buku, resensi

REVIEW Bohemia: Pengantin Gypsy dan Penipu Cinta

“Aduh, aku juga udah pengen resign banget. Bosen banget terus-terusan, bertahun-tahun ngerjain hal yang berulang-ulang. Tapi gimana ya? Belum ada kerjaan pengganti.”

“Udah deh, resign aja. Orang kayak Alif pasti gampang dapat kerjaan baru. Ya…setidaknya sama-sama jadi bintang sinetron dengan gue.” (hlm. 34)

Ketika seseorang memutuskan resign, pilihannya hanya ada dua; langsung mendapatkan job baru atau bakal jobless. Alif merasakan pilihan yang kedua. Baru di hari pertamanya menjadi seorang jobless, panggilan telepon untuk pembayaran tagihan kartu kreditnya langsung membuatnya pusing. Dia baru menyadari jika selama ini mengambil barang-barang yang tidak penting karena memiliki kartu kredit. Dulu ada anggapan, ambil-ambil aja dulu, bayar belakangan. Kalau dulu tidak masalah bagi Alif karena penghasilannya bisa menutupi semua itu, tapi mumet pas udah jobless gini. Jujur, sampai sekarang saya belum memiliki kartu kredit. Pertama, belum butuh. Kedua, takut tergiur bahkan tergelincir untuk membeli barang yang sebenarnya nggak penting-penting amat, karena kita saat belanja biasanya cenderung lapar mata sesaat, bukan karena kebutuhan.

Menjadi jobless, biasanya langsung turun derajatnya saat di pergaulan. Beberapa pihak langsung memutuskan kontak begitu saja begitu Alif mengatakan jika dia sudah tidak bekerja di kantor kebanggaannya itu. Ada semacam keputusasaan yang dialami oleh Alif, yang mungkin banyak dialami oleh para jobless lainnya. Untungnya dia masih memiliki para sahabat: Nisa, Didi, dan Raisa yang selalu menemaninya saat suka dan duka. Di lingkaran lifestyle di Jakarta, orang yang tak ada label besar di atas kepalanya benar-benar tak ada harganya lagi.

Meski sama-sama berlabel jobless, Raisa tak semelow Alif. Ya maklum, Raisa ini kan anak horankayah yang sebenarnya nggak kerja pun masih bisa banget beli barang-barang branded minta mamah papahnya. Tentu berbeda keadaannya dengan Alif, selama ini penampilannya nggak secetar teman-temannya. Jikalau mengenakan barang-barang dengan ternama, dia sebenarnya lebih banyak mendapatkannya secara gratis yang diberikan para brand semacam kado atau hadiah baginya yang dulu merupakan executive fashion editor.

“Siapa sih yang tahu masa depan? Dulu kita anti sinetron, sekarang kita ada dalam lingkarannya.” (hlm. 115)

Dibandingkan buku pertama dan kedua yang fokus ke lifestyle baik suka maupun dukanya, disini akan kita lihat sisi yang lain. Sejak keluar dari majalah File, Raisa dengan bermodalkan kecantikannya, dia memutuskan untuk menjadi artis sinetron stripping. Meski masih debut alias bisa dikatakan baru, karir Raisa cukup cemerlang dan lumayan sibuk kegiatannya yang artinya dia butuh manajer yang menghandle pekerjaannya. Pilihan jatuh pada Alif yang memang juga jobless seperti dirinya.

Dulu waktu buku ini terbit (cetakan pertama tahun 2006), belum familiar dengan adanya social media seperti sekarang ini. Apalagi semenjak sekitar tahun 2017-an sampai sekarang, makin menjamurnya akun-akun ghibah yang ‘menelanjangi’ kehidupan para artis. Rasanya jadi artis zaman sekarang lebih banyak tekanannya dibandingkan zaman belum ada social media beserta akun lambe-lambe yang ada. Berita baik aja dijulidin, apalagi berita negative, abis deh dinyinyirin netizen. Susah bagi para artis yang doyan gimmick demi menaikkan pamor atau menaikkan rating sinetron yang dibintanginya, karena zaman sekarang gimmick murahan akan langsung bocor. Untunglah gimmick ala Raisa ini terjadi di tahun 2006-an x))

“Dengan strategi promosi zaman sekarang ini, rumor kadang-kadang lebih penting daripada fakta, rumor yang negative lebih atraktif bagi masyarakat daripada berita biasa. Ini membuat rasa ingin tahu masyarakat lebih tinggi untuk melihat atau mengdengar film atau musik seorang artis.” (hlm. 212)

Meski Edna hanya mampir di kehidupan mereka berempat; Alif, Didi, Nisa dan Raisa, permasalahan Edna makin mblunder di buku ini. Agak merepotkan ya bagi mereka, terutama Alif. Orangnya udah nggak ada, tapi masalahnya masih ada dan belum ada solusi terbaik.

Dari sisi Nisa, ni anak emang rada agresif sejak buku kedua. Jika di buku sebelumnya dia kapok buat balik ke Milan, Nisa masih haus cowok-cowok. Salah satu alasan Nisa senang ke toko buku adalah menguntit pria-pria yang datang. Mencari tahu ketertarikan mereka tentang hidup dan kehidupan lewat buku. Nisa akan menguntit sasaran dengan smooth and smart. Biasanya ia akan berada di rak buku di belakang barisan buku yang sedang dipilih-pilih korbannya. Atau kalau berada dalam barisan yang sama, Nisa akan menjaga jarak tetap stabil minimal dua meter. Eehhhh…yang ada suatu hari dia tercyduk pak satpam dan malah dikira pencopet x))

Uwow…nggak sabar lanjut baca seri yang terakhir, buku keempat 😀

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kalau nggak mau menderita nggak akan mendapat sesuatu. (hlm. 95)
  2. Untuk apa buang-buang waktu lagi? Hidup ini sangat pendek. Kejarlah hal-hal yang wajar dan masuk akal. (hlm. 163)
  3. Kamu kan nggak berbohong, ngapain deg-degan? Orang jujur nggak mungkin deg-degan. (hlm. 212)
  4. Kalau dipikir-pikir, apa sih yang tidak mungkin sekarang ini, coba saja dulu. (hlm. 251)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Bohemia: Pengantin Gypsy dan Penipu Cinta

Penulis                                 : Syahmedi Dean

Ilustrasi                                                : Kitty Felicia Ramadhani

Desain sampul                   : Kitty Felicia Ramadhani

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Juli 2013 (Cetakan Kedua)

Tebal                                     : 320 hlm.

ISBN                                      : 978-979-22-9775

2 thoughts on “REVIEW Bohemia: Pengantin Gypsy dan Penipu Cinta”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s