Posted in buku, resensi

REVIEW Do it with Passion!

“Jangan pernah meremehkan pentingnya menemukan bidang yang kita sukai sejak dini. Dengan begitu, kita yang tidak berprestasi berubah menjadi pejuang bahagia.” (hlm. 16)

Tujuan dari buku ini adalah menawarkan pandangan yang lebih luas mengenal kemampuan dan kreativitas manusia, serta mengenai keuntungan mengenali dengan baik bakat dan gairah pribadi. Buku ini membahas masalah-masalah yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan kita serta kehidupan anak-anak kita, murid-murid kita, dan orang-orang yang bekerja dengan kita.

Buku ini menyampaikan keberagaman bakat dan gairah manusia, serta potensinya yang luar biasa untuk tumbuh dan berkembang. Buku ini juga dimaksudkan untuk memahami kondisi-kondisi yang mendasari berkembangnya atau memudarnya bakat manusia. Selain itu, dengan buku ini, kita dapat lebih berpartisipasi dalam kehidupan masa kini, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang gelap dengan cara yang memungkinkan.

Gillian Lynne, Matt Groening, dan Paul Samuelson adalah tiga orang yang sangat berbeda. Ada satu persamaan kuat di antara mereka, bahwa masing-masing meraih tingkat pencapaian dan kepuasan pribadi yang tinggi setelah menemukan sesuatu yang dapat mereka kerjakan dengan baik sekaligus mendoromg gairah mereka. Mereka bertiga telah meraih prestasi menakjubkan. Banyak orang yang berprestasi tinggi. Tetapi mereka bertiga istimewa karena menemukan apa yang mereka cintai dan benar-benar mengerjakannya. Mereka menemukan passion mereka. Dan semua orang belum tentu menemukan passion mereka. Menemukan passion sangat penting bagi kesejahteraan dan kesuksesan kita serta, pada akhirnya, bagi kesehatan organisasi dan keefektifan sistem pendidikan kita.

Dengan menemukan passion, kita semua berpotensi meraih prestasi dan kebahagiaan yang lebih berarti. Bukan berarti kita semua harus memiliki jiwa penari, atau kartunis, atau ekonom peraih Nobel. Maksudnya, kita semua memiliki bakat dan gairah berbeda-beda yang dapat menginsiprasi kita untuk berprestasi lebih tinggi daripada yang dibayangkan. Segalanya akan berubah jika kita memahami ini. Selain itu, dengan memahaminya, dapat dipastikan kita akan meraih kesuksesan yang sebenarnya dan berkelanjutan di masa depan yang tidak pasti ini.

Banyak kisah dalam buku ini yang dulunya tidak terlalu gemilang di sekolah atau menyukai sekolah. Tentu saja, banyak juga orang yang berprestasi baik di sekolah dan menyukai sistem pendidikannya. Namun, terlalu banyak lulusan sekolah yang tidak menyadari bakat mereka yang sebenarnya dan tidak yakin ke mana harus melangkah selanjutnya. Terlalu banyak orang yang merasa apa yang mereka sukai justru tidak dihargai oleh sekolah. Malah, terlalu banyak orang yang berpikir mereka tidak berbakat di bidang apa pun.

Sistem pendidikan terkini juga memberikan batasan yang kaku dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan akademis memang penting, tetapi begitu pula cara berpikir yang lain. Orang yang biasa berpikir visual mungkin menggemari topik atau mata pelajaran tertentu. Tetapi, mereka tidak akan menyadari kemampuan ini selama guru hanya mengajar dalam satu cara, yaitu pola nonvisual.

Sungguh disayangkan pola pikir semacam ini justru sangat meremehkan kemampuan manusia. Kita mengagungkan tes standard, memotong anggaran untuk program-program yang tidak dianggap ‘tidak penting’, kemudian bertanya-tanya mengapa anak-anak kita sepertinya tidak kreatif dan imajinatif. Padahal, sistem pendidikan sekarang ini secara sistematis mengeringkan kreativitas anak-anak kita.

Dari lama sudah mengincar buku ini. Setelah beberapa tahun terbit barulah kesampaian bisa membaca bukunya. Suka banget dengan pembahasan buku ini. Sama seperti yang dijabarkan dalam buku ini, saat sekolah, kreativitas kita dibatasi. Saya pun mengalaminya. Saat SMA, pilihan jurusan hanya ada IPA dan IPS. Saya yang tidak suka hitung-hitung, bisa dipastikan tidak akan memilih IPA yang menurut saya pelajarannya buang-buang waktu: ngapain ngitung kecepatan kelapa jatuh dari pohon, ngapain volume udara dihitung, dan sebagainya, hahaha… Dan saya juga terlalu menyukai IPS, meskipun akhirnya memilih jurusan ini karena sebenarnya saya lebih menyukai jurusan Sastra tapi tidak ada di sekolah saya saat itu. Barulah saat kuliah, kebetulan saya memilih jurusan yang memang sesuai apa yang saya suka (membaca), saya baru merasakan ketika kita memilih belajar sesuai minat itu rasanya menyenangkan meskipun ada tugas bertumpuk. Mau sesusah apa pun tugas yang diberikan dosen saat kuliah, kok ya happy-happy aja ya ngerjainnya. Begitupula dengan saat di dunia kerja. Meski sempat beberapa kali pindah tempat, tapi saya tetap di satu jalur; yaitu menjadi pustakawan. Dan siapa sangka, saya yang dulunya tidak pernah mencetak prestasi apa-apa di sekolah, saat bekerja justru bisa menyumbangkan sederet prestasi mulai dari kota sampai provinsi, serta sempat melaju ke nasional meskipun hanya menjadi finalis. Tapi bagi saya, apa yang saya kerjakan di dunia kerja ini masih hitungan tahun, sudah sangat bahagia bisa pencapaian di luar ekspetasi, bisa ikut seleksi nasional pustakawan berprestasi sampai dua kali di event yang berbeda. Saya bersyukur, memiliki orangtua yang memperbolehkan anaknya ini menjadi apa saja. Nggak bisa saya bayangkan jika dulu dipaksa seperti anak-anak lainnya mengikuti keinginan orangtuanya. Orangtua saya, selagi hal itu positif, mendukung penuh apa yang dipilih anaknya meski terlihat anti mainstream di mata orang lain; saya menjadi pustakawan karena sejak kecil suka membaca, adik cowok membuka usaha sablon karena sedari kecil suka menggambar dan adik cewek kuliah di jurusan Penjasorkes karena memang sedari zaman sekolah sudah menyukai olahraga softball.

Buku ini cocok sekali dibaca buat para murid unyu di sekolah, terutama kelas XII yang biasanya galau menentukan pilihannya saat kuliah nanti; mau mengikuti pilihan orangtua atau mengikuti passion mereka.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Salah satu musuh kreativitas dan inovasi, terutama dalam hubungannya dengan perkembangan manusia, adalah akal sehat. Begitu sesuatu tampak sangat jelas, saat itu pula kita mengabaikan segala upaya untuk memahaminya. (hlm. 54)
  2. Jika kita mengubah pikiran, kita bisa mengubah kehidupan kita. (hlm. 132)
  3. Ketika mengerjakan sesuatu yang dicintai dan dikuasai, kita mungkin merasa terpusat pada pribadi kita yang sejati dan menjadi diri sendiri. (hlm. 133)
  4. Kegiatan yang dicintai justru memberikan energi di saat fisik terasa lelah. Kegiatan yang tidak disuka dalam hitungan detik akan membuat lelah, sekalipun saat memulainya kita berada dalam kondisi puncak. (hlm. 134)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Do it with Passion

Penulis                                 : Ken Robinson dan Lou Aronia

Penerjemah                       : Lulu Fitri Rahman

Penyunting naskah         : Indradya SP

Proofreader                       : M. Eka Mustamar

Desainer sampul              : Melinda Wardiman

Penerbit                              : Kaifa

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 428 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7870-37-6

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

One thought on “REVIEW Do it with Passion!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s