Posted in buku, resensi

REVIEW Ubur-ubur Lembur

Popularitas itu seperti candu. Ketika kita sudah berada di tengah lampu sorot, ketika lampunya redup kita akan berusaha untuk tetap popular. (hlm. 176)

Di buku terakhirnya, Marmut Merah Jambu, tulisan Raditya Dika lebih condong ke tentang patah hati. Koala kumal ibarat kita sebagai manusia dari masa ke masa. Ketika koala bermigrasi dari hutan tempat tinggalnya, dia merasa asing ketika kembali. Seperti halnya kita ketika menjalin hubungan dengan seseorang. Dulu bisa jatuh cinta menggebu-gebu, cemburu dan patah hati, ketika bertahun-tahun kemudian bertemu kembali rasanya sudah beda. Begitulah hidup.

Sedangkan dalam buku ini, Ubur-ubur Lembur juga memiliki filosofi sendiri. Dika melihat orang yang bekerja kantoran tapi nggak sesuai dengan minat mereka itu seperti seekor ubur-ubur lembur. Lemah, lunglai, hanya hidup mengikuti arus. Lembur sampai malam, tapi nggak bahagia. Nggak menemukan sesuai yang membuat hidup mereka punya arti. Dika nggak mau jadi ubur-ubur lembur; dia mau punya tulang belakang. Dia mau bisa berjalan di antara dua kaki. Dia percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan mencintai hidup kita.

Kegamangan hidup ini wajar terjadi ketika memasuki usia seperti Dika. Masa di mana bukan lagi sekedar galau mikirin pacar, tapi galau mikirin masa depan. Semakin dewasa seseorang, akan semakin banyak pertimbangan hidup dalam memilih sebuah keputusan.

Jangan-jangan ini inti menjadi orang dewasa: untuk lupa rasanya senang dengan sepenuh tenaga. Kalau dulu ketika kita jatuh cinta sama orang, kita bisa sepenuh jiwa raga berkorban untuk orang itu. Sekarang kalau jatuh cinta penuh dengan kehati-hatian: apakah orangnya beneran baik? Apa motivasi dia ngedeketin kita? Apakah hubungan ini akan berakhir dengan perih seperti yang dulu-dulu? (hlm. 99)

Kegamangan yang dialami Dika terlihat dari tulisan-tulisannya dalam buku ini. Misalnya, ketakutannya jika nanti menikah dengan orang yang salah, tentunya akan menyiksa batin kita seumur hidup. Saya bisa merasakan apa yang Dika juga rasakan, karena umur kita memang nggak beda jauh ya, saya hanya beda beberapa taun dengannya x)) Ketakutannya itu juga bertambah di tulisan berikutnya tentang anggapan bahwa menikah dengan seseorang berarti juga harus ‘menikah’ dengan keluarganya. Ini memang yang paling susah. Pas kita sudah klik dengan seseorang, belum tentu klik dengan keluarganya x))

Kisahnya bersama Kathu, teman sekompleksnya yang berkebangsaan India, menyelipkan pesan moral tentang passion dan pilihan hidup. Kathu kala itu sudah menemukan passionnya, sebagai pemain tabla. Bahkan salah satu tujuan Kathu sudah tercapai; punya pertunjukkan tabla sendiri. Saat itu Dika belum menemukan passionnya meski kala itu sudah memiliki blog tapi masih sekedar curhatan pribadi, bukan sebagai sumber penghasilan seperti sekarang ini. Dika juga termasuk orang yang telat menemukan passionnya. Bahkan sempat ‘terjerumus’ di jurusan yang sebenarnya tidak ia sukai, karena dulu memilih jurusan tersebut bakal hidup enak dengan gaji yang lumayan. Jadi keinget seorang teman kosan yang dulu memilih Jurusan Sastra Jepang hanya karena merasa jurusan ini bakal memberikan prospek cerah pada hidupnya sementara dia sama sekali nggak mengerti dunia Jepang. Untungnya dia menyadari kekeliruannya, semester dua tiap malam belajar keras untuk ikut tes kuliah lagi dan tahun kedua dia ambil Jurusan Hukum yang sebenarnya memang dia sukai sejak dulu. Saya pun begitu, jujur dulu nggak begitu mengerti apa itu passion. Baru bisa merasakannya saat kuliah. Jika dulu sekolah, suka nggak suka dengan pelajarannya harus diikuti, berbeda dengan halnya kuliah karena memilih jurusan yang kita sukai otomatis hampir semua mata kuliah yang dipelajari pasti disukai meski sesulit apa pun selalu happy menjalaninya. Begitu juga dengan kerja. Saya, Dika, maupun siapa pun di dunia ini tentunya akan lebih nyaman bekerja sesuai passion. Bukan seberapa uang yang kita terima, tapi seberapa nyaman pekerjaan yang dipilih membuat kita bahagia. Jadi, buat yang baru lulus kuliah, apalagi baru lulus sekolah, jangan sedih jika masih belum menemukan passion. Nggak ada yang tiba-tiba, semua butuh proses. Jika Dika maupun saya baru menemukan passion saat menjelang dewasa, bisa jadi kamu juga begitu. Jangan sedih jika teman-temanmu sudah menentukan cita-citanya sementara diri sendiri belum tahu ingin menjadi apa. Galilah hal-hal yang kamu suka, fokus dan maksimalkan. Yakinlah, bahwa hasil tidak pernah mengkhianati hasil. Seperti Dika ini, dari awalnya yang tiap hari hanya maniak games, nulis di blog jadi buku, pelopor stand up comedy di Indonesia, selebtwit kemudian hingga menjadi vlogger dan juga memiliki pengikut bejibun di instagram.

Menjadi terkenal nggak seenak yang dibayangkan. Jangan heran, anak-anak zaman sekarang banyak yang bercita-cita ingin menjadi youtubers karena dipikirnya sambil leyeh-leyeh pun bisa menghasilkan uang. Padahal menjadi youtubers harus dituntut untuk kreatif dan inovasi dan setiap video-video yang mereka posting. Jika tidak, tentu satu per satu pengikut mereka akan meninggalkan. Menjadi terkenal dengan memiliki banyak fans, tapi bisa jadi makin dikit teman sejati. Karena bisa jadi yang dekat dengan kita hanya karena ingin numpang tenar alias panjat sosial, seperti curhatan Prilly sebagai salah satu ratu sinetron Indonesia pas ngobrol bareng Dika. Begitupun dengan Dika, juga mengalami hal yang sama. Di tengah hiruk pikuk keramaian, kadang orang-orang terkenal seperti Dika maupun Prilly justru mengalami yang namanya kesepian.

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Lebih baik sendirian daripada cinta pada orang yang salah. (hlm. 6)
  2. Cinta kadang membuat dua orang normal menjadi alay. (hlm. 6)
  3. Cowok dan cewek memiliki cara yang berbeda. Nggak hanya ketika menghadapi kawan yang tengah patah hati, tetapi juga ketika mereka berurusan dengan cinta; sedang jatuh cinta, ataupun patah hati. Meskipun cara mereka berbeda, keduanya ternyata punya banyak kesamaan. Sama-sama bisa buta. (hlm. 18)
  4. Kenapa sih orang bisa berubah? Kenapa orang nggak bisa tetap sama kayak sewaktu lagi PDKT? (hlm. 21)
  5. Cinta itu kayak permen karet. Semakin lo nikmatin, rasanya akan semakin hambar. (hlm. 21)
  6. Gimana kalau ternyata kita nikah sama orang yang salah? Nyesek gitu. Kayak oksigen diambil. (hlm. 24)
  7. Cinta itu sebenar-benarnya menyakitkan, mengecewakan dan pahit. (hlm. 25)
  8. Kalau kita menikah sama seseorang, kita harus ‘menikah’ juga sama keluarganya. (hlm. 26)
  9. Jatuh cinta ngebuat lo jadi orang yang berbeda. (hlm. 28)
  10. Itulah enggak enaknya pacaran. Lo baru merasa berharga sesuai level mana pacar lo menghargai lo. (hlm. 28)
  11. Di dunia ini nggak mungkin ada dua orang, cewek cowok bisa berteman dekat kalau salah satu dari mereka nggak ada yang naksir. Diantara sahabatan kayak gini, pasti ada naksir. (hlm. 32)
  12. Tiap patah hati yang hebat pasti membuat kita jadi berubah. (hlm. 33)
  13. Kenapa cewek-cewek lebih suka sama cowok jahat yang ngeroko, mabuk-mabukkan, tukang selingkuh? (hlm. 34)
  14. Kadang orang memang butuh ngobrol doang sih. (hlm. 34)
  15. Kadang orang jahat memanfaatkan kenaifan orang baik. (hlm. 92)
  16. Kita nggak bisa memuaskan semua orang. Karena pasti ada aja yang nggak suka. (hlm. 149)
  17. Orang hanya lihat apa yang ada di permukaan. Kadang orang emang nggak suka sama kita, tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya. (hlm. 150)
  18. Sakitilah hati mantan dengan cara-cara yang cerdas. (hlm. 164)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Ubur-ubur Lembur

Penulis                                 : Raditya Dika

Editor                                    : Windy Ariestanty

Penyelaras aksara            : Jeffri Fernando

Penata letak                       : Putra Julianto

Desainer sampul              : Agung Nurnugroho

Illustrator sampul & isi   : WD Willy

Foto penulis                       : Sardo Michael

Penerbit                              : GagasMedia

Terbit                                    : 2018

Tebal                                     : 232 hlm.

ISBN                                      : 978-979-780-915-7

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

One thought on “REVIEW Ubur-ubur Lembur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s