REVIEW Glaze

“Yah, aku hilang dari dunia ini sekarang. Kau boleh lega. Sekarang, hidupmu akan lebih mudah. Aku takut, Kalle. Bukan terhadap kematian, bukan. Aku takut meninggalkan orang-orang yang kusayangi. Dia, terutama. Aku tidak yakin dia akan baik-baik saja. Dia tidak bisa hidup sendiri. Di butuh seseorang. Kalle, tolong jaga dia untukku. Kalau bersamamu, dia pasti baik-baik saja. Anggap ini permintaan terakhirku. Namanya Kara.” (hlm. 49)

KALLE. Baginya, Eliot membuatnya berada di luar lingkaran –keluarga yang semula hanya terdiri dari Kalle, papa, dan mama. Dia berharap agar jatuh sakit seperti Eliot. Agar bisa kembali masuk ke dalam lingkaran. Keberadaannya memudar dan dia tidak bisa mencegah itu. Satu-satunya cara agar ia tidak kasatmata seutuhnya di hadapan papa dan mama adalah memakai topeng anak sempurna. Sebisa mungkin, dia memenuhi harapan mereka.

Hingga di saat usianya tiga belas tahun, sedangkan Eliot sepuluh tahun. Berita duka menghampiri mereka. Kedua orangtua mereka tewas karena kecelakaan lalu lintas. Sebelumnya, Eliot bukan bebannya. Tiba-tiba dia harus menanggungnya.

Dia juga harus menanggung perusahaan keluarganya. Papa seorang pebisnis. Dia memiliki banyak properti, tersebar di banyak kota. Ketika orangtuanya meninggalkan mereka, semua itu dilimpahkan pada Kalle begitua ia cukup umur.

Ternyata cobaan tidak berhenti sampai disitu, kini Eliot pun pergi. Dan ada amanat yang harus dijalankannya. Menjaga pacar Eliot; Kara.

“Kita tidak bisa mencegah itu. Manusia lupa. Kau suka atau tidak, itu akan terjadi.”

“Tidak. Lupa berarti berhenti mencintai. Aku tidak ingin berhenti mencintai Elliot. Selamanya.”

“Kara. Kau boleh mencintai Elliot selamanya, tapi dia tidak akan kembali. Kau harus menerima itu. Dia pergi. Dan, kau masih di sini. Kau hidup. Kau harus menerima itu juga. Tidak menjalani hidup sama seperti tidak menghargai Elliot, apa kau sadar? Oke. Ini tidak mudah, aku mengerti. Kau tidak perlu merelakan Elliot detik ini juga. Kau hanya perlu memulai. Lepaskan tangannya, Kara. Kalau tidak, saat kebahagiaan lain datang kepadamu, kau tidak akan bisa meraih kebahagiaan itu.”

“Menurutmu, apa ini yang diinginkan Elliot?” (hlm. 130-131)

Saat membaca buku ini mengingatkan buku yang di tulis Mbak Asri Tahir yang berjudul Not a Perfect Wedding. Sekilas benang merah yang diambil buku ini sama dengan buku tersebut. Jika di buku itu menceritakan Raina yang akan melangsungkan pernikahan terancam gagal karena kekasihnya, Raka tewas saat kecelakaan lalu lintas. Dan pernikahannya pun tetap berlangsung dengan calon pendamping yang berbeda, Kakak Raka, Mas Pram yang baru pulang dari luar negeri. Nah, di buku ini mirip. Diceritakan Kalle kebingungan pasca adiknya, Eliot meninggal dan berwasiat jika ia harus menjaga Kara seperti Eliot menjaganya selama ini.

Kesamaan lainnya adalah saya sama-sama sebal sama tokoh utama perempuannnya. Raina dan Kara ini sama-sama kekanak-kanakan gitu. Kita boleh berduka, kita boleh kehilangan, dan semua orang juga pernah yang namanya mengalami kehilangan ataupun sedih meski kadarnya berbeda, tapi bukan berarti terus-terusan meratapi hidup.

Dimaklumi banget jika Kara saking sedihnya kehilangan Eliot semacam ‘oleng’ pasca kematian kekasihnya itu. Untungnya dia memiliki sahabat yang ngerti banget di saat suka maupun duka. Yang nggak abis dipikir adalah Kara yang sudah memasuki fase dengan label perempuan dewasa masih kekanakan dan terlihat kurang mandiri dalam menjalani hidup. Contohnya perkara mobilnya yang sering mogok. Nggak hanya sekali, tapi beberapa kali dan akhirnya meminta pertolongan Kalle. Seperti di halaman 135 ataupun halaman 163. Padahal simple banget, jika mobilnya diperbaiki ke bengkel, selesai perkara tanpa merepotkan Kalle melulu. Belum lagi di halaman 166 saat belanja berbagai macam perlengkapan seni atau kerajinan tangan, ternyata sampai di kasir, uangnya tidak cukup. Perkara lain jika Kalle yang inisiatif akan membayar belanjaannya, nyatanya justru Kara yang memang mengatakan duluan jika uangnya tidak cukup. Ya ampunn… x))

Penulisnya masih mengusung konsep yang sama dan memang menjadi ciri khasnya. Tokoh utama yang cowok selalu dingin, dan mengambil tema kelam. Kali ini tentang kehilangan. Bagaimana upaya baik sisi Kalle maupun Kara bangkit dan menjalani hidup pasca kematian Eliot.

Rada kurang puas dengan buku ini dibandingkan dengan buku-buku yang ditulis sebelumnya oleh Mbak Windry. Jika biasanya banyak bertebaran quotes, kali ini minim quotes. Meski begitu masih bisa menikmati tulisan khas Mbak Windry. Ditunggu terbarunya ya, Mbak 😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kau sudah melalui banyak hal. Pasti tidak mudah untukmu. (hlm. 9)
  2. Ada lebih banyak kenangan yang menyenangkan daripada yang menyedihkan. (hlm. 14)
  3. Kehilangan seseorang tidak seharusnya mudah, bukan? (hlm. 92)
  4. Hanya seni yang membangkitkan perasaan seseorang. (hlm. 179)
  5. Karya adalah cerminan jiwa kita. (hlm. 365)

Beberapa kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kita tidak bisa mencegah itu. Manusia lupa. Kau suka atau tidak, itu akan terjadi. (hlm. 130)
  2. Kau harus memilih: pemikiranmu atau kehidupan yang berkualitas. (hlm. 168)
  3. Kau merepotkan banyak orang. Apa kau sadar? (hlm. 168)
  4. Kenapa sih kau tidak percaya pada kemampuanmu? (hlm. 189)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Glaze

Penulis                                 : Windry Ramadhina

Editor                                    : Gita Romadhona

Proofreader                       : Tharien Indri

Desainer sampul              : Dwi Annisa Anindhika

Ilustrasi isi                           : Windry Ramadhina

Penata letak                       : Gita Mariana

Penerbit                              : Roro Raya Sejahtera imprint Twigora

Terbit                                    : Januari 2017

Tebal                                     : 396 hlm.

ISBN                                      : 978-602-60748-2-9

Advertisements

One thought on “REVIEW Glaze

  1. Pingback: 5 Penulis Lokal Produktif Tanpa Banyak Drama Hidup | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s