Posted in buku, resensi

REVIEW The Grand Sophy

“Kita selalu melihat betapa anak perempuan seringkali begitu mirip dengan ibu mereka. Bukan pada wajah, tapi pembawaannya. Kau tentu sudah memperhatikannya.” (hlm. 179)

SOPHY. Dia gadis yang mudah beradaptasi; selalu bisa menyibukkan dirinya sendiri. Dia sama senangnya berada di desa Spanyol seperti di Wina atau Brussels. Ibunya sudah tiada. Ayahnya berniat menitipkannya pada adik perempuan ayahnya ibu, Lady Ombersley, bibinya yang sebenarnya sudah cukup repot mengurus anaknya yang lumayan banyak.

“Dan, satu hal lagi, sudah tiba saatnya bagi kita untuk memilihkan calon suami baginya. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu. Lagi pula, kau adalah bibinya. Juga saudariku satu-satunya.”

“Aku akan dengan senang hati memperkenalkannya ke publik. Tapi masalahnya adalah menurutku –aku agak khawatir- begini, dengan pengeluaran yang sangat besar dari memperkenalkan Cecilia ke public tahun lalu, dan pernikahan Maria tersayang tak lama sebelumnya, serta Hubert yang akan segera masuk Oxford, belum lagi biaya di Eton bagi Theodore malang…”

“Jika pengeluaran yang menjadi masalah bagimu, Lizzi, kau sama sekali tak perlu memusingkannya, karena aku tidak menerima omong kosong itu. Kau tidak harus memperkenalkannya di istana. Aku akan mengurus semua itu begitu pulang, dan jika kau sama sekali tak mau direpotkan, maka aku bisa mencari wanita lain yang bersedia melakukannya. Yang kuinginkan untuknya saat ini adalah agar dia bisa mengenal lebih dekat sepupu-sepupunya, bergaul dengan orang-orang yang pantas –kau sendiri tentu mengerti apa yang kumaksud.”

“Tentu saja aku tahu, dan itu sama sekali tidak akan merepotkanku! Tapi aku tak kuasa merasa bahwa barangkali –barangkali ekspetasimu takkan bisa dipenuhi. Kami tidak begitu menyenangkan.”

“Aku tahu apa yang merisaukanmu. Kau khawatir dia akan merebut perhatian dari Cecilia. Tidak, tidak, sayang! Putriku Sophy bukan gadis rupawan. Dia cukup menarik –bahkan, aku yakin kau akan menganggapnya sebagai gadis yang sangat cantik –tapi Cecilia jauh lebih menarik.” (hlm. 9)

Memasuki angka dua puluh, bagi ayahnya, Sophy sudah pantas untuk memasuki jenjang kehidupan selanjutnya, yaitu menikah seperti gadis-gadis pada umumnya di masa itu. Karena ibunya sudah meninggal sejak dia kecil, ayahnya merasa adik perempuannya bisa mengambil alih tugas untuk mencarikan pendamping bagi putri kesayangannya itu.

Ya, perjodohan seperti hal paling lumrah dibahas di cerita-cerita klasik. Apalagi jika para tokoh merupakan dari kalangan menengah ke atas. Awalnya Sophy masuk ke keluarga Ombersley diharapkan bisa mendapatkan jodoh yang layak, justru Sophy lah yang mengubah keluarga ini, mulai dari perjodohan hingga menyelesaikan kisah percintaan para sepupunya. Terlebih urusan kisah cinta Cecilia, anak bibinya yang umurnya paling dekat dengan dirinya, bahkan bisa dikatakan hampir sepantaran.

Cecilia seperti gadis pada umumnya, tentu mengharapkan bisa menikah dengan orang yang dicintainya, bukan hasil perjodohan. Apalagi laki-laki yang dijodohkan dengannya memiliki penyakit. Duh melase banget tho Cecilia ini… x)) Untung dia memiliki sepupu seperti Sophy yang mampu menguatkannya. Ya, menikah di masa dahulu, apalagi bagi kaum menengah ke atas, menikah bukan perkara hati sepasang manusia, tapi juga perkara kepentingan keluarga. Lebih ngenesnya lagi, Cecilia bisa dikatakan sebagai ‘tumbal’ menikah untuk menutupi utang piutang yang melanda keluarganya. Masih ada lagi, kakak Cecilia, Charles sangat protektif kepadanya. Ini mah namanya ngenes pangkat tiga x))

“Jika Cecilia begitu menyukainya, sebaiknya kau biarkan saja dia mendapatkan maunya. Toh ini bukan berarti dia akan menikah seseorang di bawah kelasnya, dan bila dia memilih untuk menjadi istri seorang putri bungsu tak berduit, itu adalah urusannya sendiri.” (hlm. 23)

“Percuma saja berbicara kepada adikku tentang apa pun di luar sampul novel yang dipinjam dari perpustakaan.” (hlm. 39)

Meski usia Cecilia dan Sophy hanya terpaut satu tahun, tapi perbedaan kedewasaan dalam berpikir amat kontras. Cecilia yang dibesarkan dengan keluarga besar cenderung masih kekanakan, sedangkan Sophy yang sudah yatim sejak kecil justru lebih dewasa dan mandiri dalam bersikap maupun menghadapi kenyataan hidup. Tapi itu justru menjadi poin lebih bagi Sophy, bahkan justru ada laki-laki yang terkesan dengan sikap tangguh dan mandirinya itu.

“Sulit sekali rasanya mendekati sepupumu itu. Setidaknya, hal itu takkan terjadi kepadamu. Aku berhasil melakukannya, tapi aku punya banyak kecakapan. Sempat berdansa Boulanger dengannya. Gadis yang mengesankan!” (hlm. 153)

Meski bukunya memiliki ketebalan di atas lima ratus alias masuk kategori buku bantal, saya menikmatinya saat membacanya. Karena kisah Sophy dan keluarga besar bibinya ini representasi banget kehidupan di zaman dahulu yang masih terikat dengan banyak aturan yang harus dipatuhi. Sophy seperti gadis pendobrak kekakuan aturan yang ditulis selama ini.

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kita memang mudah sekali lupa. (hlm. 6)
  2. Kita hidup pada masa yang ganjil. (hlm. 18)
  3. Jangan menipu dirimu sendiri. (hlm. 37)
  4. Orang-orang dari strata kita tidak menikah hanya untuk menyenangkan diri sendiri. (hlm. 40)
  5. Sangatlah keji untuk memaksakan seorang gadis menikah di luar keinginannya. (hlm. 93)
  6. Apakah kau tidak punya kehalusan pikiran? (hlm. 109)
  7. Sangat tidak pantas kau membicarakan persoalan keluarga di tempat orang lain bisa menguping. (hlm. 171)
  8. Sungguh jahat berusaha memaksakannya menjalani pernikahan lain, dan amat keji jika kau berupaya melakukannya. (hlm. 175)
  9. Berusaha untuk berbincang dengan seseorang pada saat semestinya kau memperhatikan orang itu adalah tindakan yang selalu fatal, percayalah! (hlm. 263)
  10. Jangan terlihat begitu patah semangat. (hlm. 435)

Keterangan Buku:

Judul                                     : The Grand Sophy

Penulis                                 : Georgette Heyer

Penerjemah                       : Nuraini Mastura

Penyunting                         : Yuniasari Shinta Dewi & Yuli Pritania

Penata aksara                    : CDDC

Perancang sampul           : Fahmi Ilmansyah

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : November 2017

Tebal                                     : 560 hlm.

ISBN                                      : 978-602-385-256-7

Advertisements

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

2 thoughts on “REVIEW The Grand Sophy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s