Posted in buku, resensi

REVIEW Under the Blue Moon

Tanpa keberanian, tidak ada kemenangan. (hlm. 9)

LUCY. Seorang remaja yang akan lulus sekolah. Seperti remaja pada umumnya, sebelum lulus dia ingin merasakan hal-hal yang seru dalam hidupnya. Lucy, bisa disebut sebagai seniman kaca, sangat terobsesi dengan Shadow, si seniman graffiti. Cukup unik bukan, si seniman kaca versus seniman graffiti. Ya, buku ini dinarasikan dari dua sisi; Lucy dan Shadow. Diantaranya juga ada selipan puisi-puisi Poet.

Kuharap aku tidak terlambat. Semoga aku bertemu Shadow. Semoga aku bertemu Poet juga, tapi terutama Shadow. Cowok yang melukis dalam kegelapan. Melukis burung-burung yang terperangkap di tembok bata dan orang-orang yang tersesat di hutan hantu. Melukis cowok-cowok dengan jantung ditumbuhi rumput dan cewek-cewek yang melukis hal-hal semacam itulah yang bisa membuatku jatuh cinta. Setengah mati. (hlm. 2)

Graffiti. Saya suka banget graffiti, doodle, dan mural. Meski saya sama sekali tidak bisa membuatnya ya. Dulu zaman sekolah, adik cowok mahir banget buat graffiti di tembok lapangan kota, bahkan dia juga pernah membuat kejutan di sekolahnya dengan membuat graffiti di tembok lapangan basket sekolahnya dan grafitinya tersebut sempat menjadi header blog sekolahnya. Membaca kisah Shadow yang tidak ingin identitasnya diketahui orang banyak, dan selalu diam-diam saat melakukan aksi graffiti, sepertinya memang merepresentasikan para seniman graffiti yang memang cenderung tidak mau terkekspos. Adik saya dulu juga gitu, biasanya dilakukannya saat malam menjelang pagi dini hari agar tidak banyak yang melihat aktivitasnya ini. Biasanya para seniman graffiti meninggalkan identitasnya, seperti Shadow ini yang bukan nama sebenarnya. Shadow adalah identitasnya di dunia graffiti. Begitu juga dengan partnernya, Poet, yang identitas aslinya juga dirahasiakan. Jika dalam buku ini kita bisa membaca puisi-puisi Poet, sayangnya tidak ada selipan halaman tentang ilustrasi mural yang dibuat Shadow. Padahal kalo ada, ini bakal keren banget.

Oya, saking sukanya dengan graffiti, mural, dan doodle, saya hampir saja berniat membuat skripsi tentang makna tersembunyi dibalik mural. Sayangnya waktu itu belum ketemu dengan orang-orang bisa dijadikan sumber wawancara. Dan seiring waktu sudah terlanjur mengambil skripsi tentang film, baru saya berkenalan dengan seseorang yang sangat mengerti akan dunia graffiti, mural dan doodle. Bahkan saat saya main ke Jogja, sempat diajak ke suatu kampung yang hampir semua warganya berminat dengan bidang ini, dari tukang becak yang menghias becaknya menjadi cantik dan arsitik sampai seluruh tembok kampung dibuat cantik dengan graffiti dan mural. Zaman waktu itu masih belum familiar doodle. Sampai sekarang beberapa fotonya terdokumentasi via facebook.

Dan saat bekerja, baru mulai hits yang namanya doodle. Saya pun tanpa rencana berinisiatif membuat papan nama perpustakaan sekolah dengan ala-ala doodle. Kebetulan ada beberapa murid yang memiliki bakat ini. Setelah mendapat ijin dari kepala sekolah. Hasilnya bagus banget. Suka suka suka. Bahkan sampai sekarang menjadi spot favorit buat foto-foto. Lumayan masih awet berjalan dua tahun ini. Kayaknya kalo ini belum bisa diikuti oleh perpustakaan sekolah lain, soalnya agak susah dengan izin dari sekolahnya. Untungnya pimpinan kepala sekolah tempat saya bekerja, bapaknya fleksibel, hehehe…

Nah, membaca kisah Lucy yang terobsesi dengan Shadow mengingatkan saya akan masa-masa kuliah. Covernya suka banget; warna biru, tembok dan bayangan dua remaja sangat merepresentasikan isi buku ini. Oya, pesan moralnya juga dapet banget. Meski jalan ceritanya nggak menye-menye, sesungguhnya ini adalah novel romantis meski disuguhkan dari sudut pandang yang berbeda dari buku romans lainnya. Juga ada selipan tema keluarga yang juga menyentuh.

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kau berkencan denganku, padahal punya pacar? (hlm. 33)
  2. Romansa benar-benar perlu dibangkitkan kembali. (hlm. 37)
  3. Kau tidak akan menghabiskan malam dengan mencari jati diri. (hlm. 63)
  4. Tidak ada nyali, tidak ada kemenangan. (hlm. 71)
  5. Semua orang berharap berhenti bertingkah aneh. (hlm. 84)
  6. Jika kau masih tidak bahagia, kita membicarakan alternatif lain. (hlm. 91)
  7. Jangan merasa terlalu nyaman. Kau harus turun dan berjalan kaki jika ada bukit. (hlm. 133)
  8. Cowok tidak begitu memperhatikan seperti apa cowok lain. (hlm. 167)
  9. Sebagian cewek membiarkan cowok mereka kelihatan keren. (hlm. 233)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Under the Blue Moon

Penulis                                 : Cath Crowly

Penerjemah                       : Ingrid Nimpoeno

Penyunting                         : Jia Effendie

Penyelaras aksara            : Susanti Priyandari

Penata aksara                    : Nurul MJ

Perancang sampul           : dwiannisa & elhedz

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Oktober 2015

Tebal                                     : 303 hlm.

ISBN                                      : 978-602-0989-73-0

Advertisements

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s