buku

REVIEW Tanah Senyum

“Abu-abu bukanlah hitam, apalagi putih. Dia berada di tengah-tengah. Baur, kabur, seperti mata rabun tanpa lensa – entah dari mana dan ke mana perginya. Sama halnya dengan anak abu-abu, mereka adalah orang-orang yang tidak tahu apakah harus terus hanyut diombang-ambing dalam hitam atau menarik diri dan bungkam dalam putih.” (hlm. 64)

Membaca kumpulan cerpen yang ditulis Tama ini mengingatkan saya akan cita-cita di masa lalu saat masih kuliah, punya pemikiran sama seperti Tama ini; menuliskan cerita berupa cerpen atau novel dengan mengambil setting beraroma Lampung. Waktu itu sudah pernah buat novel seri bersambung via notes facebook, sepertinya baru sampe chapter 9 atau 10 mandek. Trus, pernah beberapa kali menulis cerpen beraroma Lampung, dan pernah berniat kelak bisa dibukukan. Tapi akhirnya bernasib sama, mandek juga x))

Maka, patut diacungi jempol untuk Tama karena untuk remaja seumurannya sudah menulis cerpen yang tak sekedar menulis, tapi ada unsur budaya diselipan tiap cerpen yang ditulisnya dalam buku ini. Bahkan, tulisan-tulisan dalam buku ini ditulis Tama saat berumur 15-16 tahun. Sungguh wow, apalagi tak banyak penulis lokal yang mengambil cerita budaya sendiri.

Antara Sunny dan Lima Daun Akasia menjadi pembuka dalam kumpulan cerpen yang ditulis Tama ini. Ikatan batin antara Sunny  dan Pohon Akasia yang ‘dianiaya’ Mentari, Kakaknya Sunny, mengingatkan saya akan kisah pohon yang menjadi saksi hidup cinta Kukila yang ditulis Aan Mansyur. Bahwa tanaman pun juga memiliki ‘nyawa’.

Kedua, ada cerpen Salah Tangkap. Di sini penulis menyelipkan filosofi bagi warga Lampung: Piil Pesenggiri. Salah satu pilar yang menopangnya adalah Sakai Sembayan yang berarti tolong menolong antar sesama masyarakat di Lampung.

Sebenarnya tidak hanya bercerita dengan aroma budaya Lampung, dalam cerpen Hidup Dikandung Adat bersetting Bromo, mengisahkan budaya Jawa. Jika dikembangkan menjadi sebuah novel, mungkin ceritanya bisa menyamai Astral Astria-nya Fira Basuki yang menceritakan anak gimbal dengan setting Dieng.

Sedangkan Senandung Pengundang Hujan, kisah si ikan yang sebenarnya adalah kecebong, mengingatkan kisah Nemo yang memiliki sirip yang tak sempurna. Bedanya, jika Nemo pergi jauh dengan sirip cacatnya itu dan bertemu dengan ikan baru saat perjalannya itu, Popo diusir halus oleh ikan-ikan lainnya karena dianggap berbeda dan aneh. Sebenarnya ini bermakna semiotika. Popo yang terlihat aneh sebenarnya memiliki keahlian bersenandung yang memancing hujan, yang membuat tempatnya subur karena tidak pernah kekurangan air hujan. Seperti halnya kita, sebagai manusia kadang dianggap aneh oleh masyarakat sekitar karena kita bebrbeda dengan lainnya, sementara sebenarnya kita punya banyak kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Begitu nasib Popo.

Ada juga Laksana Kencana Wungu yang bercerita tentang Ayu Kencono, guru Seni Budaya. Wanita tua itu sebenarnya adalah srikandi pada masanya. Masih melekat jelas masa-masa berjuang untuk negara tercinta kita ini. Kisah Ayu Kencono ini, mengingatkan saya zaman SD akan simbahnya tetangga yang tiap ngomong selalu menceritakan zaman perjuangan. Beliau menganggap kita masih hidup di zaman penjajahan Belanda. Susah move on gitu deh. Maklumlah, usia-usia beliau adalah generasi yang menjadi saksi mata perjuangan bangsa kita kala itu.

Masih ada cerita lainnya, termasuk Tanah Senyum yang dipilih menjadi judul cerita di kumpulan cerpen ini. Dari judulnya, kita akan melihat makna senyum dari sudut pandang yang lain.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Pagi esok adalah cerita. Semua berawal dari pendaran matahari yang terik dan kokokan ayam jantan bersahut-sahutan membangunkan orang-orang dari tidur nyenyaknya. (hlm. 9)
  2. Pemberian itu tidak didasari oleh besar atau kecilnya barang. Walaupun kita memberikan sesuatu yang sederhana, yang terpenting kita memberikannya dengan tulus dan ikhlas. (hlm. 58)
  3. Hidup memang pilihan. (hlm. 110)

Ada juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Memangnya putih adalah warna? Putih, warna yang menggambarkan kesucian. Suci bak bidadari berselendang. (hlm. 44)
  2. Teman ada di saat merah, kuning, hijau, bahkan hitam sekalipun. (hlm. 107)
  3. Kau tahu apa yang lebih menyebalkan daripada memiliki nama yang aneh? Mendengarkan celotehan kosong sambil terus berlari mengejar badai sirkus. (hlm. 127)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Tanah Senyum

Penulis                                 : Muhammad Anugrah Utama

Desain cover                      : Sandi, Cinta

Layout                                  : Team Aura Creative

Editor                                    : Rahmatul Ummah Assaury

Humas                                  : Eskul Jurnalistik Ar Raihan Islamic School

Penerbit                              : Aura Publishing

Terbit                                    : Juli 2018

Tebal                                     : 137 hlm.

ISBN                                      : 978-602-5940-09-5

2 thoughts on “REVIEW Tanah Senyum”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s