buku, resensi

REVIEW Meyakini Menghargai

Pancasila adalah lima pondasi (sila) yang menjadi dasar bernegara di Indonesia. Sila pertama adalah pondasi paling utama yang mampu menjadi perekat seluruh keragaman. Sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi jaminan dan aturan beragama bagi seluruh warga Indonesia. Dengan adanya sila pertama ini semua pemeluk agama bebas menjalankan agamanya di Indonesia. Dengan pancasila, semua orang dari suku dan daerah apa pun memiliki hak yang sama di mata Negara dalam menjalankan agama dan kepercayaannya. (hlm. 7)

Waktu tahu buku ini, saya antusias banget. Jarang-jarang loh buku yang membahas tentang keberagaman khususnya tentang agama dan penganut kepercayaan di Indoesia. Biasanya kan satu buku ya hanya membahas satu agama saja. Jadi, rasanya menarik sekali kita bisa mendapatkan pengetahuan tentang agama-agama selain yang kita anut dan juga ternyata banyak juga penganut kepercayaan yang masih ada di Indonesia.

Kalimat Bhineka Tunggal Ika adalah Bahasa Sanskerta yang bermakna berbeda-beda tapi tetap satu. Meskipun terdapat beragam pemeluk agama, suku dan bahasa, di Indonesia mereka tetap hidup berdampingan. Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap utuh. Tidak seperti halnya yang terjadi dengan Yugoslavia, Negara yang runtuh karena perang antarsuku. Indonesia merdeka karena banyak pihak yang terlibat. Melibatkan semua agama, beragam suku, dan daerah, seperti munculnya pahlawan kemerdekaan dari berbagai agama, suku, dan gender. Dari sisi perempuan, ada Cut Nyak Dhien, Christina Martha Tiahahu. Dari sisi agama Islam, ada KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari. Dari sisi agama Katolik, ada Mgr. A. Soegijapranata, Ignatius Slamet Rijadi. Dari sisi agama Kristen, ada Wolter Monginsidi, Yos Sudarso. Dari sisi agama Buddha, ada Gatot Subroto, Soemantri MS. Dari sisi agama Hindu, ada I Gusti Ngurai Rai. Dari sisi aliran kepercayaan, ada MR. Wongsonagoro. Dan dari sisi Tionghoa, ada Laksamana Muda John Lie.

Untuk enam agama di Indonesia ini, saya tidak terlalu membahas detail. Untuk agama Islam, agama yang saya peluk saat ini, tentu saya sedikit banyak lebih paham karena sudah belajar sejak kecil. Meski begitu, harus tetap memperdalam, karena belajar agama harus dilakukan untuk menjadi bekal kelak di hari akhir. Untuk agama Katolik, saya cukup familiar dengan agama ini karena lumayan banyak tetangga yang menganut agama ini, bahkan sejak kecil sampai sekarang, saya sudah dibiasakan bapak untuk berkunjung ke rumah-rumah mereka saat natal tiba seperti halnya mereka mengunjungi kami saat lebaran datang. Dan kebetulan sekali, pakde Romo (kami memanggilnya begitu) yang merupakan kakak kandung bapak menjadi pastor. Untuk agama Kristen, (lagi-lagi kebetulan) saya punya teman-teman akrab yang berasal dari agama ini. Misal, saat Pemilihan Tendik Berprestasi tk Nasional yang diadakan oleh Kemdikbud RI tahun 2016, saya dan Mbak Esti sama-sama perwakilan Lampung, menempati kamar yang sama. Selama dua pekan artinya kami dari bangun sampai menjelang tidur hampir selalu bersama. Saat pagi, Mbak Esti selalu minta izin dipojokan buat berdoa. Bahkan Mbak Esti sempat menanyakan kenapa saya tidak sholat, saya jelaskan padanya bahwa saya sedang palang merah yang artinya ‘libur dulu’ untuk sholat. Kemudian, di sekolah, saya punya teman akrab bernama Mbak Vina. Selain menjadi guru di sekolah, ternyata dia merupakan Ketua Pemuda Kristen di Kota Metro dan bisa dipastikan jika dia sangat aktif sekali kegiatan di gereja. Saat lebaran tiba, dia membantu kami (koperasi sekolah) untuk membeli barang-barang sembako untuk keperluan lebaran. Begitu juga saat natal tiba, saya diajaknya buat belanja barang-barang sembako untuk parcel natal yang akan dibagikan pada jemaah di gerejanya. Saya juga sering diajak bareng makan bersama teman-teman gerejanya dan tidak masalah. Malah memperluas pergaulan dan pertemanan. Jadi suka bingung tuh yang hari gini masih mengkotak-kotakkan pertemanan karena atas dasar agama. Berteman dengan yang berbeda agama tidak akan melunturkan keyakinan yang ada di diri kita kok. Tenang saja. Untuk agama Buddha, saya pernah membaca buku Buddha (sampai sekarang masih ada) yang ditulis oleh Karen Amstrong. Di situ dijelaskan kisah hidup perjalanan sang Buddha. Oya, di kota kami, ada wihara besar yang terdiri dari dua lantai. Lantai atas untuk ibadah, dan lantai bawah diperbolehkan untuk diisi kegiatan umum seperti pesta pernikahan dan hampir semua SMA negeri di kota kami menggunakan acara perpisahan sekolah di gedung ini. Untuk agama Hindu, ini juga nggak asing bagi saya. Ada beberapa daerah di Lampung yang nuansa kehidupannya sangat Bali banget, khususnya daerah Seputih Raman, Lampung Tengah. Jika ke sana, seperti Lampung rasa Bali. Dalam buku ini dijelaskan, jika populasi pemeluk agama Hindu di Indonesia, Lampung menempati posisi ketiga terbanyak, yaitu sebanyak 113,5 ribu. Dan jika kita pernah berkunjung ke Bali, ada dua hal yang menarik di sini. Sesuai ajaran Hindu yang mereka anut, (hampir) setiap rumah, kita akan menemukan sesaji yang beraneka ragam (tergantung kemampuan mereka). Kedua, tentang kejujuran. Saya lihat di Bali meletakkan motor secara bebas di depan rumah sepertinya hal yang biasa. Beda banget kalo di tempat kita kan, motor di dalam garasi aja bisa bablas apalagi di halaman rumah. Dan kalau kita perhatikan penduduk Bali yang mayoritas menganut agama Hindu ini memang sangat menghargai kejujuran. Cek saja penjara-penjara di sana, jarang sekali ditemukan narapidana asli Bali. Kenapa? Karena selain mereka percaya adanya hukum karma, juga rasa malu yang besar jika melakukan perbuatan seperti mencuri. Akan diarak secara adat, saya lupa istilahnya. Dulu saya pernah menanyakan ini pada tour guide di Bali saat liburan ke sana. Dan untuk agama Konghucu, untuk lingkungan dekat pasar, lumayan banyak penganut agama ini. Saat Imlek tiba, mereka biasanya membagikan angpao bagi orang-orang sekitar. Kalo untuk yang ini, saya belum pernah melakukannya, malu soalnya udah gede masih ikut-ikutan minta angpao juga, hehehe… x))

Sebelum masuknya agama-agama dari luar ke wilayah nusantara, hampir semua etnis memiliki system kepercayaan atau agama lokal. Hal tersebut menjadi bagian dari suatu system budaya. Mereka memegang teguh ajaran leluhur dengan segala upaya dan pengorbanan, mereka tinggal di daerah terpencil dan sulit mendapat pelayanan public. Agama lokal ini tersebar hampir di semua pulau besar dan kepulauan yang ada di Indonesia. Ada banyak agama lokal, buku ini memuat enam agama lokal. (hlm. 73)

Kenapa saya justru lebih tertarik mengulas agama/kepercayaan lokal di Indonesia dibandingkan enam agama besar di atas? Karena jarang sekali agama/kepercayaan lokal ini dibahas secara detail dalam sebuah buku. Sejujurnya, selama ini yang saya tahu hanya Kejawen dan kehidupan Suku Baduy yang konsisten hidup tanpa teknologi (yang saya baru tahu dari buku ini, bahwa kepercayaan yang mereka anut bernama Sunda Wiwitan). Mari kita bahas satu per satu.

Pertama, ada Sunda Wiwitan. Penganut ajaran ini tersebar di berbagai wilayah Pasundan, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Penganut agama Sunda Wiwitan yang tinggal di perkotaan umumnya sudah membentuk organisasi-organisasi modern, sedangkan yang di pedesaan umumnya bertahan dalam bentuk komunitas adat. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu dan Islam masuk ke Indonesia. Aga lokal ini tidak mengenal yang disebut kitab suci, namun memiliki ajaran hidup dan tuntunan moral, aturan, dan pelajaran budi pekerti. Ajaran kesempurnaan hidup yang tertuang dalam bentuk adat dan tradisi, pepatah dan nasihat lisan dan bentuk pantun/wawacan maupun yang ditulis dalam bentuk lontar, sudah dialih aksara dan diterjemahkan, yaitu Sanghyang Siksakandang Karesian yang disimpan di Musium (Kropak 630), Sewakardarma (Kropak 630) dan Amanat Galunggung (Kropak 632), ketiga naskah kuno ini tidak dianggap sebagai kitab suci, namun hanya sebagai tuntunan dan pengetahuan saja.

Parmalim yang berdiam di Tanah Batak ini, menjadi agama lokal yang dibahas dalam buku ini. Kawasannya melingkupi daerah sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir, tepatnya di Huga Tinggi, Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, sekitar 7 jam dari Medan dengan perjalanan darat. Pasti nggak asing kan dengan Raja Sisingmangaraja? Beliau adalah raja bagi bangsa Batak dan dia Rasul dari Mulajadi Nabolon. Nama rumah ibadah mereka adalah Bale Paksatian atau Bale Parpitaan/Bale Partogoan. Setiap hari kebaktian, yaitu Sabtu, mereka berdatangan ke rumah peribadatannya di Desa Hutatinggi. Peribadatan dimulai sekitar pukul 11.00 WIB dan selesai pukul 12.00 WIB.

Ketiga, ada Tolotang. Sawaridang ialah orang pertama yang menerima wahyu dan menyebarkannya. Kemudian tokoh selanjutnya ialah La Panaungi, ia juga menerima wahyu untuk melanjutkan penyebaran Tolotang. Mereka meyakini bahwa La Panaungi ini belum meninggal, tetapi diangkat ke langit, dan akan diturunkan kembali. Mereka meyakini Kitab Lontara sebagai kitab suci. Kitab ini biasanya mereka sebut Sure Galigo. Di dalamnya, berisi Mula Ulona Batara Guru, Taggilina Sinapatie, Rittebanna Walanrangge, Appongena Towanie, yang mengungkapkan kisah-kisah yang mereka yakini tentang alam dan akhirat. Selain itu, terdapat juga Paseng dan Pemmali sebagai sumber ajaran tentang nilai dan norma.

Kemudian, yang keempat ada Marapu. Merupakan sebuah agama asli penduduk Pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Konon agama tersebut telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Penganut agama ini melakukan pemujaan kepada nenek moyang yang telah pergi dari dunia. Penganut agama Marapu percaya bahwa setelah kematian datang, mereka akan pergi ke tempat yang sangat indah bernama Prai Marapu. Tempat yang konon sangat indah itu, mungkin semacam surge di agama Islam dan Kristen.

Kelima, ada Kaharingan yang artinya tumbuh atau hidup. Di Indonesia, pemeluk agama Kaharingan sekitar 60.000 orang. Sebagian besar mereka ada di Kalimantan. Kaharingan adalah salah satu agama asli di Indonesia yang berasal dari Kalimantan, tepatnya suku Dayak. Sebagai agama, Kaharigan sudah ada beribu-ribu tahun di Kalimantan, bahkan sebelum datangnya agama Hindu, Buddha, Islam dan Kristen. Akan tetapi, pertama kali Kaharingan diperkenalkan Tjilik Riwut tahun 1944, saat ia menjabat Residen Sampit, yang berkedudukan di Banjarmasin. Tahun 1945, pemerintahan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak. Bahkan pada masa Orde Baru para penganutnya membaurkan diri dengan agama Hindu. Oleh karena itu, sempat muncul istilah Hindu Kaharingan, karena Hindu merupakan agaman tertua di Kalimantan. Akan tetapi, ajaran dan ritual agama tersebut memiliki perbedaan sehingga para penganutnya tetap dalam keyakinan asli, yaitu Kaharingan.

Dan yang terakhir, dan yang paling kita kenal adalah Kejawen yang merupakan kepercayaan asli suku Jawa yang tersebar hampir di semua provinsi masyarakat Jawa, bahkan hingga ke Suriname. Perkembangan ajaran Kejawen tetap dapat lestasi dan terpelihara di lingkungan warga suku Jawa, meskipun telah terpengaruh ajaran agama-agama tertentu yang banyak dianut oleh orang Jawa. Penganut Kejawen tidak memiliki masalah dalam perbauran dan pergaulan sosial.

Setelah membaca penggalan-penggalan agama lokal/kepercayaan yang ada di Indonesia ini sangat menarik, kan? Jika penasaran, tentu dapat membacanya lebih lanjut secara langsung. Adanya selipan foto dan ilustrasi dalam buku ini, tentu makin menarik minat kita untuk membacanya secara detail.

Lewat buku ini, ada banyak selipan moral di dalamnya. Antar agama tentu ada perbedaan, namun banyak juga persamaan. Perbedaan bukan berarti harus disamakan dan perbedaan bukan alasan untuk bercerai berai. Selain ajaran agama, budaya pun menjadi warna bagi keberagaman, dan menjadi pemersatu antarpemeluk agama di Indonesia. Oleh sebab itu, keragaman agama di Indonesia merupakan anugerah terindah dari Tuhan yang harus kita syukuri dan rayakan.

Buku ini cocok sekali dibaca para remaja agar membuka mata hati bahwa indahnya meyakini dan menghargai keberagaman. Cocok sekali dijadikan sebagai buku penunjang di sekolah, seperti mata pelajaran Sejarah maupun PKn.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Meyakini Menghargai

Penulis                                 : Ibn Ghifarie

Editor                                    : Shinta, Azhar Muhamad Akbar

Pembaca Ahli                     : Pdt. Samuel Adi Perdana (Kristen), Pastor Ferry S. Widjaja (Katolik), Irfan Amalee (Islam), Eric Lincoln (Kristen), Ketut Wiguna (Hindu), Lioe Kim Yie (Buddha), Fam Kiun Fat (Khonghucu), Engkus Ruswana (Penghayat Kepercayaan).

Penyelaras aksara            : Ezri Tri Suro, Taufiq MR

Penata letak                       : tujusemesta, Zuhri AS

Perancang sampul           : tujusemesta

Tim pelaksana                   : Melati Jamilah, Deza Zakiyah

Penerbit                              : Expose

Terbit                                    : Desember 2018

Tebal                                     : 117 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7829-46-6

1 thought on “REVIEW Meyakini Menghargai”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s