buku, resensi

REVIEW Pertanyaan Kepada Kenangan

Kenangan selalu saja datang pada tempat dan waktu yang salah, tetapi kita sama sekali tidak boleh menyalahkannya, menyalahkan waktu, dan menyalahkan diri sendiri, kita hanya perlu mengalahkannya. (hlm. 1)

LAMBA DONDI, RINAILAH RINDU mengenangnya. Mereka pernah saling mencintai, berjanji tentang banyak hal. Mereka akan saling membahagiakan, dan tentu mereka telah siap untuk menikah. Namun, hari itu semua berubah, semua yang di luar dugaan mereka terjadi begitu saja dan meruntuhkan rencana demi rencana yang bersusah payah mereka bangun. Mereka batal menikah karena adat. Lamba meninggalkan Rinai dan Rinai dilukainya karena dia orang Toraja yang patuh. Dan membuat Rinai susah memaafkannya adalah Lamba tidak merasa bersalah.

Ini adalah buku kedua serial dari Indonesia yang diterbitkan dari GagasMedia yang saya baca. Buku pertama ada novel Di Bawah Langit yang Sama yang ditulis oleh Helga Rif yang kental akan nuansa adat Bali. Sedangkan di buku ini kita akan diajak mengenal budaya Makassar dan Toraja.

“Tidak boleh ada upacara kesenangan seperti pernikahan sebelum upacara kedukaan digelar. Mayat papamu belum diupacarakan, belum dirambusolo, pantang jika kamu langgar.” (hlm. 24)

“Aku tidak terlalu paham adat keluargamu. Lam, kupikir tidak akan serumit ini. Cinta terhalang adat, konyol sebenarnya, tapi aku menghargai keluargamu dan adat yang kalian junjung.”

“Aku ngerti kamu culture shock kayak gini, Nay. Tapi memang, rambu solo sangat sacral bagi keluargaku. Butuh waktu bertahun-tahun menyiapkan acara ini, dengan biaya yang tidak sedikit, ratusan bahkan miliaran duit. Mustahil aku minta hak buat nikah sebelum aku melaksanakan kewajibanku me-rambu solo papa.” (hlm. 26-27)

Membaca kisah rumit antara Rinai dan Lamba karena masalah kewajiban menunaikan adat, mengingatkan saya akan beberapa tahun lalu. Ada seorang teman yang sesama sukunya mengalami beban yang cukup berat. Temanya teman itu (agak jauh ya) harus menanggung biaya kematian kakeknya. Jadi gajinya habis hanya untuk menutup utang keluarga. Saya pun jadi mikir, itu masih kakeknya, lha nanti kalo orangtuanya pun meninggal, apakah beban biaya kematiannya juga ditanggungnya?!? Kasihan sekali. Umurnya sebenarnya masih muda, tapi terlihat sepuluh tahun lebih tua dari umur sebenarnya. Mungkin efek kebanyakan menanggung beban keluarga 😥

Lamba dalam buku ini sih masih bagus nasibnya dibandingkan temannya teman yang saya ceritakan itu. Meski ia harus berpisah dengan Rinai, dan konsenstrasi berusaha mengumpulkan biaya pemakaman ayahnya, setidaknya beberapa tahun ke depan Lumba memililiki bisnis yang cemerlang. Harusnya dari awal cerita ke Rinai untuk bersabar menunggunya.

Dari sisi Rinai, putusnya hubungannya dengan Lamba memberikan dampak trauma kepadanya. Dulu ayahnya meninggalkan ibunya, dan kini nasib malang menimpa dirinya. Beruntung Rinai memiliki sahabat sejak kecil, WANUA yang ternyata memendam rasa kepadanya bertahun-tahun.

“Saya tidak mau bikin kesalahan lebih dari sekali, cukup kau direbut Lamba, dan kau tahukah? Saya benar-benar kehilangan itu waktu.” (hlm. 7)

“I Will wait for you there. Like a Stone.” (hlm. 10)

Awalnya saya terpesona sama sikap Wanua yang berjanji akan menunggu Rinai sampai menjadi batu, ternyata baru sebentar saja sudah memutuskan untuk bersama yang lain. Pret ahh… x))

Karena ini ditulis oleh seorang laki-laki, harusnya bisa mengerti isi hati dan sikap laki-laki. Tapi ini saya kok ngerasa Lamba dan Wanua, di usia dewasa masih labil banget, belum dewasa pemikirannya. Gereget rasanya. Begitu juga ama Rinai, duhh…pengen getok, kok labil banget hatinya antara Lamba atau Wanua?!? X))

Meski saya nggak begitu sreg ama para tokohnya, tapi saya justru suka banget ama selipan pengetahuan di buku ini. Misalnya proses upacara pemakaman menurut adat Toraja. Bahwa semakin banyak tanduk kerbau yang dipajang nantinya, artinya semakin tinggi status social pemilik tongkonan, dan semakin banyak kerbau yang mereka sembelih saat rambu solo. Kerbau-kerbau itulah kelak yang akan di tunggangi ke Puya. Mungkin bagi orang luar Toraja, upacara seperti ini sangat memberatkan dan membuang-buang uang. Tapi bagi mereka justru dengan besarnya biaya rambu solo, semangat kerja orang Toraja semakin besar pula. Jadi itu semacam tantangan dan dorongan semangat. Saya pernah menonton liputan proses upacara pemakaman ala Toraja ini, bahwa para pemiliki kerbau albino (aduh lupa saya istilahnya) rela keluarganya hanya makan sekedarnya, tapi ternaknya itu harus diberi pelayanan nomer satu, seperti rumput dan juga kandangnya. Fantastisnya, kerbau albino itu jika dijual bisa mencapai harganya yang wow banget alias sampai miliaran. Makanya, upacara pemakaman ala Toraja ini merupakan salah satu upacara pemakaman termahal dunia.

Suka ama percakapan antara Rinai dan Karra dimana Rinai mengatakan jika Karra tahu banyak suatu tempat, tapi hanya sekedar data yang dibacanya. Padahal buku dan google tidak akan memuaskan kalau tidak ke tempatnya langsung. Mirip pacaran tapi LDR x))

Selain itu juga ada selipan pesan penulisnya lewat tokoh Rinai yang bekerja tidak hanya sekedar bekerja. Liputan perjalanannya ke Toraja dia kumpulkan bukan hanya sekedar tugas kantor, tapi juga berharap bisa memenangi Travel Writer of Year, sebuah penghargaan yang diberikan majalah tempat kerjanya kepada kontributor setiap dua tahun sekali. Rinai sudah lama memimpikan pengahargaan itu.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Bagi ingatan, tidak ada teman sebaik kenangan. Namun, sering kali kita lupa menyadari bahwa sewaktu-waktu pertemanan bisa berakhir dengan berbagai macam alasan. (hlm. 3)
  2. Betapa Tuhan tidak pernah setengah-setengah menciptakan keindahan. (hlm. 55)
  3. Cinta bukan lubang kunci yang bisa kamu tinggalkan begitu saja. (hlm. 60)
  4. Semua kesalahan bisa saja dimaafkan, tetapi memaafkan jauh lebih mudah daripada melupakan. (hlm. 63)
  5. Jatuh cinta itu seperti merelakan dirimu jatuh ke satu tempat dan keselamatanmu tergantung pada tempat itu. (hlm. 66)
  6. Entah kenapa, saat menyadari cinta seseorang, pun ketika menyadari mencintainya juga, momen-momen kecil yang pernah dilewatkan menjadi besar dari sebelumnya. (hlm. 69)
  7. Kau pasti bisa asal kau mau berusaha. (hlm. 86)
  8. Ada masanya, kamu akan benar-benar merasa tidak memiliki apa-apa. Tidak punya siapa-siapa. Kamu hanya akan berdua dengan dirimu sendiri. Masa itu, kamu akan berada pada titik terlemah dari semua yang pernah kamu rasakan dalam hidupmu. Bisa saja, kamu tidak punya hati yang kebas, kamu akan terpuruk dan tentu akan berakhir pada masa itu juga. (hlm. 90)
  9. Cinta adalah pertanyaan yang jawabannya adalah pertanyaan itu sendiri. (hlm. 91)
  10. Apa salahnya member kesempatan? (hlm. 112)
  11. Cinta bukanlah cara bertahan dari rasa sakit dan berjuang untuk kebahagiaan, cinta adalah segala yang dilakukan tanpa memikirkan keduanya. (hlm. 131)
  12. Kenangan seperti daun-daun kering yang lepas dari ranting, satu-satunya yang bisa kita lakukan hanya menjadi angin yang menjatuhkannya. (hlm. 159)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Memaksa diri untuk tetap mencintainya adalah kesalahan, tetapi menjauh lantas membencinya sungguh tak dapat dibenarkan. (hlm. 2)
  2. Dua kali kehilangan orang yang sama, jauh lebih menyakitkan daripada memiliki orang yang salah lebih dari sekali. (hlm. 8)
  3. Cinta bisa menjadikanmu apa pun ya ia mau, tetapi kamu tidak bisa menjadikannya seperti yang kamu inginkan. (hlm. 10)
  4. Begitu cinta pergi, ada banyak alasan untuk melepasnya, tetapi kelak ketika pulang, untuk menolaknya hanya butuh satu alasan, dan itu jauh lebih susah ditemukan daripada menanggung patah hati. (hlm. 20)
  5. Cinta hanyalah cara menipu rasa sepi, tetapi seringkali gagal dan justru mengelabui kebahagiannya. (hlm. 23)
  6. Tidak ada yang bisa dipertahankan dari masa lalu selain kenangan. Kenangan dapat mengembalikan ingatanmu pada masa lalu, tetapi belum tentu mengembalikan cintamu. (hlm. 28)
  7. Bedakan jomlo dengan menunggu. (hlm. 30)
  8. Cinta tidak pernah menyalahkan siapa pun dan apa pun, tetapi manusia selalu saja menyalahkan banyak hal atas nama cinta. (hlm. 32)
  9. Mencintai adalah menyerahkan diri untuk dibahagiakan atau dilukai. (hlm. 35)
  10. Dilukai satu kali oleh cinta, tidak mudah disembuhkan, bahkan oleh berkali-kali penyesalan. (hlm. 43)
  11. Kenangan memang jahat, selalu datang seperti muslihat. (hlm. 69)
  12. Beginilah luka orang dewasa, tidak berdarah, tetapi banyak air mata yang dikuras. (hlm. 100)
  13. Tidak perlu berbohong atas perasaanmu. (hlm. 117)

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Pertanyaan Kepada Kenangan

Penulis                                                 : Faisal Oddang

Editor                                                    : Jia Effendie & Tesara Rafiantika

Penyelaras aksara                            : Idha Umamah

Penata letak                                       : Erina Puspitasari & Putra Julianto

Desainer sampul                              : Matahari Indonesia

Penyelaras desain sampul            : Levina Lesmana

Penerbit                                              : GagasMedia

Terbit                                                    : 2016

Tebal                                                     : 188 hlm.

ISBN                                                      : 979-780-853-X

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s