Posted in buku, resensi

REVIEW Milea: Suara dari Dilan

Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk dimaafkan. (hlm. 97)

Dilan senang bersama mereka. Mereka adalah kawan-kawannya, barometernya, yang bisa membantunya menjalani kehidupan sebagai seorang remaja di muka bumi. Bagi Dilan, jika dunia ini luas, tapi sebenarnya sempit juga nggak apa-apa, asal dipenuhi oleh mereka. Kadang-kadang Dilan berpikir ingin membangun sebuah rumah untuk dia dan teman-temannya tinggal, tumbuh dan menjalankan hidup yang nyata bersamanya.

“Aku tidak cemburu. Dia adalah bagian dari diriku. Dia adalah teritorialku, wilayah yang sudah menjadi milikku.” (hlm. 103)

Jika buku pertama dan kedua diceritakan dari sudut pandang Milea, di buku ketiga ini pembaca bisa melihat dunia dari sisi Dilan. Bagi Dilan, buku ke satu dan kedua yang diceritakan dari sudut pandang Milea ini memberikan banyak pelajaran bagi pembacanya. Misalnya, kado ulang tahun berupa TTS, seperti mengajarkan bagaimana caranya memberikan kado dengan biaya yang irit. Meski begitu, Dilan harus begadang untuk mengisi semua jawabannya. Disitulah yang namanya perjuangan! X))

Ada juga pelajaran olahraga. Berantem itu, katanya, sama seperti olahraga. Sama-sama melakukan gerakan badan sampai mengeluarkan keringat, meskipu badan kita jadi sakit dikarenakan oleh luka. Tapi, harus mikir panjang, jangan sampai asal berantem! X))

Dan terakhir ada pelajaran biologi. Ya, di buku kedua, Milea lebih banyak menangis. Air mata yang mengalir di pipi adalah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi untuk membantu membersihkan dan melumasi mata kita. Ah, aya-aya wae si Dilan mah.. x))

“Kita harus berterima kasih ke pahlawan. Tanpa mereka, Indonesia nggak pernah merdeka.”

“Iya.”

“Kalau sekarang masih dijajah, aku nggak akan ketemu kamu, kan, akunya gerilya ke hutan.”

“Kan, aku bisa nyusul.”

“Naik apa?”

“Naik kamu.”

“Digendong?”

“Iya! Ha ha ha.”

“Merepotkan perjuangan.” (hlm. 119)

Meski buku ketiga ini lumayan banyak mengulang cerita dari buku pertama dan kedua, tapi ada sensasi yang berbeda. Kita mendapatkan betapa hangatnya keluarga Dilan. Betapa beruntungnya dia memiliki ayah dan bunda yang sangat luar biasa dalam membimbing anak seperti dirinya yang sedang masa-masanya labil. Dan diceritakan pula bagaimana sedihnya Dilan ketika kehilangan ayah yang dicintainya itu. Dari buku pertama, tokoh paling favorit adalah Bunda yang mengingatkan almarhumah mama. Bunda Dilan ini tipikal ibu yang anti mainstream dalam hal mendidik anak. Bunda Dilan bisa tepat sasaran menasehati anaknya tanpa terkesan menggurui. Dan kerennya, Bunda selalu percaya akan anaknya. Mungkin karena itu, Dilan juga menjaga kepercayaan yang diberikan Bunda untuknya.

SAMA-SAMA BAYI

Aku dimana waktu kamu masih bayi?

Aku ingin menjagamu. Tapi, tapi,

Aku juga masih bayi waktu itu

(Dilan 1991)

Anak SMA tahun 1990-an belum menjadikan kafe-kafe sebagai tempat favorit, zaman itu warung-warung justru menjadi tempat favorit buat nongkrong. Seperti halnya Dilan dan teman-temannya. Ada semacam keterikatan Dilan dan teman-temannya untuk nggak hanya sekedar membeli makanan atau jajanan yang ada di warung, tapi memiliki keterikatan dengan tempat dan pemilik warungnya. Jika di sekolah, Dilan hobi nongkrong di warung Bi Eem, di luar sekolah warung Kang Ewok yang buka 24 jam menjadi tempat favoritnya.

“Orang-orang baik itu bilang, kita semua anak nakal. Kita gak pernah bilang mereka anak nakal. Otak mereka itu pikirannya negatif terus, ya? Mana? Katanya baik?” (hlm. 47)

Menurut Dilan, geng motornya adalah geng motor biasa saja, bukan seperti anggapan Milea selama ini. Bahkan Dilan nggak menempatkan perkelahian sebagai hal yang penting. Dia hanya melakukan perlawanan karena ada orang lain yang menyerang. Pada dasarnya, dia lebih menikmati periode waktu untuk hidup dalam damai dengan siapa pun. Tapi jika benar-benar harus berantem, mereka adalah orang-orang yang siap menang atau kalah. Bagi Dilan, mereka adalah orang yang akan saling mendukung atas nama solidaritas ketika menghadapi apa pun, atau siapa pun. Dan bagi Dilan, di jalanan, dia merasa seperti bukan di sekola, tapi mendapat banyak pelajaran. Pengalaman serasa nyata di dalam memberinya banyak pelajaran.

Di buku ketiga ini, tanpa disadari penulisnya banyak menyelipkan pergeseran Bandung tempo doeloe dengan yang sekarang. Dilan, Susi dan teman-teman mereka nonton di bioskop yang kini udah nggak ada lagi bioskopnya. Kemudian di halaman 75 menceritakan tentang Dago yang masih tenang dan udaranya segar, belum ada banyaknya bangunan yang menjulang tinggi. Ada juga tentang selipan proyek galian jalanan yang sering dilakukan Dinas PU Pemerintah Kota Bandung kala itu. Dan ada juga pertemuan antara Dilan, Milea dan Beni di Yoghurt Cisangkuy yang sampe sekarang masih ada dan sangat melegenda.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tiap orang menghendaki hubungan persahabatan yang hebat. (hlm. 64)
  2. Tiap orang akan melakukan yang dia suka untuk dirinya. (hlm. 113)
  3. Akan selalu menjadi hal penting di dalam perasaan seorang perempuan untuk membantu pacarnya tumbuh menjadi apa-apa yang sesuai dengan harapannya, yang sesuai dengan keinginannya, dan menjauh dari apa-apa yang akan merusak kehidupannya. (hlm. 175)
  4. Kadang-kadang di dalam hidup ini ada situasi lain yang menjamin sesorang untuk mendapatkan hiburan. (hlm. 198)
  5. Tiap orang punya tempatnya masing-masing. Hanya saling menghargai. (hlm. 282)
  6. Tiap manusia memiliki semacam jalan hidupnya sendiri dengan pilihan pribadinya. (hlm. 288)
  7. Perpisahan harusnya dengan cara yang baik-baik. Tidak meninggalkan masalah yang akan terus mengganjal di dalam pikiran masing-masing. (hlm. 328)
  8. Manusia sempurna adalah justru yang memiliki kelebihan dan kekurangan. (hlm. 353)
  9. Rasa sedih jika ada, itu harus berbatas untuk member peluang munculnya harapan pada hari-hari berikutnya, mengejar impian dan meraih kebahagiaan bersama seseorang yang dapat menghabiskan sisa hidup kita dengannya. (hlm. 356)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Tak ada yang selesai dengan menangis. (hlm. 29)
  2. Terserah mau menjadi orang tua seperti apa dirimu. (hlm. 51)
  3. Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tetapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang. (hlm. 127)
  4. Jangan nangis, nanti kamu sakit kepala. (hlm. 144)
  5. Kenyataannya manusia secara emosional memang sangat rumit. (hlm. 227)
  6. Kalau tidak ada perlu-perlu amat, tidak akan pergi ke sana. (hlm. 239)
  7. Orang yang egois sebenarnya adalah orang yang paling merasa tidak aman sedunia. (hlm. 241)
  8. Kamu boleh berpendapat apa pun, tapi kondisi manusia selalu dipengaruhi oleh semua jenis dorongan, baik itu pengalaman, emosi, ego, kepribadian, dan tempramen. (hlm. 242)
  9. Sungguh lucu bagaimana kehidupan ini berkembang. (hlm. 263)
  10. Di mana pun kampusmu, itu adalah kampusmu, tetap yang terbaik, orang-orang harus tahu, semuanya adalah romantisme, sisanya adalah perjuangan. (hlm. 268)
  11. Bukan nama kampusnya yang harus dijunjung tetapi ilmu pengetahuannya yang harus disebarkan. Ini menjadi bukan tentang apa yang kaumiliki, tetapi apa yang kau lakukan, di mana pun kau berada. (hlm. 268)
  12. Bagaiamanapun tidak ada yang akan baik-baik saja tentang sebuah perpisahan, dan itu adalah perasaan sedihnya, bagaimana kita memulai dari awal dan kemudian mengakhirinya di tempat yang sama. Tetapi mau gimana lagi, kita harus tetap melanjutkan perjalanan bersama keyakinan dan harapan di udara. (hlm. 271)
  13. Tidak perlu ada kecemburuan. Tidak perlu ada penyesalan dengan segala sesuatu yang telah terjadi. (hlm. 283)
  14. Prasangka, betul-betul bisa mempengaruhi keyakinan. Mempengaruhi persepsi dan menimbulkan pikiran negatif. (hlm. 316)
  15. Kalau udah nyangkut perasaan, cowok itu emang manusia yang paling gengsian sedunia. (hlm. 322)
  16. Kalau cowok udah gengsian, jatuh-jatuhnya jadi sombong. (hlm. 322)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Milea: Suara dari Dilan

Penulis                                                 : Pidi Baiq

Ilustrasi sampul & isi                       : Pidi Baiq

Penyunting naskah                         : Andika Budiman

Penyunting ilustrasi                        : Pidi Baiq

Desain sampul                                   : Kulniya Sally

Proofreader                                       : Febti Sribagusdadi Rahayu

Layout sampul & setting isi          : Tim Pracetak & Deni Sopian

Penerbit                                              : Pastel Books

Terbit                                                    : Januari 2018 (Cetakan XI)

Tebal                                                     : 360 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-0851-56-3

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

12 thoughts on “REVIEW Milea: Suara dari Dilan

  1. Hari ini saya baru namatin baca Dilan 1990, nggak sabar untuk lanjut ke dua buku berikutnya… sepertinya ‘rasa’ buku ketiga ini akan beda dengan buku sebelumnya karena diceritakan dari sudut pandang Dilan. Selama ini kan kita hanya bisa menerka-nerka apa yang Dilan pikirkan dari sudut pandang Milea hihi

  2. Saya mau curhat. 2015, saya baca buku dilan 1990 dan 1991. Dan aku terpesona. Dan hingga awal 2018, ga pernah update apa2. Eh tau2 film keluar. Langsung nonton. Dan ternyata buku dilan ini ada keluar yg ketiga. Ya judulnya milea ini. Td sebelum nonton, aku beli buku ini. Dan segera aku mau review. Maaf ga jelas begini mbak.

  3. Saya sudah baca. Memang di buku ketiga ini justru bagi saya paling nyesek. Dimana terkuak lah bahwa mereka sama-sama berprasangka sudah saling move on padahal masih saling cinta. Duuh gemes sama hubungan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s