Posted in buku, resensi

REVIEW Orang-orang Tanah

“Mereka bahkan tidak membunuh jika tidak perlu. Mereka hanya butuh asupan darah kalau tubuh mereka membutuhkannya. Jika mereka membunuh tanpa kebutuhan, itu karena ada orang yang membayar mereka. Pembunuh bayaran. Kau percaya itu?”(hlm. 81)

Masih dari buku hasil timbunan. Buku ini lumayan lama, saya belinya sekitar 2013 pas bukunya baru terbit. Apalah daya tertinbun bertahun-tahun dan baru terbaca sekarang x))

Ada dua hal alasan yang membuat hati tergerak dulu saat membelinya. Pertama, nama pengarangnya (yang sudah banyak menerjemahkan banyak buku asing), penasaran dengan buku yang ditulisnya langsung walaupun ini kumpulan cerpen. Buku-buku terjemahannya yang sudah saya baca antara lain: If I Stay, Where She Went dan An Abudance of Katherines. Kedua, meski covernya tampak ungu unyu, terlihat nuansa suram dengan unsur ala-ala fantasi, jadi menebak-nebak bagaimana jalan cerita yang dimunculkan dalam cerita ini?

Dari sembilan cepren yang terjadi, bisa dikatakan bahwa hampir semuanya bernuansa fantasi. Cerpen pertama, JENDELA dengan tokoh Dinah ini mengingatkan saya akan cerpen yang ditulis oleh Clara Ng dengan judul NEGERI BERDEBU dengan tokoh Lucinda dalam kumpulan cerpen MALAIKAT JATUH. Kisah Dinah dan Lucinda nyaris serupa; hidup di garis kemiskinan dan memiliki ibu yang terpaksa menjadi kupu-kupu malam demi melanjutkan hidup yang memang kejam.

PELARIAN menjadi cerpen kedua dalam buku ini. Bercerita tentang sosok yang sedari kecil sudah merasa hidupnya berbeda dengan teman-temannya. Dia dianggap aneh sejak ketahuan bersembunyi di danau terlalu dalam sehingga teman-teman bermainnya tidak ada yang berhasil menemukannya karena sungguh mustahil bagi manusia biasa bisa bersembunyu sedalam itu. Sejak kejadian itu, Ratu memanggilnya dengan mandate spesial. Di usia lima belas tahun seharusnya seorang gadis dayang sudah diperkenalkan ke luar kalangan istana ikut serta dalam pesta dan perayaan serta mulai melaksanakan tugas sebagai asisten dayang-dayang utama Ratu. Namun semua itu tidak terjadi kepadanya. Dia adalah seorang anak gadis berumur lima belas tahun yang kesepian, sangat pendiam dan dijauhi gadis dan pemuda sebaya. Satu lagi alasan mengapa pemuda membencinya. Dia yang hanya seorang gadis, malah bisa mengalahkan hampir semua murid lelaki lain dalam hal latihan apa pun. Bagi mereka itu penghinaan besar-besara. Awalnya dia berusaha mengalah, dia tidak ingin dimusuhi. Namun sekuat apa pun dia berusaha, sepayah apa pun dia dalam latihan, mereka tetap membencinya. Dia selalu dianggap aneh.

Pernahkah merasa jemu dengan kehidupan ini? Saya pernah. Mungkin sebagian orang juga pernah mengalaminya. Ada yang dilewati sebentar, ada juga yang mengalaminya butuh proses panjang. Disela-sela kejemuan hidup itu, ingin rasanya mengasingkan diri, jauh dari hingar bingar kehidupan, dan tidak perlu bertemu banyak orang, menikmati hidup tanpa rasa beban yang berlebihan. Begitupula satu keluarga dalam cerpen BULAN MERAH ini. Sang anak dan ibu, patuh mengikuti jejak sang bapak untuk tinggal di hutan, pengasingan jauh dari keramaian. Menolak teknologi, menyangkan kehidupan nyaman, melarikan diri dari mahluk lain dan genangan dosa yang mereka jadikan tempat berendam setiap hari, setiap jam, setiap detik. Pada awalnya sang anak menolak, menertawai sekte yang dianut bapaknya ini. Sementara ibu terlalu mencintai bapak untuk berpisah dengannya, sedangkan sang anak terlalu mencintai ibu untuk menyakiti hatinya. Akhirnya sang anak luluh. Bapaknya beralasan takut jika sang anak terjangkiti penyakit mahluk berdosa, dan ibu terlalu lemah untuk membantunya. Disinilah kehidupan sang anak dimulai.

Dan Orang-orang Tanah yang menjadi judul pilihan dalam kumpulan cerpen ini tentu menjadi pilihan favorit. Berkisah tentang Alia, seorang anak yang bersama kakaknya, Asni mengalami masa-masa sulit di masa kanak-kanak mereka. Memiliki ibu tiri bagi kebanyakan anak-anak adalah semacam mimpi buruk. Walaupun tidak semuanya sih. Tak terkecuali Alia dan Asni. Perempuan pengganti ibu mereka itu hanya ingin menyingkirkan semua benda yang mengingatkannya pada ibu mereka. Perabotan, foto, lukisan, peralatan makan, perlengkapan dapur dan sekarang mainan Alia. Tidak ada sisa-sisa peninggalan Ibu Alia sama sekali di rumah mereka. Parahnya lagi, sang ayah lebih membela perempuan barunya itu, bahkan tak segan memukul Alia. Kakaknya, Asni hanya bisa menangis tersedu-sedu saat melihat adiknya kesakitan. Sebelum perempuan itu datang ke rumah, ayahnya bahkan tak pernah menjewer telinga mereka, apalagi sampai memukul. Hati-hati dengan luka, meskipun seorang anak kecil, tanpa disadari Alia memiliki luka yang amat mendalam akibat perlakuan-perlakuan kasar dari ibu tirinya itu. Alam berkonspirasi, hingga suatu saat dia menemukan orang-orang tanah yang muncul dari pekarangan rumah mereka. Endingnya sunggug glekk banget!! X))

Masih ada beberapa cerpen lainnya yang juga masih berbumbu dongeng ala-ala fantasi yang patut disimak. Jarang sekali cerpen Indonesia mengangkat genre seperti ini.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Orang-orang Tanah

Penulis                                 : Poppy D. Chusfani

Editor                                    : Donna Widjajanto

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Agustus 2013

Tebal                                     : 200 hlm.

ISBN                                      : 978-979-22-8398-3

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

2 thoughts on “REVIEW Orang-orang Tanah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s