[BLOGTOUR] REVIEW Rahwana + GIVEAWAY

“Kau mungkin bisa berguna bagi dunia pada akhirnya. Awalnya kupikir kau serupa sampah yang menghuni sisa-sisa kawasan Asura yang tercampakkan. Aku pikir kau seperti hama yang memimpikan kejayaan dan tak mampu berbuat apa-apa, yang bersuka ria di masa lalu, baik yang nyata maupun khayali, dan berharap pada sebuah keajaiban yang mampu menyelamatkan dirimu dan bangsamu. Tapi Rahwana, aku dapat melihat letikan bara dalam dirimu. Bara yang kecil, tapi tetap saja bara, yang bila dihembus dengan tepat dapat berubah menjadi kotoran api yang menyala-nyala. Aku tak tahu, apakah kau orang yang dijanjikan bagi kita yang sengsara atau tidak. Atau justru sebaliknya, kutukan bagi bangsa kita! Kau bisa menjadi keduanya. Kau bisa menjadi apa saja yang kau hendaki.” (hlm. 43)

RAHWANA. Dia dan adik-adiknya tak berpendidikan. Tak ada brahamana yang mengajarkan mereka secara cuma-cuma meskipun mereka bekerja untuk mereka. Mereka menyadari dalam darah mereka ada dua kasta. Ayah mereka seorang maharesi termashur, tapi kedudukannya tak ada untungnya sama sekali buat mereka. Dia tenggelam pada dunianya sendiri, tak peduli pada keturunannya. Dia seorang brahmana. Ibunya seorang Asura dari kasta yang tidak diketaui. Ayahnya membiarkan hubungannya menjadi rahasia umum. Dia cukup mengenal kitab-kitab Weda.

Setelah ayahnya menyerahkan semua hartanya kepada saudara tirinya, Kubera, mereka tidak mendapatkan apa pun. Tumbuh besar dan kesusahan dan sakit hati yang tak berkesudahan memunculkan sesuatu yang bergerak di dalam dirinya, perlahan-lahan menyebarkan sulur-sulur hitam ke dalam jiwanya. Namun, dia tidak pernah menyimpang dari jalan kebajikannya sendiri. Pemahamannya akan keadilan berbeda dengan apa yang dianggap benar oleh golongan terpelajar dan yang punya hak istimewa.

“Rahwana, kau masih muda. Prahasta dan yang lainnya adalah orang-orang yang berpengalaman memerintah. Dengarlah kata-kata mereka. Jangan berpikir hanya karena kau seorang raja, kau adalah penyelamat tunggal bangsa Asura. Kau harus banyak belajar, bersyukurlah kau punya orang-orang yang cakap disekitarmu.”

“Ibu, kau memperlakukanku seperti anak kecil! Aku tak menghendaki nasihat orang-orang bodoh yang telah membiarkan kerajaan mereka runtuh. Yang telah menyerahkan kehormatan, kekayaan dan segala hal yang mereka warisi terhadap bangsa Dewa. Pengalaman apa pun yang mereka miliki ketika memerintah kerajaan selebar saputangan, dan hidup dalam ketakutan abadi pada bangsa Dewa, nyatanya tak membantu bangsa Asura. Kau tahu lebih banyak dariku, Ibu.” (hlm. 199)

Pemenang perang akan mendapatkan semuanya; kemasyhuran, uang, kekuasaan. Dia akan menjadi kebenaran. Siapa pun yang menang akan disebut kebenaran. Para pujangga akan melantunkan syair pujian untuk sang pemenang. Seiring waktu, nama pemenang akan menjadi semakin berkembang. Sang pemenang akan menjadi suri teladan kebajikan yang paling sempurna di antara manusia. Dia akan melakukan perbuatan baik dan buruk dalam hidupnya, seperti orang lain. Namun, seiring waktu, kebaikan-kebaikan akan dibesar-besarkan dan perbuatan-perbuatan buruknya akan sirna dari ingatan. Dan jika perbuatannya tidak dapat dibenarkan oleh nilai yang berlaku di masyarakat, maka dia akan dinobatkan sebagai Tuhan. Dianggap sebagai Tuhan, yang bahkan perbuatan bejatnya pun dianggap kebenaran. Siapa yang berani mempertanyakan Tuhan?

Membaca buku dengan ketebalan lebih dari 500 halaman ini mengungkap sisi lain Rahwana. Setidaknya ada beberapa pesan moral yang bisa kita ambil. Pertama, betapa Rahwana sangat memikirkan bangsanya. Dia tidak peduli akan nama baiknya. Dia tidak memikirkan apakah buruk di mata orang lain. Dia sangat tidak peduli dengan dirinya sendiri. Dia justru sangat memikirkan nasib bangsanya kelak. Dia tidak peduli, cara apa pun akan ditempuh untuk memakmurkan bangsanya dan keluar dari penindasan yang dilakukan bangsa lain. Kedua, kisah percintaan Rahwana. Dia menikah dengan istri pertamanya bukan atas dasar cinta. Lain waktu, dia melakukan ‘kesalahan besar’ terhadap pembantu istrinya dan melahirkan seorang anak yang awalnya sangat dibencinya. Terakhir, dia merasa menemukan cinta sejatinya saat bertemu Widyawati. Dibalik banyak perempuan yang menghampirinya, sesungguhnya Rahwana terlihat kesepian, tidak ada yang benar-benar tulus menyayanginya.

Ketiga, yang namanya aliran darah tentunya akan terus menyatu pada jiwa seseorang.  Mau sebenci apa pun Rahwana pada anaknya, Atikaya, sebenarnya diam-diam dia perhatian dan menyayanginya tanpa disadari. Begitu juga dengan anaknya, Shinta. Ya, selama ini kita mengetahui cerita sejarah tentang kisah Rama dan Shinta, sedangkan Rahwana terkesan dibuat jahat dengan kehidupan mereka. Siapa sangka, ternyata Rahwana adalah ayah dari Shinta.

Jauh sebelum membaca buku ini, saya pernah membaca sekilas kisah-kisah atau artikel tentang Rama dan Shinta (salah satunya ada di WIKIPEDIA). Meski mereka digambarkan dengan kisah romance yang penuh dengan rasa cinta, tapi saya tidak merasakannya. Kenapa? Karena saya merasa Rama ini nggak pantas buat Shinta. Saat Shinta diculik Rahwana, Rama tidak langsung datang mencarinya, tapi mengutus Hanoman sebagai perwakilan. Apakah ini disebut ksatria? Kalau yang namanya cinta ya harus diperjuangkan, meski harus mempertaruhkan nyawa sekalipun. Dia juga pernah menyangsikan kesetian Shinta dan mengasingkannya sementara sang istri melahirkan anak kembar. Setelah membaca buku ini, jadi semakin menguatkan kesangsian saya akan kesetiaan Rama terhadap Shinta meski di buku ini tidak digambarkan gamblang kehidupan mereka karena lebih menitikberatkan pada kehidupan Rahwana.

“Hamba akan menyelesaikan pekerjaan Paduka. Jangan khawatir. Pergilah dengan tenang. Hamba akan melakukannya untuk ras kita. Cara hamba mungkin berbeda, bahkan lebih keji dibandingkan cara Paduka. Hamba juga seorang prajurit, tapi hamba sudah tua. Senjata membuat hamba takut sekarang. Hamba takut perang. Hamba bahkan tak sanggup menyakiti seorang anak. Namun demikian, cara hamba akan sangat mengerikan. Hamba akan membalas dendam untuk Paduka, untuk hamba sendiri, dan untuk bangsa kita yang telah dihancurkan! Rama tak akan bebas atas apa yang telah dilakukannya pada kita! Percayalah pada hamba dan pergilah dengan tenang…” (hlm. 22)

Buku ini memberi pemahaman bahwa Rahwana tak sejahat yang ada di cerita-cerita sejarah yang selama ini tertanam di otak kita, dan begitu juga Rama pun tak sesempurna yang digambarkan. Penulis mengatakan jika dia tidak membuat mana yang pahlawan maupun mana yang jahat. Hanya meluruskan kisah yang sesungguhnya.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Engkau harus berbicara jujur. Engkau harus berbicara dari hati dan tidak melakukan apa pun yang engkau anggap salah. (hlm. 26)
  2. Engkau tak boleh berbuat curang bahkan meskipun engkau bakal mengalami kegagalan. (hlm. 26)
  3. Tuhan adalah hal yang sangat pribadi dan doa hanya perlu diucapkan di dalam hati secara rahasia. (hlm. 31)
  4. Satu-satunya hal yang layak dijaga adalah akal budimu. (hlm. 51)
  5. Capaian-capaian menakjubkan yang terjadi dalam beberapa tahun lampau tak akan pernah tercapai tanpa api kecil ambisi dalam pikiran beberapa orang, yang kemudian dikipasi menjadi api besar oleh perasaan-perasaan lainnya. (hlm. 57)
  6. Cinta pada kehidupan dan segala sesuatu yang membuat hidup bernilai membuat orang melindungi capaian-capaiannya. (hlm. 57)
  7. Untuk kebaikan yang lebih besar, kau bisa melakukan kebaikan-kebaikan yang lebih rendah. (hlm. 185)
  8. Besarnya cita-cita dan kemauan bertindak untuk mencapainya adalah unsur penentunya. (hlm. 359)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Mengapa hanya segelintir orang yang mampu mengendalikan kekuasaan dan kekayaan sementara yang lainnya wajib mematuhi mereka? (hlm. 29)
  2. Tak ada yang lebih terkutuk selain sikap mementingkan diri sendiri. Seorang manusia yang hanya memikirkan diri sendiri adalah orang yang paling sial. (hlm. 51)
  3. Cinta adalah rantai yang mengikatmu pada khayalan yang memurukkanmu. (hlm. 51)
  4. Kesombongan bersumber dari kebanggaan, yang membunuh pikiran dan pandangan yang jernih. Kebanggaan membuatmu meremehkan musuhmu dan mengagul-agulkan diri sendiri. (hlm. 50)
  5. Cemburu pun berasal dari kebanggaan. Cemburu adalah perasaan yang busuk dan menguasai pikiran. Cemburu adalah salah satu yang paling berat bagi manusia. (hlm. 50)
  6. Amarah yang salah arah dapat menyebabkan kerusakan. Tetapi bukankah itu perasaan dasar kehidupan? (hlm. 53)
  7. Perasaan takut pada kesedihan membuat orang terjaga di malam hari dan melecut orang itu agar bangkit berdiri. (hlm. 57)
  8. Perasaan cemburu karena orang lain bisa mencapai hal yang lebih besar telah mendorong orang bekerja lebih keras. (hlm. 57)
  9. Ambisi adalah kunci kemajuan. (hlm. 50)
  10. Jika kau membaca kitab terlalu banyak, kau mulai percaya tidak pada diri sendiri, melainkan pada kata-kata tak bernyawa dengan uraian-uraian yang rumit yang terdapat di halaman demi halaman kitab-kitab itu. (hlm. 113)
  11. Sebuah pertempuran bisa saja menjadi bencana. (hlm. 157)
  12. Tak ada yang lebih baik bagi mereka selain meributkan masalah negara. (hlm. 175)
  13. Pantaskah kita menerima ini? Saat kita kelaparan, raja kalian bergelimang kemewahan! (hlm. 179)
  14. Janganlah kau yang omong kosong. (hlm. 193)
  15. Hentikan adu mulut kalian. (hlm. 195)
  16. Jika kau mati, alam semesta masih akan tetap sama. (hlm. 203)
  17. Jangan percaya pada siapa pun, terutama pada saudara-saudaramu, ketika engkau hendak meraih cita-citamu, sebab mereka bisa berbalik menjadi musuh terbesarmu. (hlm. 305)
  18. Jangan pernah percaya pada pengkhianat, bahkan jika dia telah melakukan pekerjaan kotor untukmu. Suatu hari dia bisa berbalik melawanmu. (hlm. 307)
  19. Seseorang bisa menjadi terbiasa dengan segala hal, termasuk rasa malu. (hlm. 345)
  20. Keangkuhan adalah pertanda datangnya kehancuran. (hlm. 465)
  21. Siapa yang bisa menyalahkan jiwa muda? (hlm. 465)
  22. Kebijaksanaan sejati terletak pada pemahaman bahwa cita-cita hanyalah alat dari kekuasaan. (hlm. 547)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Rahwana

Penulis                                 : Anand Neelakantan

Penerjemah                       : Desak Nyoman Pusparini, Chandra Citrawati

Penyunting                         : Shalahuddin Gh

Penyelaras bahasa          : I Wayan Sariana

Pemindai aksara               : Jenny M. Indarto

Penggambar sampul       : Imam Bucah

Penerbit                              : Javanica

Terbit                                    : April 2017

Tebal                                     : 632 hlm.

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia.

2. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

3. Follow akun twitter @lucktygs . Jangan lupa share dengan hestek GA #Rahwana dan mention via twitter. (Jika punya twitter, nggak wajib)

4. Follow akun IG @lucktygs dan @javanicabooks (Jika punya IG, nggak wajib)

5. Isi di kolom komentar di bawah berupa nama, akun twitter/ IG dan kota tinggal. Nggak ada pertanyaan ya, cukup itu aja 😉

GA #Rahwana ini berlangsung seminggu saja: 12-18 Juni 2017. Pemenang akan diumumkan tanggal 19 Juni 2017

Akan ada DUA PEMENANG yang akan mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penerbitnya… ;)

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

Pemenang giveaway kali ini adalah:

Nama : Rizal Ramdhani
Twitter : @alrizalfiqri
Domisili : banyuwangi, jawa timur

Nama: Imron Fhatoni
Twitter: @imronfhatoniwk
Domisili: Kota Mataram, NTB

Selamat buat pemenang. Sila kirim email ke  emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com dengan judul: konfirmasi pemenang Giveaway Rahwana. Kemudian di badan email cantumkan; nama, alamat lengkap, dan no hape biar hadiahnya segera dikirim langsung oleh penulisnya ya.

Terima kasih buat Penerbit Javanica atas kerjasama dan  kepercayaannya. Semoga lain waktu bisa bekerjasama kembali… 😉

Buat yang belum menang, jangan sedih. Masih banyaaaakkkk giveaway lainnya yang menanti!! :*

-@lucktygs-

Advertisements

44 thoughts on “[BLOGTOUR] REVIEW Rahwana + GIVEAWAY

  1. Nama : Isro’in Tri Masruroh
    Twitter : @isro_in
    Domisili : Tulungagung, Jatim

    Bismillah… Wish Me Luck 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s