REVIEW The Little Paris Bookshop

Buku itu dokter sekaligus obat. Buku membuat diagnosis sekaligus menawarkan terapi. (hlm. 40)

PERDU. Untuk meredakan penderitaan yang tak dapat dijelaskan namun nyata, dia membeli kapal sungai yang dulunya dipakai sebagai kapal pengangkut yang dulunya bernama Lulu. Dia mengubah kapal itu dengan tangannya sendiri dan mengisinya dengan buku, satu-satunya obat untuk penyakit rohani yang tak dapat dijabarkan dan tak terhitung.

Dia menjual buku seperti obat. Ada buku yang cocok untuk sejuta orang, ada juga yang hanya untuk seratus orang. Bahkan ada obat, buku yang hanya untuk satu orang. Memberikan novel yang cocok untuk penyakit yang tepat, begitulah caranya menjual buku. Ya, Perdu bisa dikatakan sebagai apoteker kesusasteraan penulis resep untuk orang-orang yang mabuk kepayang.

Memakai buku sebagai uang bukanlah hal mudah baginya, karena dia tahu nilai buku yang sebenarnya. Penjual buku takkan pernah lupa bahwa buku adalah alat terbaru ekspresi dalam hamparan luas sejarah, mampu mengubah dunia, dan menggulingkan tiran.

Setiap kali melihat buku, Perdu tidak melihatnya secara murni sebagai sebuah kisah, harga ritel minuman, dan balsam penting bagi jiwa; dia bisa melihat kebebasan di sayap-sayap kertas.

“Anda perlu ruang tersendiri. Jangan terlalu terang, dengan selalu ditemani anak kucing. Dan buku ini, tolong dibaca lambat-lambat agar anda bisa beristirahat sekali-kali. Anda akan banyak berpikir dan mungkin sedikit menangis. Untuk diri sendiri. Untuk tahun-tahun yang berlalu. Tapi anda akan merasa lega setelahnya.” (hlm. 23)

“Coba baca ini. Tiga halaman setiap pagi sebelum sarapan sambil berbaring. Buku ini harus yang pertama kaubaca. Dalam beberapa minggu kau takkan terlalu nelangsa –akan terasa seolah kau tak perlu lagi menebus keberhasilanmu dengan kebuntuan penulis.” (hlm. 44)

Lewat buku ini, kita akan diajak menjelajahi kehidupan beberapa orang dengan permasalahan yang berbeda. Perdu, dengan segala keahliannya dalam buku, bisa menganalisa seseorang, buku apakah yang tepat atau dihindari seseorang. Saat membacanya, saya jadi kepikiran diri sendiri. Selama ini, di perpustakaan sekolah tempat saya bekerja yang artinya pemustaka yang datang adalah 90% siswa di sekolah, saat mereka meminjam buku terutama novel, lebih banyak yang minta dicarikan daripada memilih sendiri buku yang akan dibaca. Misal, yang lagi patah hati pasti minta dicarikan buku-buku bertema galau ataupun move on. Yang lagi jatuh cinta, tentunya pasti minta dicarikan buku yang tokoh utamanya lagi falling in love. Dan jika buku yang ditawarkan belum pernah saya baca, mereka pun sangsi ama isinya. Kebalikannya, jika saya bilang buku itu bagus dan cocok untuknya, kebanyakan nggak pada mikir lagi, langsung minjem. Memang ngaruh banget kerja di sekeliling buku, antara yang demen membaca ama yang nggak. Saya mungkin sebelas dua belas macam Perdu, tapi belum sampe tingkat ahli macam Perdu, saya mah masih recehan x))

Dan…ahh…lagi-lagi sama dengan Perdu, jika bisa banget memberikan konsultasi atau resep buku untuk orang lain, tapi justru mengalami kebuntuan untuk diri sendiri, gyahahaha… x)) #MalahTjurhat

“Apakah benar-benar tak ada buku yang bisa mengajariku memainkan lagu kehidupan?” (hlm. 51)

Selain berhubungan dengan permasalah para pasien di toko buku milik Perdu, penulis juga menyelipkan banyak sekali pengetahuan yang berhubungan dengan buku. Di halaman 27 ada penulis baru yang terkenal tapi tidak ingin diekspos dan banyak sekali pembaca yang request minta diadakan bedah buku di toko bukunya Perdu ini, tapi si penulis enggan karena dia menyadari jika demam panggung. Ada juga di halaman 42-43 yang bercerita tentang penulis yang mengalami writer’s block. Di halaman 30 tentang seorang ibu yang tidak menginginkan anaknya terlalu pintar karena cerdas efek kebanyakan membaca, khawatir laki-laki akan minder mendekati anaknya. Kemudian di halaman 60 tentang klub buku para manula yang menghabiskan waktu daripada menonton televisi. Di halaman 267 sekilas ada rahasia perpustakaan takdir. Juga ada beberapa istilah yang berhubungan dengan buku; akashic records  dan epikuris buku.

Karena ini berkisah tentang toko buku, bisa dipastikan banyak judul buku bertebaran. Beberapa diantaranya:

  1. 1984 (hlm. 10)
  2. When the Clock Struck Thirteen (hlm. 11)
  3. Night (hlm. 20)
  4. (hlm. 23)
  5. The Golden Compass (hlm. 29)
  6. Lyrical Medicine Chest (hlm. 33)
  7. Investigations of a Dog (hlm. 35)
  8. Pippi Longstocking (hlm. 35)
  9. Dungeons & Dragons (hlm. 39)
  10. Southern Lights (hlm. 43)
  11. Blindness (hlm. 47)
  12. Burning Desire (hlm. 57)
  13. Little Bedtime Prayers (hlm. 68)
  14. Stages (hlm. 107)
  15. Don Quixote (hlm. 169)
  16. Compendium of Dream Intrepetation (hlm. 169)
  17. Harry Potter (hlm. 219)
  18. Kalle Blomquist (hlm. 219)
  19. Lima Sekawan (hlm. 219)
  20. Diari Greg (hlm. 219)
  21. Romeo & Juliet (hlm. 269)
  22. The Great Encylopedia of Small Emotions (hlm. 306)
  23. The Magician in the Garden-A Garden Book for Children (hlm. 404)

Banyak kalimat yang berhubungan dengan buku:

  1. Hanya karena bertambah tua sedikit, buku tidak lantas membusuk. (hlm. 21)
  2. Terimalah buku-buku berkualitas dan jangan menjalin hubungan tidak jelas dengan pria yang mengabaikan anda. (hlm. 22)
  3. Buku menepis kebodohan. Juga harapan kosong. (hlm. 22)
  4. Kadang-kadang, stoking lebih laris daripada buku. (hlm. 25)
  5. Banyak sekali yang bisa disampaikan dalam hidup. Hidup bersama buku, hidup bersama anak-anak, hidup untuk para pemula. (hlm. 32)
  6. Tentu buku lebih daripada dokter. Ada novel yang bisa menjadi teman seumur hidup yang penyayang; ada yang menjewer kita; lainnya menjadi teman yang memeluk dalam handuk hangat saat kita merasakan kerisauan musim gugur. (hlm. 40)
  7. Aku hanya bisa bernapas kalau membaca. (hlm. 53)
  8. Buku mengubah manusia. (hlm. 87)
  9. Buku adalah temanku. Kurasa aku mempelajari semua persaanku dari buku. bersama buku aku mencintai tertawa, dan menemukan lebih banyak daripada yang kutemukan dalam kehidupan di luar membaca. (hlm. 88)
  10. Kaupikir hanya tokoh dalam buku yang melakukan hal-hal gila? (hlm. 112)
  11. Buku adalah alat terbaru ekspresi dalam hamparan luas sejarah, mampu mengubah dunia, dan menggulingkan tiran. (hlm. 165)
  12. Membaca membuat kita kurang ajar. (hlm. 167)
  13. Dunia kata-kata tidak pernah nyata. (hlm. 209)
  14. Membaca membuat anda cantik, membaca membuat anda kaya, membaca membuat anda langsing. (hlm. 215)
  15. Buku tidak mengancam manusia. (hlm. 301)
  16. Makanan dan buku memiliki kaitan erat. (hlm. 343)
  17. Buku bisa melakukan banyak hal, tapi tidak segalanya. Kita harus menjalani sendiri hal-hal penting, bukan sekedar membaca. (hlm. 349)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kadang-kadang kita berenang dalam air mata yang tidak tumpah dan kita akan tenggelam kalau air mata itu tetap disimpan. (hlm. 18)
  2. Setiap orang punya bakat. (hlm. 39)
  3. Jika bisa melewati hari ini, aku pasti bisa melewati hari-hari lain. (hlm. 106)
  4. Di semua awal hiduplah kekuatan ajaib. (hlm. 107)
  5. Kematian tak berarti apa-apa. Kita akan selamanya seperti saat kita masih hidup bagi satu sama lain. (hlm. 158)
  6. Seumur hidup, cinta untuk orang tersayang yang pergi meninggalkan kita akan ada selamanya. Kita merindukan mereka sampai akhir hayat. (hlm. 164)
  7. Membaca –perjalanan tanpa akhir; perjalanan panjang benar-benar tanpa akhir yang membuat seseorang menjadi lebih sabar serta lebih penuh kasih sayang dan baik hati. (hlm. 164)
  8. Kita kekal dalam mimpi orang-orang yang kita cintai. Dan orang-orang sudah mati yang kita cintai terus hidup setelah kematian mereka dalam mimpi kita. Mimpi adalah penghubung antardunia, antarwaktu dan ruang. (hlm. 170)
  9. Kerinduan akan masa kecil, ketika hari-hari seolah menyatu dan berlalunya waktu tak memiliki konsekuensi. Perasaan dicintai dengan cara yang takkan pernah datang lagi. pengalaman unik ditinggalkan. Segala yang tak bisa ditangkap dengan kata-kata. (hlm. 199)
  10. Mencintai atau tak mencintai seharusnya seperti kopi atau teh; orang-orang seharusnya diizinkan memilih. Bagaimana lagi cara kita melupakan semua orang yang sudah mati? (hlm. 254-255)
  11. Kita semua hidup dalam kondisi yang dapat diduga. (hlm. 279)
  12. Tubuh kita lebih pandai mengingat seperti apa rasanya menyentuh seseorang daripada otak kita mengingat perkataannya. (hlm. 283)

Banyak juga sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kenangan itu seperti serigala. Tak bisa dikurung dengan harapan tidak akan mengganggu kita. (hlm. 13)
  2. Kesalahan umum. Kita baru benar-benar mengenal suami bila sudah ditinggal minggat. (hlm. 14)
  3. Cinta, diktator yang menurut kaum pria sangat menakutkan. Tak heran bahwa laki-laki, mengingat maskulinitasnya, umumnya menyambut tiran ini dengan berlari menjauh. (hlm. 26)
  4. Pria bodoh adalah kehancuran bagi setiap wanita. (hlm. 30)
  5. Makin lama kehidupan makin dijalani, makin protektif orangtua terhadap masa-masa indah mereka; tak ada yang boleh membahayakan masa mereka yang tersisa. (hlm. 31)
  6. Perasaan agak sedih ketika persahabatan tak berjalan sesuai harapan sehingga kita harus melanjutkan pencarian untuk menemukan teman seumur hidup. (hlm. 33)
  7. Jika seseorang meninggalkan kita, kita harus menjawab dengan kebisuan. Kita tak diperkenankan memberikan hal lain bagi orang yang pergi; kita harus menutup diri. (hlm. 70)
  8. Ada ayah yang tak bisa mencintai anak-anaknya. (hlm. 143)
  9. Tak seorang pun jadi bijak jika tak pernah muda dan bodoh. (hlm. 150)
  10. Cinta kecil. Cinta besar. Payah, kan. Cinta memiliki banyak ukuran? (hlm. 159)
  11. Kenapa kau tak meninggalkannya sejak dulu jika dia bukan cinta besarmu? (hlm. 159)
  12. Hati-hati dengan omonganmu. (hlm. 217)
  13. Jiwa adalah apa yang tumbuh di sana, apa yang orang-orang lihat, hirup baunya, dan sentuh setiap hari, apa yang melewati mereka dan membentuk mereka dari dalam. (hlm. 217)
  14. Apakah benar pria memiliki kekasih berdasarkan kemiripan dengan ibu mereka? (hlm. 229)
  15. Kebiasaan adalah dewi yang sombong dan berbahaya. Dia takkan membiarkan apapun mengacaukan aturannya. Dia menekan keingina dan keinginan. (hlm. 235)
  16. Kematian orang-orang yang kita cintai hanyalah ambang antara akhir dan awal baru. (hlm. 401)

Keterangan Buku:

Judul                                     : The Little Paris Bookshop

Penulis                                 : Nina George

Ali bahasa                            : Utti Setiawati

Editor                                    : Rini Nurul Badariah

Sampul                                 : Robby Garsia

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2017

Tebal                                     : 440 hlm.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s