buku, resensi

REVIEW Perjalanan Menuju Cahaya + GIVEAWAY

Maka minta maaflah, untuk mengetahui keberadaan dan perasaan orang lain. Maka minta maaflah, untuk menunjukkan rasa syukur atas bantuan orang lain. Maka minta maaflah, dan semoga Allah berkenan menambahkan berkah-Nya pada kehidupan kita. (hlm. 11)

Perkenalan pertama saya dengan sosok Primadita Rahma Ekida, penulis buku ini yang merupakan salah satu finalis di ajang World Muslimah Award (WMA) 2014. Info lengkapnya cek di LINK ini. Waktu itu mengirim surel mengajak kerjasama mengadakan giveaway akan membagikan satu hadiah buku Saraswati yang merupakan hasil dari karya-karya dari penulis yang terpilih di Ubud Writers Readers Festival 2014 silam. Pertemanan dunia maya kami berlanjut ke facebook dan twitter. Kemudian di tahun 2016, Mbak Prima kembali mengadakan kerjasama membuat giveaway semacam tantangan menuliskan review bacaan bertema perempuan dalam rangka ulang tahunnya kala itu.

Makin ke sini, meski jarang menyapa di dunia maya, saya suka menyimak tulisannya via blog. Saya bisa merasakan nyaman berteman dengan seseorang meski secara dunia maya dari TL atau WALL-nya di dunia maya. Kenapa? Karena tanpa di sadari sosmed akan membentuk personal branding seseorang. Kebayang kan sama orang yang hobinya ketus di dunia maya, apalagi di dunia nyata yaa… yang tipe gini saya biasanya melipir deh…  tapi ada, bahkan banyak loh yang tipe-tipe kayak gini x))

Membaca tulisan-tulisan di blognya serasa kayak ngaca. Kenapa? Banyak beberapa persamaan yang kami rasakan, intinya menjadi perempuan tangguh karena sudah mengalami banyak tempaan hidup. Doakan kami sama-sama mendapatkan lelaki yang juga tangguh agar bisa mengimbangi ketangguhan kami yaa… x)) #TjurhatTerselubung Om saya pernah bilang, hidup manusia ibarat kayak golok, semakin diasah akan semakin tajam #eaaa

Banyak pemikirannya yang setipe dengan saya, terutama masalah perempuan dan kedudukannya. Tulisannya sering curhat terselubung pun sebelas dua belas kayak saya, hehehe… x)) [Bisa dibaca beberapa diantaranya di INI dan INI)

Masa lalu kita memang bukan kenangan yang sempurna seperti milik orang-orang, sebab ada banyak lubang di beberapa sisinya. Namun percayalah, semua adalah pelajaran untuk kita maknai, bahwa dunia adalah bangku sekolah yang tak pernah putus member ilmu agar kita menemukan jalan yang benar-benar diridai. Bukankah Allah tidak benci kepada kita dan tidak pernah meninggalkan kita? Diberinya kita ujian agar senantiasa meningkatkan iman. Diberinya kita cobaan agar selalu mengingat kebesaran dan kasih sayang-Nya yang tiada bandingan. Diberinya kita masa-masa sulit agar percaya hasil perjuangan dan kerja keras. Tidak ada yang sia-sia di dunia selagi cinta kita utuh di atas segalanya. (hlm. 69)

Saya bisa paham dengan pemikiran-pemikiran kritisnya. Salah satunya adalah tentang persoalan menikah vs pendidikan. Saya pernah membaca tulisan di statusnya yang menanggapi opini seorang lulusan pesantren yang mengatakan bahwa perempuan sebaiknya menikah dulu, baru S2. Ia khawatir, perempuan yang terlalu pintar tidak akan dipilih laki-laki, karena sudah kodratnya lelaki tidak ingin kalah dari pasangannya. Opini sumbu pendek seperti ini tentunya disanggah habis-habisan oleh Mbak Prima x)) #IStandYou

Manusia adalah mahluk ciptaan Allah SWT yang dibekali dengan otak untuk berpikir dan hati untuk merasakan. Namun terkadang, sisi sistematis lebih dominan sehingga segala macam dihitung. Tidak hanya soal pengeluaran sehari-hari, tapi juga dalam melakukan perbuatan baik. (hlm. 167)

Seperti yang saya jabarkan di awal, Mbak Prima ini setipe kayak saya. Terlalu banyak ditempa masalah kehidupan. Dulu saya pernah berpikir dan bertanya pada Tuhan kenapa selalu ditimpa masalah yang bertubi-tubi. Ya, masalah tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Itu pun dengan rentang waktu yang berdekatan. Meski selalu ada anggapan jika ketika tertimpa masalah, itu tandanya kita sedang diuji untuk naik kelas ke jenjang berikutnya. Semakin tinggi pohon, akan semakin kencang angin yang meniupnya. Di usia awal dua puluhan adalah masa krisis saya. Bahkan bude pernah bilang saya ibarat ranting yang mau nggak mau harus menjadi pohon dan harus melindungi tiga ranting lainnya. Nggak hanya terjadi setahun dua tahun, tapi bertahun-tahun. Tahun 2008-2014 adalah masa tersulit yang saya hadapi dalam hidup. Kenapa saya nggak pernah menulis status mengeluh soal hidup secara gamblang di tahun-tahun tersebut? Karena bagi saya yang paling penting dalam hidup bukanlah curhat di sosial media yang nggak menyelesaikan masalah. Di tahun-tahun itu, saya lebih banyak curhat dengan om (adik mama) dan istrinya, serta satu rekan kerja yang juga memiliki permasalahan yang cukup berat meski masalahnya berbeda dengan yang saya hadapi, tapi masalah kita sama-sama berat. Tak jarang kita kalo ngobrol bareng bisa berakhir nangis bareng. Begitu juga jika curhat dengan om (adik mama) dan istrinya, saya hanya bisa nangis sesenggukan jika di depan mereka. Tapi abis curhat panjang lebar dengan mereka jadi plong. Yang saya suka dari mereka adalah nggak pernah sekalipun menghakimi atau menggurui saya dalam segala hal permasalahan yang dihadapi selama ini. Inilah salah satu faktor kenapa saya selama ini bisa percaya dan mau curhat dengan mereka, bukan dengan yang lain. Jadi kalo ada anggapan selama ini saya nggak punya belas kasihan karena jarang banget terlihat menangis, salah banget. Saya juga bisa cengeng, tapi pada tempatnya x))

Jangan berprasangka buruk dan menghakimi seseorang hanya berdasarkan apa yang kita lihat sekilas. Semua orang memiliki alasannya masing-masing dalam berbuat atau berlaku, terkadang kita tidak akan memahami alasan itu sebelum mengalami kejadian yang sama. Belajar menahan lisan dan hati dari mengolok-olok ataupun menasehati yang ‘tidak pada tempatnya’. (hlm. 197)

Saya bisa merasakan beberapa problematika yang pernah dihadapi Mbak Prima hasil membaca tulisan-tulisannya di blog. Saya nggak seberani dia dalam menuliskan permasalahan hidup sekalipun itu bukan ditulis di facebook/sosmed lainnya, tapi di blog. Saya masih mikir jika saya curhat di blog akan membawa dampak beberapa hati akan terluka. Tapi mungkin berbeda bagi Mbak Prima, menulis di blog menjadi semacam obat atau penawar luka yang selama ini ditanggungnya. Dengan menulis di blog ibarat terapi untuk meluruhkan segala macam gundah gulana yang penuh sesak di dalam hati.

Pada dasarnya, setiap dari kita pasti pernah merasakan berada di titik nol. Diambang masa paling krisis dalam hidup. Saya pernah. Begitu juga dengan Mbak Prima. Dibalik sosoknya yang terlihat nyaris sempurna; pintar dengan segala prestasi dan juga seabrek aktivitas dengan tingkat mobilitas yang tinggi. Tapi saya nggak menyangka ternyata tahun lalu, Mbak Prima mengalami depresi cukup berat dan hampir berniat bunuh diri. Dia sempat didiagnosis mengidap ‘severe depressive episode without psychotic sydrom’. Saking Penasarannya dengan sindrom ini, saya sampai googling. Dan saya temukan sedikit ulasannya DI SINI.

Gegara membaca artikel tersebut, saya baru menyadari jika apa yang saya alami belum lama ini, di tahun 2017 saat bulan Oktober – Desember, sepertinya saya mengalami gejala ‘depressive episode’ diantaranya nafsu makan turun, tidur terganggu: nggak bisa tidur nyenyak karena menjelang tidur pun masalah itu masih kebayang (cemas berlebihan), dan perasaan marah & kecewa karena dilibatkan dalam suatu masalah besar. Salah satu imbasnya adalah saya jadi malas dalam hal apa pun, kayak nggak ada gairah ingin melakukan sesuatu, termasuk dalam hal semangat membaca buku yang tahun lalu drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Sempat saya ulas sedikit DI SINI Dari sisi pekerjaan, imbasnya paling terlihat. Dalam tiga bulan terakhir di tahun 2017 tersebut saya sangat nggak produktif. Untungnya (masih untung) masalah ini saya hadapi setelah lomba pustakawan (Mei – Agustus). Nggak kebayang kalau saya menghadapi masalah itu saat berbarengan dengan lomba, saya bisa gagal di tempat :((

Ada banyak faktor seseorang ingin melakukan jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya. Begitupula dengan Mbak Prima. Lewat buku ini, kita diajak menelusuri beberapa hal permasalahan hidup yang pasti beberapa diantaranya pernah juga kita hadapi. Setelah masalah tahun lalu tutup (meski nggak benar-benar berakhir), bulan-bulan pertama di tahun 2018 kembali mengalami masalah, tapi beda masalah dari tahun lalu. Sempat bikin downn dan stress juga, serta menimbulkan kecewa dan marah, hingga akhirnya dari April mulai bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan hal-hal yang biasanya bersemayam di otak dan dada. Dari dua masalah besar yang dihadapi setahun terakhir, saya banyak belajar bahwa selurus-lurusnya pilihan hidup kita, selalu ada orang lain yang akan berusaha membelokkannya. Dalam belokan tersebut, kita akan menemukan duri ikan, pecahan kaca, bahkan binatang buas. Satu-satunya cara agar bisa balik ke jalan yang lurus adalah diri kita sendiri. Meski butuh proses yang panjang, saya, Mbak Prima, dan siapa pun yang mengalami depresi baik tingkat rendah maupun tinggi juga bisa melewatinya :’)

Nggak hanya cerita dari kehidupan Mbak Prima, tapi ada empat penulis lainnya yang juga menuangkan isi hatinya, masing-masing dengan sudut pandang masalah yang berbeda. Cerita paling favorit adalah yang ditulis oleh Mbak Puput Palipuring Tyas, menuliskan kehidupan broken home yang pernah dialaminya, memberi dampak cukup panjang bagi kehidupannya. Dari kisah kehidupannya, kita jadi tahu bagaimana rasanya belajar memaafkan dengan ikhlas meski banyak luka yang sudah terlanjur tertancap di hati :’)

Buku ini semacam personal literature yang mengajak kita menyelami kehidupan orang lain dan akan menyisakan rasa bahwa kita nggak sendiri. Bahwa apa yang pernah atau sedang kita alami juga pernah atau sedang dialami orang lain. Bagaimana rasanya menghadapi masalah. Dan bagaimana kita bergandengan dengan masalah, bukan menghindari. Karena masalah apa pun jika dihindari nggak akan bisa bikin hidup kita nyaman.

Tiga puluh BAB yang disajikan menjadi pertanda ada tiga puluh hari yang biasanya kita lewati saat Ramadhan. Ada tiga puluh pesan moral yang bisa kita ambil dari kisah-kisah yang ditulis. Tanpa mengandung unsur menghakimi apalagi menggurui. Menariknya lagi, di sela-sela pergantian BAB, dilengkapi ilustrasi unyu yang berhubungan dengan isi tulisan. Cocok banget dibaca di bulan Ramadhan seperti ini 😉

Keterangan:

Judul                                                     : Perjalanan Menuju Cahaya

Penulis                                                 : Primadita Rahma Ekida & Sisters

Editor                                                    : Puput Palipuring Tyas & Sulfiza Ariska

Desain cover & illustrator             : Asa Laily F.

Layouter                                              : Heriyana Darsono & Kharis Theosophi M. N

Penerbit                                              : Bitread Publishing

Terbit                                                    : 2018

Tebal                                                     : 223 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-5804-01-4

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia.

3. Follow akun instagram @lucktygs (nggak wajib)

3. Follow @muslimahsinau (wajib dan spam like di akun ini)

4. Follow akun twitter @lucktygsJangan lupa share dengan hestek GA #PerjalananMenujuCahaya dan mention via twitter. (jika ada twitter, nggak wajib)

5. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

6. Tidak ada pertanyaan, cukup tinggalkan nama, akun twitter/instagram, dan kota tinggal di kolom komentar. Mudah bukan? 😉

GA #PerjalananMenujuCahaya ini berlangsung seminggu saja: 28 Mei – 2 Juni 2018. Pemenang akan diumumkan tanggal 3 Juni 2018

Akan ada SATU PEMENANG yang akan mendapatkan buku. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penulisnya… ;)

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

Pemenang giveaway kali ini adalah:

Nurul Armylia, Malang.
IG: @armylia , Twitter: @armylia_

Selamat buat pemenang. Sila kirim email ke  emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com dengan judul: konfirmasi pemenang Giveaway Perjalanan Menuju Cahaya. Kemudian di badan email cantumkan; nama, alamat lengkap, dan no hape biar hadiahnya segera dikirim langsung oleh penulisnya ya.

Terima kasih buat penulis dan penerbit atas kerjasama dan  kepercayaannya. Semoga lain waktu bisa bekerjasama kembali… 😉

Buat yang belum menang, jangan sedih. Masih ada giveaway lainnya yang menanti!! :*

-@lucktygs-

12 thoughts on “REVIEW Perjalanan Menuju Cahaya + GIVEAWAY”

  1. Saya baru tau nih tentang ‘severe depressive episode without psychotic sydrom’. Dulu jaman masih kuliah paling seneng pas pelajaran psikologi komunikasi, mengetahui berbagai seluk beluk kejiwaan manusia menjadi hal yang amat menyenangkan buatku meski tidak kuliah di jurusan psikologi.
    Beberapa waktu lalu baru ngeh soal Post Natal Depression, salah satu temanku ada yang mengalaminya dan ternyata belum banyak yg mengetahui masalah ini. Jadi bakalan terima kasih banget kalau bisa mendapatkan buku dari Mba Prima ini utk memahami lebih jauh tentang severe depressive episode tadi. Thks yaa sebelumnya.

    Nama : Uniek Kaswarganti
    Twitter : @uniekkas
    Tempat tinggal : Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s