buku, resensi

REVIEW Tinderology

“Apaan sih, ini? Lo mau ngenalin gue sama laki-laki model begini?”

“Itu namanya Tinder.”

“Apa lagi itu?”

“Semacam dating application gitu deh, Wi. Anak-anak lantai gue lagi pada iseng mainin ini. Seru katanya.”

“Fa, gue nggak sehopeless itu buat dapetin cowok yang gue mau! Terus ini mainnya gimana?”

“Nah, penasaran juga kan lo? Ini lumayan aman, jadi lo bisa liat dulu profil cowoknya. Ntar ketahuan common friendnya. Ini jaraknya udah gue atur sekitar 10 kilometer aja. Jadi, ntar nggak perlu jauh-jauh amat kalau mau kopi darat.” (hlm. 5-6)

ARAWINDA. Sehari-harinya bekerja di sebuah perusahaan dengan jam terbang tinggi, kerja lembur bagai kuda. Belum lagi bosnya yang memiliki sebutan Madam British sering memberikan tugas dadakan bahkan di luar jam kerja. Bekerja di dunia PR mau tak mau membuatnya harus bis beramah-tamah dan ‘bawel’ tentang apa pun. Dia harus dituntut up to date dengan segala berita yang lagi panas-panasnya (minus berita selebrita yang kayak sinetron), juga perkembangan di bidang kesehatan, juga gaya hidup karena dia memang berada pada tim healthcare, consumers, and lifestyle. Seorang PR seperti Awi nggak hanya dituntut baik dalam menyampaikan sebuah berita, membuat press release dan mengundang media tapi juga whole communication strategy, jadi apa pun yang dikomunikasikan akan tersampaikan dengan baik dan tidak salah kaprah.

“Apa yang dijanjikan dari sebuah pernikahan?”

“Kebahagiaan? Bagaimana jika dihadapkan pada sebuah perceraian? Menghabiskan hidup bersama? Ibadah? Biar mau ngapa-ngapain halal? Menyempurnakan agama? Pertanyaan-pertanyaan itu yang belakangan mengganggu gue Fa.”

“Lo nakut-nakutin gue ya?”

“Nggak Fa,lo udah memutuskan berarti lo udah menemukan jawaban itu. Sementara gue belum.” (hlm. 223)

Dari judulnya aja kita bisa menebak bahwa tema buku ini adalah perjodohan lewat dunia maya yang sekarang lagi booming dipakai generasi milenial. Jangankan dunia maya, dunia nyata aja dijodohin kadang bisa random dapetnya, belum tentu sesuai ekspetasi, apalagi dunia maya macam tinder gini x))

Tapi beruntungnya Awi yang awalnya dipaksa Fala mengikuti perjodohan ala tinder bisa bertemu Rajiman a.k.a Mas Aji yang paket komplit banget; wajah di atas rata-rata, kerjaan mapan, bawaannya pun Ducati Scrambler. Jadi, jangankan cewek dewasa kayak Awi yang meleleh liat Aji dengan ducatinya, murid-murid cewek di sekolah pun kalo liat murid cowok yang bawa motor gede ke sekolah macam ninja atau vixion aja udah bikin meleleh, apalagi ducati scramble kayak punya Aji ini, wkwkwk… x))

Hubungan mereka sebenarnya mengalir apa adanya, bahkan bisa dibilang lancar. Aji ini tipikal cowok-cowok kulkas, tapi nggak dingin-dingin amat sih sebenarnya. Kalau di chat, langsung respon. Tapi adakalanya tiba-tiba ngilang nggak ada kabar. Karena memang pekerjaannya yang cukup menyita waktu. Sementara Awi ini tipikal cewek yang kudu dapet perhatian, bisa galau kalau sehari dua hari nggak dapet kabar dari Aji, galaunya pun di jadiin status di twitter. Ini sih kayak ababil yaa… x)) tapi makin mendekati ending bukunya, kita jadi maklum kenapa Awi bersikap seperti itu, pernah ada luka di hatinya yang bertahun-tahun mengendap.

Penulis tidak hanya fokus menonjolkan dua tokoh utama ini saja, tapi banyak tokoh sampingan lainnya yang mendukung kisah diantara mereka: teman-teman kerja Awi, sahabat Awi dan juga teman-teman kerja Mas Aji. Paling favorit sih Pras, anak buahnya Aji x))

Membaca kisah Awi dan Aji ini sungguh memasuki dunia perhaluan akut. Sungguh bikin gemes-gemes gimana gitu x)) tapi penulisnya sudah mengingatkan di pengantar buku ini jika nggak semua cowok di Tinder itu kayak Mas Aji. Karena kita juga bakal ketemu yang jahat. Mas Aji ini hanya satu dari seribu x))

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Ganteng-ganteng nyari pacar cantik satu aja kok, nggak bisa! (hlm. 13)
  2. Cowok cakep terbagi menjadi dua jenis. Kalau nggak homo, ya brengsek. (hlm. 28)
  3. Jujur aja, jujur itu nggak dosa. (hlm. 42)
  4. Pelajaran PDKT no. 52: kita nggak boleh langsung mengiakan, kelihatan sekali kita berharap. (hlm. 46)
  5. Kita ini budak korporasi. Kalau nggak rajin olahraga, tumbang kita. (hlm. 48)
  6. Anak kecil sok tahu pacaran. Sekolah aja yang bener! (hlm. 59)
  7. Nyenengin kamu itu gampang ya. Asal perut kamu seneng, kamu ikutan seneng. (hlm. 100)
  8. Tuhan memang satu, kita yang tak sama. (hlm. 105)
  9. Jangan pada sirik, karena sirik tanda tak mampu. (hlm. 107)
  10. Jangan cantik-cantik, nanti sainganku tambah banyak. (hlm. 111)
  11. Kalo cewek butuh kepastian, ya ditanyainlah ke cowok. Lo pikir cowok ngerti maunya cewek yang kalo ditanya jawabnya ‘pikir aja sendiri’. (hlm. 115)
  12. Segala yang diawal dengan tidak baik, pada akhirnya akan berakhir tidak baik juga, kan? (hlm. 116)
  13. Kenapa aroma mie bisa menggoda iman? (hlm. 128)
  14. Mana tega cowok nganggurin cewek cakep macam gue. (hlm. 133)
  15. Jadi begini rasanya masakan yang kamu masak dilahap dengan nikmat. Cukup membuat perutmu kenyang. (hlm. 136)
  16. Ibarat buku, kamu itu buku diary. Terkunci. Nggak semua orang bisa baca kecuali kamu yang memberikan kuncinya. Sementara aku itu buku yang ada di etalase, siapa saja bisa membaca. Itulah perbedaan kita. Kamu bisa dengan gambling tahu mau aku apa. Tapi aku nggak. (hlm. 188)
  17. Hubungan jangan buat mainan. (hlm. 268)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Tinderology

Penulis                                 : Larasaty Laras

Editor                                    : M. L. Anindya Larasati

Penerbit                              : PT Elex Media Komputindo

Terbit                                    : 2018

Tebal                                     : 341 hlm.

ISBN                                      : 978-602-04-8429-7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s