REVIEW One Little Thing Called Hope

Collect moments, not things. Lost things can often be found, but lost moments will never be rediscovered. (hlm. 380)

AERYN. Tiga bulan yang lalu, Papa menikah lagi. Memboyong Tante Hera dan putri tunggalnya ke rumah mereka. Dua orang asing tiba-tiba tinggal di rumahnya. Seolah kehadiran mereka akan mampu memupuskan rasa kehilangan dari kepergian Mama. Bagi Aeryn, Mama yang seharusnya ada di sini, bukan mereka.

Aeryn merasakan perubahan-perubahan itu dengan jelas. Bagaimana barang-barang Mama dirapikan ke dalam kotak-kotak kardus, sebagian disumbangkan, dan sisanya disimpan di gudang. Bagaimana letak vas bunga dan rak buku yang ditata Mama suatu hari berubah ke sudut yang berbeda. Bagaimana bunga bakung putih yang selalu mengharumkan ruangan kini tergantikan oleh buket mawar berbau menyengat. Kamar Papa dan Mama tak lagi tampak seperti dulu. Benda-benda asing mulai bermunculan; pakaian yang tak pernah dilihat Aeryn sebelumnya, sofa baru, langganan majalah tak dikenal, aroma masakan yang asing, bau parfum yang berbeda.

Mama, dan setiap kenangan yang mengenainya, perlahan-lahan hilang. Sampai sekarang, Aeryn tak pernah memaafkan Papa karena itu.

“Aku hanya nggak bisa ngerti kenapa Papa begitu cepat menikah lagi. Apa Mama sebegitu kecil nilainya di mata Papa sampai Papa begitu cepat ngelupain Mama? Apa Papa begitu takut kesepian sampia butuh keluarga baru?” (hlm. 233)

FLO. Dengan Bunda yang menikah lagi dengan Om Hanse berarti Flo harus memiliki alamat baru, figur ayah baru, saudara tiri baru, dan sekolah baru. Itu berarti meninggalkan SMA Harapan, Genta, Theo pada pertengahan tahun pelajaran demi sebuah sekolah yang sama sekali asing dan tak bersahabat.

Flo sering mendengar tentang sekolah barunya, bertemu dengan teman-teman SMA Pelita setiap kali sekolah mereka bertanding secara akademis maupun olahraga. Dari sekelumit pengetahuannya, sekolahnya sekarang adalah tempat menimba ilmu bagi orang-orang mampu yang berprestasi. Pada hari pertamanya, Flo langsung tahu bahwa ia adalah kepingan mozaik yang tak cocok –satu-satunya murid yang menonjol untuk alasan-alasan yang salah.

Flo dengan tas perca dan aksesori buatan tangan, kotak-kotak susu aneka rasa, dan nilai pas-pasan, bukanlah contoh figur murid ideal di sekolah ini.

“Ayah kandungku dan Bunda nggak akur. Kupikir, selamanya aku akan ngelihat Bunda diam-diam nangis sendirian di kamar, dan ayah yang selalu pergi dalam keadaan marah. Tapi, ternyata kami dikasih kesempatan kedua, untuk bertemu dengan kalian.” (hlm. 91)

Memang tidak mudah memiliki keluarga baru. Ada orang lain yang tiba-tiba masuk dalam kehidupan kita. Saya bisa merasakan apa yang dirasakan Aeryn, karena saya pernah mengalaminya langsung. Saat kita memiliki orangtua lain yang tidak sedarah dengan kita, ada perasaan berbeda. Tapi semua memang butuh proses. Begitu juga dengan yang dialami Aeryn. Sebagai wujud pembrontakan terhadap Papa, dia melakukan beberapa aksi sebagai wujud protes tersebut. Marah ketika ruang kerja Mama dijadikan kamar Flo, begitu juga saat kebun kesayangan Mama yang perlahan akan digantikan ruang dapur yang akan dibuat lebar karena Tante Hera dan Flo hobi memasak. Begitu juga saat di meja makan, dia seolah tak tertarik dengan sedapnya masakan Tante Hera sementara perutnya sering keroncongan. Semua itu dilakukannya sebagai bentuk setia dengan Mama. Suka sekali dengan penjabaran yang ditulis Winna dalam buku ini. Tidak semua ibu tiri jahat seperti dalam kisah Cinderella. Tante Hera disini sebagai ibu tiri Aeryn justru lebih sempurna dibandingkan Mamanya; pintar masak, rapi dan lembut. Berbeda dengan mamanya yang hanya bisa masak seadanya, berantakan dan semrawut dalam melakukan berbagai hal.

Bukan berarti masalah hanya dari sisi Aeryn, kisah Flo juga nggak kalah menarik. Flo sebenarnya tokoh utama dalam buku jika kita melihat dari sisi covernya; ada sepasang sepatu kecil rajut berwarna biru dan tulisan HOPE dengan bentuk rajutan warna-warni.

Di beberapa ulasan tentang buku ini banyak yang mengatakan nggak suka dengan tema yang diangkatl; hamil di luar nikah. Kalau kita terjun langsung dengan remaja zaman sekarang, memang tema ini justru erat banget. Kadang suka kaget tiap dengar ada siswi yang keluar sekolah karena masalah ini. Dan memang, dari sisi cewek tentu lebih dirugikan karena harus menanggung beban yang lebih berat dibandingkan sisi cowok. Dalam kasus seperti ini, seringkali menemukan di kehidupan nyata bahwa si cewek kerap disalahkan. Sementara yang cowok tidak menanggung beban atau dosa. Suka juga dengan sikap yang diambil penulis dalam menyelesaikan masalah Flo meski ada beban lebih yang harus ditanggungnya sendiri. Oya, penulis menyelipkan pesan bahwa remaja yang mengalami kasus seperti Flo ini butuh dukungan penuh dari keluarga dan teman-temannya untuk menjadi kuat dalam menghadapi kehidupan selanjutnya. Kadang suka sedih kalo di kehidupan nyata, remaja seperti Flo ini dibiarkan bahkan tidak dianggap, seharusnya dirangkul agar tidak makin tersesat dalam menjalani hidup. Cukup satu kesalahan jangan sampai menimbulkan kesalahan yang lain.

Selalu khas penulisnya, membahas tema remaja. Suka. Suka banget buku ini. Oya, buku ini mengingatkan cerita dalam Bittersweet Love yang ditulis oleh Mbak Netty Virgianti. Di buku tersebut menceritakan Nawang dan Joana yang bersaudara tiri karena orangtua mereka menikah, sekilas mirip dengan kisah Aeryn dan Flo dalam buku ini. Bedanya, fokus yang diangkat berbeda. Buku yang ditulis Kak Winna ini menitikberatkan pada dua tema; keluarga dan kehidupan remaja.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Percaya deh, sesuatu yang kamu beli dengan jerih payahmu sendiri pasti terasa lebih berharga. (hlm. 33)
  2. Pelajaran itu sebenarnya sederhana. Yang harus lo lakuin hanyalah melihatnya dari berbagai sudut pandang sampai lo mengerti intinya. (hlm. 43)
  3. Ada alasan mengapa segala sesuatu yang pertama selalu menjadi hal-hal yang sulit terlupakan, bukankah begitu? (hlm. 67)
  4. Hati seseorang bisa terlihat dari hal-hal sederhana. (hlm. 68)
  5. Langkah-langkah kecil, tapi tetap membawamu maju. Itu lebih baik daripada diam di tempat. (hlm. 121)
  6. Orang-orang selalu bilang cinta itu butuh timing yang tepat. (hlm. 137)
  7. Kebahagiaan nggak bisa dipaksakan. (hlm. 185)
  8. Sama kayak memasak, bikin kue adalah sebuah bentuk eksplorasi dan eksperimen yang nggak ada habisnya. (hlm. 189)
  9. Menjadi cinta terbesar dalam hidup seseorang adalah hal paling membahagiakan sekaligus menyakitkan. (hlm. 236)
  10. Hidup macam roda yang tak pernah berhenti berputar. (hlm. 8)
  11. Orang bilang, kita cenderung mencintai seseorang karena kemiripan mereka dengan seseorang yang punya tempat istimewa dalam hati kita. (hlm. 192)
  12. Rasa sayang terhadap setiap orang yang ada dalam hidup kita nggak sama, baik dalam bentuk maupun kadarnya. (hlm. 235)
  13. Percaya sama yang namanya kesempatan kedua. Tapi hal itu susah banget didapetinnya. Hanya segelintir orang yang beruntung diberkati dengannya. (hlm. 277)

Keterangan Buku:

Judul                                     : One Little Thing Called Hope

Penulis                                 : Winna Efendi

Editor                                    : Ayuning & Gita Romadhona

Penyelaras aksara            : Widyawati Oktavia

Penata letak                       : Erina Puspitasari

Desainer sampul              : Jeffri Fernando

Penerbit                              : GagasMedia

Terbit                                    : 2016

Tebal                                     : 422 hlm.

ISBN                                      : 978-979-780-822-8

Advertisements

4 thoughts on “REVIEW One Little Thing Called Hope

  1. Pingback: 5 Penulis Lokal Produktif Tanpa Banyak Drama Hidup | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: 5 Penulis Lokal Produktif Tanpa Banyak Drama Hidup | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s