REVIEW Evergreen

Kalau kau memberikan yang terbaik, kau akan mendapatkan yang terbaik juga. (hlm. 176)

RACHEL. Di Sekai Publishing, dia membawahi divisi novel-novel misteri. Sempurna sesuai keinginannya; posisi mentereng, bidang yang pas. Dan semuanya hancur begitu saja. Dan kini dia dipecat karena kesalahannya sendiri yang cukup fatal.

Rachel berpikir bahwa dia tak punya keahlian selain di bidang perbukuan, tapi dia tak yakin penerbit lain bersedia menerima karyawan dengan status dipecat. Entah bagaimana lagi caranya mendapatkan uang, mengingat kehidupan di Tokyo yang cukup mahal. Muncul di Nara sebagai seorang pecundang dan meminta uang pada Okaasan pun merupakan hal terakhir yang akan dia lakukan.

“Kau hanya ingin menerima, kau ingin diperhatikan, disayangi, dipedulikan. Tak pernahkah kau menanyakan pada dirimu sendiri berapa banyak kau telah memberi? Berapa banyak yang telah kau lakukan untuk sahabat-sahabatmu?” (hlm. 79)

EVERGREEN. Tembok dipenuhi kertas dinding nuansa oranye dan kuning, dengan motif bunga-bunga kecil. Para pengunjung dapat duduk dan makan es krim di mana pun.

“Kalau ada yang memasuki kafe dalam keadaan kesal, kita buat mereka senang. Kalau dia senang, kita buat dia lebih senang. Kau mengerti?” (hlm. 34)

Awalnya Rachel hanya iseng ke kafe Evergreen. Siapa sangka, di kafe ini akan menuntunya untuk menjalani takdir yang berbeda. Dari pengunjung hingga menjadi bagian dari kafe tersebut.

Pas baca di awal, entah kenapa sebel banget ama Rachel. Meski dia pengangguran dan dipecat, nggak ada sedikit simpati padanya. Soalnya, hobinya suka mengeluh dan mengeluh. Itupun sampe bikin bosen teman-temannya dan mereka satu per satu menjauhinya. Ditambah lagi, semua gelas yang dimiliknya pecah semua akibat pelampiasan rasa kesalnya menjadi pengangguran.

Menjadi pengangguran atau merasa diri sudah tidak lagi berguna untuk hidup merupakan salah satu indikator seseorang untuk melakukan jijatsu. Entah apa bedanya dengan seppuku ataupun hara-kiri. Yang menjadi persamaannya adalah sama-sama menghilangkan nyawa alias bunuh diri. Di Jepang, sebagian remajanya memiliki tingkat depresi tinggi. Kerasnya persaingan hidup ataupun bertahan hidup di Jepang, mengakibatkan banyaknya penduduk Jepang tidak berniat menikah, dan paling fatal adalah memutuskan jijatsu.

Rachel adalah representasi penduduk Jepang yang memiliki tingkat depresi yang tinggi; dipecat secara tidak terhormat dari pekerjaan impiannya dan berakibat susahnya mendapatkan kembali pekerjaan yang layak. Belum lagi ditambah sikap teman-temannya yang menjauhinya, yang memang sebenarnya dari faktor dalam dirinya yang suka mengeluh dan menyalahkan keadaan terus menerus tanpa mengintropeksi apa kesalahan yang pernah dia perbuat dan berimbas pada kehidupan orang lain.

Evergreen, bukan sekedar kafe biasa. Selain Rachel, persoalan dalam buku ini tidak hanya ditujukan padanya semata, tapi juga pada kafe ini; pemiliknya, para pelayannya, bahkan pengunjungnya. Ada Yuya pemilik kafe yang phobia bebek dan orangtuanya melakukan jijatsu, Fumio yang selalu tersenyum ternyata menyimpan duka yang mendalam dan harus mengurus adiknya yang merupakan satu-satunya anggota keluarga yang tinggal ia miliki, Kari yang terlihat jutek pun juga memiliki permasalahan pelik dalam hidupnya. Begitu juga dengan Toichiro yang merupakan pengunjung setia dalam kafe tersebut.

Mengapa buku ini lumayan lama ada di timbunan? Mungkin karena jenist font tulisannya yang membuat nggak mood untuk memulai membacanya, terlalu lembut alias kecil-kecil banget. Tapi karena banyak yang bilang buku ini bagus, saya mencoba kembali untuk membacanya, dan memang bagus. Banyak pesan moral yang bisa kita ambil, tidak hanya dari sisi Rachel, tapi juga dari para tokoh lainnya. Salah satunya adalah belajar memaafkan masa lalu.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kadang kenangan manis memang hanya mengerucut ke satu bagian. (hlm. 30)
  2. Kenangan tidak perlu dibagi. Kalau dibagi, tidak akan terasa istimewa lagi. (hlm. 41)
  3. Hidup itu sangat berharga. (hlm. 43)
  4. Perasaan seseorang selalu mempengaruhi masakan yang dia buat. (hlm. 63)
  5. Naksir itu berarti kau ingin hidup dengan orang itu. (hlm. 94)
  6. Semakin lama orang menetap di satu tempat, semakin erat ikatan emosionalnya terhadap tempat tersebut. (hlm. 143)
  7. Betapa bahagianya jika kita bisa ikut merasakan kebahagiaan orang lain. (hlm. 170)
  8. Ada saat di mana harus merelakan orang yang dicintai. (hlm. 194)

Ada beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Orang keren tidak akan dicela sekalipun dia tercebur selokan atau ngiler ketika tidur. (hlm. 32)
  2. Seringkali kau tidak menyadari betapa kau sangat membutuhkan sahabatmu. (hlm. 83)
  3. Minta maaf saja takkan memperbaiki apa pun. Minta maaf takkan mengobati hati yang luka, takkan pernah. Obatnya adalah tindakan. (hlm. 162)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Evergreen

Penulis                                 : Prisca Primasari

Editor                                    : Anin Patrajuangga

Penata isi                             : Lisa Fajar Riana

Desain kover & ilustrasi : Lisa Fajar Riana

Penerbit                              : PT Grasindo

Terbit                                    : Oktober 2013 (Cetakan Kedua)

Tebal                                     : 203 hlm.

ISBN                                      : 978-602-251-940-9

Advertisements

3 thoughts on “REVIEW Evergreen

  1. Pingback: 5 Penulis Lokal Produktif Tanpa Banyak Drama Hidup | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s