REVIEW Hujan

Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya. (hlm. 201)

LAIL. Menjadi yatim-piatu sejak bencana melanda bumi. Sebuah bencana yang memusnahkan banyak umat manusia. Kota indah mereka telah hancur oleh gempa bumi berkekuatan 10 skala Richter. Sediit sekali dalam catatan sejarah, ada gempa sekuat itu, yang tenaganya mampu menghancurkan benua. Gedung-gedung bertumbangan, jalan layang rebah, penduduk kota berteriak-teriak, berlarian menyelamatkan diri. Suara sirene terdengar memekakkan telinga. Belum lagi ditambah tsunami yang menerjang.

Berita tentang ayahnya telah memukul sisa semangat hidupnya. Ibunya meninggal di lorong kereta bawah tanah. Bagaimana dia akan menghapus semua kenangan buruk ini?

Meski fisiknya remuk karena lelah, Lail menyukai kesibukannya. Itu membuatnya berhenti memikirkan banyak hal. Aktivitas Organisasi Relawan menjadi penyembuh dari kenangan kehilangan ayah dan ibunya. Lail membalas kejamnya takdir dengan membantu orang lain. Mengobati kesedihan dengan berbuat baik. Kesibukan juga mampu mengusir kerinduannya kepada Esok.

ESOK. Sebelum bencana gunung meletus, dia adalah murid terbaik di sekolah. Setelah gempa, baginya stadion itu menjadi tempat belajar dan bertualang baru. Selama di penampungan semacam panti, intensitas antara Lail dan Esok makin akrab. Hingga suatu hari Esok harus pergi, dia diadopsi oleh keluarga yang akan mengurus segala keperluannya termasuk urusan pendidikan dan masa depannya. Hingga mulai saat itu intesitas hubungan Esok dan Lail mulai renggang.

“Nah, bukankah kamu jatuh cinta pada Soke Bahtera saat gerimis? Waktu-waktu terbaikmu bersamanya juga saat hujan, kan? Kabar buruk bagimu jika Soke Bahtera ternyata mencintai Claudia. Aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya kamu setiap kali hujan turun, mengenang semuanya. Itulah kenapa kamu selalu suka hujan selama ini. Aku sekarang paham. Karena setiap kali menatap hujan, kamu bisa mengenang banyak hal indah bersama Soke Bahtera. Kebersamaan kalian. Naik sepeda merah. Masuk akal lagi, bukan?” (hlm. 201)

Di masa yang akan datang, Lail ingin menghapus hujan dalam memorinya. Kenapa? Karena baginya setiap hujan akan mengingatkannya pada Esok. Dan itu sangat menyakitkannya. Dia ingin menghapusnya agar bisa melepaskan semua kesedihan yang menjadi beban hidupnya.

Rasa trauma dan hujan mengingatkan novel Apa Pun Selain Hujan yang ditulis Orizuka. Dalam buku itu, sang tokoh utama sangat takut dengan hujan karena pengalaman pahit di masa lalu. Kebalikannya, di buku ini, Lail sang tokoh utama justru ingin melupakan memori hujan karena setiap hujan mengingatkannya kenangan-kenangan manis bersama Esok.

Buku ini tidak hanya menceritakan hubungan antar sepasang manusia, tapi juga hubungan anak dan ibu, hubungan pertemanan. Pesan moral dari buku ini adalah bahwa dalam hidup, untuk bahagia, manusia harus melepaskan atau merelakan.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok. (hlm. 205)
  2. Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian. (hlm. 255)
  3. Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. (hlm. 256)
  4. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi besok lusa. (hlm. 281)
  5. Hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. (hlm. 298)
  6. Meski terasa sakit, menangis, marah-marah, tapi pada akhirnya bisa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri. (hlm. 299)
  7. Jika tidak bisa menerima, tidak pernah bisa melupakan. (hlm. 308)
  8. Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami. (hlm. 317)

Banyak selipan kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Semaju apa pun teknologi di muka bumi, tidak ada yang bisa mencegah kejadian itu. Bencana alam yang sangat mematikan. (hlm. 18)
  2. Kebaikan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa. (hlm. 63)
  3. Mulutmu membantah, tapi wajahmu bilang sebaliknya. (hlm. 247)
  4. Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang. (hlm. 289)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Hujan

Penulis                                 : Tere Liye

Cover                                    : Orkha Creative

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Agustus 2016

Tebal                                     : 320 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-2478-4

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s