buku, resensi

REVIEW Krakatoa

Di atas bumi, kita terlalu kecil untuk bisa membersihkan semua gunung berapi yang ada. Itu sebabnya gunung-gunung berapi itu memberikan masalah yang tak ada habisnya kepada kita. –The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupery, 1944

Sebenarnya sudah memiliki buku ini lumayan lama. Waktu itu, pas masih kuliah yang artinya masa-masa kalap beli buku di Palasari, pokoknya dulu selalu mikir beli-beli aja dulu, bacanya mah kapan-kapan karena menyadari jika pulau ke Lampung akan susah mencari buku. Dan terbukti sampai sekarang pun belum ada toko buku di daerah saya tinggal. Setahun lalu sempat ada Toko Buku Gramedia, tapi hanya bertahan setahun karena mungkin sewa ruko di Metro yang rata-rata lumayan mencekik, apa kuharus punya toko buku sendiri, tapi apalah daya hamba yang gajinya cuma cukup buat makan ama beli buku ini x)) #MalahTjurhat

Karena sebulan kemarin, Anak Krakatau menjadi sorotan utama di pemberitaan layar kaca maupun media online. Rasanya relevan sekali jika membaca ulang buku ini, karena harus diakui lumayan banyak hal-hal yang saya lupa saat dulu membaca zaman kuliah (apalagi waktu itu belum menuliskan reviewnya).

Bagaimana awal nama kata Krakatau (atau Krakatoa) muncul?!? Disebut Cacatoua adalah karena begitu banyaknya burung nuri putih yang berada di pulau itu dan terus-menerus menjerit mengulangi nama pulau itu. Pemikiran lain tentang nama Krakatoa sangat mungkin berasal dari salah satu ketiga kata ini; karta-karkata, karkataka, atau rakata, yang berasal dari bahasa Sanskerta. Dan menurut sejumlah orang lain lagi, kata-kata dalam bahasa Jawa Kuno yang berarti ‘kepiting’ atau ‘udang kerang’. Lalu ada pula kata dalam bahasa Melayu, kelakatoe, yaitu anai-anai bersayap atau laron. Karena peiting dan nuri berada di pulau tersebut, atau setidaknya pernah adaa, sampai kejadian menakutkan di pagi Agustus tahun 1883, salah satu dari dua penjelasan leksikal terakhir mungkin bisa diterima.

Ada beberapa fakta maupun pendapat seputaran tentang Krakatau (atau Krakatoa sebutan dalam buku ini seperti judulnya). Kita mungkin melupakan Krakatau, mamak dari Anak Krakatau yang sedang menggeliat ini. Anak Krakatau setiap bulannya sejak tahun 1927, membesar sekitar 50-an centimeter setiap tahunnya. Ibarat manusia, tahun-tahun ini kita hanya menunggu Anak Karakatau melahirkan. Dan terbukti, fakta terbaru mengatakan bahwa Anak Krakatau yang semula tingginya sekitar 338 meter, saat ini 100 meter. Volume Anak Krakatau hilang 150-170 juta m3. Volume saat ini 40-70 juta m3. Berkurangnya volume tubuh Anak Krakatau ini disebabkan proses rayapan tubuh & erosi selama 24-27 Desember 2018, kemarin ini.

Di halaman 154-155 dijelaskan tentang Krakatoa Kuno sekitar 60.000 tahun lalu atau lebih memiliki sekitar 152 meter dan merupakan pusat dari pulau bundar yang hampir sempurna dengan diameter sekitar 14,5 kilometer. Setelah mengalami letusan yang cukup dahsyat, apa yang tersisa dari Karaktoa Kuno ini adalah sekumpulan pulau kecil dan terlihat stabil; Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang. Masih ingat kan dengan Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perboewatan? Setelah ledakan Agustus 1883, mereka menyatu (kembali) dengan nama Gunung Krakatau. Nah, setelah 1927 ‘lahirlah’ Anak Krakatau.

Letusan Krakatoa 1883 memang sangat dahsyat dan imbasnya sangat melekat hingga sekarang. Tapi sebenarnya itu bukan letusan pertama, 1680 diperkirakan mengalami letusan tapi bukti kurang . Mungkin saat itu saksi hidup masih sedikit. Letusan Krakatoa 1883 merupakan bencana pertama di dunia yang terjadi setelah penempatan jaringan kerja kabel-kabel telegraf seluruh dunia, suatu jaringan kerja yang membuat berita bencana dapat tersebar di planet ini dalam waktu singkat. Kalau sekarang, dengan adanya social media (terutama via twitter), dengan cepat menyebar hanya dalam hitungan detik.

Sedahsyat-dahsyatnya Letusan Krakatoa1883, ternyata masih ada yang dahsyat lagi; Gunung Toba (74.000 tahun yang lalu) dan Gunung Tambora (1815). Kenapa lebih terekspos Gunung Krakatoa ketimbang dua gunung yang letusannya jauh lebih dahsyat itu? Mungkin karena saat dua gunung tersebut meletus belum banyaknya penduduk di dunia kala itu.

‘Membaca bencana alam’ bahkan sampai sekarang ini masih dilakukan, bisa dilihat dengan mengamati perilaku hewan-hewan yang tersebar di lingkungan tersebut. Saat ledakan Krakatoa 1883, di halaman 272, adanya selipan gajah kecil dari rombongan sirkus yang mengamuk. Anyer yang akhir Desember lalu sempat menjadi sorotan karena adanya tsunami mendadak kala itu, di halaman 274 disebutkan jika Anyer merupakan kota pelabuhan yang kecil dan cantik, menjadi tempat favorit orang Belanda kala itu. Menonton berita di TV beberapa waktu yang lalu, biasanya menjelang liburan natal dan tahun baru, Anyer selalu ramai pengunjung, imbas dari adanya tsunami beberapa waktu yang lalu, Anyer sepi tidak ada pengunjung.

Isu agama saat meletusnya Anak Krakatau sekarang ini (yang ujung-ujungnya dikaitkan dengan pilpres 2019 nanti), ternyata juga pernah terjadi pada saat Krakatau meledak kala itu. Di halaman 43 disebutkan jika dua agama (saya tidak mau menyebutkan agama-agama tersebut karena khawatir sensitif) menampilkan suatu continuo penuh pertentangan dalam pencarian kisah Karakatoa.

Selain isu agama, letusan dahsyat Krakatau 1883 juga memberikan pengaruh isu politik kala itu. Dijabarkan di halaman 413-422. Ingat novel Max Havelaar yang ditulis oleh Multatuli alias Eduard Douwes Dekker, 20 tahun sebelum letusan dahsyat ini, yang berisi tentang mempertanyakan tentang mengapa orang-orang Belanda menjalankan suatu koloni yang begitu jauh dari kampung halaman mereka. Pasca letusan, kepercayaan diri orang-orang Belanda mulai goyah akibat guncangan bencana tersebut.

Berharap ke depannya ada yang mendokumentasikan Anak Krakatau dalam bentuk buku seperti Krakatau ini. Dan berharapnya juga penulisnya dari Indonesia, karena sedih juga ya kalo pihak luar malah lebih tertarik mempelajari lebih dalam tentang ini. Tapi saya optimis, sekarang sudah banyak ahli dari Indonesia, dan semoga suatu saat bisa dibukukan agar kelak bisa kita wariskan ke anak cucu kita nanti.

Keterangan Buku:

Judul                     : Krakatoa

Penulis                 : Simon Winchester

Penerjemah       : Prisca Delima

Penerbit              : PT Elex Media Komputindo

ISBN                      : 978-979-27-8124-3

Tebal                     : 530 hlm.

Terbit                    : 2003

1 thought on “REVIEW Krakatoa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s