buku, resensi

REVIEW Nevermoor the Trials of Morrigan Crow

“Negeri Bebas adalah Negeri Bebas. Satu-satunya yang betul-betul merdeka. Negeri yang tak pernah menjadi bahan pelajaran tutor-tutormu karena mereka sendiri tidak tahu. Secara teknis, kami bukanlah bagian dari Republik. Tak ada yang boleh masuk tanpa undangan.” (hlm. 82)

Morrigan Crow, meskipun dia merupakan putri politikus terkemuka, Corvus Crow, mengalami kemalangan yang berkepanjangan. Dia disebut sebagai salah satu dari tiga ‘anak terkutuk’; pembawa sial bagi kotanyanya termasuk bencana-bencana yang kerap melanda kotanya itu. Gadis kecil berumur sepuluh tahun ini pun juga divonis akan meninggal saat berusia sebelas tahun. Tepatnya diramalkan akan meninggal saat tengah malam menjelang ulang tahunnya yang kesebelas.

Ayahnya Morrigan adalah kanselir Great Wolfacre, yang terbesar di antara keempat Negara bagian Republik Wintersea. Dia orang yang sangat sibuk serta penting dan kalaupun sudah pulang saat makan malam –yang jarang terjadi- dia biasanya terus bekerja sambil makan. Di kiri dan kanannya duduklah Kiri dan Kanan, kedua asistennya yang senantiasa hadir. Corvus sering memecat asisten dan memperkerjakan yang baru, jadi dia bahkan tidak repot-repot mengingat nama mereka.

Sedihnya lagi, Morrigan memiliki ibu tiri yang terlihat manis tapi berhati kejam terhadapnya, Ivy. Bagaimana tidak, ibu tirinya itu secara halus mengintimidasi Morrigan secara perlahan. Untuglah Morrigan punya nenek yang selalu membelanya. Salah satu sikap Ivy yang bikin kezel adalah nggak ada rasa empati terhadap Morrigan yang sedang menghadapi ramalan kematiannya menjelang ulang tahunnya yang kesebelas, malah mengumumkan jika dia sedang hamil. Dan dengan tanpa rasa belas kasihan kepada Morrigan mengibaratkan anak yang sedang dikandungnya itu seperti siklus kehidupan yang berputar; kelak yang lahir akan menggantikan yang mati (Morrigan) maksudanya. Arrggghhh…kok jahara banget sih ini ibu tirinya?!? 😥

Sebenarnya sikap Morrigan biasa saja, dia justru mengkhawatirkan kedudukan ayahnya yang berada di posisi penting di kota mereka. Karena cap kutukan Morrigan sudah melekat pada anaknya ini, secara tak langsung mempengaruhi pamor ayahnya di mata masyarakat.

“Mereka tidak mengejar kita, mereka mengejarmu. Dan, mereka tidak mengejarmu. Mereka memburumu. Mereka memburu semua anak terkutuk. Itulah sebabnya semua anak terkutuk mati.” (hlm. 83)

Tepat saat ulang tahun Morrigan, ketika sedang makan malam, seorang bernama Jupiter membawanya ke Nevermoor. Dan disinilah petualangan hidup Morrigan dimulai. Berada di Nevermoor bukan berarti hidupnya tanpa masalah, ada banyak tantangan yang harus dihadapinya. Di sini dia harus menyelesaikan beberapa tugas yang diperintahkan agar terpilih yang nantinya akan masuk Wundrous Society.

Ini adalah buku pertama dari trilogy yang ditulis oleh Jessica Townsend. Perpaduan antara kisah Harry Potter dan Hunger Games. Kita tunggu dua buku berikutnya 😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Nevermoor the Trials of Morrigan Crow

Penulis                                 : Jessica Townsend

Penerjemah                       : Reni Indardini

Editor                                    : Yuli Pritania

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Desember 2017

Tebal                                     : 464 hlm.

ISBN                                      : 978-602-385-357-1

1 thought on “REVIEW Nevermoor the Trials of Morrigan Crow”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s