Posted in buku, resensi

REVIEW Goodbye, Things

Minimalisme adalah gaya hidup yang berarti kita mengurangi jumlah barang yang kita miliki sampai pada tingkat paling minimum. Hidup sebagai minimalis, dengan hanya barang paling pokok yang kita perluka, tidak hanya memberi manfaat sebatas permukaan –ruang yang rapi atau kemudahan membersihkan rumah- tapi juga menciptakan perubahan yang mendasar. Cara hidup seperti ini memberi kesempatan untuk merenungi arti bahagia. (hlm. xxvii)

Bagaimana kita bisa menguraikan apa yang dimaksud dengan seorang ‘minimalis’? seberapa jauh kita harus mengurangi keberadaan barang agar dapat minimalis? Definisi yang saklek dan pasti tidak mudah dirumuskan, seorang minimalis adalah orang yang tahu persis hal-hal apa saja yang bersifat pokok bagi dirinya, dan yang mengurangi kepemilikan barang demi memberi ruang bagi hal-hal utama itu. Tidak ada aturan yang pasti. Setiap orang punya pendekatan tersendiri terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Minimalis adalah orang yang bisa membedakan kebutuhan dan keinginan –keinginan karena ingin menampilkan citra tertentu- serta tidak takut mengurangi benda-benda yang termasuk keinginan. Hal-hal yang kita anggap penting pastilah berbeda-beda. Proses mengurangi barang pun tak berlaku sama bagi setiap orang. Dengan demikian, tidak ada satu jawaban tunggal untuk mendefinisikan minimalis.

Setiap orang memutuskan menjadi minimalis punya alasan tersendiri. Ada yang karena hidupnya lepas kendali oleh barang miliknya. Ada yang super kaya, tapi tidak bahagia meskipun sudah membeli begitu banyak barang. Ada yang membuang barang sedikit demi sedikit setiap kali berpindah tempat tinggal. Ada yang menyingkirkan barang agar bisa keluar dari depresi. Ada pula yang berubah cara pandangnya setelah mengalami bencana alam besar.

Penulis termasuk tipe pertama. Penulis memutuskan menjadi minimalis karena tempat tinggal yang sudah menyerupai kandang. Penulis tak pernah pernah bisa membuang barang. Penulis merasa sayang semua barang yang ia miliki. Di buku ini, menuliskan daftar apa saja barang yang ia miliki selama ini dan hampir membuang semuanya dan hanya menyisakan barang yang kiranya masih ia perlukan. Sekarang penulis tinggal di apartemen di Tokyo dengan tiga kemeja, empat celana panjang, empat pasang kaus kaki, dan sedikit benda-benda lainnya.

Beberapa tahun terakhir, hidup minimalis menjadi pilihan gaya hidup beberapa orang Jepang. Dengan hidup minimalis, hidup mereka lebih bahagia. Dari sekian banyak barang yang ‘dibuang’ atau ‘dikeluarkan’ dari apartemennya, yang paling membuat saya takjub adalah penulis menjual semua buku-bukunya, termasuk rak bukunya. Kira-kira uang yang ia keluarkan untuk membeli semua buku-buku itu selama ini sekitar satu juta yen (kira-kira 130 juta rupiah) dan dijualnya hanya sekitar 20.000 yen (kira-kira 2,5 juta yen). Meski semenjak bekerja di perpustakaan sekolah, hampir sebagian besar buku yang saya dapatkan dari buntelan dari penulis maupun penerbit bahkan masih sampai sekarang, saya jadikan koleksi perpustakaan sekolah, sifat menimbun yang paling sulit saya hilangkan adalah perkara buku. Beli terus, timbun terus, bacanya mah kapan-kapan. Bahkan sampul/ bungkusan tiap dapet buku sempat saya kumpulkan beberapa tahun sampai tujuh karung. Bahkan sampe ada saudara yang jengah tiap liat timbunan bungkusan itu, semacam kayak onggokan sampah, hahaha… x))

Sebenarnya di rumah, kehidupan kami dari tahun ke tahun sangat minimalis alias sedikit barang yang ada. Makanya orang-orang yang datang ke rumah kami melihat rumah terlihat lapang karena barangnya memang hanya sedikit. Ruang tamu hanya ada set meja kursi yang dari zaman dulu belum pernah ganti. Hanya pernah ganti sarungnya saja, karena warnanya sudah pudar. Pemanisnya hanya taplak, bahkan pot bunga pun tidak ada. Begitu juga dengan ruang TV, hanya tikar (yang bisa digulung kapan saja saat dibersihkan atau tidak dipakai) dan lemari meja yang di dalamnya terdapat barang-barang dapur yang jarang dipakai (seperti toples, gelas, piring dan lain-lain). Dari luar, lemari tersebut tampak rapi karena tertutup rapat dan tidak menerawang. Diatasnya berupa TV besar, modem wifi dan telepon. Sebenarnya yang banyak barang itu justru ulah saya sendiri; ruang tamu sayap kiri yang saya jadikan perpustakaan mini sejak SMP yang isinya penuh barang, nggak hanya buku-buku saja yang bertebaran, tapi juga beberapa koleksi lainnya sejak zaman SD, seperti kertas file, kartu nama, pernak-pernik tweety. Yang paling parah adalah banyak sekali majalah Tabloid dan Majalah yang saya koleksi sejak zaman SD. Sudah dua kali pembuangan. Pertama, saat baru lulus kuliah sampai berkarung-karung yang harus dibuang. Dan yang kedua adalah belum lama ini, sekitar 2017 saat mulai mengalami reading slumps, saya membuang semua koleksi majalah dan tabloid yang masih bersisa, yaitu Bobo dan Kartini. Dulu pas pembuangan pertama, rasanya masih berat membuat Bobo karena saya pikir masih bagus banget cerpen-cerpen yang ada di sana, kemudian Kartini mengingatkan almarhumah mama, saya nggak tega buangnya. Tapi karena ruang perpustakaan mini sudah semakin penuh sesak oleh buku-buku yang masih ada, akhirnya saya harus merelakan semua majalah-majalah tersebut di tahap pembuangan kedua tersebut. Termasuk membuang semua kenangan zaman kuliah, seperti buletin-buletin kampus, yang tersisa hanyalah materi-materi saat kuliah, saya masih belum tega membuaangnya karena masih relevan dengan ilmu-ilmu yang dipakai sekarang, terkadang masih terpakai menjadi rujukan saat membuat karya tulis ataupun artikel.

Setelah membaca buku ini, rasanya masih ada banyak barang yang harus dikeluarkan dari rumah. Memang tiap tahun, biasanya tiap libur, saya (dan juga adik-adik) selalu mengeluarkan barang dari kamar kami masing-masing, biasanya paling banyak ya baju. Sebenarnya kami jarang beli baju, tapi karena beberapa tahun terakhir adik memiliki usaha sablon, mau nggak mau memacu kita jadi punya banyak baju yang dipakai, tapi ujung-ujungnya banyak yang teronggok di lemari karena akhirnya banyak baju dipakai buat sesekali momen. Setahun saja bisa kami kumpulkan sampai segini. Biasanya kami berikan pada panti asuhan atau saudara yang membutuhkan. Tapi hal-hal yang sudah kami lakukan rasanya masih jauh dari kata minimalis seperti hidupnya penulis ini.

Kita pada akhirnya terbiasa dengan kondisi mendapatkan semua hal yang kita inginkan. Perlahan, kita mulai menyepelekan barang, hingga akhirnya bosa melihat segala sesuatu yang kita punyai. Setiap perempuan pasti bahagia saat mencoba pakaian baru untuk pertama kali. Rasa senang karena berhasil mendapatkan pakaian itu pudar seiring frekuensi pemakaiannya, lalu berubah menjadi bosan karena benda itu tidak lagi menimbulkan perasaan bahagia sedikit pun. Pola inilah yang berulang kali terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dari yang awalnya sangat diinginkan, suatu benda lantas menjadi bagian dari keseharian, lalu terasa membosankan, meskipun benda itu adalah wujud keinginan kita sendiri. Pada akhirnya, kita merasa tidak bahagia.

Di buku ini, penulis menjabarkan tentang 55 kiat berpisah dari barang, mulai dari buang jauh-jauh pikiran bahwa kita tidak mampu membuang barang, sampai barang yang dilepaskan adalah barang yang akan diingat selamanya. Dan ada juga 15 kiat tambahan untuk tahap selanjutnya dalam perjalanan menuju minimalisme.

Meskipun rasanya memang tidak mungkin hidup sangat minimalis seperti penulis buku ini, minimal perlahan-lahan ada kita jadi berpikir untuk (kembali) mengeluarkan barang-barang yang sebenarnya sudah tidak kita perlukan dan bahkan teronggok di pojokan rumah menjadi sampah yang kita ciptakan sendiri tanpa kita sadari x))

Keterangan Buku:

Judul                                     : Goodbye, Things

Penulis                                 : Fumio Sasaki

Penerjemah                       : Annisa Cinantya Putri

Perwajahan isi                   : Fajarianto

Desain sampul                   : Adaptasi sampul asli

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Januari 2019

Tebal                                     : 242 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-9840-2

Author:

Aku ingin menjadi seperti tanaman lembut dan segar. Dari arah manapun angin menerpa, ia lentur, kuat dan ketika angin tenang, ia tegak dan lurus kembali. Demikian pula seandainya aku ditimpa musibah (aku akan mencoba bersabar hingga Tuhan akan menghilangkan kesukaran-kesukaran dari diriku). Namun, aku tak ingin seperti pohon cemara yang tegak dan keras hingga Tuhan menumbangkannya kapanpun Dia menginginkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s