buku, resensi

REVIEW Kekasih Terjauh

“Jogjakarta adalah kota yang menyenangkan untuk memulai setiap cinta yang diawali dengan dengan tatapan mata.” (hlm. 52)

Awalnya saya pikir cerita kisah antara Christal dan Farrel seperti kisah-kisah romance biasa. Pacaran, berantem, putus, selesai. Ternyata berbeda. Meski Dwitasari sudah menulis banyak buku dan beberapa bahkan sudah diangkat ke layar lebar, saya suka dengan gaya penulisannya di buku ini. Kisah cerita tidak hanya berpusat pada kehidupan Christal maupun Farrel semata, tapi juga urusan Christal dengan urusannya terhadap masalah keluarga, terutama papanya, semenjak mama telah meninggalkan mereka. Saya pikir pas baca sinopsisnya yang menggambarkan sosok papa Christal yang keras kepala, padahal setelah membaca isi buku ini sangat bertolakan belakang. Menurut saya, papa Christal amatlah sayang dengan keluarganya; istri dan anaknya. Papa Christal rela bekerja di luar kota berjauhan dengan anak istrinya justru demi membahagiakan dan bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mungkin wajar jika di awal Christal terkesan menyalahkan papanya atas meninggalnya mamanya, maklumlah Christal masih baru tamat SMA, masa-masa pancaroba umur dari remaja ke dewasa yang baru mengenal pahit manisnya kehidupan.

“Kalau kamu kayak gini terus, kasihan Mama. Nanti Mama kepikiran. Perginya enggak tenang. Diikhlaskan saja. Tuhan itu enggak pernah ngasih cobaan yang enggak bisa kita hadapi. Lapangkan semuanya, Nduk. Jadi orang Jawa itu harus banyak ikhlas, Nduk.” (hlm. 5)

“Papa enggak tau, di saat-saat terakhir Mama, Mama cuma pengin lihat Papa. Tapi, sayangnya, Papa enggak ada di rumah sakit saat itu. Padahal aku yang setiap hari ada di rumah sakit, aku yang selalu ada buat Mama, dan aku yang selalu nemenin Mama. Tapi, kenapa saat dijemput Tuhan, Mama justru manggil nama Papa? Bukan nama aku? Papa bisa jawab? Bisa?” (hlm. 15)

Yang saya suka dari novel ini adalah menggambarkan nuansa Jogja banget. Terutama dari sisi kuliner. Lewat tokoh Bhisma si fotografer di tempat kerja papanya Christal yang memang konsen di bidang travel, kita akan menelusuri berbagai macam kuliner khas Jogja. Ada gerai Coklat Monggo, II Tempo Del Gelato, Mister Burger, bahkan gudeg Yu Jum yang terkenal itu pun masuk di sini. Bhisma juga menjadi salah satu kontributor di salah satu akun instagram yang fokus pada kuliner di Jogja. Ngomong-ngomong bahas Bhisma, saya jadi teringat seseorang yang pernah berprofesi sebagai fotografer seperti Bhisma ini x)) #NamunSayangTidakBerjodoh

“Aku tuh kalau lagi sedih atau stres pasti milih buat makan banyak. Senengin perut. Supaya lupa sama sedihnya.”

“Lo sih emang makannya banyak. Mau sedih, mau stres juga, makannya tetap banyak.” (hlm. 137)

Satu kekurangan dari buku ini. Padahal kan ya udah dapet banget nuansa Jogjanya, tapi sayang justru tidak diceritakan detail kampus-kampus para tokohnya yang memang kuliah di tempat yang berbeda. Misalnya, dari sisi Christal, harusnya penulisnya bisa mendeskripsikan kampus UGM secara detail. Padahal jika itu dilakukan penulis, tentu makin menarik minat pembaca, siapa tahu setelah membaca buku ini jadi tertarik buat kuliah di UGM 😀

Novel ini cocok dibaca remaja yang beralih dewasa karena di umur-umur segitu peralihan memasuki dunia nyata yang mulai rumit seperti yang dialami Christal ini. Masalah cinta dan keluarga menjadi hal yang menarik bisa ita simak dalam buku ini.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Perpisahan selalu hadir saat kamu tidak siap untuk kehilangan. (hlm. 1)
  2. Sering kali apa yang kamu mau, tidak dapat kamu miliki. Sehingga kamu hanya bisa mengikhlaskan hati, mencoba untuk tidak lagi merasakan patah hati untuk kedua kali. (hlm. 7)
  3. Saat kehilangan, kamu sibuk menangisi yang pernah terjadi dan yang kemudian pergi. (hlm. 17)
  4. Ketika lelah menghadapi dunia, yang kau butuhkan adalah dia memelukmu dengan sabar dan siap mendengar keluh kesahmu. (hlm. 23)
  5. Tidak ada yang lebih menyakitkan selain ditinggalkan di saat kamu masih ingin tetap bersama. (hlm. 29)
  6. Untuk perjalanan terbaik kamu juga butuh perpisahan agar kamu menyadari betapa indahnya sebuah pertemuan baru. (hlm. 35)
  7. Di dunia ini pasti ada pertemuan yang kau benci karena di awal pertemuan segalanya terasa begitu berat dan menyakitkan. (hlm. 43)
  8. Tidak segala hal bisa berjalan sesuai keinginanmu, sehingga kamu terpaksa berjuang sekuat yang kamu bisa. (hlm. 74)
  9. Luka ini memang tak berdarah, namun mengapa sakitnya terus saja membuncah? (hlm. 142)
  10. Dalam percakapan hangat bersama seseorang selalu akan kau temukan harapan. (hlm. 215)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Lo manusia biasa, bukan tuan putri. Enggak usah lebay segala minta dibangunin kalau bisa bangun sendiri. (hlm. 10)
  2. Mungkin harus masukin koin dulu di badannya supaya dia ada upah buat ngomong. (hlm. 57)
  3. Pria pendiam seringkali memicu rasa penasaran. Pria pendiam punya rahasia yang begitu sulit untuk diselami. (hlm. 59)
  4. Amarah tak berujung selalu mengantarkanmu pada kegilaan yang tidak direncanakan oleh akal sehat. (hlm. 79)
  5. Kalau dendam sama orang nggak boleh sampai segitunya. (hlm. 81)
  6. Kamu sering kali benci penilaian orang tentang dirimu, penilaian yang selalu salah tentang dirimu. (hlm. 85)
  7. Perawan bangun tidur jam dua belas siang? Dipatok ayam lho rejeki lo! (hlm. 94)
  8. Mbaknya ini cantik loh. Cemberut terus, cantiknya bakalan hilang. (hlm. 105)
  9. Kalau suka sama orang jangan ngomong cinta sama dia, tapi ngomongnya pakai tindakan, pakai makna tersirat. (hlm. 107)
  10. Makanan itu enggak boleh ditolak dan enggak boleh dibuang-buang. (hlm. 108)
  11. Cewek itu kalau marah berarti sayang. Kalau dia udah diem dan enggak peduli, tandanya dia udah enggak sayang lagi. (hlm. 121)
  12. Kamu perlakukan aku bagai komidi putar, setiap kali kamu bawa aku terbang tinggi, kaujatuhkan aku ke bawah lagi. Merasakan luka hati lagi. (hlm. 123)
  13. Ternyata makan bisa bikin sedih kita hilang, ya. (hlm. 153)
  14. Apakah jatuh cinta selalu berarti kau harus terluka dan patah hati lagi? (hlm. 167)
  15. Nyaman itu jebakan. Belum tentu dia seutuhnya sayang sama lo. Kalao ternyata dia cuma jadiin lo pelarian, lo bisa apa? Apa lo tetap mengangap dia jadiin lo tujuan? (hlm. 179)]
  16. Kalau jalan makanya jangan sambil liat HP, nanti nabrak orang. (hlm. 199)
  17. Pacar orang itu enggak boleh megang-megang tangan cewek lain. Kalau udah jadi cowok orang, jangan pernah deketin cewek orang lain lagi. (hlm. 207)
  18. Jangan kebanyakan nipu cewek deh lo. Kena karma tau rasa lo. (hlm. 208)
  19. Cewek itu kalau ngomong enggak apa-apa pasti ada apa-apanya. (hlm. 225)
  20. Lebih baik terlambat daripada enggak sama sekali. Lebih baik terlambat jadian sama kamu daripada nggak sama sekali dapetin hati kamu, kan? (hlm. 255)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Kekasih Terjauh

Penulis                                                 : Dwitasari

Penyunting                                         : Jason Abdul

Perancang sampul & isi                  : Abdul M.

Penerbit                                              : PT Falcon

Terbit                                                    : Juli 2018

Tebal                                                     : 276 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-6714-29-9

1 thought on “REVIEW Kekasih Terjauh”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s