5 Penulis Lokal Produktif Tanpa Banyak Drama Hidup

Penulis di era digital ini, tak ubahnya artis atau selebtwit. Memiliki ribuan bahkan ratusan ribu pengikut. Maka jangan heran jika segala gerak gerik, apalagi rekam jejak maya akan dipantau oleh banyak orang. Penulis memang hanyalah manusia biasa. Tidak ada yang sempurna. Ada yang low profile, ada juga yang sebaliknya.

Awal Juli lalu twitter digegerkan dengan twitwar antara seorang penulis dan netizen. Mirisnya lagi, penulis jadi terlihat arogan di mata netizen. Apa kabar pembaca buku-bukunya? Saya lihat beberapa pembacanya kecewa dengan sikap si penulis.

Sebenarnya bukan sekali ini seorang penulis tersandung masalah. Ada penulis yang dibully karena kalimat-kalimat di sosmednya yang mengandung SARA, ada juga penulis yang dibenci karena kearogananya dalam urusan tarif saat diundang talk show, ada penulis yang dituduh melakukan kebohongan publik, ada juga penulis yang mengklaim karyanya yang terbaik selama 100 tahun terakhir, dan masih banyak lagi. Dan yang paling banyak sering terjadi sekarang adalah banyaknya penulis yang tanpa disadari sosmednya berbau SARA dan POLITIK, jadi terlihat kurang piknik.

Saran saya, cintai saja karyanya, bukan pribadinya. Seperti kita mengagumi lagu-lagu karya musisi, bukan pribadi musisinya. Juga seperti menyukai sebuh film, terlepas dari kontroversi kehidupan para pemainnya.

Terlepas dari itu, banyak juga penulis yang produktif tanpa banyak drama dalam hidupnya. Sebenarnya banyak, tapi saya memilih lima penulis ini karena memang sudah membaca karya-karyanya:

5. Lia Indra Andriana

Di usia yang masih muda, Andriana memiliki penerbitan sendiri. Jika di tahun 2011, mendirikan Penerbit Haru, kemudian di tahun-tahun berikutnya, dia pun mendirikan penerbit lain dengan lini yang berbeda; Spring dan Inari. Jika Penerbit Haru fokus untuk menerbitkan buku-buku Asia, sedangkan Spring untuk terjemahan buku-buku Amerika dan Eropa, dan Inari diperuntukan untuk penulis lokal. Luar biasa ya! πŸ˜‰

Tidak hanya itu, Andriana juga sudah menulis dua puluhan buku yang bisa dicek di akun goodreads-nya. Beberapa diantaranya adalah serial Oppa & I feat Orizuka, Seoulmate, Paper Romance, Intertwine dan masih banyak lagi.

Lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Surabaya ini membuktikan bahwa pilihannya untuk terjuan ke dunia literasi tidak hanya sebagai penulis, tapi juga memiliki penerbitan sendiri yang memberikan warna baru bagi penerbitan Indonesia.

Β 4. Windry Ramadhina

Selain aktif menulis novel, Windry juga masih aktif nulis di blog. Sudah ada sebelas buku yang ditulisnya, dan sudah separuh dari total jumlah bukunya pernah saya baca; Glaze, Montase, Memori, Angel in the Rain, Last Forever, London, dan Interlude. Belum baca Orange. Suka ama buku-buku yang ditulisnya, tokoh-tokoh yang diciptakan memiliki karakter yang kuat.

Sedikit sekali info yang didapat tentangnya, karena Windry ini termasuk penulis yang jarang mengumbar kehidupan pribadinya maupun keluarganya di sosmed. Jadi, kita akan sulit menemukan fotonya. Sosmed yang dimilikinya lebih fokus untuk promosi buku-bukunya.

3. Prisca Primasari

Sudah ada belasan buku yang ditulisnya. Selain sebagai penulis, karirnya di awal juga sebagai penerjemah dan editor. Beberapa bukunya yang sudah pernah saya baca; Eclair: Pagi Terakhir di Rusia, Evergreen, Priceless Moment, dan Purple Eyes. Lagi ngincer Love Thef yang merupakan buku paling favorit dan berkesan bagi penulisnya. Memiliki tumblr yang masih aktif berisi seputaran buku-buku yang ditulisnya.

2. Winna Efendi

Salah satu penulis lokal favorit, bahkan pernah sempat membuat semacam Reading Challenge buku-bukunya di SINI dan banyak juga yang berpartisipasi. Lewat reading challenge tersebut, Winna mengirimkan beberapa buku untuk para peserta RC.

Beberapa bukunya sudah diangkat ke layar lebar. Hampir semua buku-bukunya sudah saya baca: Refrain, Remember When, Ai: Cinta Tak Pernah Lelah Menanti, Truth or Dare, Unforgettable, Happily Ever After, Tomodachi, Girl Meets Boy, One Little Thing Called Hope. Dua buku terakhirnya belum saya baca; Some Kind of Wonderful dan Someday.

Sama seperti Windry Ramadhina, Winna juga sudah berkeluarga dan jarang mengumbar kehidupan pribadi maupun keluarganya di sosmed. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menulis, jadi nggak heran jika dalam setahun bisa menerbitkan beberapa buku.

1. Orizuka

Memiliki nama asli Okke Rizka Septania. Saya juga pernah mengadakan event Reading Challenge untuk buku-bukunya di SINI. Semenjak itu, saya pun difolbek olehnya via twitter. Nggak hanya itu, karena mungkin melihat timeline saya (yang waktu itu masih belum dipisahkan dengan akun twitter @perpussmanda), berisi tentang keseharian perpustakaan tempat saya bekerja, dia mengirimkan puluhan buku yang ditulisnya dan juga buku-buku dari Penerbit Haru.

Sudah puluhan buku yang ditulisnya. Selain produktif menulis, juga hobi traveling jika kita cek instagramnya. Yang saya suka dari karya-karyanya adalah menyentuh permasalah remaja tepat seperti apa yang dialami remaja sekarang. Hampir semua karyanya sudah saya baca; Infinetely Yours, I For You, The Truth About Forever, Our Story, With You, High School Paradise, Love United, Best Friend Forever, serial Oppa & I, serial The Chronicles of Audy, Call Me Miss J, Meet the Sennas, 17 Years of Love Song, Me & Prince Charming, Fight for Love, Intertwine, dan Apapun Selain Hujan. Paling favorit tentunya adalah 4R, spesial Rex. Untuk buku terbarunya, Momiji, saya belum baca nih.

Nah, apakah memiliki kesamaan dalam memilih penulis favorit? Atau punya pilihan yang berbeda? πŸ˜‰

Advertisements

19 thoughts on “5 Penulis Lokal Produktif Tanpa Banyak Drama Hidup

  1. Aku setuju sama 5 penulis diatas, walaupun aku nggak memabaca karya mereka sama sekali. (Lebih krn selera). Ilana Tan yang langsung terpikirkan begitu baca judul artikel ini. Lebih baik menggunakan sosmed untuk promosi buku daripada nyinyir. Penulis best seller pun bisa jatuh juga etikanya.

    • Kalo Ilana Tan, aku udah baca beberapa, tapi belum nemu yang greget di hati πŸ˜€
      Dan sampe sekarang aku masih penasaran Ilana Tan ini cewek apa cowok x))

    • Luna Torasyhngu ini nanti bareng Ilana Tan, jadi pengen buat postingan penulis misterius tanpa jejak πŸ˜€

  2. Dari 5 penulis rekomendasi di atas, hanya no 5 yg pernah saya baca novelnya dan itu juga hanya 1 buku. Mungkin karena preferensinya beda, jadi saya tidak membaca karya2 penulis tersebut. Mengenai memisahkan antara karya dengan sikap penulis sebenarnya tidak bisa dikatakan mudah. Ada banyak orang menyukai pendapat,”Jangan lihat siapa yang berbicara tapi perhatikan apa yg dibicarakannya” atau kurang lebih seperti itu. Sedangkan di sisi lain saya lebih ‘sreg’ melihat orang yang berbicara tentang ‘sesuatu’ itu apakah konsekuen dg apa yg dibicarakan. Tindakannya sesuai ga dengan ucapannya, dsb. Kesannya lebih kredibel. Lalu dengan adanya sikap2 penulis tertentu yg tidak sesuai dg ‘harapan’ pembaca itu sebenarnya dikembalikan lagi pada pembaca, tentang standard apa yg dipakai mereka utk menilai seorang penulis. Mungkin ada yg menilai ‘ah dia arogan’ tapi tetap ada yg mempunyai prinsip yg sama sambil berujar ‘oh, dia benar-benar menunjukkan dimana dia berdiri’. Ini juga berlaku ketika saya melihat retwit para blogger buku ttg politik. Tidak semua blogger buku meretweet hal yg saya suka dalam dunia politik. Lalu seperti pesan dalam tulisan ini untuk memandang blogger lewat karya (seperti halnya melihat penulis hanya lewat karyanya, juga bukan lewat hal terkait pribadi, termasuk politik) tetap saja membuat saya berkata dalam hati, “ah saya tidak suka blogger-blogger ini karena ga sealiran dengan saya. Bahkan keluh kesahnya mengganggu sekali.” Beberapa saya unfollow dan sisanya tetap saya ikuti tanpa memperhatikan pikiran mereka ttg hal yg tidak sejalan dg saya. Jadi, sebagian orang (mungkin) ada yg menilai karya tanpa melihat penulis, sedangkan yang lain tentu tidak bisa.
    Salam.

    • Kalo untuk penulis yang aku follow di facebook/twitter, sementara belum ada yang mengganggu timelinenya karena bagiku yang aku follow itu yang aku jadikan motivasi di dunia literasi, jadi belum ada yang aku unfriend/unfollow. Beda kasusnya ama teman dunia maya, bahkan juga teman di dunia nyata, untuk kasus politik dan menimbulkan SARA, biasanya akhirnya aku unfriend/unfollow. Sebenarnya nggak masalah beda pendapat, apalagi soal politik, tapi paling males kalo yang share kebencian atau kelemahan lawan politik dan sering berimbas SARA, ini biasanya tanpa banyak pertimbangan, aku unfriend/unfollow, soalnya bikin kita ‘nggak sehat’ kalo akunnya berseliweran di timeline kita πŸ˜€

      • kalo publikasi pribadi sih aku masih terima kak, kdg dia juga perlu promote karya2nya. tapi kalo sampe ngerusuhin dan ngomentarin urusan orang…lah malesin inimah hahaha~

  3. Suka nih postingannya. Gak ngedrama buat promo karya, karyanya tetap laku juga

    Ngomong” mbak Prisca seminggu yg lalu update, fb, katanya mau matiin akun fb-nya. Udah ngilang belum ya akunnya? *belum cek*
    Dari 5 penulis itu, aku baru baca dikit banget karyanya. Bisa deh buat wishlist selanjutnya 😁

    • Nah itu..tanpa drama pun sebenarnya asal kita punya prestasi atau karya pun juga bisa dikenal luas kan… πŸ˜€

    • Dulu Eka Kurnaiwan punya akun sosmed; facebook dan twitter, aku juga follow. Tapi beberapa tahun terakhir sudah deactive. Sekarang kalau tau info beliau dari akun facebook istrinya, Mbak Ratih Kumala. Dan setuju, sekarang beliau justru makin produktif dan berkualitas karya-karyanya… πŸ˜‰

  4. Cuma pernah baca karya Orizuka yang The Chronicles of Audy dan klik banget sama gaya ceritanya. Joke-nya juga suka. Lainnya nggak baca karena kebanyakan genre-nya romance ya..

    Memang bener, cintai karyanya, bukan pribadinya. Ada beberapa penulis yang kalo di sosmed nggapleki tapi bukunya tetep menarik buat dibaca.

  5. Wah, nggak ada satu pun penulis di atas yang saya kenal πŸ™ˆ. Soalnya saya lebih suka baca buku karangan Tere Liye, A. Fuadi dll. Karena beda jenis bacaan yang disukai. Jadi aja saya nggak tau, tapi penasaran juga ama penulis yg banyak drama. Seperti siapa, ya ?πŸ˜ƒ

  6. Berarti nggak jaminan ya untuk jadi penulis best seller harus punya minimal jumlah follower. Tapi ada juga beberapa penulis yang justru bisa memanfaatkan semua akun sosmed miliknya untuk ‘jualan karya’. Contohnya ika natasha.
    Dari 5 penulis di atas, saya cuma cocok sama Winna Efendi, sisanya malah terasa kurang greget, mungkin soal selera aja hehe..Nice sharing btw πŸ™‚

  7. Salut sama para penulis buku, sukses membawa pembacanya dalam ceritanya. Banyak belajar ni, smg bisa jadi salah satu nama yang diulas di artikel ini. Tp satu buku blm bisa saya tetaskan… Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s