buku, resensi

REVIEW Before 30

“Masa itu akan datang. Kau berada di persimpangan dan kau harus memilih cabang mana yang akan kau lalui dengan penuh keyakinan. Seperti itulah hidup. Kau tidak bisa menghindarinya.” (hlm. 199)

SONDRA SMITH menjalani hari-hari paling gila setelah KEVIN HERRAL mempromosikannya sebagai Senior Architect Home & Garden Solutions. Ya, jabatan baru ini sudah menjur-balikkan kehidupan normalnya. Sejak naik pangkat, kehidupannya setiap hari di mulai sejak pukul enam pagi. Bangun, menggerutu, dan berharap dia tidak perlu pergi ke kantor esoknya. Kalau pagi, pukul 06.01 sebelum masuk kamar mandi, Sondra mempunyai ritual baru; berdoa agar menang lotere. Setelah baru dia akan membiarkan air dari pancuran mengguyurnya. Biasanya tiba di kantor pukul 07.15. terlalu awal karena normalnya orang-orang mulai bekerja mulai pukul sembilan. Namun, sejak menit pertama matanya terbuka, rasanya dia selalu siap untuk sibuk. Dia tak suka duduk diam, kecuali jika dia benar-benar memenangkan lotere. Biasanya begitu tiba di kantor, dia langsung mengecek proposal proyek terbaru. Tak sampai lima belas menit, dia sudah berpindah tempat menemui calon klien baru yang akan memutuskan apakah mereka akan memakai jasanya atau tidak. Dia kembali ke kantor untuk merevisi proposal sesuai keinginan mereka dan menyerahkan kembali saat tengah hari. Begitu terus siklus hidupnya setiap hari. Terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, bekerja dan bekerja hingga sampai lupa mencari cinta. Padahal di wasiat neneknya tertulis bahwa jika ia harus menikah sebelum usia 30.

Usia 30 sepertinya menjadi momok yang menakutkan bagi banyak perempuan, tak terkecuali Sondra di usianya yang sudah menjelang 29 belum menemukan tambatan hati yang pas. Setiap harinya, laki-laki yang selalu ditemuinya adalah Kevin si bosnya yang selalu menyuruhnya ini itu bahkan lembur bagai kuda di hari libur. Mana mungkin Sondra bisa bertahan hidup dengan laki-laki yang memperlakukannya seperti ini?!? Tapi menurut Michelle, sahabat Sondra, Kevin sepertinya naksir Sondra dengan terbukti selalu mencari-cari peluang terhadap Sondra agar selalu bisa dekat dengannya setiap saat. Mungkinkah?

Di saat kegundahan hatinya kian merajalela, suatu malam Sondra bertemu dengan RAYMOND LEIGHTON. Dalam semalam secara tak sengaja tidak hanya bertemu sekali, bahkan dua kali meski momen yang kedua kurang mengenakkan bahkan mencekam. Dari awal, Sondra langsung jatuh hati pada Raymond, tetapi Michelle melarangnya bahkan menyarankan untuk menjauhinya. Ada luka di masa lalu, keluarga Leighton pernah menaburkan luka pada keluarga Michelle yang membuatnya sakit hati bertahun-tahun; keluarganya berantakan dan jatuh miskin. Manakah yang harus dipercaya Sondra; Michelle, sahabatnya yang sudah bertahun-tahun bersama atau Raymond, laki-laki yang baru dikenalnya?!?

Tema cerita tidak hanya berpusat pada kehidupan percintaan Sondra terhadap pencarian cinta sejati menuju umur 30, tapi juga diujinya sebuah jalinan persahabatan, kepercayaan dan juga belajar memaafkan masa lalu.

Pesan moral dari buku ini adalah jika hidup tak sesuai dengan target yang kita buat, bukan berarti nantinya kita tidak bisa bahagia. Seperti hidup yang dialami Sondra, begitu juga kita dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kau tak perlu mengambilnya kalau itu membuatmu tidak bahagia. (hlm. 59)
  2. Kematian adalah bagian alami dalam siklus kehidupan manusia. (hlm. 141)
  3. Ketika sesuatu yang buruk terjadi, kau selalu punya dua pilihan: membiarkan hal itu menghancurkan hidupmu atau membuat itu menjadi alasan untuk lebih kuat melanjutkan hidup. (hlm. 196)
  4. Tidak semua pria mau menceritakan kelemahannya pada seseorang, terutama jika kau wanita. (hlm. 199)
  5. Semua pria memiliki sisi seorang pangeran di dalam dirinya yang paling tersembunyi. (hlm. 201)
  6. Tidak ada gunanya menyesali yang sudah lewat. (hlm. 243)

Banyak juga selipan sindiran halusnya:

  1. Keluyuran di bar hampir tiap malam tak baik untuk kesehatan tabungan. (hlm. 10)
  2. Jangan pernah melakukan tindakan brutal. (hlm. 25)
  3. Di dunia ini, manusia memang paling sering berkhianat. (hlm. 29)
  4. Impian tak boleh tetap jadi impian. Bekerja ekstrakeras mewujudkan satu demi satu mimpi. (hlm. 48)
  5. Batas antara benci dan cinta lebih tipis daripada selembar tisu. Orang yang kau benci bisa berbalik jadi orang yang kau cintai selamanya. (hlm. 54)
  6. Keputusan bos tak selalu benar. (hlm. 64)
  7. Rata-rata manusia yang berpura-pura dirinya berpotensi hampir dapat dipastikan selalu berdalih bahwa mereka bekerja untuk mengembangkan diri, memperluas koneksi, dan bla bla bla. (hlm. 70)
  8. Kau lapar atau murka? (hlm. 79)
  9. Apa yang kalian rasakan sekarang hanya emosi sesaat. (hlm. 120)
  10. Memikirkan seseorang yang bahkan tak kau kenal bisa sangat menyakitkan. (hlm. 137)
  11. Aturannya adalah para pria tidak boleh terlihat cengeng di depan para wanita. (hlm. 199)
  12. Masa lalu tidak sebanding dengan apa yang kita miliki sekarang. (hlm. 247)
  13. Terkadang orang-orang merasa ada beberapa masalah pribadi yang tak harus diketahui orang lain, meskipun oleh sahabatnya sendiri. (hlm. 290)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Before 30

Penulis                                 : Nina Ruriya

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Editor                                    : Ruth Priscilia Angelina

Proofreader                       : Nur Aini Fajria

Desain sampul                   : Desy Setyowati

Terbit                                    : 2018

Tebal                                     : 304 hlm.

ISBN                                      : 9786020383972

2 thoughts on “REVIEW Before 30”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s