Posted in buku, resensi

REVIEW Ednastoria: Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion

“Tas boleh Gucci ya, Di. Tapi nasi bawa sendiri.” (hlm. 44)

Masih edisi babat timbunan. Sebenarnya sudah punya tetralogi fashion ala Bang Syahmedi Dean ini udah lumayan lama. Sejak cetakan keduanya keluar dengan cover baru, langsung laper mata pas liat covernya yang ala-ala metropop banget. Tapi entah kenapa malah justru bertahun-tahun teronggok di timbunan x))

Untuk pertama, judulnya ada Ednastoria, dengan anak judul Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion. Dengan cover berwarna dasar kuning. Nanti pas baca, baru diopeningnya aja kita langsung dijejalin segala hal brand-brand yang digandrungi cewek-cewek metropolitan. Meski tas, sepatu, baju, dan apa pun yang nempel di badan mereka ada yang mencapai jutaan bahkan menembus puluhan jutaan, sebagai perempuan yang nggak hobi fashion, melihat kehidupan para wartawan lifestyle di majalah ini membuat saya melongo. Ternyata menjadi wartawan fashion juga harus berkelas dengan ‘harga’ yang ada di benda-benda yang menempel di tubuh mereka. Tapi jangan salah, meski mereka punya berbagai benda dengan harga yang bikin kita wow, makanan favorit tentunya di kantin kantor ataupun malah lebih turun derajat lagi; lontong sayur di kaki lima. Kebalikan dari prinsip hidup saya yang super bosenan ini, jaraaannng banget (hampir dikatakan 90%) membeli barang-barang yang bermerk. Karena bosenan tadi, mau benda mahal pun kalo udah keseringan dipake ya bakal nganggur juga nggak dipake. Misal, untuk tas, saya lebih suka yang berbau-bau etnik dan unik, makanya banyakan tas saya malah totte bag, hahaha.. x)  Saya juga malah lebih suka nyoba makan di tempat-tempat baru. Jadi, suka bingung kalo ditanyain orang (kok instagramnya makanan melulu, banyak duit ya), sesungguhnya nyobain makanan itu budgetnya nggak ada kan ya yang sampe seharga tas LV atau Gucci, apalagi bagi hamba si rakyat jelatan yang gajinya pas-pasan ini, hahaha.. x)) #SobatMissqueen

“Zaman sekarang ini tidak hanya pintar yang dibutuhkan, tapi juga kemampuan memetakan orang-orang di sekitar kita, untuk mengetahui siapa bisa apa. Ya, kan? Ya, kan?” (hlm. 124)

ALIF. Executive editor majalah File, majalah lifestyle paling bergengsi di Jakarta. Banyak sekali tugas yang dijalaninya. Mulai dari mengedit tulisan para reporter, rapat penuh perdebatan untuk menentukan isu utama majalah, pemilihan cover, menyetujui hasil akhir layout, menghadiri undangan-undangan mulai dari peluncuran jam tangan, pemutaran film perdana, sampai pesta selebriti, dan lain-lain.

DIDI. Nama aslinya Supardi Sumariosastrodjuwono. Menjabat sebagai fashion director di majalah Female Fair. Ia jago urusan pemotretan fashion, koreografi, dan segala pernak-pernik fashion. Oya, Alif dan Didi ini kategori cowok yang berbeda. Nanti tau sendiri pas udah baca buku ini.

NISA. Penulis feature andalan Female Fair. Dia sudah banyak menulis profil para tokoh berpengaruh, mulai dari artis sampai politikus. Nisa berkepribadian dewasa dan memiliki tipe sentimental, matanya gampang berkaca-kaca setiap kali mendengar kisah sukses dan perjuangan seseorang. Dia juga gampang terbahak-bahak jika mendengar guyonan yang ironis dan cerita-cerita satir.

RAISA. Sama seperti halnya Alif, bekerja di File sebagai executive editor. Maka jangan heran jika dia lebih sering bersama Alif, dibandingkan bersama dengan Didi dan Nisa. Raisa ini pintar tapi manjanya luar biasa. Mungkin karena sebenarnya dia berlatar belakang anak orang kaya. Raisa gampang mengerjakan dan memecahkan masalah secara mandiri, tapi kalau sudah ada orang lain di sampingnya, bawaannya malah minta tolong melulu. Terlihat sekali dia sangat bergantung dengan Alif, pokoknya mulai dari masalah sepele sampai masalah paling genting, yang selalu direpotkan siapa lagi kalo bukan Alif x)) #TendangRaisa

“Nggak papa kan kita main kucing-kucingan begini?”

“Nggak papa, saya menikmati.”

“Tidak deg-degan?”

“Tidak, karena saya tidak menganggapnya kucing-kucingan, saya beranggapan memang kita mau makan di bubur ayam ini.” (hlm. 203)

Tokoh utama memang terdiri dari empat tokoh yang sudah dijabarkan di atas. Dengan sudut pandang Alif. Sebenarnya masih ada beberapa tokoh lain yang merepresentasikan glamornya dunia jika bekerja di majalah fashion. Salah satu yang paling menonjol adalah si anak baru di kantor File, dan menjadi anak buah Alif. Meski di awal sangat terkesan anak mama banget (ya maklum dari lahir udah berlabel horangkayah), lumayan bisa diandalkan. Misalnya, dia selalu mengarsip segala hal yang masuk di email karena sudah menjadi kebiasaannya sejak kuliah. Alasan pertama, karena di awal-awal ia gemar bermain surat elektronik, ia sangat menyukai respon semua sahabat elektroniknya. Kedua, karena terlanjur membuatnya jadi semacam arsip, ia jadi keterusan dan tidak pernah berhenti mencetak satu e-mail pun. Katanya, satu hari nanti ia akan menerbitkannya jadi buku. Selain itu, Edna bisa diandalkan untuk memecahkan solusi saat Raisa menghadapi masalah yang cukup pelik.

“Lif, kenapa kamu sering banget buat appointment dengan agen-agen model? Padahal sepengetahuanku, kamu lebih banyak memilih wajah-wajah yang kamu temukan sendiri di tempat ramai. Buang-buang waktu, kan? Lagi pula, kasihan kan mereka, sudah meluangkan waktu untuk datang casting, lalu berharap-harap difoto, tapi mereka tak kunjung dipanggil-panggil juga.”

“Bukannya begitu, ya siapa tahu ada yang potensial. Segala kemungkinan jangan diabaikan dong.” (hlm. 46)

Lewat tokoh Alif dan teman-temannya ini, kita nggak hanya diajak melihat barang-barang branded semata, tapi juga segala keseruan baik suka dan duka yang dialami para wartawan lifestyle ini. Salah satunya adalah saat pemilihan model. Sebagai executive editor, Alif memiliki mata yang cukup jeli dalam memilih calon model yang potensial. Semakin bagus dan berpotensinya seorang model, semakin kreatif para koreografer menguji mereka ketika casting. Ini bisa jadi genggaman harapan dan indikasi bagi si model untuk bisa melangkah ke proyek berikutnya. Contoh kasus Ajus, mungkin di awal datang pemotretan terlihat gembel, tapi tidak di mata Alif. Dia bisa menebak jika Ajus memiliki aura yang berbeda, aura model yang sesungguhnya. Tapi tiba-tiba tanpa sebab, Ajus melarikan saat gilirannya tiba dipotret. Bukan tanpa sebab dia bersikap seperti itu. Epik banget pokoknya x))

Alif ini ibarat senjata makan tuan banget. Selama ini dia termasuk orang yang sering mengibarkan bendera anti affair dan berpacaran dengan orang satu kantor. Alasannya karena ini akan mengganggu dan membebani stabilitas, objektivitas kerja. Belum lagi ditambah gagalnya kisah cintanya yang tragis. Siapa sangka, justru dia yang akan mengalami cinta satu lokasi tersebut. Dengan siapa yaaa… 😀

Suka banget dengan kisah Alif dan teman-temannya ini. Ada banyak kejutan tak terduga yang disajikan penulisnya. Nggak sabar buat lanjut baca buku berikutnya 😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Ednastoria: Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion

Penulis                                 : Syahmedi Dean

Ilustrasi                                                : Kitty Felicia Ramadhani

Desain sampul                   : Kitty Felicia Ramadhani

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Juli 2013 (Cetakan Kedua)

Tebal                                     : 284 hlm.

ISBN                                      : 978-979-22-9773-7

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s