Eleven

    • Kalo kataku, mending nonton di bioskop, soalnya kalo tayang di TV bisa dipastikan banyak banget scene yang dipotong, gyahahaha… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s