Posted in buku, resensi

REVIEW If i Were You

Berhenti jadikan luka kamu sebagai tolak ukurnya. Karena kita nggak pernah tahu seberapa besar kesanggupan orang lain untuk menahan beban. (hlm. 157)

LANGIT. Mungkin semua itu bukan karena kenangan, melainkan cinta. Langit, seharusnya sudah tahu, tidak ada pengecualian dalam cinta. Seperti yang terjadi pada orang tuanya. Akhirnya, cinta akan memberikan rasa sakit sebelum menghancurkan hati hingga serpihan terkecil. Keheningan selalu menyambutnya, membuat Langit menyadari bahwa hidup benar-benar tidak memberinya pilihan. Sejak awal, dia memang ditakdirkan untuk ditinggalkan. Dia ditakdirkan untuk berteman sepi. Seorang diri.

“Dari luar, keluarga mereka kelihatan sempurna. Hidup mereka berkecukupan. Tapi, ternyata mereka nggak bahagia. Kesempurnaan itu nggak jadi jaminan mereka bisa bahagia. Di rumah mereka nggak ada cinta. Semua uang yang mereka punya nggak bisa bawa cinta ke rumah mereka. Mungkin masalahnya beda, mungkin juga sama tapi bukan cuma lo Langit. Ada banyak anak di luar sana yang punya keluarga nggak sempurna. Ada banyak yang ngerasa nggak bahagia. Lo nggak sendirian.”

“Gue sendiri. Pelangi gue pergi…” (hlm. 64)

LIV. Orangtuanya selalu sibuk dengan pekerjaan masing-maisng dan pulang cepat bisa dihitung dengan jari. Bahkan dia sampai mengidamkan seperti apa rasanya memiliki ibu yang selalu memasakkannya makan malam. Seumur hidupnya, Liv tidak pernah merasakan masakan rumah. Ya, kecuali saat dia berkunjung ke rumah mendiang neneknya dulu. Meski sudah terbiasa, ternyata rasanya masih cukup mengganggu. Orangtuanya memang jarang berada di rumah. Mereka biasanya bertemu saat sarapan, sedangkan ketika malam hari, mereka baru akan sampai di rumah saat jam hampir mencapai dini hari.

“Lo tahu penyebab Liv sedih?”

“Sahabat lo itu bakal balik kayak biasa besok.”

“Apa?”

“Liv cerita karena keluarganya bahagia. Jadi, seharusnya lo nggak perlu khawatir kayak gini. Berlebihan.”

“Gue nggak tahu kehidupan macam apa yang lo punya, tapi lo salah besar. Lo salah nilai sahabat gue. Live ceria bukan karena keluarganya bahagia, tapi justru buat nutupin kecacatan keluarganya.” (hlm. 73)

Dari judul dan covernya, saya sudah naksir buku ini. Manis sekali. Dari awal baca, nuansa putih abu-abunya sungguh terasa. Tentang masuk sekolah ajaran baru di mana hari pertama selalu bakal rebutan bangku yang menjadi penentu nasib pelajar untuk setahun ke depan bahkan sampai lulus sekolah bagaimana rasanya menerima pengumuman masuk kuliah yang diidamkan; diterima atau ditolak.

Bukan sekedar kisah menye-menye antara sepasang remaja yang jatuh cinta. Lebih dari sekedar itu. Konflik keluarga justru lebih menonjol, baik dari sisi Liv maupun Langkit. Mereka sama-sama korban broken home dengan kasus yang berbeda. Langit tampak dingin dengan lingkungan sekitar, Liv justru kebalikannya, menutupi masalah keluarganya dengan bersikap ceria di sekolah. Karena saya bekerja di sekolah, di kehidupan nyata memang akan kita temukan tipe murid seperti mereka: Langit yang dingin atau seperti Liv yang ceria. Sama-sama memiliki masalah keluarga. Masa remaja adalah masa-masa paling riskan dalam menyikapi hidup. Apalagi umur mereka belum seharusnya memikirkan hal berat yang menempel di pundak mereka. Buku ini cocok sekali dibaca remaja, terutama yang sedang mengalami korban broken home. Para tokoh memang tidak sempurna, masing-masing memiliki kelebihan tapi juga kelemahan. Pesan moral yang disampaikan buku ini lewat para tokohnya adalah bahwa dalam hidup kita selalu berhadapan dengan masalah, dan diselesaikan meski menyakitkan, daripada lari dalam masalah tentunya tidak akan menyelesaikan masalah.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Bahwa ada orang-orang dalam hidup kita yang akan selalu kita harapkan tapi nggak akan pernah sesuai harapan. (hlm. 116)
  2. Definisi cinta bagi setiap orang itu beda. (hlm. 129)
  3. Seluruh definisi tentang cinta terlalu rumit bagiku. Namun ketika menatapmu, aku tahu aku tidak memerlukan seluruh definisi itu. (hlm. 153)
  4. Kita nggak bisa ngukur beban siapa yang paling berat. Begitu juga dengan luka hati. Dalamnya lautan bsa diukur, tapi hati manusia siapa yang tahu? (hlm. 156)
  5. Jangan marah. Marah nggak bisa menyelesaikan masalah. (hlm. 157)
  6. Hadirmu dalam hidupku lebih menyerupai amukan angin, yang anehnya tidak membuatku cemas, justru membuat tarikan napasku semakin mudah. (hlm. 167)
  7. Kamu membuatku mengerti, warna abu-abu tidak hanya melambangkan rasa sedih. Sebab dia pun menggambarkan sebuah kompromi. (hlm. 183)
  8. Ada beberapa luka yang lebih baik dipasrahkan pada waktu proses kesembuhannya. (hlm. 186)
  9. Apa pun masalahnya jangan takut. Kalian nggak sendirian. Jangan lupa kalau dari sekian banyak orang atau hal yang menyakiti kalian di dunia ini, pasti ada seseorang yang peduli. (hlm. 190)
  10. Pelaku bunuh diri hanya butuh seorang pendengar. Seseorang yang sungguh peduli. Mereka bukan pengecut. Mereka hanya tidak tahu bahwa masih ada jalan lain untuk hidup. Mereka hanya lupa bahwa ada banyak hal dalam hidup yang terlalu berharga untuk ditukar dengan kematian. (hlm. 192)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Makanya mata jangan taro di pantat. (hlm. 7)
  2. Apa pun dirayain, pantes uang jajan lo habis terus. (hlm. 7)
  3. Jangan kepo. Bisa-bisa lo yang kena masalah. (hlm. 11)
  4. Jika memang hanya hancur yang bisa menyatukanku dengamu, maka aku tak lagi menginginkan utuh. (hlm. 21)
  5. Betapa hebat kemampuan sebuah kemenangan untuk menghancurkan. Membuat orang yang mengingatnya tidak berdaya, terkurung dalam luka. (hlm. 24)
  6. Lebih baik hidup dalam kebohongan. Karena di sana, selamanya aku akan tetap memiliki kamu. (hlm. 25)
  7. Karena orang yang paling kamu cintai mampu menyakitimu hingga bagian terdalam hati. (hlm. 47)
  8. Kamu berhasil menyihir suasana ramai emnjadi siksaan sebab aku akan terus mencari sosokmu di sana, tanpa pernah menemukan. (hlm. 59)
  9. Jangan percaya apa pun. Atau siapa pun. (hlm. 69)
  10. Tak peduli alasan ataupun caranya, sebuah kebohongan tetaplah kebohongan. Dan, luka serta kecewa yang akan menjadi jawaban. (hlm. 75)
  11. Tolong jangan berhenti lari. Berhenti menghindar. Karena semakin lo lari dan menghindar, rasanya bakal semakin sakit. (hlm. 117)
  12. Tawa tidak seharusnya menyembunyikan tangis, seperti cinta yang tidak seharusnya menyakiti. (hlm. 135)
  13. Orang sakit nggak boleh dibentak-bentak loh. (hlm. 136)
  14. Mungkin benar, ada kalanya perpisahan menjadi satu-satunya alasan untuk kembali merasa bahagia. (hlm. 146)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : If i Were You

Penulis                                                 : Nureesh Vhalega

Penyunting                                         : Nurul Cahaya

Tata letak & desain sampul          : Astrid Citralokam

Penerbit                                              : Lumiere Publishing (Imprint CV Pustaka Kendra)

Terbit                                                    : 2018

Tebal                                                     : 204 hlm.

ISBN                                                      : 978-602-52962-0-8

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s