REVIEW Friendzone

Sebanyak-banyaknya oksigen yang berhamburan di dunia ini, tapi kalau nggak ada diri lo dikehidupan gue, tetap aja rasanya hampa. Karena hanya lo oksigen yang bisa membuat gue bernapas dengan bahagia di dunia ini.” (hlm. 73)

ABEL ASTERELLA. Tinggal di Jakarta. Sekolah di Season Sky High School. Sekarang kelas 2 SMA. Udah sahabatan sama DAVID LUCIAN sejak mereka berumur 5 tahun. Mereka tinggal di rumah yang sama, rumah ini sebenarnya milik ayah Abel. Mereka menempati rumah ini, sementara orangtua mereka menempati rumah utama.

“Berisik lo semua, gue sama Abel  pacaran? Kita mah cuma sahabatan. Selamanya juga kita bakal tetap sahabatan. Selamanya juga kita bakal tetep sahabatan. Iya, nggak, Bel?” (hlm. 13)

“Lo seperti bintang. Yang cuma bisa dilihat, dinikmati keindahannya, tapi sampai kapan pun nggak bakal bisa diraih. Walaupun lo deket banget sama gue, sampai kapan pun gue nggak bisa raih lo. Hanya bisa merasakan bersama lo di hari-hari gue yang kelam.” (hlm. 20)

Dalam kurun setengah tahun, buku ini sudah memasuki cetakan keenam. Apalagi di cover tertulis embel-embel ‘telah dibaca lebih dari 7,5 juta kali di wattpad. Ditambah lagi banyak murid yang nanyain buku ini. Ternyata oh ternyata, baca dari halaman pertama aja udah nggak sesuai ekspetasi. STD, standar abis! X))

 “Eh, gue mau Tanya, boleh, nggak?”

“Lo aja udah itu?”

“Terserah deh. Eh misalnya lo punya gebetan, trus dia nggak peka sama lo gitu, lo mau apain tuh cowok?”

“Hm..gue sih nunggu aja sampai dia peka gitu, penginnya sih gue jitak, gue jambang, tending, pokoknya jiwa sadis gue keluar deh, hahahaha…”

“Ohhh, misalnya dia nggak peka-peka, lo ma uterus-terusan nunggu?”

“Penginnya sih nggak, tapi masa iya gue bilang ke cowok yang gue suka, ‘Eh, lo peka dong! Gue suka sama lo udah dari dulu! Tapi, lo nggak sadar-sadar!’ Nggak mungkin kan, gue ngomong gitu?” (hlm. 36)

Beberapa hal-hal yang pengen dibedah dalam buku ini:

  1. Boros kata ‘gue’. Dari awal cerita saja, sudah terlihat pemborosan kata ini. Nih, simak awal pembukanya; “ Hari ini gue udah siap jadi siswi kelas 2 SMA. Setelah gue bangun dan ngerapiin tempat tidur, gue langsung mandi padahal, sekarang baru pukul setengah enam. Maklum, gue kan anak rajin. Pede banget ya gue?” (hlm. 2) — editor mana editor x))
  2. Di halaman 7 disebutkan nama guru di kelas Abel bernama Bu Lia masuk kelas. Pertanyaannya, bagaimana Abel bisa tahu jika guru tersebut bernama Bu Lia, apakah Abel sudah kenal dengan Bu Lia padahal itu adalah hari pertama sekolah, kecuali isi diceritakan dari sudut pandang orang pertama tapi di sini posisinya diceritakan sebagai orang pertama dari sisi Abel.
  3. Joke garing di halaman 10 tentang plesetan jargon Anang di Indonesia Idol yang terkenal dengan kalimat ‘Aku sih no ya’. Ya ampun..ini garing banget x))
  4. Disebutkan jika Abel dan David tinggal bersama di sebuah rumah yang dimiliki orangtua Abel, sementara orangtua mereka tinggal di rumah lain yang jauh dari mereka. Meski posisinya masih ada saudara lain yang tinggal di situ dan ternyata diceritakan juga sering keluar rumah, rasanya nggak masuk akal, mana ada orangtua yang mempercayakan remaja yang beda kelamin untuk tinggal bersama tanpa pengawasan orangtua dengan alasan orangtua Abel sudah percaya dengan David karena mereka berteman sejak kecil.
  5. Penyebutan manusia-manusia kece atau ganteng yang tertuju pada David, Steven, Finn dan Alex yang sering banget diulang. Seharusnya cukup sekali, seolah-olah pembaca dijejali doktrin jika David dkk ini adalah manusia-manusia kece.
  6. Di halaman 27, penyebutan bel dengan kata KRIING. Ini katanya sekolahnya berlabel internasional, yakin bunyi belnya masih kriinggg kayak SD inpress? X))
  7. Ada beberapa halaman selipan cerita tentang Abel dan David di masa kecil. Biar nggak bikin bingung, harusnya kalimat-kalimat masa lalu itu fontnya dibuat miring, seperti di halaman 40-41 biar nggak ambigu dengan penyajian cerita sebelum dan sesudahnya.
  8. Kurang konsisten dengan kata-kata ‘nggak’ dan ‘tidak’ yang keduanya masih dipakai. Harusnya salah satu saja.
  9. Katanya Abel ini ikut eskul basket, tapi di buku nggak pernah membahas kehidupan Abel di sekolah saat eskul basket. Hidupnya standar banget. Sekolah, pulang, sekolah, pulang. Gitu terus.
  10. Permasalahan antara David dan Carlos, masak sih Abel nggak tahu? Katanya kan Abel ini sahabat dekat ama David, mantannya David aja dia hapal kok x))
  11. Mungkin kalo kuliah masih masuk akal kalo cuti tiga bulan, tapi kalo sekolah rasanya nggak masul akal ada siswa yang cuti sampai tiga bulan sekalipun itu sakit atau mengalami kecelakaan hebat seperti di buku ini halaman 255. Di sekolah tempat saya bekerja, pernah ada beberapa siswa yang mengalami musibah kecelakaan ataupun sakit berkepanjangan. Biasanya ada konsekuensi yang harus ditanggung siswa jika tidak sekolah sampai beberapa bulan, yaitu tinggal kelas. Dan banyak juga yang mau mengulang di tahun pelajaran berikutnya. Ataupun sementara belum sekolah sampai kondisinya fit.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kalau lo jatuh, ya gue tangkeplah nanti. Jadi, lo nggak perlu takut. (hlm. 32)
  2. Mimpi hanya akan mimpi kalaulo nggak berusaha. Makanya lo harus berusaha. (hlm. 171)
  3. Nyaman adalah awal dari tumbuhnya perasaan suka. (hlm. 179)
  4. Mungkin berjalan di samping orang yang disukai itu mengakibatkan lupa waktu. (hlm. 179)
  5. Kadang, yang selalu ada akan kalah sama yang kita mau. (hlm. 189)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan terlalu dipikirin, let it flow Yang penting, lo harus peka sama lingkungan lo sendiri, terutama temen deket sama sahabat lo. (hlm. 26)
  2. Walaupun sifat lo yang nyebelin, itu nggak bakal bisa ngubah rasa suka gue ke lo. (hlm. 29)
  3. Jangan bercanda. Gue cuma ngomong asal. (hlm. 33)
  4. Kalau menunggu adalah hal yang terbaik buat gue, gue bakal menunggu sampai lo menyadarinya, sampai kapan pun itu. (hlm. 36)
  5. Kalau belajar jangan melamun, nanti kesambet. (hlm. 58)
  6. Cewek cantik kayak loh tuh jangan ditutup-tutupin kecantikannya. (hlm. 70)
  7. Terkadang, lo harus sensitif sedikit dengan sekitar lo. Lihat cara pandangnya yang berbeda ke elo. Jangan sia-siain dian. (hlm. 112)
  8. Nyadar juga lo kalau dosa lo banyak. (hlm. 123)
  9. Mungkin sepertinya harus bertingkah seperti orang gila dahulu untuk melupakan masalah. (hlm. 127)
  10. Putri malu aja peka, kenapa lo nggak? (hlm. 150)
  11. Lo nggak lihat mukanya aja udah mewek gitu. (hlm. 164)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Friendzone

Penulis                                                 : Vanesa Marcella

Penyunting                                         : Hutami Suryaningtyas

Perancang & ilustrasi sampul      : Nocturvis

Ilustrasi isi                                           : Nocturvis

Pemeriksa aksara                             : Mia Fitri Kusuma

Penata aksara                                    : Arya Zendi & Nuruzzaman

Penerbit                                              : Bentang Belia

Terbit                                                    : 2017 (Cetakan Keenam)

Tebal                                                     : 264 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-430-000-5

Advertisements

3 thoughts on “REVIEW Friendzone

  1. Haloo Kak, aku pernah baca Friendzone pas masih di wattpad
    Menurut ku ceritanya biasa bgt, bahasa nya juga masih berantakan
    Aku jarang beli novel yg awalnya dari wattpad, soalnya kesannya materi nya masih mentah dan bnyak yg harus d perbaiki
    Kalo Kakak mau bkin resensi dari wattpad, aku saranin karya dari Kak Saira Akira. Genrenya Fantasi, dari segi bahasa jg udah rapih
    Bangkitin imajinasi dan jalan ceritanya ga ketebak.
    Atau karya dari Kak Alnira, meski ceritanya chicklit tapi logis bgt. Karakter dari setiap tokohnya jga kuat.
    Tapi skali lagi, aku tetap mnghargai karya anak bangsa. Smoga penulis bsa jadi lebih baik di karya selanjutnya
    Dan semoga kakak sukses selalu🙏🙏🙏

    • Iya nih, ceritanya biasa banget. Aku juga baca ini karena banyak banget murid yang minta beliin buku ini buat perpus. Begitu aku baca langsung sendiri, ternyata ekspetasi gak sesuai ama kenyataan ya. Mentah banget ceritanya 😀

  2. Pingback: REVIEW Bad Romance | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s