Posted in buku, resensi

[BLOGTOUR] REVIEW Ve + GIVEAWAY

“Selama kamu bahagia dan apa yang kamu lakukan tidak berbahaya untuk dirimu sendiri dan orang lain, kamu boleh melakukan apa pun yang kamu inginkan.” (hlm. 52)

CERISSA VERMILION. Atau biasa dipanggil Ve. Sebagai remaja pada umumnya, tentu Ve memiliki ekspetasi yang tinggi terhadapa kehidupannya setelah lulus SMA. Apalagi ibu sudah menjanjikannya akan kuliah di luar negeri, berbarengan bersama ibu yang juga ingin melanjutkan pendidikannya di sana. Seperti mimpi buruk di siang hari, ayah mengabarkannya jika ibu minggat dari rumah dan meninggalkan mereka berdua. Ve tidak bisa berhenti memikirkan tragedi itu. Setelah seumur hidupnya diisi kebahagiaan, Ve tidak pernah mengira ibu akan menganggapnya pantas untuk ditinggalkan. Untuk kali pertama dalam hidupnya yang sempurna, Ve merasa tidak dicintai oleh ibunya sendiri. Pahlawannya itu ternyata penjahat.

“Ibu pergi kemana, Yah?”

“Kabur. Ke luar negeri. Demi selingkuhannya.”

“Hah? Kabur ke luar negeri?! Kabur gimana maksudnya, Yah?! Ayah bercanda, ya? Ibu sama ayah mau bikin surprise buat aku, ya? Surprise apa, sih? Ulang tahun aku kan masih lama! Ayah beliin aku apa, hayoo? Ayah sama ibu bikin home theatre, ya? Ibu sembunyi di home theatre itu, ya? Udah, ayah berdiri aja. Kejutannya udah ketahuan nih! Hahaha…..”

“Ibu kamu meninggalkan kita! Dia kabur ke luar negeri karena selingkuhannya!”

“Selingkuhan apa sih, Yah? Kok ayah ngomongnya ngawur gini?! Ibu mana?”

“Ibu kamu pergi ke London nyusul si Henry! Dia selingkuh! Si jalang itu lebih milih si brengsek daripada kita!”

“Bohong!” (hlm. 6)

Ve dan ayahnya harus hijrah dari apartemen mereka, dan sementara tinggal bersama Nenek Unung, ibu dari ayahnya Ve. Sejak dulu, Ve merasa tidak betah jika menginap ke rumah nenek Unung, ada hal-hal yang membuatnya risi. Kebayang kan jika Ve harus tinggal sementara dalam jangka waktu yang cukup lama di rumah sang nenek? Meski kadang-kadang terlihat hal sepele, sesungguhnya banyak interaksi dari sang nenek yang mengusik tertorial pribadi Ve yang sudah memiliki rencana hidupnya sendiri, tahu porsi makanan yang cukup untuk tubuhnya sendiri. Desakan ini tampak sebagai suatu kewajaran, tetapi pada hakikatnya berarti pemaksaan kehendak dan serangan terhadap tubuhnya.

Tidak hanya perkara makanan, Nenek Unung masih tipe orangtua yang sangat kolot sekali menurut sudut pandang Ve sebagai generasi milenial. Ketika dia pulang terlambat, Nenek Unung geger mengerahkan warga sekitar untuk mencarinya, padahal dia hanya ke pergi ke tempat sahabatnya sejak sekolah. Ve sangat tidak nyaman dengan orang-orang yang memaksakan kehendak satu arah seperti ini. Bahkan sampai mengumpulkan orang-orang lain yang sama sekali tidak terlibat. Seolah kumpulan manusia yang lebih tua darinya ini adalah yang mahluk tahu semua fakta dan tidak pernah salah karena pandangan mereka mutlak.

Ada banyak sekali perbedaan yang kontras antara pemikiran Nenek Unung dengan Ve sebagai cucu. Saat makan, Ve dipaksa menambah porsi makan yang diberikan sang nenek padahal dia merasa sudah sangat kenyang. Nenek Unung diam-diam merobek buku yang dibaca Ve. Menganggap Ve tidak perlu kuliah karena bagi sang nenek, perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi. Pulang malam pun diributkan, padahal Ve juga bisa jaga diri. Rambut merahnya pun dibahas sang nenek karena dianggap tidak pantas. Bagi sang nenek, lebih baik bergaul dengan banyak perempuan alias bergosip dibandingkan hanya membaca buku melulu. Pokoknya mah, bagi sang nenek, sang cucu harus mengikuti segala aturan yang telah dibuatnya.

 “Kamu perlu tetap kuat. Kamu akan selamat. Namun yang paling penting adalah pikiranmu sendiri. Tenang, selamatkan pikiranmu dari serangan buruknya sendiri.” (hlm. 158)

Awalnya saya pikir dari tokoh Ve ini, sang penulis hanya menyelipkan pesan tentang betapa kontrasnya pemikiran sang nenek (masih sangat konvensional) dengan sang cucu (generasi milenial). Ternyata lebih dari itu. Ada banyak isu yang diangkat. Pertama, penulis menyelipkan tentang kesetaraan gender, dimana perempuan harus disamakan dengan laki-laki. Mungkin jika tinggal di kota, kita terlalu merasakan perbedaannya. Tapi seperti halnya Ve yang sementara tinggal di daerah pinggiran alias desa, saya juga merasakan bahwa masih banyak hal-hal yang menyudutkan perempuan; tidak boleh ini, tidak boleh itu. Perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, perempuan harus nurut, perempuan tidak boleh kedudukannya lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dan masih banyak hal lainnya yang sebenarnya sangat mendeskreditkan derajat perempuan, terutama dimata masyarakat.

Kedua, adanya selipan hubungan yang kuat antara anak dan orangtua; Ve dengan ayah, Ve dengan ibu, ayah Ve dengan Nenek Unung, Nenek Unung dengan bapaknya. Saya pernah membaca sebuah artikel, bahwa luka batin yang ditimbulkan orangtua kecil, akan menggoreskan hati yang lama. Salah satu faktor kuat untuk membentuk pribadi yang psikopat ternyata justru faktor dari keluarga dan masa kecil yang kelam.  Ini adalah buku ketiga dari Vinca Callista yang saya baca. Pertama, ada Semburat Senyum Sore bertema romance. Kedua, Dunsa bertema fantasi. Dan buku yang ketiga ini bertema berbeda; urban thriller. Aduh jadi keinget buku Seruak masih di timbunan x))

Ketiga, saya suka banget dengan selipan literasi di Library Cafe Akar yang dimiliki maminya Akar, temannya Ve. Kafe yang dikelola Akar dan Ibunya ini sangat mirip dengan cita-cita saya yang ingin memiliki kafe buku. Perpustakaan ini telah dibuka untuk umum sejak mami Akar masih kuliah jurusan Sastra Indonesia. Dan hingga sekarang tetap menjadi tempat nongkrong anak-anaknya dan teman-teman mereka. Akar menambahkan kafe agar para pengunjung bisa membaca buku sambil mengudap dan menyesap kopi sore. Wajar saja jika Ve sangat betah berlama-lama di Library Cafe Akar ini. Ya ampuuunnn…idaman banget punya kafe buku seperti ini 😉

Dan keempat, tema yang diangkat; urban thriller sangat menarik untuk disimak. Apalagi novel lokal jarang sekali yang mengangkat tema ini. Perlu riset, dan penulisan yang detail untuk tema ini. Covernya keren, merepresentasikan isi bukunya banget; tampilan Ve dengan ekspresi yang kelam, berambut merah dengan panjang rambut yang tak beraturan. Jika kita membaca buku, nanti kita jadi tahu kenapa potongan rambutnya tak beraturan seperti itu.

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Sebisa mungkin kamu mengontrol pikiran agar tidak melumpuhkan dirimu sendiri. (hlm. 17)
  2. Orang yang lebih tua tidak otomatis menjadi paling tahu apa yang terbaik untuk orang selain dirinya. (hlm. 22)
  3. Terus laki-laki boleh? Kenapa? Kenapa perempuan doang yang nggak boleh? (hlm. 47)
  4. Ketika kamu telah memercayai sesorang sebagai patokan masa depanmu, kamu menaruh terlalu banyak harapan baik dan menanam keyakinan tulus. Namun, kamu tidak terbiasa memandang sisi lain kemungkinan bahwa ada kenyataan yang tentu saja bisa bertentangan dengan harapan itu. (hlm. 58)
  5. Cewek-cewek berpendidikan tinggi juga nggak bakal mau sama cowok berpikiran sempit kayak gitu. Nggak usah kepedean.” (hlm. 86)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Ve

Penulis                                 : Vinca Callista

Penyunting                         : Jia Effendie, Teguh Afandi, Yuli Pritania

Penyelaras aksara            : Nunung Wiyati

Penata aksara                    : CDDC

Desainer sampul              : Dilidita

Ilustrasi sampul                 : Indah Rakhmawati

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Desember 2018

Tebal                                     : 204 hlm.

ISBN                                      : 978-602-385-707-4

 

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia

2. Follow akun twitter @lucktygs , @vincacallista dan @nourapublishing . Jangan lupa share dengan hestek GA #Ve dan mention via twitter. (jika ada twitter, nggak wajib)

3. Follow akun instagram @lucktygs , @vincacallista dan @nourapublishing (jika ada instagram, nggak wajib)

4. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

5. Tidak ada pertanyaan, cukup tinggalkan nama, akun twitter/instagram, dan kota tinggal di kolom komentar. Mudah bukan? 😉

GA #Ve ini berlangsung 1-5 Februari 2019. Pemenang akan diumumkan tanggal 6 Februari 2019

Akan ada SATU PEMENANG yang akan mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penulisnya! ;)

PEMENANG yang mendapatkan buku ini adalah:

Nama: Ratna Sari
Akun Twitter: @nAshari3
Domisili: Cikampek

Selamat buat pemenang. Sila kirim email ke  catatanluckty[at]gmail[dot]com dengan judul: konfirmasi pemenang Ve. Kemudian di badan email cantumkan; nama, alamat lengkap, dan no hape biar hadiahnya segera dikirim langsung oleh penulisnya ya.

Terima kasih buat penulis dan penerbit atas kerjasama dan  kepercayaannya. Semoga lain waktu bisa bekerjasama kembali… 😉

Buat yang belum menang, jangan sedih. Masih ada giveaway lainnya yang menanti!! :*

-@lucktygs-

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

20 thoughts on “[BLOGTOUR] REVIEW Ve + GIVEAWAY

  1. Bismillah… Semoga beruntung Aamiin..
    Nama: Maulidi Zikri Nur
    Instagram: @reviewinbuku
    Kota: Tembilahan Hulu, Riau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s