buku, resensi

REVIEW Monsoon: Apa Maksud Setuang Air Teh

Untuk hal-hal pribadi, uang bisa ditugaskan untuk membeli gunung, mendirikan tower tertinggi di dunia, membeli mall modern, membeli berlian terbesar. Tapi untuk urusan interaksi sosial, uang tak mampu membeli pengakuan dari orang lain, uang tidak bisa membeli keakraban yang tulus. (hlm. 123)

Akhirnya udah sampai di buku keempat. Di sini, Nisa memiliki porsi yang lumayan banyak, apalagi karena masalah yang sedang dihadapinya. Dalam kasus Nisa, penulis menyelipkan perkara hamil di luar nikah. Julukan bagi ‘anak haram’ lebih nyaman tinggal di kota besar seperti Jakarta, kecil kemungkinan dicemooh. Orang kota besar umumnya bisa menjaga diri, banyak membaca sehingga paham masalah-masalah social selalu ada dan tidak perlu dicemoohkan. Nisa berusaha keras memotivasi dirinya untuk tetap positif dan gembira di tempat kerja, agar suasana kerja tetap seperti sediakala. Hasilnya jauh dari memuaskan, teman-temannya tetap ramah menyapa, tapir amah dari usaha menjaga perasaan Nisa agar tidak tersinggung dan sakit hati, bukan ramah karena memang ramah. Ini mengecewakan. Teman-teman wanita tak ada yang berlama-lama mengobrol dengannya, semua seolah takut dinilai beraliran hamil-duluan seperti Nisa.

Di rumah, orangtua Nisa, sudah hancur hati. Harapan mereka untuk sempat merasakan kegembiraan seperti teman-teman mereka yang bisa tersenyum lebar ketika menikahkan putra-putri mereka dengan pesta meriah, musnah di bantara kasak-kusuk keluarga. Ibunya jauh-jauh hari sudah membayangkan akan mendapatkan ucapan selamat dari ketabat dan handai taulan, karena putrid tunggalnya duduk bersanding dan dipestakan dengan anggun di pelaminan. Kini harapan itu tinggal bayangan api hitam di pelaminan karang.

Masa-masa lajang juga menjadi masa-masa kritis yang tidak hanya dialami Nisa, tapi juga Alif, Raisa, dan Didi. Masing-masing memiliki permasalahan yang berbeda dan sangat kompleks. Ada beberapa hal yang mempengaruhi kehidupan percintaan seorang manusia dewasa. Contohnya Alif, dia bisa banget mengatakan jika perempuan yang baru lewat di depannya bakal jadi calon istrinya. Mungkin ini yang namanya cinta pada pandangan pertama.

Membaca keseluruhan empat buku ini, semuanya suka. Setiap buku punya warna kehidupan yang berbeda, sama seperti covernya yang memiliki warna berbeda tiap bukunya. Meski sampai di buku keempat, sudut pandang cerita selalu dari sisi Alif, porsi Raisa, Didi, dan Nisa lumayan banyak. Endingnya sungguh tak tertebak. Good job!!

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Uang bisa melakukan apa saja, tidak berlaku di dunia permajalahan. (hlm. 123)
  2. Apa yang lebih membahagiakan seorang laki-laki selain ketika didengarkan? (hlm. 125)
  3. Dasar orang kaya, mentang-mentang kaya boleh melakukan apa saja, seenaknya sesuka hati, menguasai apa saja yang mereka mau. (hlm. 139)
  4. Memori selalu bikin kita tergerus-gerus. (hlm. 235)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Monsoon: Apa Maksud Setuang Air Teh

Penulis                                 : Syahmedi Dean

Ilustrasi                                                : Kitty Felicia Ramadhani

Desain sampul                   : Kitty Felicia Ramadhani

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Juli 2013 (Cetakan Kedua)

Tebal                                     : 304hlm.

ISBN                                      : 978-979-22-9776-8

2 thoughts on “REVIEW Monsoon: Apa Maksud Setuang Air Teh”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s