Posted in buku, resensi

REVIEW J’ Adore: Jakarta-Paris via French Kiss

“Kadang-kadang kreativitas kita melemah juga, jadi menurut gue kita perlu di charging , untuk menstimulasi semangat kerja lagi. Kalau tenaga melemah bisa di-charge dengan istirahat, tidur dan makan. Tapi kalau kreativitas drop, ya harus di-charge. Cara setiap orang beda-beda, seperti elu dengan flirt conversation, mungkin gue dengan vacation. Asal nggak merugikan orang lain dan nggak menyinggung SARA, ya gue kira wajar-wajar aja.” (hlm. 73)

Saya pikir kata ganti orang pertama dalam buku ini akan berganti, apalagi covernya pun merepresentasikan cowok yang berbeda. Ternyata penulis tetap bercerita dari sisi Alif. Sudah hampir delapan tahun profesi wartawan, dari jabatan paling rendah sampai menjadi executive fashion editor telah dilakoni Alif. Kini di posisi yang tinggi ini, pekerjaan tidak hanya berkutat dari balik meja saja, tapi harus travel kemana-mana untuk mencari isu fashion global yang sebenarnya.

Banyak tantangan yang harus dilewati Alif jika sedang dinas di luar, salah satunya adalah perkara ID card. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan ID card untuk masuk lokasi-lokasi fashion week dan menggunakan fasilitas-fasilitas yang disediakan seperti communication center, press office, dan photographer centre. Memiliki ID ini buka berarti sudah jadi digdaya untuk bisa masuk ke semua show, tiket masuk show diurus terpisah ke desainer-desainer bersangkutan. Namun, kadang-kadang petugas penjaga pintu masuk kerap berbaik hati dan membiarkan orang yang memiliki ID masuk ke tenda fashion show. Kebaikan hati para petugas jaga inilah yan banyak diharapkan para fotografer wartawan.

Perkara artis yang suka ngaret juga diselipkan dalam buku ini. Bagaimana Alif dengan sombongnya justru jual mahal kepada artis yang ngaret untuk pemotretan di suatu kafe. Ini menjadi semacam pelajaran bagi para artis yang kerap meremehkan, merasa dibutuhkan, dan merasa merasa lainnya.

Entah berapa kali saya membaca buku atau menonton film Indonesia dengan setting luar negeri, ada selipan tentang betapa nikmatnya rokok kretek Indonesia dan menjadi semacam daya pikat bagi orang luar terhadap Indonesia. Tak terkecuali dengan buku ini. Diceritakan Alif, bisa berkenalan dan akhirnya akrab dengan Luigi yang tergila-gila dengan kretek yang dibawanya.

Jangan dulu bilang tidak bisa pada hal-hal yang belum dicoba. (hlm. 85-86)

Lain Alif, lain Didi. Dari sisi Didi ini kita bisa melihat bagaimana junior-junior dunia kerja. Baginya karyawan-karyawan baru dengan harga murah sebenarnya justru pemborosan. Pekerjaan mereka kurang berkualitas; hasil tulisan mereka harus diedit bahkan dipermak abis. Karyawan murah biasanya membutuhkan waktu yang lama untuk bisa langsung reday to work, sementara waktu adalah uang. Ngenesnya lagi, udah ngajarin junior jadi fashion editor pemula aja, nggak lama langsung dibajak majalah lain, atau pindah sendiri. Dan paling bikin keki bagi Didi adalah jika para junior yang udah pada hijrah ke tempat lain, kalau ketemu sombongnya minta ampuuunn… x)) #PukPukDidi

Balik ke sisi Didi, kita jadi tahu bahwa dalam tata krama pergaulan sesama fashion editor, mempertanyakan aksesori atau pakaian yang dikenakan sama dengan memulai peperangan. Ini sama dengan mempermasalahkan kredibilitas mereka yang kerjanya mengomentari pakaian orang. Sekali saja kita bertanya, sama saja dengan menuduh mereka orang yang salah profesi. Akibatnya bukan saja mereka akan tersenyum sini, tapi juga kita akan diberi satu cerita dua halaman tentang sejarah fashion, fashion prediction, plus pengakuan dan sebagainya. Hal itulah yang dialami Alif ke Didi yang katanya paling fashionable diantara mereka x))

Sekarang ini kan banyak sekali gerombolan OKB (Orang Kaya Baru). Nggak hanya pergaulan para artis ya, pergaulan sehari-hari juga kita bisa menemukan orang-orang seperti ini; sok borjuis. Lewat buku ini, kita bakal tahu kaum chill out (orang kaya yang sesungguhnya). Dalam memilih warna, kaum chill out tidak pernah menor dan berteriak dengan warna-warna primer dan sekunder seperti merah, oranye, kuning, hijau atau biru. Warna-warni ini dianggap symbol orang yang kurang perhatian sehingga perlu-perlunya menggunkan warna tersebut agar diperhatikan. Penampilan menor adalah indikasi akan gugurnya seseorang dari lingkungan mereka. Para kaum chill out ini juga kesannya juga tidak begitu rapi, terlihat apa adanya, dan membuktikan mereka sudah terbiasa dengan kemewahan sehingga tak perlu ditonjolkan lewat cara berpakaian. Iya juga sih, kalo di mall-mall yang artinya bakal banyak sekali orang yang kita lihat, saya justru malah paling tertarik dengan yang penampilannya simple; pake kaos ama sepatu sneakers doank kok malah terlihat lebih keren ketimbang yang penampilannya bilng-bling banget macem Syahrini yang leher ama pergelangan tangannya penuh aksesoris, ya kan?!? X))

Oya, di buku ini kita juga jadi tahu bahwa di Indonesia banyak pembajakan barang luxury. Pembajakan ini justru dilakukan oleh orang kaya juga, yang punya peralatan mahal untuk menduplikasi barang-barang tersebut. Mereka meniru setiap produk sampai sangat mirip, dan menjualnya ke pasar rakyat. Jadi jangan heran kalau di penjaja kaki lima ada ibu-ibu memakai tas Louis Vuitton seri kartun Murakami, di bus tanpa AC ada gadis memakai tas monogram Dior, atau di pasar yang becek ada wanita dengan tas Lella Bartley. Mereka tidak salah, mereka mengira itu hanya tas belaka, mereka tak tahu sejarahnya.

Di buku ini, masa lalu Alif mulai terkuak. Anak judul buku ini Jakarta-Paris via French Kiss merepresentasikan hubungan Nisa dan seseorang yang nun jauh di sana. Agak gila sih ya bacanya. Kalau istilah sekarang Nisa ini mah terkena sindrom kehaluan yang haqiqi… x))

Cusss..langsung mau baca bukunya yang ketiga! 😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : J’ Adore: Jakarta-Paris via French Kiss

Penulis                                 : Syahmedi Dean

Ilustrasi                                                : Kitty Felicia Ramadhani

Desain sampul                   : Kitty Felicia Ramadhani

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Juli 2013 (Cetakan Ketiga)

Tebal                                     : 360 hlm.

ISBN                                      : 978-979-22-9774-4

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s