buku, resensi

REVIEW Teater Boneka

Pura-pura bahagia dan tidak ada masalah itu lebih susah ketimbang berakting sedih dengan boneka. (hlm. 103)

Gedung Teater Boneka Poppenkast bukan hanya sekedar gedung biasa bagi Erin. Dengan kecintaan dan tanggung jawab besar yang ingin Erin pertahankan mati-matian, dengan segala cara yang mampu ia lakukan. Warisan yang telah sampai di ujung waktu dan hanya meninggalkan sisa-sisa dari zaman kejayaan di masa lampau.

Mungkin masalah inilah yang memenuhi kepala Erin satu minggu terakhir. Hingga pikirannya buntu akibat impian realita yang harus ditelannya, tanpa menyisakan sedikit ruang untuk berimajinasi. Surat tagihan dari bank beberapa hari yang lalu adalah bukti nyata bahwa Teater Boneka Poppenkast berada di ambang kebangkrutan.

“Kakek saya selalu bilang cerita adalah jiwa. Keluarga tanpa cerita sama saja seperti hidup tanpa jiwa. Mungkin karena itu juga cerita lebih gampang merasuk ke dalam jiwa kita.” (hlm. 36)

Pak Gun, Dedi dan yang lain adalah adalah salah satu alasan Erin untuk mati-matian mempertahankan Teater Boneka Poppenkast yang sudah hampir mati karena tergerus hiburan yang modern. Mulai dari taman bermain modern dengan wahana-wahana canggih, hingga televisi dan beragam jenis games, kini sudah menjadi pesaing yang rasanya sangat mustahil untuk dikalahkan oleh Poppenkast. Ketika anak-anak bisa menonton sandiwara boneka dan hiburan lainnya dari tablet atau komputer masing-masing, siapa lagi yang mau datang ke teater kuno dan duduk di kursi-kursi reyot yang bantalannya sudah apek dan lapuk.

Tapi kecintaan Erin pada peningkatan Kakek dan ayahnya ini, serta kecintaannya pada para staf yang sudah begitu mengabdi membuat Erin semakin kuat. Meski ia harus pontang-panting mempromosikan dan menjaring penonton untuk setiap pementasan Poppenkast yang hasilnya tak seberapa. Belum lagi, Erin juga harus bekerja sambilan sebagai guru di tempat kurusus bahasa Inggris, menjadi contributor lepas untuk majalah anak-anak, dan memberi les di sela-sela waktu luangnya untuk menutupi pengeluaran pribadi dan pengeluaran teater, termasuk membayar gaji dan tagihan-tagihan lain yang mengancam. Tapi Erin terus bertahan, bertekad tidak akan menutup teater apa pun yang terjadi.

Erin sungguh bersyukur memiliki para staf Poppenkast yang sudah seperti keluarga dan sahabat baginya. Meski jauh dari keluarga kandungnya, namun hari-hari Erin selalu semarak dengan tawa dan canda para staf, sehingga ia tidak pernah sekalipun merasa kesepian. Walau semua hidup pas-pasan, tetapi soal financial mereka selalu berusaha saling membantu. Saat Erin kesulitas, Rani atau Dedi akan tiba-tiba datang membawakan lauk pauk untuk mengisi perutnya. Sebaliknya pun begitu, ketika Erin atau keluarga Pak Gun punya rejeki berlebih, mereka juga sering kali mengajak staf yang lain makan bersama.

“Nggak harus jadi dalang. Jadi apa saja saya mau. Tukang angkat-angkat property atau beres-beres gudang juga nggak masalah.”

“Tapi…”

“Jadi apa saja saya mau, Rin. Yang penting saya boleh kerja di sini. Please, saya nggak bakal nyusahin kamu. Saya cuma pengin belajar. Belajar bercerita, belajar lebih banyak tertawa, belajar menyelami dunia anak-anak, supaya hidup saya lebih rileks…”

“Kenapa?”

“Kenapa saya pengin hidup rileks? Karena kalau saya terus-terusan tegang dan stress, nanti kulit saya cepat keriput.” (hlm. 67)

Dari judulnya kita sudah bisa menebak jika buku ini bertema tentang teater boneka. Teater boneka kerap identik dengan kisah spooky. Ternyata saya keliru, nggak ada serem-seremnya kok kisah di buku ini. Di setengah pertama buku, dapet banget cerita tentang teater boneka dengan segala stafnya, mulai dari pemiliknya hingga para anak buahnya. Tapi mulai pertengahan cerita justru fokus ke masalah Awan yang tiba-tiba datang ke Poppenkast, teater boneka milik Erin peninggalan kakeknya ini.

“Hidup kamu selama ini susah, mati-matian banting tulang untuk menghidupi teater ini. Kamu nggak bisa nabung buat diri kamu sendiri, buat masa depan kamu sendiri, karena uang kamu selalu habis buat nambahin bayar gaji pegawai, buat bayar listrik teater…”

“Teater ini sepenuhnya tanggung jawab aku, jadi…”

“Tapi tanggung jawab itu bikin kamu jadi nggak bisa kemana-mana, kan? Kamu nggak bisa berkembang! Kamu menyia-nyiakan gelar sarjana kamu dan nggak bisa kerja kantoran yang jamnya nine to five karena banyak yang harus kamu kerjakan di sini. Yang kamu sebut sebagai tanggung jawab ini lama-lama cuma jadi beban buat kamu, Rin. Beban, beban, tanpa menghasilkan apa-apa. Seberapa pun kamu cinta sama Poppenkast, tapi ini nggak adil, Rin. Kamu harusnya bisa berkembang, jadi perempuan hebat yang bisa melakukan apa pun, tanpa terikat tanggung jawab di sini.”

“Tapi teater ini yang ngasih makan keluarga aku selama bertahun-tahun. Penghasilan dari teater ini juga dipakai ayah untuk menyekolahkanku, sampai lulus kuliah. Dan sekarang kamu suruh ninggalin Poppenkast biar bisa mengembangkan diri? Kamu nyuruh aku jadi orang yang egois, mikirin diri sendiri?” (hlm. 91)

Ini adalah kali kedua saya membaca novel dengan tiga penulis sekaligus. Pertama, ada Hujan dan Pelangi yang ditulis oleh Idawati Zhang, Mikayla Finanda, dan Ch. Marcia. Sama seperti novel tersebut, di novel ini juga berbaur antara kepenulisan yang satu dengan yang lain. Tidak merasakan perbedaan yang mencolok, jadi serasa kayak satu penulis yang bercerita.

Ada banyak pesan moral yang disampaikan dalam buku ini meski endingnya masih terlalu ala-ala drama yang kesannya gampang aja selesai dengan indah. Beberapa pesan yang diselipkan antara lain kentalnya kebersamaan dan kekeluargaan antar staf di Teater Boneka Poppenkast, nggak hanya saat senang tapi juga saat susah. Hubungan antara Erin dan Robert menjadi semacam representasi hubungan yang nggak sehat di mana pihak laki-laki terlalu mengintimidasi pihak perempuan, padahal perempuan juga mempunyai hak dan mimpi sendiri sesuai yang ia inginkan, bukan bergantung pada pihak laki-laki.

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Teater Boneka

Penulis                                                 : Ayu Rianna, Orinthia Lee, Emilya Kusnaidi

Penerbit                                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                                    : 2014

Tebal                                                     : 320 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-03-0371-0

1 thought on “REVIEW Teater Boneka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s