Posted in buku, resensi

REVIEW Gelang Hitam

“Hidup tak seperti ujian sekolah. Banyak pertanyaan yang jawabannya datang entah kapan.” (hlm. 10)

Adalah Saras, seorang relawan saat tsunami sekitar 2004 yang meluluhlantakkan Aceh. Sebenarnya ini bukan kali pertama ada novel yang mengangkat tema tsunami Aceh, salah satunya adalah Hafalan Shalat Delisa yang ditulis Tere Liye dan juga sudah diangkat ke layar lebar. Yang membedakan novel ini adalah diceritakan dari sudut pandang hantu/arwah/nafsu gentayangan bernama Hanifah. Di sini dia terikat dengan Saras. Ada hal yang belum terselesaikan, yang mengharuskannya untuk mendorong Saras melakukan suatu hal.

Kita nggak hanya terpaku pada urusan Saras – Rian ataupun Saras – Dewa, tapi juga bisa mengambil hikmah dari kisah Ranggita – Melati – Rengganis. Siapakah mereka? 😉

Meski nggak diceritakan dari awal, saya kepincut dengan tokoh Dewa sejak ia muncul di kehidupan Saras. Dewa ini nggak sempurna, tapi menurut saya tipikal cowok banget! X))

Inti cerita memang fokus ke Saras. Tapi ada banyak sekali hikmah yang bisa kita dapat dari kehidupannya. Dari sisi dirinya sebagai relawan, kita jadi bisa tahu bahwa ternyata banyak juga relawan yang akhirnya terkena dampak psikologisnya. Sedangkan dari sisi Saras sebagai perempuan pada umumnya, rasa sakit yang ia rasakan ketika ditinggal menikah. Mungkin bagi sebagian orang mengatakan jika yang namanya jodoh mau bagaimana lagi, tapi akan butuh proses panjang untuk seseorang yang pernah mengalaminya. Dan itu memang tidak mudah, seperti yang dialami Saras ini. Beruntungnya dia memiliki keluarga dan sahabat yang sangat support dengannya.

“Kalau jodoh menikah, perjuangan orang yang berjodoh dengan kamu akan selalu dimudahkan. Kalau yang enggak jodoh menikah, ya sesayang gimana pun, perjuangannya menemukan jalan buntu.” (hlm. 111)

Kita akan menemukan tiga budaya dalam buku ini lewat tokoh-tokohnya. Budaya Aceh terlihat kental saat Saras menjadi relawan selama beberapa bulan di sana. Terutama dari sisi keluarga Rian. Misalnya pertama, saat Saras dikenalkan dengan keluarga Rian. Dari awal sudah sangat terlihat sikap keberatan orangtua Rian terhadap Saras yang berasal dari luar Aceh. Ya, mereka ingin anak-anaknya menikah dengan sesama orang Aceh juga. Ibu Rian ini seorang Cut. Begitu pula ayahnya, yang seorang Teuku. Sebenarnya hal ini nggak hanya dialami yang bersuku Aceh saja, karena di sini pun teman-teman yang bersuku asli Lampung pun, biasanya sudah diarahkan dari awal untuk mendapatkan sesama Lampung. Bahkan untuk gadis Lampung, banyak sekali kriterianya yang diajukan bagi sang pria yang biasanya sudah ada standarisasi keluarga. Begitu pula dari pihak sang pria, dianjurkan untuk menikahi sesama turunan Lampung. Perkara menikah antar suku memang tak jarang menjadi kendala bagi seseorang untuk menikah, nggak hanya yang dialami Saras dan Rian ini, tapi juga banyak terjadi di kehidupan nyata. Beruntungnya saya memiliki keluarga yang sangat demokratis, jadi efeknya adalah memiliki saudara yang beragam suku dan agama.

Kedua, dalam budaya Aceh, bagi perempuan juga wajib untuk berjilbab dan dianjurkan untuk memakai rok. Hal ini sangat bertentangan dengan hati Saras, karena mana mungkin dia bisa berpura-pura seumur hidupnya. Syariat Islam juga sangat terlihat dalam pergaualan sehari-hari. Hal itu bisa kita simak di halaman 190 saat polisi syariat Islam biasanya patroli di keramaian muda-mudi. Perempuan harus menggunakan minimal selendang untuk menutup rambut. Kaum muda mudi pun saling merentangkan jarak.

Selain Aceh, kita juga merasakan budaya orang Sunda yang dari sisi Saras, suka ceplas-ceplos. Kemudian saat Hanifah kali pertama datang ke Bandung mengikuti Saras, terpesona karena di Bandung banyak sekali yang manis dan ganteng. Bener banget, dulu saya juga mikir gitu pas kuliah di Bandung. Aa’ ojek di pengkolan cakep-cakep, begitu juga teteh-teteh jualan nasi uduk plus gorengan pun geulis-geulis, padahal kita yang mahasiswa aja belum mandi, mereka udah kinclong pakai lipstik x))

Ada lagi, budaya anak Jakarta juga terlihat dari sisi Dewa dan Desi. Di halaman 122 disebutkan juga dulunya Desi hobi dugem dan nge-mall. Tipikal mainstream anak gaul Jakarta.

Ada banyak hal di dunia ini yang sebaiknya enggak perlu dipikirkan. (hlm. 163)

Membaca judul dan sinopsis di belakang buku, apalagi didukung covernya yang misterius, saya menduga jika ini akan berbau mistis. Benar sekali, meski berbau mistis, apalagi penutur ceritanya adalah seorang arwah/hantu/apalah itu tapi nggak bikin takut saat membacanya. Dari awal, tokoh Hanifah ini bikin penasaran. Alasan kenapa dia selama ini bergentayangan. Apa hubungannya dengan Saras. Dan masih banyak hal lainnya yang bikin penasaran sampai di akhir cerita.

Mengambil setting berbagai bencana yang melanda Indonesia, termasuk di Aceh dan Padang dengan tokoh utama relawan, tentu sangat menarik disimak. Apalagi tema yang diangkat tentang kasus ‘gelang hitam’ ini juga jarang kita temui dalam novel lokal.

Harus diakui, dari sekian banyak buku selama 2018 ini belum ada yang bikin susah move on. Dan pas baca ini, langsung nggak bisa move on. Pasti bakal banyak yang akan berkata ‘Saras ini kok gue banget!’, termasuk saya sendiri, hahaha… x) Iya, Saras dan saya memiliki banyak kesamaan dalam segala hal; urusan kehilangan sampai urusan bisa berhasil memotivasi orang lain tapi nggak bisa memotivasi diri sendiri x))

Setelah membaca kisah Saras ini, kita jadi bisa memahami betapa hati seseorang tidaklah mudah untuk berpaling, ada banyak faktor. Atau bisa juga terikat akan sesuatu. Bagaimana dengan kamu?!? 😉

Ada satu yang mengganjal, disebutkan jika ayah Dewa menikah lagi dengan Monika, ibunya Desi. Sedangkan Desi dan Saras teman kuliah. Disebutkan juga jika Dewa dan Saras terpaut dua tahun. Logikanya, Dewa dan Desi harusnya terpaut empat atau lima tahun. Jadi, Desi dan Saras ya harusnya nggak seumuran.

Meskipun begitu, saya sangat menikmati jalan ceritanya. Mungkin karena penulisnya memang relawan, jadi kehidupan Saras dan problematikanya sangat mirp dengan kehidupan nyata. Gelang hitam yang menjadi judulnya, memang merupakan kata kunci dari kisah dalam buku ini. Makin penasaran kan? 😉

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tuhan memang Maha Gaib. Mahluk-Nya tidak akan kuat menerka-nerka. Pilihan terbaik hanya satu, ikuti dan nikmati saja. (hlm. 3)
  2. Enggak ada yang jelek kalau dibuat sepenuh hati. (hlm. 14)
  3. Kalau Bos Maha Besar susah menggariskan sesuatu, manusia mana pun tak bisa menentang. (hlm. 21)
  4. Rasa hidup itu tak pernah berdiri sendiri. Apa yang manis, bisa berganti asin, bertukar asam, pahit, tawar, dan lain sebagainya. Mirip masakan. (hlm. 43)
  5. Perbedaan itu indah, kalau bisa mengurusnya. (hlm. 50)
  6. Kalau diingatkan orangtua, dengar baik-baik. (hlm. 63)
  7. Seberapa luaskan jiwa manusia? Seberapa banyakkah lapisa-lapisannya? (hlm. 85)
  8. Segala sesuatu terjadi pasti ada alasannya. Terkadang alasan itu bersembunyi dari pandangan. Kau kadang butuh orang lain atau waktu untuk melihatnya. (hlm. 89)
  9. Waktu adalah penyembuh nan ampuh. (hlm. 98)
  10. Semua orang jalannya berbeda-beda. Yang terpenting, ujungnya bahagia. (hlm. 99)
  11. Orang bilang, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. (hlm. 101)
  12. Jodoh itu banyak. Ada jodoh jadi mantan, jadi kecengan, atau jadi pasangan menikah. (hlm. 108)
  13. Butuh cinta yang lebih besar untuk menyembuhkan luka dari cinta sebelumnya. (hlm. 113)
  14. Jodoh kadang datang dari arah tak terduga. Makanya, banyak orang tak menyadarinya segera. (hlm. 117)
  15. Kau bahkan tak menyadari, kau berubah begitu saja ketika ada hal yang begitu halus dan lembut datang dalam hatimu. (hlm. 124)
  16. Ketika semesta menyediakan banyak kesempatan, manusia bebas memilih. (hlm. 145)
  17. Ketika luka masa lalu masih saja mengendap, kesabaran seperti apa yang mampu mengimbanginya? (hlm. 151)
  18. Misteri cinta itu, walau sederhana, aneh luar biasa. (hlm. 159)
  19. Selalu saja, tak ada yang kebetulan terjadi di dunia ini. (hlm. 160)
  20. Nikah itu bukan akhir segalanya. Menikah tuh ya tahap hidup lain dari hidup. Banyak masalah di dalamnya. Selama hidup, orang selalu punya masalah. Jadi, kenapa mesti takut? (hlm. 163)
  21. Pada batas tertentu, kau mesti memaksakan berhadap-hadapan langsung dengan masa lalumu. (hlm. 165)
  22. Katanya, berani itu baru sah disebut berani kalau ada rasa takut menghadapi. (hlm. 170)
  23. Ketika sebuah luka sulit direlakan, mungkin saja, orang yang kau pikir melukaimu, merasakan hal yang sama. (hlm. 174)
  24. Tuhan juga Maha Seimbang. Ia memberikan ujian sekaligus jalan penyelesaiannya. (hlm. 183)

Banyak juga selipan sindiran halusnya dalam buku ini:

  1. Kelam masa lalu ibarat paku berkarat, menancap di ubun-ubun. Perih yang terekam, tak kunjung keluar. (hlm. 1)
  2. Namanya lem pacaran, tak sama dengan lem teman. Lem teman itu mirip lem kertas, lem pacaran mirip lem aibon. Ketika ingin dilepas, jadi lebih susah daripada sekedar berteman. (hlm. 22)
  3. Hidup di dunia itu fana, berubah-ubah dengan cepatnya. Termasuk cinta. (hlm. 24)
  4. Apalah daya kita, kalau cinta sudah melanda. (hlm. 30)
  5. Cinta itu sederhana. Pikiran dan ego manusia saja yang menjadikannya rumit. (hlm. 37)
  6. Ketika sesuatu terus dihindari, akankah dua sejoli mampu merekatkan janji? (hlm. 57)
  7. Nikah tuh urusan panjang. Seumur hidup. Memangnya kamu mau pura-pura seumur hidup? Enggak bebas jadi diri sendiri? (hlm. 65)
  8. Rindu bisa jadi sembilu. (hlm. 67)
  9. Walau banyak orang tahu pertemuan akan berjumpa perpisahan, banyak yang membenci perpisahan. Apalagi dalam perkara asmara. (hlm. 71)
  10. Beberapa duka, kadang seperti hempasan gelombang tsunami. (hlm. 74)
  11. Jatuh cinta memang sakit. Makanya jangan jatuh cinta. Tumbuh cinta saja. (hlm. 91)
  12. Cinta itu bukan hal buruk. Kamu harus belajar menerima. Nah, bagian itu tanggung jawabmu sendiri. (hlm. 96)
  13. Jadi relawan terus. Kamu kapan kawin? Keburu keriput entar. (hlm. 109)
  14. Nikah itu nggak kayak dongeng, live happily ever after. (hlm. 100)
  15. Kalau ada laki-laki yang serius ingin nikah sama kamu, dia pasti memperjuangkan banget. (hlm. 111)
  16. Banyak orang takut lupa dan dilupakan. (hlm. 126)
  17. Bukankah rasa cemburu itu tanda yang jelas aklau kau suka kepada seseorang? (hlm. 132)
  18. Perkara membuka hati itu pilihan masing-masing. Berani atau tidak? (hlm. 140)
  19. Sok jual mahal. Cewek egois banget sih. Maunya dikejar, diperjuangkan. (hlm. 160)
  20. Cowok mana coba yang mau tiba-tiba terima tantangan nikah? (hlm. 194)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Gelang Hitam

Penulis                                 : Nyirika

Penyunting                         : Jia Effendie

Penyelaras aksara            : Nico Rosady

Desain sampul                   : Sukutangan

Penerbit                              : Nawalapatra

Tebal                                     : 212 hlm.

Terbit                                    : Maret 2018

 

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

5 thoughts on “REVIEW Gelang Hitam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s