buku, resensi

REVIEW Konmari Mengubah Hidupku

People cannot change their tidying habits without first changing their way of thinking. – Marie Kondo

Dari segi bahasa, clutter bisa diartikan sebagai ‘kekacauan, kekusutan, kebisingan, atau keributan’. Clutter mengindikasikan sesuatu yang tidak rapi, tidak nyaman, tidak enak dilihat, dan tidak menyenangkan. Lebih dalam lagi, clutter bisa merupakan sesuatu yang mengganggu perasaan dan emosi. Clutter dapat berbentuk benda-benda, pengalaman, pekerjaan, hubungan social, budaya digital, perasaan dan pikiran.

Nah, declutter adalah kebalikan dari clutter, yaitu berusaha untuk memangkas, menghilangkan, atau mengurangi clutter agar semuanya menjadi tertata rapi dan nyaman di hati. Dan, buku ini membahas clutter yang berupa benda-benda yang berserakan, berceceran, tidak rapi, dan tidak menyenangkan, baik pada saat dilihat oleh mata maupun dibawa oleh perasaan.

Beberapa poin penting alasan kuat kita perlu melakukan decluttering:

  1. Clutter dapat menyebabkan stress dengan cara meningkatkan hormone kortisol dan membuat otak mengasosiasikan clutter dengan kegagalan.
  2. Stress akibat clutter dapat meningkatkan nafsu makan hingga menaikkan berat badan.
  3. Sebuah studi neurosains menyebutkan bahwa lingkungan yang banyak clutter dapat menyebabkan tubuh selalu merasa lelah dan sulit untuk fokus.
  4. Clutter dapat mengganggu kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan.
  5. Clutter dan disorganisasi dapat menyebabkan kerugian finansial seperti membeli benda yang sama berulang akibat tidak berhasil menemukan benda yang dicari.
  6. Benda-benda yang menumpuk dan tertimbun dapat menjadi sarang kuman, serangga, dan tikus, jadi tidak bagus untuk kesehatan.
  7. Clutter dapat mengakibatkan sering terlambat karena kesulitan menemukan barang.
  8. Clutter dapat membahayakan, seperti menginjak mainan lego di lantai atau tertusuk jarum yang tercecer.
  9. Kita tidak akan pernah menyelesaikan aktivitas beres-beres tanpa decluttering.

Terdapat nama-nama besar yang memperkenalkan berbagai metode decluttering popular. Jika diurutkan dari nama penulis yang paling terkenal adalah, ada Marie Kondo, Peter Walsh, Fumio Sasaki, Joshua Becker, Margareta Magnusson, Don Aslett, Jen Hatmaker, Hideko Yamashita, Melissa Michaels, dan masih banyak lagi.

Sebelum membaca buku, saya sudah membaca ala hidup praktis ini versi Fumio Sasaki. Dulunya dia memiliki ribuan item, dan yang paling amazing adalah dia menyingkirkan buku-bukunya yang sangat banyak, hingga tersisa hanya 4 T-shirt, 4 pasang kaus kaki, 3 kaus, 5 pasang sepatu, 1 buah tas travel, beberapa jar bumbu dapur, dan beberapa piring. Mungkin masih dipahami karena Fumio Sasaki ini tinggal di Jepang, di apartemen dan tinggal sendiri alias melajang. Nah, pertanyaan saya saat membaca buku itu adalah apakah hidup seminimalis itu bisa diterapkan di Indonesia yang notabenenya adalah harus punya banyak barang, apalagi bagi yang sudah berumah tangga, dimana kita pasti akan merasakan yang namanya acara syukuran keluarga, jamuan arisan dan sebagainya yang bisa dipastikan pasti membutuhkan perkakas yang lumayan banyak, hahaha… x))

Saat membaca nama penulisnya yang merupakan pendiri Komunitas KonMari Indonesia, sebenarnya saya sangat berharap pertanyaan saya di atas akan terjawab di buku ini. Tapi, sama saja, tidak ada penjelasan untuk uraian di atas. Oke, kalo untuk masalah baju, sepatu, dan lain-lain pada dasarnya tergantung kebutuhan masing-masing individu. Sebenarnya dari dulu saya nggak begitu terobsesi dengan hal-hal yang berbau sandang, karena saya memang lebih sukan pangan. Alias nggak masalah nggak beli baju baru, tapi nggak bisa irit kalo soal, makanan..hahahaha… x))

Oya, soal buku, saya memang belum sehebat Fumio Sasaki yang bisa kuat menjual hampir semua bukunya dengan harga murah ataupun penulis buku ini yang dulunya memiliki lima rak buku dan kini tersisa dua rak buku. Tapi, semenjak bekerja di perpustakaan sekolah, saya sudah mengalihkan ratusan (sepertinya sudah sampai ribuan) buku yang dimiliki dan juga buku-buku hasil buntelan penulis maupun penerbit (asalkan layak baca untuk remaja), biasanya langsung saya jadikan koleksi perpustakaan sekolah sampai sekarang. Dan tanpa disadari itu menulari beberapa siswa yang sudah lulus menyumbangkan buku-buku yang mereka miliki. Memang sih, akan beresiko terlipat, lecek, basah bahkan sobek ataupun hilang. Tapi ada kebahagiaan tersendiri melihat buku-buku tersebut dibaca dibandingkan hanya bertengger di rak. Apakah itu menghilangkan sifat saya suka menimbun?!? Sejujurnya belum, tapi setidaknya sudah di fase mengurangi. Ya, meski sudah banyak sekali buku yang saya jadikan koleksi perpustakaan sekolah, tapi sebenarnya rak di rumah pun masih penuh sesak. Lha gimana, berkurang satu beli sepuluh, gitu terus, hahahaha… x))

Balik lagi ke buku ini, yang paling aku suka ada dua poin di sini. Pertama, sifat Khoirun Nikmah yang suka beberes, saya juga sebelas dua belas kayak gitu. Nggak di rumah, nggak di perpustakaan sekolah. Demen banget beres-beres. Makanya jangan heran jika selama delapan tahun lebih bekerja di perpustakaan sekolah, ruangannya sudah dirombak besar-besaran tiga kali, sedangkan diubah-ubah posisi barang-barangnya mah udah nggak keitung jari saking demennya pustakawannya ini seneng beres-beres. Kayaknya tiap semester biasanya pindah posisi meja baca x))

Kedua, cerita penulisnya mengalami pil pahit masalah keluarga sejak kecil, bahkan bisa dikatakan sejak lahir. Penulis mencoba menghapus rasa pahit dengan mensyukuri segala yang telah dicapai. Mengeliminasi hal-hal negative dan yakin bahwa kita mampu menggantikan kepahitan kenangan masa kecil itu dengan memori baru yang lebih positif. Dari sini, kita harus memperbanyak rasa syukur. Decluttering ternyata tidak hanya perkara barang-barang yang ada di sekitar kita, tapi juga beres-beres kenangan yang mengendap terlalu lama menempel di memori kita yang bertahun-tahun menyebabkan luka hati. Ah, sepertinya saya harus meniru beberes hati ini! 😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Konmari Mengubah Hidupku

Penulis                                 : Khoirun Nikmah

Penyunting                         : Pratiwi Utami & Baiq Nadia Yunarthi

Pemeriksa aksara             : Titish A.K. & Dwi Kurniawati

Ilustrasi isi                           : Regedaily

Perancang sampul           : Wirastuti & Musthofa Nur Wardoyo

Penata letak                       : gores.pena & Petrus Soony

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : 2018

Tebal                                     : 170 hlm.

ISBN                                      : 978-602-291-502-7

8 thoughts on “REVIEW Konmari Mengubah Hidupku”

  1. Beberes hati tampaknya harus dibuat buku sendiri. Sebab perkara satu ini rada-rada susah. Apalagi mengingat masa kini yang penuh gempuran informasi, yang sering bikin hati dan pikiran bertambah stres.

  2. Saya juga baca bukunya Mas Fumi tentang panduan hidup minimalis.

    Kalau sepenangkepan saya sih, hidup minimalis itu beda-beda untuk tiap orang. Minimalis buat si lajang ngga sama dengan minimalis mereka yang sudah berpasangan…apalagi sudah ada momongan.

    Poinnya hidup minimalis kan bukan hidup dengan sesedikit barang, melainkan hanya barang-barang yang dianggap penting aja.

    Beberes, konmari, declutter, itu hanya satu dari seluruh resep hidup minimalis.

    Dan anyway, menjadi minimalis itu bukan sebuah tujuan. Menjadi minimalis itu sesederhana sebuah alat untuk menjalani hidup yang lebih bebas dan bersahaja.

    1. Setuju, hidup minimalisnya tiap orang memang berbeda dan nggak bisa jadi ukuran. Terkadang banyak barang bagi orang laIN, padahal itu udah minimalis bagi kita, hehehe… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s