buku, perpustakaan, resensi

REVIEW Listen to My Heartbeat

Jangan jatuhkan hatimu terlalu jauh, nanti sulit untuk kembali. (hlm. 167)

TRINITY. Ada bagian tubuhnya yang lemah. Lengan kirinya. Kelainan sejak lahir. Proses kelahiran yang rumit membuat lengan kirinya tak sempurna. Jika dilihat sepintas, tak ada yang salah dengan lengan kirinya. Bentuknya normal dan ukuran sama dengan yang kanan. Tetapi, lengan kirinya ini lemah, walau keadaannya mulai membaik setelah fisioterapi bertahun-tahun. Toh, tetap saja, tidak sekuat lengan kanan. Itulah sebabnya Trinity tidak bisa melakukan olahraga apa pun dengan baik. Tak ada yang tahu keadaannya ini kecuali keluarganya.

ZAKI. Cowok dengan reputasi sepertinya, yang hampir tidak pernah terlihat memegang buku di luar kelas, mau membaca buku seperti itu. Hampir tiga tahun menjadi anggota perpustakaan dan nyaris setiap hari berkunjung ke sini, baru kali ini Trinity melihatnya di perpustakaan. Andaikan cowok itu mau sedikit lebih serius belajar, andaikan dia patuh pada pelajaran sekolah dan perintah guru, bisa jadi nilainya akan lebih tinggi lagi. Lima tahun sudah papanya berubah menjadi menyebalkan. Memilih menerima tugas ke luar kota atau luar negeri hingga jarang sekali berada di rumah. Sekalinya ada di rumah, papa selalu bicara ketus kepada mama dan dirinya, menolak tiap kali Lala mendekatinya.

NEO. Nilai rapornya tertinggi di sekolah. Bertingkah laku baik, kesayangan semua guru dan Kepala Sekolah. Dia tidak hanya berprestasi bukan hanya di pelajaran eksata, melainkan juga di olahraga karate. Neo yang membuat tercengang semua orang saat memamerkan kepiawaiannya menggesek biola dalam acara pesta pelepasan kakak kelas. Neo yang selalu berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tak peduli kebiasaannya itu membuatnya jadi bahan olok-olok. Neo yang fasih berbahasa Inggris dan Spanyol.

Lebih baik terjebak di perpustakaan bersama kamu daripada merasa sendirian di kantin. (hlm. 203)

Bahkan, di tempat yang penuh buku ini, romantisme bisa tercipta. (hlm. 195)

Tulisan Mbak Arumi kali ini merupakan rangkaian dari Belia Writing Maraton Series yang diadakan oleh Penerbit Bentang yang diposting via wattpad dan sudah dibaca 4,5 juta kali. Meski tidak mengikuti secara rutin, saya menyimak perkembangan series ini. Dan yang bikin surprise adalah di setting perpustakaan ada tokoh pustakawan yang namanya seperti saya. Terharu pake banget!! :* #MakasihMbakArumi

Kelebihan dari novel ini adalah mengambil tema remaja dengan permasalahan keluarga yang cukup berat. Sekarang ini, memang remaja mengalami masa-masa sulit dan keluarga sangat berpengaruh. Seperti yang dialami dari sisi Neo maupun Zaki. Neo dan Zaki sama-sama korban broken home. Neo yang sedari kecil harus mengalami kenyataan hidup orangtuanya berpisah, sedangkan Zaki harus menjadi tulang punggung keluarga karena memiliki adik yang masih kecil-kecil dan butuh kasih sayang. Begitu juga dengan Trinity yang sebenarnya juga memiliki kekurangan.

Pesan moral yang bisa kita ambil dari kisah Trinity, Neo dan Zaki adalah bahwa remaja akan mengalami masa-masa transisi dari anak-anak ke dewasa yang tetap butuh pengawasan orangtua. Remaja seperti Neo maupun Zaki, bukan dijauhi, tapi justru harus dirangkul. Dibandingkan novel-novel Mbak Arumi lainnya, saya menyukai ini. Ceritanya lebih kompleks, penuh konfliks dan lebih greget serta menyentuh remaja karena persis seperti kehidupan mereka sehari-hari. Seperti kasus Trinity yang berlaku curang saat olahraga karena ajakan Zaki demi sebuah nilai. Ini pernah terjadi di sekolah.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Pada akhirnya suatu kesalahan tak lagi bisa disembunyikan. (hlm. 11)
  2. Hanya orang-orang berjiwa besar yang berani mengakui kesalahannya. (hlm. 24)
  3. Kamu menebarkan kepedulian, membuatku merasa tak sendirian. (hlm. 63)
  4. Jika dia mengabaikanmu, masih ada aku di sampingmu. (hlm. 115)
  5. Dengarlah hanya kata-kata yang kuucapkan. (hlm. 124)
  6. Tandanya semakin jelas, jantung ini berdebar lebih cepat tiap kali di dekatmu. (hlm. 133)
  7. Tidakkah kamu dengar irama detak jantungku menguat tiap kali kamu berada di dekatku? (hlm. 140)
  8. Jangan lagi ganggu hatiku, karena hatiku ini sudah kuberikan untuk orang lain. (hlm. 148)
  9. Seolah semesta mengabulkan satu keinginan kuat mewujud nyata. (hlm. 155)
  10. Kewajiban cowok itu menjaga perempuan, memastikan keselamatannya. (hlm. 163)
  11. Kenali lebih jauh, aku akan meluluhkan hatimu. (hlm. 173)
  12. Takkan kusia-kusiakan waktu sedetik pun bersamamu. (hlm. 184)
  13. Tak ada yang tahu, ada rasa tersembunyi di dalam sini. (hlm. 188)
  14. Bersamamu, tiap detik terasa penuh makna. (hlm. 213)
  15. Ada rasa yang ingin kuungkapkan, tak bisa lagi kutahan. (hlm. 222)
  16. Bagaiman menyelamatkan diri dari kepungan dua hati? (hlm. 232)
  17. Memilih di antara yang terbaik dan tersayang bukanlah pekerjaan gampang. (hlm. 248)
  18. Bagaimana mungkin bisa melupakanmu kalau aku masih menyukaimu? (hlm. 287)
  19. Bagaimana cara mengembalikan hati yang sudah terlanjur jatuh? (hlm. 315)
  20. Nggak usah dipaksain kalau nggak kuat. (hlm. 327)
  21. Kamu yang pertama mengenalkan rasa ini kepadaku. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu? (hlm. 347)
  22. Apa arti semua kata cinta yang kamu ucapkan jika akhirnya memilih pergi? (hlm. 357)
  23. Terkadang cinta pertamamu belum tentu menjadi jodohmu. Dia hanya menjadi kenangan indah yang terukir abadi di hati. (hlm. 384)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Buat apa lo ngomel-ngomel kalau akhirnya nggak berani bertindak? (hlm. 2)
  2. Kamu salah makan apa, tanpa basa-basi langsung menuduhku menghancurkan kehidupan teman? Teman yang mana? (hlm. 5)
  3. Kalau nggak nyoba, nggak bakal tahu, bisa atau nggak? (hlm. 13)
  4. Kalo memang lo biasa jujur, kenapa kemarin mau nerima tawaran? (hlm. 18)
  5. Lo hobi banget sih, bilang cowok kayak lo, cewek kayak gue, apa bedanya kita selain beda jenis kelamin? (hlm. 30)
  6. Terbiasa berselimut sepi, lalu ada kamu yang perlahan menghangatkan hati. (hlm. 42)
  7. Makanya, jangan tebar pesona terus. (hlm. 59)
  8. Kebiasaan nuduh orang sembarangan. (hlm. 60)
  9. Awalnya rasa ini tanpa disadari, lalu perlahan mulai menyengat hati. (hlm. 70)
  10. Harus mulai serius belajar supaya bisa lolos perguruan tinggi negeri. (hlm. 81)
  11. Kenapa ada saja yang mengoyak kebahagiaan saat senyum baru dimulai? (hlm. 43)
  12. Jangan menolak rezeki. Makannya diam-diam dan pelan-pelan aja. (hlm. 197)
  13. Jangan melanggar pearturan lagi. (hlm. 200)
  14. Ini hati, bukan mainan. Jangan pemainkan hati ini. (hlm. 266)
  15. Pura-pura nggak peduli itu bikin hati tersiksa. (hlm. 277)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Listen to My Heartbeat

Penulis                                                 : Arumi E.

Penyunting                                         : Essa Putra & Dila Maretihaqsari

Perancang & Ilustrasi sampul      : Dilidita

Pemeriksara aksara                         : Achamad Muchtar

Ilustrasi isi                                           : Larasita Apsari

Penata aksara                                    : Arya Zendi

Penerbit                                              : Bentang Belia

Terbit                                                    : 2017

Tebal                                                     : 416 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-430-152-1

1 thought on “REVIEW Listen to My Heartbeat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s