buku, resensi

REVIEW Nightfall

“Hei, ini kan punyamu. Mungkin kau butuh untuk di perjalanan nanti.”

“Anggap saja sebagai hadiah.”

“Aku tak bisa. Kau menyukai buku ini, aku masih bisa meminjamnya dari kakakku.”

“Aku tak yakin kau akan membacanya.”

“Aku berjanji.”

“Kalau begitu, jadikan ini sebagai pinjaman.”

“Bagaimana cara aku mengembalikannya?”

“Datanglah ke Seattle.”

“Apa?”

“Kalau kau bersepakat.”

“Mungkin harus ditulis kalimat undangan di halaman pertama.”

“Aku tak sungguh-sungguh. Tapi jika kau mau datang ke Amerika, kau akan punya pemandu. Ada e-mailku tertulis di balik sampulnya.” (hlm. 40-41)

NATALIE. Ia mencintai Giovanni, namun mengetahui kebohongan tentang orang yang dicintai sangatlah tidak mengenakkan. Ada sesuatu yang terasa sakit ketika mengingatnya. Natalie hanya tak tahu kalau Giovanni menyimpan percakapan demi percakapan dengan perempuan lain tanpa sepengtahuannya. Sama sekali tak terlintas dalam kepalanya kalau sebuah rahasia akan ia ketahui kelak. Natalie sangat percaya pada Gio. Setahun lebih berhubungan dengannya, pria itu tak sekalipun membuatnya kesal, apalagi memunculkan dugaan perselingkuhan. Oleh karena itu, begitu ia tahu ada orang ketiga di dalam hubungannya dengan Gio, Natalie tak punya ide apa pun untuk masalah ini. Ingin rasanya lari sejenak, tapi itu hanya membuat Natalie terhindar dari masalah, tanpa adanya penyelesaian.

KRIS. Ia bepergian ke beberapa penjuru dunia selama beberapa kali dalam setahun. Visanya bolak-balik diurus demi izin tinggal di negara-negara yang dikunjunginya. Lembar demi lembar paspornya terus terisi karena urusan pekerjaan. Kris datang satu museum ke museum lain. Ia terlibat dalam pameran seni di banyak kota. Bertemu banyak orang dan berkenalan dengan berbagai macam orang dari suku bangsa dan benua yang berbeda bukanlah sesuatu yang aneh bagi Kris. Jadi, ketika ia berkenalan dengan perempuan Asia dan menawarinya datang ke Seattle pun menurutnya bukan sesuatu yang aneh.

BENJAMIN. Mengalami keterpurukan terbesar dalam hidupnya. Kehilangan orang yang sangat ia cintai. Lalu, datang Natalie yang seolah menyelamatkannya dari jurang kehancuran. Awalnya Benjamin merasa Natalie hanyalah semacam pemompa semangat hidupnya, nyatanya seiring waktu, hatinya bergejolak.

“Siapa yang meminjamimu buku itu?”

“Kenalan.”

“Kenalan?”

“Orang Amerika. Kami bertemu di Roma, berkenalan, mengobrol, lalu dia meminjamiku buku itu.”

“Aku tak akan meminjami bukukunya untuk orang yang baru kukenal.”

“Kau pelit, Kak. Kami membicarakan buku, kubilang kau punya buku-buku Tolstoy di rumah, lalu dia menyuruhku membacanya juga. Kubilang, akan kubaca nanti. Tapi dia tidak percaya dan malah memberikan buku ini sebagai pinjaman.”

“Pasti dia penggemar fanatik, sampai memaksa orang lain untuk ikut menyukai apa yang disukainya.”

“Tidak juga.”

“Lalu?”

“Dia pria yang hangat dan ramah. Sama sekali tidak menyebalkan.”

“Berbeda ya dengan mantan pacarmu itu?” (hlm. 55)

Benar pepatah bilang, untuk bertemu dengan orang yang tepat, sebelumnya kita akan bertemu dengan orang yang hanya singgah di hati. Seperti itulah yang dialami Natalie dalam buku ini. Awalnya menjalin hubungan dengan Giovanni cukup lama, tapi selama ini merasa ada yang mengganjal, jadi ketika Giovanni ketahuan selingkuh pun dia tanpa berat hati untuk memutuskannya. Mungkin ini yang namanya pencarian soulmate.

Lewat buku ini, kita akan menyimak tiga manusia di tiga kota yang berbeda; Natalie di Jakarta, Kris di Seatle, dan Benjamin di Richland. Kemanakah hati Natalie akan berlabuh?

Sebenarnya tema yang diangkat termasuk mainstream. Tapi yang disuka dari buku ini adalah cerita yang berbalut aroma buku. Terutama dalam hubungan antara Natalie dan Kris. Dari awal mereka bertemu, buku yang ditulis Leo Tolstoylah yang mempertemukan mereka. Dan berlanjut dengan bahasan buku-buku lainnya 😀

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Maaf selalu mudah untuk diucapkan? (hlm. 17)
  2. Selalu ada sesuatu yang tidak kita kehendaki yang bisa terjadi tiba-tiba, kan? (hlm. 35)
  3. Traveling adalah perjalanan untuk mewujudkan mimpi lama dan membuat mimpi yang baru. (hlm. 35)
  4. Cinta adalah urusan personal setiap orang. Mereka boleh membaginya jika mau atau tidak sama sekali. (hlm. 121)
  5. Tertarik dan suka adalah dua hal yang berbeda. (hlm. 123)
  6. Selain Tuhan, siapa lagi yang bisa menjamin kepercayaan? Tak seorang pun. (hlm. 169)
  7. Angin menghembuskan apa yang ada di tanganmu. Itu artinya, kau telah menyadari bahwa apa yang kau miliki tak akan pernah abadi. (hlm. 176)
  8. Hidup selalu memberi kejutan, bukan? (hlm. 268)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Nightfall

Penulis                                 : Robin Wijaya

Editor                                    : Andriyani

Penerbit                              : PT Elex Media Komputindo

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 289 hlm.

ISBN                                      : 979-602-02-5205-6

1 thought on “REVIEW Nightfall”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s