Posted in buku, resensi

REVIEW Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Kita sering menyangka telah terbangun, padahal sebenarnya kita masih bermimpi. Namun, kita tahu pasti bahwa kita terjaga ketika kita tidak dalam keadaan tertidur. (hlm. 35)

PETER tidak pernah menemui kesulitan dalam membedakan antara imajinasi dan kenyataan. Masalahnya adalah membedakan antara kenangan mengenai khayalan atau kenangan mengenai kenyataan. Itu benar-benar masalah lain. Peter selalu tahu perbedaan antara apa yang benar-benar ia lihat dan apa yang dia lihat dalam imajinasinya. Tetapi perlahan-lahan, dengan berlalunya waktu, memisahkan antara kejadian nyata dari pengalaman yang ia ciptakan sendiri bisa sangat sulit. Ingatannya tidak memiliki ruang terpisah untuk menyimpan hal-hal yang pernah lihat dan dengar, dan hal-hal yang begitu saja ia khayalkan. Ia hanya memiliki satu memori untuk menyimpan kesan sekaligus ingatan masa lalu; dalam kesatuan yang mengagumkan, keduanya berpadu membentuk apa yang kita sebut kesenangan. Meskipun demikian, dia terkadang yakin bahwa ingatan ia tidak bekerja dengan baik, ketika ia mencampuradukkan kedua kategori itu. Ini benar-benar deskripsi yang tak sempurna. Jika ia mengingat sesuatu seolah-olah benar-benar terjadi, padahal kenyataannya itu hanyalal sebuah mimpi, itu karena ingatan ia terlalu baik. Kemampuan ia mengingat berbagai kejadian yang hanya berlangsung dalam benaknya sendiri selalu ia anggap sebagai kemenangan dari ingatan.

Dalam situasi tertentu, kehadiran manusia hidup akan dirasa sama menakutkan dengan hantu, terutama dalam terowongan hantu. Hantu-hantu menghuni imajinasi; jika hal yang nyata memasuki imajinasi, itu akan sama menakutkannya seperti jika sejumlah sosok khayalan mendadak muncul dalam kehidupan nyata. (hlm. 35)

Ia terus menjalani hidup dengan menyimpan perasaan bahwa ia telah melupakan sesuatu yang sangat penting. Sepertinya, sepanjang hidupnya berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengingat sebuah peristiwa pada saat ia masih kecil. Tetapi kenangan itu tidak sepenuhnya terkubur, ia tetap berenang-renang di kedalaman yang gelap di bawah lapisan tipis es yang ia gunakan untuk menari. Begitu merasa santai dan mencoba mengingat hal yang ingin ia lupakan itu, sebuah gagasan yang hebat muncul dan dia mulai menganyam cerita-cerita baru.

Kesepian dan kerinduan adalah dua sisi mata uang yang sama. (hlm. 21)

Ketika beranjak dewasa, dia tumbuh sebagai laki-laki pada umumnya yang masih menikmati cinta; dari satu perempuan ke perempuan lainnya. Saya teringat perkataan seorang teman, bahwa se-playboy apa pun laki-laki, suatu saat akan tunduk hanya pada satu perempuan bahwa rela merangkak demi mendapatkannya. Begitu pula dengan Peter, hanya dengan Maria hidupnya merasa klik. Sayangnya Maria justru meninggalkannya. Padahal hampir segala rahasia (termasuk cerita-cerita yang selama ini berasal dari idenya) hanya kepada Maria ia bagikan. Maria-lah satu-satunya yang mampu mengidentifikasinya sebagai Laba-laba. Peter tidak pernah menceritakan Maria kepada klien-kliennya, begitu pula sebaliknya. Jadi dipikirnya apa yang dia lakukan selama ini tidak akan ada yang bocor.

Dari semua karya yang ditulis oleh penulis yang berasal dari ide di kepalanya, semua ia fotokopi dan diarsipkan. Bahkan dia tandai siapa saja yang telah membeli idenya dan berapa harganya. Baginya, karya sastra tidak harus selalu memperdebatkan masalah. Karya sastra diharapkan memberikan inspirasi yang menyentuh hati. Mungkin zaman dulu, membeli ide orang lain adalah aib bagi seorang penulis. Tapi belakangan, banyak kita ketahui bahwa banyak penulis di masa kini bahkan memiliki asisten yang tugasnya tak hanya mencarikan ide cerita bahkan menggantikan menulis. Yang lebih modern, mengurusi akun sosmed dan membalas email-email yang masuk di si penulis. Epiknya lagi, kini banyak orang-orang ternama memakai jasa ghost writer. Biasanya yang paling sering menggunakan adalah para politikus, tokoh agama, dan bahkan tokoh pendidikan. Realitanya sih memang juga banyak yang begitu… x))

Bagi Peter, sungguh menyenangkan melihat para penulis menggarap semua gagasan yang ia suapkan kepada mereka, begitulah kenyataannya. Dia punya fungsi, dan dia harus merasa berfungsi. Tetapi dia juga harus punya sesuatu untuk dapat hidup, ia harus memastikan untuk mendapatkan bagian keuntungan dari bisnis yang semakin lama semakin bergantung pada usahanya.

Sungguh menyakitkan jika seseorang merasa tidak dicintai. (hlm. 30)

Seperti halnya Dunia Cecilia, ini adalah salah satu buku Jostein Gaarder yang susah ditemukan selama ini. Dan untuknya cetak ulang dengan cover baru. Entah karena fontnya yang terlalu kecil dan lumayan rapat-rapat jarak paragraph satu dengan yang lainnya, ditambah lagi cerita kali ini sedikit sekali percakapan karena didominasi penjabaran, saya merasa lelah saat membacanya dibandingkan buku-buku Jostein Gaarder lainnya x))

Keterangan Buku:

Judul                                     : Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Penulis                                 : Jostein Gaarder

Penerjemah                       : A. Raharti Bambang

Penyunting                         : Andityas Prabantoro

Proofreader                       : Dina Savitri

Penerbit                              : Mizan

Terbit                                    : Juni 2015, Edisi Kedua Cetakan Satu

Tebal                                     : 259 hlm.

ISBN                                      : 978-979-433-887-2

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s