Posted in buku, resensi

REVIEW Merayakan Keberagaman

Keragaman adalah sebuah keniscayaan, dan setiap agama menghargai keragaman, serta memahaminya sebagai anugerah terindah dari Tuhan bagi hamba-Nya. (hlm. ix))

Kemajemukan masyarakat merupakan keniscayaan dalam kehidupan umat manusia. Islam dengan tegas mengemukakan kemajemukan merupakan sunatullah, ketentuan Tuhan yang tidak terbantahkan lagi. Dalam kitab suci Al-Quran, Tuhan mengusyaratkan kondisi multicultural atau kemajemukan budaya sebagai desain yang dirancang Tuhan. Dalam agama Kristen dan Katolik, Tuhan menghadirkan dan menempatkan kita di tengah keberagaman suku, bahasa, agaman, dan budaya. Semua keragaman itu merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dirawat dengan benar, baik dan bertanggung jawab oleh setiap insane yang ada di dunia ini. Bila orang Kristen telah menjadi ‘manusia baru’ dalam Kristus, maka ia memiliki potensi dan peran merajut kesatuan-persatuan di tengah keberagaman. Ajaran Hindu berupaya untuk melestarikan semua praktik spiritual utama yang berkembang di India selama ribuan tahun dan setiap tradisi yang membantu manusia mengangkat jiwa manusia ke dalam Realisasi Tuhan diperlakukan sebagai sesuatu yang berharga untuk ditaati serta dalam pelaksanaannya sangat menekankan tradisi lokal di daerah masing-masing. Ucapan Buddha memiliki kapasitas untuk memenuhi aspirasi beragam mahluk yang tidak terhingga jumlahnya. Para mahluk yang terdisiplinkan melalui ucapan Buddha bukan saja tidak terbatas dalam jumlah, melainkan juga tidak terbatas dalam keragaman kecenderungan mental masing-masing. Agama Konghucu memang tidak membahas secara spesifik tentang keragaman (pluralisme), tetapi memiliki pemahaman tentang kosmologi Confusion. Kesimpulan dalam kosmologi Confusion adalah: pertama, saling melengkapi; kedua, ada perbedaan; ketiga, ada siklus; keempat, ada keharmonisan.

Indonesia merupakan Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Jumlah muslim Indonesia sebanyak 207,2 juta jiwa atau enam kali lipat disbanding Arab Saudi yang justru hanya 28,5 juta jiwa. Disusul dengan pemeluk agama Kristen berjumlah 16,5 juta jiwa, Katolik berjumlah 6,9 juta jiwa, Hindu berjumlah 4 juta jiwa, Buddha berjumlah 1,7 juta jiwa dan Khonghucu berjumlah 117 ribu jiwa. Keberadaan enam agama di Indonesia, tidak menjadika bangsa ini sebagai Negara berideologi agama tertentu. Meskipun terdapat mayoritas, semuanya saling menerima dan menghargai. Indonesia sebagai Negara milik bersama.

Jika di buku Meyakini Menghargai, saya lebih banyak mengulas tentang agama lokal/ kepercayaan yang diceritakan dalam buku tersebut, buku ini lebih menitikberatkan ke enam agama yang kita ketahui selama ini. Mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Semuanya dijabarkan lebih spesifik.

Bangsa Indonesia terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman agama, kepercayaan, suku, ras dan etnis. Salah satu yang saya lihat langsung adalah saat di Bali. Tepatnya di Kompleks Puja Mandala Bali; Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Vihara Buddha Guna, Gereja Protestan GKPB, Jemaat Bukit Dua, Pura Jagatnatha. Ahhh…rasanya menyesal sekali sekali dulu saat lewat tidak mendokumentasikannya. Tempat ini bukti nyata wujud toleransi di Bali.

Ada sedikit koreksi dari saya untuk buku ini:

  1. Terjadi typo di halaman 26 dijabarkan tentang umat Kristen, harusnya itu untuk umat Katolik. Karena penjabaran umat Kristen sudah ada di halaman sebelumnya.
  2. Saat membahas pantangan makanan & minuman masing-masing agama. Di halaman 64, dijabarkan pantangan makanan/minuman bagi umat Hindu adalah tikus, katak, ular, anjing, cacing dan semua minuman yang memabukkan. Lalu bagaimana dengan sapi? Karena selama ini teman-teman saya (dan murid-murid di sekolah) yang memeluk agama Hindu, rata-rata tidak makan daging sapi dengan alasan sapi adalah suatu hewan yang mulia/suci di mata mereka. Kenapa tidak disebutkan sebagai makanan pantangan dalam buku ini? Kapan-kapan saya mau tanya lebih lanjut dengan teman-teman yang beragama Hindu.

Buku ini semacam paket lengkap tentang masing-masing agama yang terdiri dari 4 BAB utama. Pertama. Tentang Penyebaran. Menjelaskan sejarah masuknya agama-agama di Indonesia dan bagaimana penyebarannya. Kedua, tentang Keimanan, yang meliputi; konsep ketuhanan, kitab suci, nabi & tokoh, ritual dan alur hidup sesudah mati. Kemudian ketiga, membahas Ritual dan Aturan yang meliputi hukum, makanan & minuman yang terlarang, perkawinan, warisan, derma, rumah ibadah, tempat suci dan hari raya. Dan terakhir, keempat membahas Sosial Kemasyarakatan yang meliputi pakaian, pandangan agama terhadap seni, akulturasi budaya, alat & media keagamaan, hidup rukun, hidup berdampingan, berbakti pada kedua orangtua, kedudukan perempuan, organisasi perempuan, kelestarian lingkungan hidup, organisasi keagamaan dan pejuang keagamaan. Sungguh komplit; padat dan jelas.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Merayakan Keberagaman

Penulis                                 : Ibn Ghifarie

Editor                                    : Shinta, Azhar Muhamad Akbar

Pembaca Ahli                     : Pdt. Samuel Adi Perdana (Kristen), Pastor Ferry S. Widjaja (Katolik), Irfan Amalee (Islam), Eric Lincoln (Kristen), Ketut Wiguna (Hindu), Lioe Kim Yie (Buddha), Fam Kiun Fat (Khonghucu), Engkus Ruswana (Penghayat Kepercayaan)

Penyelaras aksara            : Ezri Tri Suro, Taufiq MR

Penata letak                       : tujusemesta, Zuhri AS

Perancang sampul           : tujusemesta

Tim pelaksana                   : Melati Jamilah, Deza Zakiyah

Penerbit                              : Expose

Terbit                                    : Desember 2018

Tebal                                     : 184 hlm.

\

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s